Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Bahagia


__ADS_3

"Apa yang bapak lakukan?" Raina bertanya karena ia penasaran, ia melirik Sawn yang masih berdiri membelakanginya.


Tidak ada penjelasan apa pun yang Sawn berikan, sedetik kemudian ia merunduk lalu bersujut.


Cukup lama sawn bersujut di lantai yang dingin. Entah apa yang di pintanya, dan entah apa pula yang sangat di syukurinya sampai ia tak mengangkat kepalanya.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Raina, indra pendengarannya di penuhi oleh suara isakan tangis pria di hadapannya saja.


Apa yang membuatnya menangis pilu seperti itu? Apa dia sangat bahagai? Atau justru ia sangat terluka? Entahlah, otak ku tidak bisa menemukan jawabannya. Lirih Raina pelan sambil berjalan mendekati Sawn yang masih larut dalam sujut syukurnya.


"Pak Sawn, bangunlah!" Pinta Raina tulus.


"Aku sangat bersyukur sampai aku sendiri tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata." Balas Sawn sambil mengangkat kepalanya.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Sawn bertanya karena ia takut Raina hanya berpura-pura saja.


"Katakan! Apa kau yakin memilihku sebagai masa depan mu?" Sawn menuntut Raina dengan jawaban cepatnya.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir merah muda Raina, ia hanya mengangguk pelan kemudian menyunggingkan senyum tipis di wajah ayu nya.


"Apa kau tahu aku sangat bahagia?" Sawn kembali bertanya. Kemudian di balas oleh anggukan kepala oleh Raina.


"Sekarang panggil nama ku! Hanya namaku."


"Apa itu perlu?" Balas Raina singkat.


Sekarang giliran Sawn yang menjawab dengan anggukan kepala.


"Aku belum berhak menyentuh mu atau memanggil nama mu tanpa menggunakan kata 'pak' sebelum ada ikatan. Mungkin ini terdengar seperti omong-kosong, tapi begitulah seorang muslimah. Ia tidak akan menggandeng, memeluk, atau mencium pria manapun sebelum ada ikatan halal." Raina menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebahagiaan, ada garis yang tak terlihat di antara mereka berdua, garis yang tak membiarkan mereka terlalu larut dalam perasaan yang akan menyesatkan mereka. Sungguh setan itu amat besar tipu muslihatnya, dan mereka berdua sadar untuk tidak berlama-lama larut dalam bahagia yang belum ada ikatan halalnya


"Kita harus pulang." Ucap Raina sambil bangun dari posisi duduknya. Kemudian di ikuti Sawn yang masih duduk bersimpuh di lantai.


"Apa kau memberi tahukan ibumu sebelum datang kemari?"

__ADS_1


"Ia. Aku memberi tahukan ibu ku kalau aku akan menemuimu. Bahkan sekarang aku tidak datang sendiri." Balas Raina santai.


"Apa? Kau tidak datang sendiri? Lalu siapa yang datang bersamamu?" Sawn mengedarkan pandangannya kesegala arah, dan netranya menangkap tiga anak lelaki yang duduk tak jauh dari posisinya berdiri saat ini. Tiga anak manis ini sedang tersenyum kearahnya, seolah senyuman mereka seperti ledekan bagi Sawn.


Hampir saja Sawn terjatuh karena malu mengingat kekonyolan yang ia lakukan sepuluh menit yang lalu.


Aku menangis! Aku duduk bersimpuh di lantai! Aku sujut syukur! Aku memintanya memanggil namaku namun ia menolaknya! Oohh tidak, anak-anak itu pasti akan meledek ku! Lirih Sawn dalam hatinya.


Sawn menjentikkan jarinya kearah tiga anak yang masih tersenyum itu sembari menatapnya dengan tatapan tatajam.


"Kalian melihatku, tapi kalian tetap diam. Dasar anak nakal." Guyon Sawn sambil tersenyum kemudian mereka berakhir saling kejar-kejaran.


Apa bahagia sungguh sesederhana ini? Jika bahagia itu sangat sederhana maka aku memilih menjadi orang sederhana yang selalu berada dalam lindungan yang kuasa. Lirih Raina pelan sembari menyaksikan tiga adik kesayangannya larut dalam canda dan tawa bersama Sawn yang akan menjadi masa depannya.


Di setiap kebahagiaan itu ada kesedihan, tidak ada kebahagian di setiap rumah melainkan di dalamnya ada juga kesedihan.


...***...


"Sayang, kakak mu pasti dalam perjalanan. Kenapa kau terlihat kesal?" Tanya bu Alya sambil mengusap Rambut lembut Yuna.


Sementara itu di luar rumah, Sawn baru saja memarkir mobilnya di garasi, ia memasuki rumah dengan senyuman yang masih mengembang di wajah tampannya.


"Tuan sudah sampai?" Sapa mbok Dami sembari membuka pintu untuk Sawn.


"Ia, mbok. Apa semua orang ada di rumah?"


"Ia, tuan. Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah kecuali tuan, beliau masih di kamarnya." Balas mbok Dami lagi.


"Assalamu'alaikum, ma." Sapa Sawn begitu ia sampai di ruang tengah, pak Andi yang sedang menuruni anak tangga pun ikut menjawab salamnya.


"Cieee... Biasanya kalo kakak datang pasti ngucapin 'Hay Ma' Hay Pa' sekarang kakak bisa ngucapain salam." Ledek Yuna sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar anak nakal." Balas Sawn sambil melempar bantal kecil yang ada di tangannya ke arah kepala Yuna.

__ADS_1


"Mama lihat itu kan? Kakak sangat jahil." Ucap Yuna sembari pura-pura menangis.


"Jangan ganggu kakak mu. Kau boleh pergi sekarang." Ucap bu Hanum pada Yuna yang mulai bersikap manja.


"Benarkah! Assahhhh!" Yuna berlari keluar rumah tanpa menghiraukan keempat orang tersayangnya yang akan memulai pembicaraan serius.


"Ma. Pa. Tante Alya." Sawn menghentikan ucapannya, dadanya berdebar.


"Raina menerima lamaranku! Dan saat ini aku pikir aku akan gila karena aku sangat merindukannya." Ucap Sawn lagi.


Mendengar penuturan putranya, pak Andi dan bu Hanum mengucapkan rasa syukurnya berbarengan.


"Ini benar-benar berita besar. Kita akan menemui bu Hanum besok malam, setelah itu kita akan putuskan tanggal pernikahan sekaligus mahar apa yang di inginkan Raina dari mu." Ucap pak Andi dengan wajah yang di penuhi senyuman.


"Akhirnya pa, setelah sekian lama kita akan merayakan hari besar dalam hidup kita." Sambung bu Hanum yang tak kalah bahagia di banding suaminya.


Dua jam kemudian semua orang sudah kembali kekamar mereka masih-masing, kecuali Sawn. Ia tidak bisa tidur dan lebih memilih duduk di ruang tengah.


Cahaya remang-remang yang bersumber dari dapur menelisik masuk menerangi sedikit ruang tengah karena jaraknya yang memang sengaja di buat berdekatan.


"Kau belum tidur?" Bu Hanum memecah keheningan di tengah gelapnya anak tangga yang ia lewati satu per satu.


"Sawn belum ngantuk ma." Balas Sawn sambil berbaring di atas sofa.


"Apa ada yang mengganggumu?" Bu Hanum bertanya lagi sambil duduk di samping Sawn. Perlahan sawn menempatkan kepalanya di atas paha bu Hanum. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya bu Hanum kembali mengelus rambut putranya.


Ada ketenangan sekaligus kebahagiaan yang menelusup masuk kedalam sanubari terdalam Sawn. Untuk sesaat ia memejamkan mata, menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir.


"Aku rasa ada keajaiban di tangan mama, sentuhan lembut mama mampu menghipnotis ku menjadi lebih tenang." Ucap Sawn memecah keheningan, masih dengan mata terpejam. Sedetik kemudian tidak ada percakapan apa pun antara ibu dan anak, yang terdengar hanya hembusan nafas mereka saja.


Setelah sekian lama akhirnya tandu kebahagiaan akan menghampiri kediaman Dinata.


...***...

__ADS_1


__ADS_2