Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Ketika Muslimah Jatuh Cinta (Part2)


__ADS_3

Tidak semua gombalan laki-laki harus di simpan dalam memori, banyak dari ucapan manis tersebut hanya bualan yang bertujuan untuk menaklukkanmu, ada yang memang datang dari batin terdalam mereka, namun tak jarang hanyalah kata-kata tak berarti karena ingin memilikimu. Raina tahu itu karena ia sering mendengar kata-kata manis itu sejak ia masih berseragam putih abu-abu, karena itulah ia mencoba meyakinkan dirinya tentang pengakuan cinta Sawn sebelum ada lamaran.


Sawn yang masih terbawa arus pengakuan cinta dari Raina tersenyum penuh kemenangan. Keheningan malam ini menjadi saksi mereka berdua, saling berbagi rasa setelah pernikahan jauh lebih indah ketimbang mereka yang saling mencintai tanpa ada ikatan halal.


"Aku sangat bahagia!" Bisik Sawn lembut di telinga Raina.


"Kini aku tahu, istri sholeha ku lebih berharga dari perhiasan dunia manapun! Kau terbingkai indah dalam kesucian tak terbantahkan. Kau jaga dirimu dengan ucapan dan tindakan. Karena kau tahu mekarmu hanya sekali, dan keindahan itu kau serahkan hanya pada pria beruntung yang berhasil mempersuntingmu, dan pria beruntung itu adalah aku." Sawn berkata jujur, ada ketenangan yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia tidak pernah merasakan ketenangan dan kebahagiaan sedalam ini sebelumnya.


Jika hati terasa sakit dan sesak maka air mata yang kan jadi perantaranya. Tapi kali ini Sawn merasa sangat bahagia, ia sendiri tidak mengerti kenapa ia sampai meneteskan air mata. Ia seperti anak kecil yang bahagia karena mendapatkan mainan baru, dan perasaan bahagia itu membuatnya ingin bersenandung penuh Cinta.


"Aku pun merasakan hal yang sama. Hari itu, hari ketika kau menyelamatkan ku, aku mulai goyah. Kesetiaan yang selalu ku jaga untuk Angel tiba-tiba runtuh oleh seorang Bodyguard berhijab yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Aku mulai marah pada Robin karena membiarkan wanita berkeliaran di samping ku, karena itulah aku marah pada pertemuan pertama kita.


Melihat mu meneteskan air mata sambil sesegukan membuat ego ku terluka. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku bukan pria jahat yang akan membuat wanita menangis. Sama sepertimu, semakin aku menjauh darimu semakin aku merindukanmu.


Ketika aku melihatmu duduk bersama mama di Swalayan, kau tidak tahu betapa bahagianya diriku. Aku mencuri pandang dalam diam, aku tersenyum sendirian. Aku pikir perasaan cinta yang ku miliki bukan hanya sekedar angin lalu yang membelai lembut hatiku. Karena itulah aku lebih memilih untuk mengungkapkan rasa cinta yang ku punya."


Untuk sesaat Sawn kembali terdiam, membiarkan angin lembut membelai wajahnya. Raina pun sama, ia lebih memilih mendengarkan setiap huruf yang di rangkai menjadi kata yang keluar dari bibir Sawn Praja Dinata tanpa mencelanya.


"Malam itu...! Aku memintamu menggunakan gaun indah yang sengaja ku pilih untukmu. Aku berencana melamarmu dengan keberanian yang coba ku kumpulkan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana kisah romantis itu berubah menjadi drama menyedihkan. Angel tiba-tiba muncul seolah ia bangkit dari kuburannya. Akhirnya baru ku tahu, ia hanya berpura-pura tiada demi menaikkan popularitasnya dan menguji kalau aku tidak bisa hidup tanpanya!


Benar saja, aku tidak bisa hidup tanpa Angel. Aku berpikir Angel Takdir yang Tuhan gariskan untukku. Tapi ternyata, aku salah. Seorang Bodyguard berhijab muncul di depanku, tanpa kusadari aku mulai mencintai Bodyguar salehaku. Dan sekarang, Bodyguar salehaku berubah menjadi istri saleha ku, istri yang sangat berharga, lebih berharga dari nyawaku." Ucap Sawn jujur dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kau pun lebih berharga dari nyawaku. Aku tidak tahu kalau kau berniat mengungkapkan perasaanmu padaku. Pagi itu, aku pulang dengan tangisan. Tapi sekarang, semuanya sudah berlalu." Ucap Raina penuh semangat. Ia melepaskan tangannya dari wajah Sawn kemudian kembali menghadap kedepan membiarkan lengan Sawn memeluknya dari belakang.


"Kau bilang lebih memilih mencintaiku dalam diam, apa itu tidak menyakitkan?" Sawn kembali mengurai tanyanya.


"Sayyida Fatimah putri Rasulullah pun lebih memilih mencintai Sayyidina Ali Bin Abi Tholib dalam diam. Cintanya suci, bahkan setan sekalipun tidak tahu kalau ia sedang jatuh cinta.


Aku berusaha melakukan perintah Tuhan ku semampuku, dan sisanya ku serahkan pada yang kuasa." Tutup Raina dengan suara pelan.


"Ketika muslimah jatuh cinta! Pilihan apa lagi yang ia punya selain mencintai dalam diam?"


"Apa aku harus menjawabnya?" Raina bertanya karena ia sangat penasaran, biasanya Sawn tidak tertarik pada topik yang mereka bicarakan.


"Tentu saja, aku harus tahu sehingga aku paham kenapa kau lebih memilih menolakku walau kau tahu kau sangat mencintaiku."


Aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan ku, karena itulah aku lebih memilih menyimpannya dalam diam." Tutup Raina pelan sambil memandangi cahanya rembulan.


"I love you Istri ku."


"I love you too Suamiku." Balas Raina manja.


Ketika cinta hadir dalam jiwa, semua hal terasa indah bagaikan di Surga. Tidak ada rasa sakit di dalamnya, yang ada hanya perasaan ingin saling berbagi dan melengkapi dalam suka atau pun duka.


"Cincin yang tersemat di jari manis mu bersinar indah di bawah cahaya rembulan. Semua orang mencari cahaya dalam kehidupan singkatnya, dan aku pun menemukan cahaya ku. Kau orang yang paling dekat dengan hatiku." Lagi-lagi Sawn mengucapkan kata yang berhasil membuat pipi Raina bersemu memerah karena bahagia.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau hanya meminta mahar emas tiga gram? Kau bahkan tidak memakai hadiah pemberian ku!" Protes Sawn dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar oleh Raina. Pelan Raina memegang jemari suaminya dan mengarahkan tangan itu pada lehernya.


Sawn terpaku, begitu lama ia berbincang dengan Raina namun ia tidak sadar kalau istrinya itu sudah memakai kalung indah hadiah pertamanya.


"Aku tidak tahu kalau kau makainya, ini moment yang ku tunggu! Aku bahagia bisa melihat istriku memakai kalung pemberianku. Dan ini hadiah pertama yang ku pilih untuk orang yang paling ku cintai."


"Kau tahu, di luar sana?" Raina menunjuk sembarang dengan tangan kanannya. Di ikuti oleh netra Sawn yang mengikuti gerakan tangan Raina.


"Di luar sana banyak orang yang kelaparan. Mereka lapar bukan karena mereka berpuasa, mereka lapar karena mereka tidak memiliki makanan untuk mereka makan. Aku akan bangga pada suami ku ketika ia lebih memilih membantu orang yang tidak mampu dari pada memberikan ku hadiah mahal, jika kau mencintaiku maka ringankan tangan mu untuk berbagi." Sambung Raina sambil menggenggam jemari suaminya, kemudian ia mencium punggung tangan Sawn penuh cinta.


Jika kau memandang seseorang hanya karena hartanya, harta adalah bayangan yang pasti akan lenyap, sesuatu yang pasti berlalu, dan barang pinjaman yang pasti akan diminta kembali.


"Disini semakin dingin, ayo kita masuk." Pinta Raina sambil meraih jemari Sawn dan berjalan bersama.


"Kau ingin tidur di sisi yang mana?" Raina bertanya sambil menunjuk tempat tidur berukuran besar di depannya, jika di bandingkan dengan tempat tidurnya di panti maka tempat tidur di depannya kali ini tiga kali lipat lebih besar.


"Terserah istri cantik ku saja! Jika dia ingin sisi yang kanan maka aku akan tidur disisi yang kiri." Balas Sawn sambil tersenyum.


"Baiklah, sudah di putuskan. Aku akan tidur disisi yang kanan." Ucap Raina sambil naik ketempat tidur dan di ikuti Sawn yang mulai berbaring disebelahnya.


Arus air berlari dan bergelombang di antara batu karang, dan menyanyikan lagu cinta. Bila cinta adalah mawar, aku menjadi daunnya, hidup kita akan bersama dan tumbuh mekar dalam musim duka atau ceria. Gumam Sawn dalam hatinya sambil menarik Raina dan meletakkan kepala Raina di lengan panjangnya. Begitulah malam berlalu, mereka berdua larut dalam pembicaraan penuh cinta tanpa mengkhawatirkan apa pun dalam hidup baru yang mereka jalani.


...***...

__ADS_1


__ADS_2