Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tamparan


__ADS_3

Raina merebahkan tubuhnya di sofa kamar yang empuk. Tubuhnya masih terasa letih setelah seharian menemani Andre dan bu Alya. Kemudian berlanjut kerumah sakit. Dalam tiga pekan terakhir ini, hidup Raina terasa sangat berbeda. Mudah letih, dan terkadang pusing.


Ibadah memang harus di paksakan! Baca Qur'an harus di paksakan, Shalat harus di paksakan, melakukan kebaikan pun harus di paksakan. Lama kelamaan semuanya akan menjadi kebiasaan.


Raina pun melakukan hal yang sama, rasa kantuk, letih, mual, dan pusing menyerang tubuh lemahnya, namun ia berusaha memaksakan diri untuk bangun dari Sofa empuk tempatnya rebahan tak lebih dari sepuluh menit saja.


Pelan ia berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudhu, Shalat Isya kemudian membaca Al-Qur'an bacaan yang paling disukainya.


Sepersekian detik kemudian, mengalirlah lantunan surah Maryam. Raina sangat menyukai surah ini, ia ingin mengingat kembali kisah nabi Zakaria, Yahya hingga Maryam, gadis suci di Baitul Maqdis sembari menyelami ketenangan yang mengalir membelai lembut lubuk hati terdalamnya.


"Kaf. Ha. Ya. Ain. Sad." Raina mengeja ayat pertama surah Maryam penuh haru.


"Zikru rahmati rabbika 'abdahu Zakariyya"


Iz nada rabbahu nida'an khafiyya


Qala rabbi inni wahanal-azmu minni wasyta' alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'a 'ika rabbi syaqiyya.


Wa inni khiftul-mawaliya miw wara'i wa kanatimra'ati 'aqiran fa hab li mil ladungka waliyya.


Yarisuni wa yarisumin ali ya'quba waj'al-hu rabbi radiyya.


Ya Zakariyya inna nubasysyiruka bi gulaminismuhu Yahya lam naj'al lahu ming qablu samiyya.


Qala rabbi anna yakunu li gulamuw wa kanatimra' ati 'aqiraw wa qad balagtu minal kibari i'tiyya


Qala kazalik qala rabbuka huwa 'alayya. Hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai'a.


Kaf. Ha. Ya.Ain. Sad.


Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmad Tuhanmu kepada hambanya, Zakariya.


Yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.


Dia Zakariya berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah di penuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu, Ya Tuhanku.


Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugrahilah aku seorang anak dari sisimu.


Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya'qub dan jadikanlah dia ya Tuhanku, seorang yang diridai.


Allah berfirman, 'Wahai Zakariyya! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki, namanya Yahya. Dan kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.


Dia Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul, dan aku sendiri sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?

__ADS_1


Allah berfirman, 'Demikianlah, Tuhanmu berfirman, hal itu mudah bagi-ku, sungguh engkau telah aku ciptakan sebelum itu, padahal waktu itu, engkau belum berwujut sama sekali.


Air mata Raina mengalir deras membasahi wajah dan mukena yang ia gunakan. Dalam hatinya ia menghadirkan perjuangan dan ketulusan nabi Zakaria ketika berdoa kepada Tuhannya agar diberikan keturunan. Raina tahu nabi Zakaria telah beruban, beliau sudah tua sedang istrinya mandul. Tapi janji Allah terang benderang, Allah anugrahkan Yahya dalam hidup nabi Zakaria, sang nabi berkarakter menakjubkan, cahaya bagi kaumnya. Mudah bagi Allah untuk membuatmu bahagia, sebagaimana dengan mudahnya Allah membuatmu sedih.


Pelan Raina mengusap perut ratanya. Dengan perasaan syukur luar biasa atas anugrah keturunan yang akan datang dalam kehidupan luar biasanya.


"Nak, ibumu ini seorang wanita yang selalu berusaha tegar dalam menghadapi kehidupan. Sementara ayahmu?" Raina berpikir sejenak sambil menghadirkan Sawn Praja Dinata dalam benaknya.


"Ayahmu adalah pria yang hebat. Dia pria yang lembut dan baik hati, dia jujur, dan dia sangat suka berbagi kepada orang yang membutuhkan bantuan. Kau harus mengikuti jejak ayahmu. Kau paham, kan?" Ucap Raina pelan masih dalam keadaan mengusap perut ratanya.


Raina larut dalam perasaan bahagianya sampai ia sendiri tidak sadar rasa kantuk mulai menyerang, ia terlelap di atas sejadahnya.


Waktu menunjukan pukul 24.30 ketika Sawn pulang kerumah dan mendapati Raina masih tergeletak di atas sajadahnya, pelan Sawn mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya di atas tempat tidur.


" Kau sudah pulang?" Ucap Raina pelan dengan suara khas bangun tidur.


"Apa aku mengganggu tidurmu? Maafkan aku! Kau terlihat tidak nyaman tidur disana!" Ujar Sawn sambil memandangi wajah Raina yang masih terbungkus mukena.


"Tidak apa-apa! Aku senang bisa melihatmu!" Balas Raina lagi sambil berbisik di telinga Sawn. Sapuan hangat nafas Raina membelai lembut wajah tampan Sawn. Dengan lembut Sawn mengusap wajah Raina kemudian melayangkan ciuman di puncak kepala istrinya, cukup lama ia berada dalam posisi itu kemudian beranjak bangun dari samping Raina.


"Kau mau mandi?"


"Mmm!" Balas Sawn singkat.


"Aku mau minta izin!"


"Besok, aku ingin mengunjungi ibuku! Apa aku boleh pergi?


"Tentu saja kau boleh pergi. Tapi, dengan satu Syarat!"


"Syarat? Syarat apa?"


"Kau boleh kerumah ibumu. Tapi, malamnya kau harus menemani suamimu ini ke-pesta!"


"Baiklah. Akan ku lakukan apa pun yang kau inginkan. Ada berita besar yang ingin ku sampaikan padamu! Aku janji akan memberi tahumu setelah kita pulang dari pesta itu, apa kau bisa bersabar sampai besok malam?" Raina bertanya sambil menggenggam erat jemari Sawn.


Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir Sawn selain senyuman tipis yang menjelaskan apa pun akan ia lakukan untuk istrinya, jangankan menunggu sampai besok malam. Bahkan seumur hidupnya ia rela menunggu untuk Bidadari Surga yang saat ini menghiasi kehidupan damainya.


...***...


"Mang Ujang akan menjemputmu sebelum Azan Asar. Kau harus siap-siap untuk itu, aku akan menunggumu di acara itu! Apa tidak apa-apa jika aku tidak menjemputmu dan kita bertemu disana?" Sawn memandangi wajah pucat Raina.


"Mmm."

__ADS_1


"Kok, mmm... Sii!" Protes Sawn spontan.


"Ia, sayang! Bukankah itu terdengar lebih romantis?" Ucap Sawn lagi.


Ucapan Raina terkatup di bibirnya. Sementara Sawn terus saja menatapnya mesra, sedetik kemudian Sawn melayangkan kecupan mesranya di bibir Raina. Raina merasa malu di buatnya. Seketika Raina melihat disekeliling jalan raya, untungnya tidak ada satupun yang melintas di sana. Raina balas mencium bibir Sawn dengan ekspresi wajah penuh kebahagiaan.


Sedetik kemudian Sawn berangkat kekantornya di iringi lambaian tangan dari Raina yang saat ini berdiri di depan panti. Tadinya Raina ingin pergi sendiri, namun Sawn ngotot ingin mengantarnya sampai depan panti.


Sementara itu di dalam rumah, dada bu Romlah berdebar lebih cepat. Dalam hati ia berdoa agar Raina tidak jadi berkunjung, membayangkan kemarahan bu Rahayu tadi malam masih membuatnya merinding.


Apa yang harus ku lakukan? Seharusnya aku memberitahukan Raina Agar tidak berkunjung hari ini! Perasaanku benar-benar tidak enak. Gumam bu Romlah sembari menatap pintu masuk dengan perasaan was-was.


"Ndee... Ame lappa...?" Ucap si bungsu Amel sembari menarik tangan bu Romlah.


"Amel, lapar ya...? Tunggu sebentar nak!" Bu Romlah bangun dari posisi duduknya.


Nanang, Aldy, Linda, dan Andre sedang asyik membaca buku sembari rebahan di karpet ruang tengah. Si kembar Serly dan Erly sedang asyik memainkan boneka baru yang Raina belikan dua hari yang lalu. Sementara Nada, Ana, dan Bunga sedang bermain prosotan di teras lantai dua yang segaja di disain agar anak-anak nyaman ketika mereka berada di rumah saat sedang libur sekolah seperti hari ini.


Untuk sesaat, bu Romlah menatap wajah bu Rahayu yang saat ini duduk di sofa sambil melipat baju. Raut wajah bu Rahayu terlihat sama saat ia sedang meneriaki bu Romlah kemarin malam.


"Bude, bukankah hari ini kakak akan datang? Kenapa kakak belum juga sampai, kami sangat merindukannya!" Ucap si kembar Serly setelah melepas boneka miliknya di lantai.


Sssttttt!


Bu Romlah buru-buru menutup bibir Serly sambil memberikan tatapan tajam pada bocah manis itu. Tanpa menghiraukan ucapan Serly, dengan cepat bu Romlah langsung berjalan kedapur mengambilkan makanan untuk si bungsu Amel yang selalu rewel jika sedang lapar.


Pantas saja bu Romlah menutup bibir Serly untuk tidak menyebut nama Raina. Mendengar nama Raina, entah darimana datangnya amarah bu Rahayu, pikiran tentang Andre yang dipeluk dan cium oleh bu Alya tak bisa lepas dari pikirannya. Nafasnya terasa berat, dadanya terasa sesak, sekuat tenaga bu Rahayu berusaha menahan diri untuk tidak marah, sekuat itu juga kekesalan terus menghantam lubuk hati terdalamnya.


"Assalamu'alaikum... Ibu Raina datang. Adik-adik Kakak datang, kakak rindu kalian!" Ucap Raina dengan senyum mengembang diwajah ayunya.


"Holle cacak datannn!" Ucap si bungsu Amel dengan suara cadelnya.


Semua anak merapat, memberikan pelukan hangatnya pada Raina, kakak yang sangat mereka rindukan karena sudah tiga hari tidak bertemu. Menyadari ibunya tidak lagi menyambutnya dengan hangat Raina mendekat kearah bu Rahayu sambil di ikuti adik-adiknya.


"Ibu. Raina rindu ibu! Hari ini Raina sangat bahagia. Bu Raina hammmm!"


Plakkkk!


Ucapan Raina tertahan di tenggorokannya, bukannya meyelesaikan ucapannya dengan senyum bahagia, justru tamparan keras yang mendarat di pipi kanannya.


Raina terdiam, seolah ada sekat yang membatasi kebahagiannya. Bagaimana ia bisa bahagia jika ibunya marah padanya. Wajah yang tadinya pucat nampak makin pucat.


Prakkkk!

__ADS_1


Makanan yang bu Romlah bawa jatuh kelantai, semua mata seolah menampakkan kemarahannya pada bu Rahayu. Air mata mulai menetes dari sudut mata Raina, sementara adik-adiknya, mereka menangis bersama seolah saat ini sedang ada perlombaan suara tangis terbaik.


...***...


__ADS_2