
Kau masih marah padaku?
Tolong maafkan aku!
Aku berjanji akan selalu bersikap baik padamu!
Raina menghela nafas kasar setelah membaca pesan singkat yang Sawn kirimkan untuknya. Sejujurnya ia merasa bersalah, seharusnya ia tidak perlu marah. Melihat Andre menangis membuat emosinya tersulut. Amarah benar-benar tidak baik.
Malam ini aku akan datang bersama keluargaku kerumahmu! Aku tidak akan sanggup melihat wajahmu dalam kemarahan.
Tolong maafkan aku!
"Aku sudah memaafkan mu, aku akan menantikan kedatanganmu bersama keluargamu. Aku juga harus minta maaf pada bu Alya." Gumam Raina pelan. Belum sempat ia membalas pesan yang Sawn kirimkan, seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuat Raina terkejut sampai ponselnya terlepas dari jemari lentiknya.
"Andre, ada apa dek? Kenapa kau menangis? ssshhttt!" Raina menutup bibir dengan jari telunjuk, meminta Andre menghentikan tangisnya. Raina takut jika bu Rahayu mendengarnya akan terjadi masalah besar.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu? Raina, ibu tidak pernah mengajarkan anak-anak ibu menjadi pembohong, jangan pernah ajarkan adik-adikmu hal yang bertentangan dengan Al-Qur'an. Ibu sangat benci pada pembohong." Bu Rahayu masuk kekamar Raina tanpa mengetuk pintu, ia mulai mengoceh dengan nada tinggi, kekhawatirannya bermula sejak pertama kali ia melihat mata Andre yang terlihat bengkak.
Glekkkk!
Raina menelan sesuatu yang terasa kesat di tenggorokannya. Ucapan bu Rahayu terasa menusuk lubuk terdalamnya.
Kebohongan besar! Bagaimana jika ibu tahu bu Alya ingin mengambil Andre? Habislah aku. Gumam Raina dalam keadaan merunduk.
"Aak-akkk akuuu... Sebenarrr nyaaa..." Ucapan Raina tertahan di tenggorokannya. Membayangkan kemarahan besar bu Rahayu dalam keadaannya yang masih duduk di kursi roda membuat Raina memaksa dirinya untuk berbohong. Sayangnya itu tidak akan mudah bagi seorang Raina untuk berbohong, apa lagi tentang Andre yang berkaitan dengan keluarga Dinata.
"Bu, sebenarnya Raina dan adik-adik..."
"Raina dan adik-adiknya pergi kepusat perbelanjaan. Mbak yu tahukan, akhir-akhir ini anak-anak merasa tegang, karena itu aku meminta Raina mengajak adik-adiknya untuk bermain di luar." Ucap bu Romlah mencoba meyakinkan bu Rahayu.
"Baiklah. Kali ini ibu membiarkan kalian lolos. Ingat! Jika Ibu tahu kau berbohong, saat itu ibu pasti akan menghukummu." Ucap bu Rahayu dengan tatapan tajam.
"Raina janji bu, Raina tidak akan pernah berbohong." Ucap Raina dengan suara lantang. Bersamaan dengan keluarnya bu Rahayu dari kamarnya, seolah balon besar yang mengganjal di hatinya telah meledak dan itu membuatnya merasa lega.
"Kau tahu kan, hari ini bude berdiri si samping mu?" Bu Romlah bertanya sambil meyenggol tubuh Raina.
"Ia, baiklah. Aku akan balas budiii." Ucap Raina pelan sambil memamerkan wajah pura-pura cemberutnya.
"Sebagai imbalannya, aku akan meminta calon suami kayamu membelikan bude barang mahalll." Balas bu Romlah tak kalah dari Raina, ia bahkan menekankan kata 'Mahal' dengan ujung lidahnya sampai membuat Raina tak bisa untuk tidak tertawa lepas.
__ADS_1
"Apa kau yakin nak Sawn jatuh cinta padamu? Melihat raut wajahmu, aku yakin kau tidak pernah tertawa lepas kala bersamanya."
Raina menghentikan tawanya, untuk sesaat ia memikirkan ucapan bu Romlah.
"Katakan pada bude? Kau memanggilnya dengan panggilan sayang kan?" Lagi-lagi bu Romlah meledak Raina.
Kali ini wajah Raina bersemu memerah, rasanya ada kupu-kupu yang terbang di hatinya dan ia merasa geli sendiri.
"Panggilan sayang? Aku masih waras bude! Tentu saja aku memanggilnya dengan panggilan seperti biasa. Selama belum ada ikatan halal beliau tetap akan menjadi pak Sawn bagiku." Ucap Raina sambil mencubit pelan hidung bu Romlah.
"Yaya... Bude percaya padamu! lebih baik kau siap-siap, sebentar lagi keluarga mertuamu akan datang bersama nak Sawn." Ucap bu Romlah sambil memamerkan senyum mengembang di wajahnya.
Ahh iya, aku sampai lupa! Malam ini pak Sawn akan datang.
Ya Allah...
Lancarkanlah segala urusanku! Lirih Raina sambil membuka satu per satu peniti dan bros yang ada di jilbab merah mudanya.
...***...
"Dia bahkan tidak menjawab pesan singkat ku! Bagaimana ia akan tersenyum di depan ku? Membayangkan raut wajah kecewanya membuatku merinding?
Aku akan minta maaf, tidak perduli jika dia menamparku. Tuhan yang maha baik, aku tahu aku tidak terlalu dekat denganmu, tolong jangan uji aku melebihi batas kesanggupanku!" Lirih Sawn sambil memandang keluar jendela mobil yang di kendarai mang Ujang.
Dua menit berlalu tidak ada tanggapan dari Sawn Praja Dinata.
"Tuan!" Ucap mang Ujang lagi, kali ini dengan nada sedikit keras sampai membuat Sawn sadar dari lamunan panjangnya.
"Kita sudah sampai di depan rumah non Raina. Keluarga tuan juga sudah datang dari tadi. Saya rasa tuan telat kali ini."
Sawn melirik arloji di tangan kirinya.
Hhhmm! Sawn menghela nafas sambil membuka pintu penumpang. Dadanya berdebar lagi, dan ini untuk kesekian kalinya. Netranya menangkap Raina sedang duduk di teras rumah dengan dandanan sederhana, make up yang tidak berlebihan. Dan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya dengan sempurna kecuali wajah dan telapak tangannya.
Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu? Kau gadis terbaik yang pernah ku temui. Kau tidak membuka bibirmu kecuali untuk bicara hal yang baik-baik saja. Aku justru bingung kenapa ada wanita yang menghina wanita lain dengan ucapan kasarnya padahal mereka tidak saling mengenal.
Kau cahaya yang kutemukan setelah sekian lama aku berkelana dalam kegelapan sifat buruk ku. Lirih Sawn panjang kali lebar. Kali ini ia melangkahkan kakinya memasuki gerbang hijau itu dengan senyuman manis yang menghias wajah rupawannya.
"Assalamu'alaikum..." Sapa Sawn begitu ia sampai di teras tempat Raina duduk sendiri.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Balas Raina.
"Kenapa kau duduk sendiri?"
"Aahh iya.... Aku sedang menunggu bude Romlah. Beliau sedang keluar bersama Aldy membeli obat untuk ibu di apotek depan." Balas Raina cepat sambil mempersilahkan Sawn duduk di bangku sebelahnya.
Dua anak manusia yang saling mengagumi dalam diam saling mengatur nafas, bahkan Raina tidak berhenti bertasbih, dalam setiap hembusan dan tarikan nafasnya. Berharap Yang Maha Kuasa melapangkan dadanya.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi sore! Seharusnya aku mengikuti ucapanmu untuk menemani Andre dan tante Alya. Aku rasa perasaan cinta ku telah menarik ku kearahmu sampai aku lupa pada segala hal kecuali dirimu!" Ucap Sawn memecah keheningan.
Sementara Raina, ia tersenyum bahagia mendengar ucapan Sawn. Walaupun ia tidak bisa menatap pemilik mata teduh itu, Raina yakin pria di samping kirinya itu benar-benar menyesal. Dan itu sudah cukup bagi Raina Salsadila. Sekarabg ia benar-benar yakin akan perasaan tulus Sawn untuknya.
Ssstttttt!
Raina meletakkan jari telunjuk di bibir merah mudanya, berharap Sawn tidak membicarakan masalah tadi sore, masalah yang bisa membangkitkan kemarahan bu Rahayu.
"Ada apa dengan Andre? Kenapa nak Sawn menyebut bu Alya? Ngomong-ngomong di mana bu Alya, kenapa beliau tidak datang?" Tatapan penuh selidik bu Rahayu berhasil membuat Raina gugup.
"Kenapa mbak yu keluar? Bukankah tamu kita sudah datang? Nak Sawn, mari masuk!" Ucap bu Romlah begitu ia datang.
"Aldy, letakkan obat ibumu di atas meja kamar bude. Kalian juga masuk." Ucap bu Romlah lagi sambil mendorong kursi roda bu Rahayu.
"Huhh! Syukurlah!" Ucap Raina lega.
"Kita hampir ketahuan! Jika ibu tahu bu Alya ibu kandung Andre, dan beliau yang mengirim pereman itu! Aku tidak akan sanggup memandang matanya dan menjalani kehidupanku dengan melihat kemarahannya." Ucap Raina sambil menatap netra teduh Sawn.
"Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia. Menjauhkanmu dari kesedihan. Tidak akan ku biarkan air mata menghampiri kehidupanmu, karena sebelum kau terluka aku yang akan berada di depanmu untuk menghalangi segala duka." Sawn membalas tatapan Raina, namun itu tidak lama karena Raina kembali mengalihkan pandangannya.
"Apa pak Sawn tahu hal yang paling mudah di ingkari oleh manusia?" Raina bertanya sambil menatap wajah Sawn sesaat.
Sawn menjawab pertanyaan Raina dengan menggelengkan kepala.
"Janji! Janji itu mudah di ucapkan, namun sangat mudah pula untuk di patahkan. Sebelum kita menjadi satu, aku ingin meminta pada pak Sawn dengan permintaan yang berasal dari hatiku." Raina menghentikan ucapannya.
Sementara sawn, ia menanti permintaan apa yang akan Raina minta darinya.
Apakah Ia sama seperti wanita lain yang akan meminta Rumah atau Berlian dari suami kayanya? Batin Sawn. Ia masih mencerna setiap ucapan Raina.
"Jika nanti kita menikah dan aku membuat kesalahan, tolong jangan membuat keputusan ketika sedang marah. Dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira." Ucap Raina menutup kalimatnya. Ia memberikan isyarat agar Sawn masuk bersamanya.
__ADS_1
Hari ini Rahasia besar yang kau sembunyikan dari ibu mu hampir ketahuan. Kau memintaku untuk tidak membuat keputusan ketika sedang marah, dan tidak membuat janji sewaktu sedang gembira. Aku berjanji padamu, aku akan selalu ada untukmu. Ucap Sawn dalam hatinya sembari mengikuti langkah kaki Raina karena semua orang sudah berkumpul di ruang tamu.
...***...