Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Bersyukur (Sawn&Raina)


__ADS_3

"Mbk yu... Cepat!" Bu Romlah meminta bu Rahayu agar segera menyelesaikan aktivitas mandinya. Bukan hanya sekali atau dua kali ia mencoba mengetuk pintu, namun ini sudah kesekian kalinya.


"Ada apa denganmu? Mbak baru saja masuk kedalam, bahkan ini kurang dari tiga menit.


Mbak bertanya ada apa? Tapi... Tetap saja kau memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Apa Mbak harus bahagia melihat tingkahmu?" Bu Rahayu bertanya setelah ia keluar dari kamar mandi, ia menatap bu Romlah dengan tatapan tajam, sementara yang di tatap hanya bisa menghela nafas kasar.


Karena panik Bu Romlah sampai tidak bisa mengatakan apapun di depan kakak tersayangnya itu. Dadanya masih berdebar kencang, setelah mendapat panggilan dari Bu Hanum rasanya ia ingin menangis, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk menahannya agar tidak membebani anak-anak panti yang saat ini fokus untuk ulangan kenaikan kelas.


Karena tidak mendengar apapun dari Bu Romlah, Bu Rahayu memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan berjalan menuju dapur.


"Mbak yyyuuuu... Rar-raina mas-suk rumah sa-kitttt." Ucapan berat Bu Romlah mengudara dan berhasil mengoyak jiwa keibuan Bu Rahayu, langkah kakinya terhenti dan air mata mulai menetes dari sudut matanya.


"Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa putri tersayangku kembali ketempat mengerikan itu lagi? Apa preman kurang ajar itu kembali mengganggunya? Katakan Rom? Katakan?" Bu Rahayu berucap sambil menggoyangkan tubuh semampai bu Romlah, sementara itu air matanya tak berhenti menetes.


"Bu-bukan itu Mbak. Bu Hanum bilang, Raina jatuh di ruang tengah rumahnya, dan dokter mengabarkan kalau Raina kita akan melahirkan.


Kita harus kerumah sakit. Apa Mbak yu tidak ingin melihat cucu Mbak yu secara langsung? Romlah bertanya hanya untuk memastikan saja, jika Mbak yu tidak mau pergi, Romlah yang akan pergi setelah anak-anak pulang sekolah."


Bukannya menjawab pertanyaan Bu Romlah, Bu Rahayu malah beranjak menuju kamarnya dengan membawa senyuman yang masih mengembang di wajah keriputnya. Entah apa yang dipikirkan wanita separuh baya itu sampai ia tidak bisa berkata-kata, melihat tingkah kakaknya Bu Romlah hanya bisa menghela nafas kasar. Bahagia atau sedih? Bu Romlah benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran kakak tersayangnya itu.


Sementara itu di tempat berbeda, Bu Hanum menunggu dengan perasaan khawatir luar biasa, untuk sesaat ia kembali mengenang saat-saat ia melahirkan Sawn, tidak ada satupun anak di dunia ini yang berhak bicara kasar pada ayah dan ibunya mengingat kesulitan yang di alami seorang ibu kala melahirkan buah hatinya, seorang ibu melahirkan bertarung nyawa, dan tak jarang seorang wanita tiada kala melahirkan buah hati belahan jiwanya.


"Nyonya, apa Nyonya sedang memikirkan saat Nyonya melahirkan tuan Sawn? Nyonya tidak perlu khawatir, non Raina akan baik-baik saja.


Saat itu Nyonya mengalami pendarahan hebat, dokter sampai menyerah pada kondisi Nyonya.

__ADS_1


Yang harus kita yakini, jauh di atas kehendak Manusia, ada kehendak yang Kuasa. Bahkan jika seorang dokter mengatakan kita sudah tiada, jika gusti Allah menunjukan kuasanya maka tidak ada yang bisa menghentikannya." Mbok Dami mencoba menguatkan Bu Hanum dengan ucapan sederhananya, ucapan yang berhasil memberikan semangat baru bagi Bu Hanum.


"Mbok, Raina membutuhkan suaminya. Dimana anak itu? Kenapa dia belum juga datang, jika dia datang, aku pasti akan menghajarnya, berani sekali dia mengabaikan menantuku gara-gara pekerjaan." Gerutu Bu Hanum sambil mengepalkan tangannya.


"Tidak seperti itu Nyonya, Tuan Sawn meninggalkan kantor sejak tiga jam yang lalu. Nampaknya Tuan terjebak dalam kemacetan, terjadi kecelakan di jalan yang Tuan lewati dan hal itu memicu kemacetan panjang." Ucap Mbok Dami lagi, ia mengabarkan beritanya agar Bu Hanum merasa tenang.


...***...


11:30 Pantry.


"Ada apa? Apa budenya non Raina membatalkan pernikahan denganmu? Yahhh... Aku bisa menebaknya. Lagi pula perempuan mana yang mau menghabiskan hidupnya dengan laki-laki yang menjadikan ototnya sebagai ladang penghasil uang.


Kita bahkan tidak tahu kapan nasi yang kita makan berubah menjadi bubur. Nasib kita sebagai baju anti peluru hanya bisa pasrah dihadapan rupiah." Ucap Pak Yanto sambil meletakkan gelas Kopi pahitnya di atas meja.


"Mang... Tidak ada yang lebih baik selain makan dari hasil kerja keras kita sendiri. Entah kita bekerja sebagai kuli bangunan atau sebagai bos besar, semua itu tidak ada bedanya selama kita ikhlas dalam bekerja.


"Ucapan mang Yanto dan kang Bobby itu memang benar. Sekarang Pak Sawn tidak pernah lagi marah-marah. Apa lagi sekarang dia sudah menjadi Ayah dari seorang putra yang sangat menggemaskan." Agil tersenyum sambil membayangkan wajah malaikat kecil itu. Untungnya, setengah jam yang lalu Bu Romlah sempat mengiriminya foto bocah menggemaskan itu.


Pak Yanto dan Bobby saling menatap, sedetik kemudian dua pria beda generasi itu langsung tersenyum bahagia. Dari lisannya keluar ucapan doa, Rita dan Robin yang tiba-tiba menghampiri ketiga pria berbadan kekar itu juga merasakan bahagia luar biasa.


"Mas Robin terlihat terkejut, saya yakin Mas Robin tidak tahu apa-apa. Bagaimanapun, saya ucapkan selamat karena sekarang Mas Robin sudah jadi seorang paman." Ucap Pak Yanto sambil menyodorkan tangan, tanpa berucap sepatah katapun Robin langsung meraih tangan pak Yanto, cukup lama mereka berjabat tangan sambil tersenyun satu sama lain.


...***...


Sawn tiba di rumah sakit dengan keringat dingin yang membasahi wajah tampannya. Sejak bicara dengan Bi Sumi, ia langsung meninggalkan kantor dengan perasaan takut luar biasa. Bahkan setelah sampai di rumah sakit pun, ia masih harus berlari menuju lantai lima. Sawn yang bodoh, kenapa pula ia harus menaiki anak tangga sementara tersedia lift di setiap lantainya. Jawabannya sangat sederhana, ia hanya ingin menghilangkan kecemasannya. Ia berpikir, dengan sedikit merasa lelah akan membuatnya kembali keakal sehatnya.

__ADS_1


Hiks.Hiks.Hiks.


Tak sampai disitu saja, setelah memasuki ruang inap Raina, Sawn langsung meneteskan air mata melihat buah hati menyejuk jiwanya sedang di gendong oleh Mamanya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sawn langsung mengambil Malaikat kecilnya dari gendongan Mamanya. Ia mulai mengazani Malaikat kecil tersayangnya itu. Tak butuh waktu lama, hanya lima menit saja, ia sudah selesai Azan di telinga kanan kemudian Iqamah di telinga kiri.


"Kenapa harus azan? Abi tidak pernah azan, entah itu di Mussalla ataupun di Masjid." Bantah Sawn saat Raina bilang ia harus Azan untuk buah hatinya yang akan lahir kedunia.


"Kenapa harus Azan, karena Rasulullah pun melakukan itu saat Al-Hasan di lahirkan oleh putri beliau Fatimah."


Dari Husain, ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi wasallam bersabda. Barang siapa yang dilahirkan untuknya seorang bayi, lalu ia mengazani telinganya sebelah kanan, dan mengiqamati telinganya sebelah kiri, maka ia tidak akan celaka oleh Ummu shibyan (jin pengganggu anak kecil)." (HR. Abu ya'la al-mushili)


Sawn kembali mengingat percakapan singkatnya dua hari yang lalu. Karena permintaan Raina ia pun berusaha Azan dengan nada suara terbaik yang ia bisa, suaranya terdengar serak karena air mata bahagianya tak berhenti menetes.


"Abi sudah datang!" Raina terbangun saat Sawn selesai mengazani Malaikat kecil mereka.


"Mama." Raina memanggil bu Hanum yang saat ini tersenyum di sofa. Karena tidak ingin menjadi pengganggu di antara putra dan menantunya Bu Hanum memilih keluar dan berjalan menuju kantin rumah sakit.


"Inikah rasanya bahagia?" Sawn berucap sambil menatap wajah Malaikat kecilnya dengan penuh cinta. Tidak ada balasan dari Raina, yang ada hanya senyuman saja.


"Matanya sangat mirip dengan mata Ummi." Ucap Sawn lagi sambil menatap mata Malaikat kecinya yang masih tertutup rapat.


"Dan hidungnya? Sepertinya sangat mirip dengan hidung Abi. Hidungnya terlihat mancung." Balas Raina, wajahnya tak berhenti memamerkan senyum menawan.


Cinta! Kata orang cinta itu datang dari mata kemudian turun kehati. Namun bagi Sawn dan Raina cinta mereka datang dari hati, kemudian turun kemata. Tak ada kata aku mencintaimu sampai yang kuasa menyatukan mereka dalam mahligai penuh cinta. Dengan bertambahnya anggota baru dalam kehidupan mereka, maka semakin berlipat ganda pula bahagia yang di anugrahkan yang kuasa padanya.

__ADS_1


Ketika Allah melapangkan rizki pada hambanya bukan berarti dia dimuliakan, Qarun di tenggelamkan kedalam perut bumi bersama harta kekayaannya. Dan ketika Allah menguji hambanya dengan kepayahan, bukan berarti dia di hinakan. Bahagia, sedih, senang atau apapun namanya tetaplah bersyukur pada yang kuasa, hanya iman dan taqwa yang ada di dada yang akan menyelamatkan kita dari buruknya penderitaan yang di sebut dengan Neraka.


...***...


__ADS_2