Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Hadiah


__ADS_3

"Rita, minta Robin menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda. Aku tidak akan berada di kantor hari ini, aku akan kembali besok. Jika ada yang penting kau bisa mengirim pesan lewat E-mail." Ucap Sawn sembari menarik jas yang ia sampirkan di sandaran kursi.


"Apa bapak akan pergi kesuatu tempat?" Rita bertanya sambil menatap punggung Sawn yang sedang berjalan menjauhi meja kerjanya


Sawn tidak berniat membalas ucapan Rita, namun ia membalikkan badannya menghadap gadis anggun itu sembari memberikan tatapan memberitahukan kalau ia tidak akan mendapatkan jawaban apa pun.


Rita yang tahu maksut dari atasannya langsung menggigit bibir bawahnya, gadis anggun itu merasa malu dan menyesal.


Dasar bodoh! Kenapa kau bertanya padanya? Bukankah sudah jelas kau tidak akan mendapatkan jawaban apa pun! Kau payah Rita, kau benar-benar payah. Gumam Rita sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku akan menemui calon istri ku! Apa kau sudah mendapatkan jawabanmu?"


Mendengar ucapan singkat Sawn, Rita mengangguk pelan.


Akhirnya kisah bahagia kak Raina akan di mulai, semoga Allah melindungi pasangan baru ini dari mata jahat. Lirih Rita pelan kemudian ia keluar dari ruangan sunyi Sawn menuju ruangannya.


...***...


Sementara itu di pusat perbelanjaan, Raina dan delapan adik-adiknya sedang asyik menikmati es krim mereka. Melihat wajah ceria adik-adiknya membuat Raina semakin bahagia.


Hal sederhana seperti makan di luar rumah sangat jarang mereka lakukan, mengingat kesibukan Raina sejak ia berusia muda.


"Kakak, es krim kakak mulai meleleh! Apa kakak tidak akan memakannya? Jika boleh, apa aku boleh memakannya?" Linda mengejutkan Raina dengan sapuan hangat bibirnya di pipi kanan Raina.


"Apa adik ku ini mau es krim, lagi?" Raina bertanya sembari membelai wajah cantik Linda.


Tidak ada jawaban dari Linda, namun sedetik kemudian bocah cantik itu menganggukkan kepalanya.


"Apa ada lagi yang mau menambah es krimnya?" Raina bertanya sambil memandang satu per satu adik-adiknya. Tidak ada yang mau kecuali Linda.


Melihat saudara-saudaranya tidak ada yang mengacungkan tangan, Linda terlihat murung.

__ADS_1


"Kalian adalah adik-adik kesayanganku, selama kakak bisa memenuhi kebutuhan kalian, kalian boleh memakan apa pun yang kalian inginkan. Satu permintaan kakak pada kalian, jangan pernah mencuri, karena mencuri sangat bertentangan dengan ajaran agama kita. Jangan pernah menipu, karena menipu adalah perbuatan yang buruk." Ucap Raina dengan senyuman yang mengembang di wajah ayunya.


Raina menyadari kalau ia kakak yang belum mampu memberikan kemewahan pada adik-adik kesayangannya, karena itulah ia selalu berusaha memberikan nasihat terbaik yang ia bisa. Agar adik-adiknya selalu bersyukur walau dalam kekurangan.


"Kami semua berjanji pada kakak, kami akan menjadi adik yang selalu bisa kakak banggakan." Ucap Andre sembari berjalan kearah Raina, kemudian di ikuti oleh adik-adiknya yang lain, mereka merangkul tubuh Raina dengan penuh kasih sayang.


Raina tidak tahu, sepasang mata sedang mengawasinya dari jarak lima langkah tempatnya memeluk adik-adiknya.


Hhmmmm!


Raina melepas pelukan dari adik-adiknya setelah mendengar seseorang berdeham di balik punggungnya. Ia menoleh kebelakang, di dapatinya Sawn berdiri sambil membawa setangkai bunga mawar di tangannya.


Setangkai? Ini terlalu sedikit, aku terkesan seperti seorang pria pelit. Batin Sawn.


Namun itulah yang ia dengar dari Andre pagi tadi, ketika ia berusaha mencari tahu hal yang di sukai dan tidak di sukai calon istri masa depan kesayangannya.


Kakak suka mawar! Jangan banyak-banyak cukup setangkai saja. Di depan kak Raina, kakak tidak boleh terlalu membanggakan harta yang kakak miliki, karena kak Raina tidak menilai pria dari banyaknya harta yang ia punya. Kak Raina akan bangga pada kakak ketika didepannya kakak bisa membaca kalam Ilahi dengan Tartil.


Jika kakak bertanya kenapa kak Raina tidak memandang pria dari hartanya, maka jawabannya Fir'aun pun kaya namun bunda Asiyah lebih memilih kembali kepada Tuhannya dalam keadaan mulia. Penjelasan panjang kali lebar yang Andre paparkan pagi tadi membuat Sawn semakin Mencintai Bodyguard Salehanya.


"Sama sekali tidak! Dimana bu Alya?"


"Tante Alya? Dia akan segera datang bersama keluarga mendiang suaminya." Balas Sawn sembari tersenyum manis di depan Raina.


"Apa bapak selalu tersenyum seperti itu di hadapan setiap gadis? Jangan lakukan itu kecuali di depanku!" Guyon Raina sambil meraih mawar yang di sodorkan sawn padanya, sedetik kemudian Raina membalikkan tubuhnya, tersenyum diam-diam tanpa sepengetahuan Sawn yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh cinta.


Jangan lakukan itu kecuali di depanku! Ucapan Raina berhasil mengaduk-aduk perasaan Sawn Praja Dinata, ia tersipu malu seperti remaja yang baru mengenal kata cinta.


Sawn berusaha mengatur deru nafasnya, ia tidak ingin terlihat aneh di hadapan anak-anak yang saat ini mulai memandang aneh kearahnya.


"Apa kau sudah bicara dengan Andre?" Sawn mulai bertanya setelah ia merasa lebih baik.

__ADS_1


Raina menjawab pertanyaan Sawn dengan anggukan kepala. Sawn mulai lega, namun ia terlihat khawatir. Raina berusaha menenangkannya dengan kata-kata sederhananya.


"Bapak tidak perlu khawatir. Aku percaya pada adik-adik ku melebihi diriku sendiri. Andre akan bersikap bijaksana, percaya padaku." Ucap Raina sambil mengedipkan kedua matanya mencoba meyakinkan lawan bicaranya.


"Bapak bisa membawa Andre bertemu bu Alya. Aku akan mengajak adik-adik ku yang lain ke area permainan, setelah kalian selesai bicara temui aku disana." Ucap Raina lagi.


"Apa kau tidak akan ikut bersama ku?"


Raina menggelengkan kepala mendengar permintaan Sawn padanya.


"Bagaimana jika aku merindukanmu? Kau ada disini, tapi aku tidak bisa melihatmu?" Ucap Sawn Lagi.


"Jika bapak merindukanku, sebut namaku dalam do'a mu." Balas Raina.


Sawn terpaku, ia tidak menyangka Raina menyuruhnya untuk memintanya dalam do'a.


"Sawn, sayang. Kalian sudah sampai?" Bu Alya tiba dengan dua wanita dan satu pria.


Sawn tidak menjawab ucapan bu Alya, ia hanya mengedipkan mata kemudian merangkul bu Alya.


"Raina, terima kasih. Kau belum menjadi anggota keluarga, tapi yang kau lakukan saat ini sungguh luar biasa. Tante tidak akan pernah melupakannya. Suatu hari nanti, tante pasti akan membalas budi baikmu."Ucap bu Aya sembari menggenggam jemari Raina.


"Bu Alya tidak perlu sungkan. Saya yakin semua orang yang berada di posisi saya pasti akan melakukan hal yang sama. Nikmati waktu kalian." Ucap Raina sembari melepas tangan bu Alya dari jemarinya.


"Andre, sayang." Panggil Raina sambil berjalan menuju Andre yang saat ini sedang asyik main tebak-tebakan bersama Adik-adiknya.


Raina meraih jemari Andre kemudian meyerahkannya pada bu Alya. Sungguh ini hal yang berat. Raina berusaha bersikap normal agar tidak terlihat cengeng di depan adik-adiknya.


Setelah Andre, bu Alya dan dan keluarga mendiang suaminya tak terlihat oleh netranya, Sawn mengeluarkan sebuah kotak merah seukuran telapak tangan, ia menyerahkan kotak itu pada Raina, dan tanpa bertanya apa isinya Raina langsung saja menerimanya.


"Ini hadiah pertamaku untukmu! Kemarin aku membelinya bersama tante Alya. Aku ingin kau memakainya di hari aku akan menyematkan cincin di jari manismu." Ucap Sawn lega, kemudian ia berjalan meninggalkan Raina. Mencari bu Alya di Restaurant yang sudah di pesannya sejak semalam.

__ADS_1


Hadiah pertamamu? Itu tidak benar! Hadiah terbesarku, kau mencintaiku sepenuh hatimu, dan itu sudah cukup bagiku! Lirih Raina sembari memandangi Sawn yang semakin menjauh darinya, sedetik pun Raina tidak mengalihkan pandangannya dari Sawn sampai tubuh itu hilang di balik kokohnya dinding pusat perbelanjaan.


...***...


__ADS_2