
Prangggg!
Pecahan kaca yang berasal dari meja rias memenuhi setengah lantai kamar. Kamar yang tadinya bersih berubah dalam hitungan detik menjadi tumpukan sampah barang-barang mewah yang ia buru sampai keluar Negri.
"Ini semua tidak berguna!" Ucap gadis anggun itu berteriak, suara teriakannya memenuhi seluruh rumah mewah berlantai dua miliknya.
"Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, tapi ini balasannya? Akan ku pastikan kau tidak akan bahagia." Gadis anggun itu kembali berteriak, kali ini suara teriakannya lebih keras dari sebelumnya.
Kemarahan sebesar itu? Ini benar-benar masalah besar. Gumam seorang asisten rumah tangga yang melihat langsung kelakuan nona mudanya.
"Sejak kecil aku tidak pernah kehilangan apapun, kau berani menantangku? Kau sudah membangunkan singa yang sedang tidur, lihat saja nanti." Ucap gadis anggun itu lagi.
"Aku akan menghabisi mu." Lagi-lagi ia berteriak seperti orang kesurupan.
Aku rasa nona sudah hilang akal. Apa yang harus ku lakukan pada wanita ini? Jika dia marah dia akan berubah menjadi Iblis menyeramkan. Lirih asisten rumah tangga yang berdiri di depan pintu kamar nonanya itu.
Pelan asisten rumah tangga itu berjalan menuruni anak tangga, wajahnya terlihat memamerkan kekhawatirannya. Bertahun-tahun ia meladeni gadis anggun itu, namun hingga saat ini sekalipun ia tidak pernah merasa tenang. Satu-satunya alasan bertahan meladeni gadis muda yang selalu di penuhi amarah itu hanya gaji yang ia tawarkan sangat tinggi untuk seorang asisten rumah tangga biasa sepertinya.
Tidak seorang pun berhak menjual hati nuraninya! Tapi aku...? Aku malah menjual hati nurani ku demi memuaskan wanita kasar itu. Gumam asisten rumah tangga itu lagi.
"Bagaimana keadaan nona Angel? Sepertinya kabel kewarasannya sudah putus! Kita harus bersiap-siap menghadapi kemarahannya." Gumam asisten rumah tangga kedua yang berdiri tepat di samping kulkas.
Asisten rumah tangga pertama hanya menjawap dengan gelengan kepala. Yang menandakan ia tidak yakin.
Sementara di kamarnya, Angel masih di kuasai kemarahan yang terus membuncah. Matanya memerah. Wajah cantiknya sedikit tergores, terkena pecahan kaca meja rias yang tidak sengaja mengenainya.
Aaahhhh!
Angel menjerit kesal sambil mengacak rambutnya. Angel menyeringai, ia mulai menghubungi seseorang setelah menemukan ponselnya.
"Kau harus pulang, aku membutuhkanmu! Beli tiket penerbanganmu, sore ini!" Angel memerintahkan seseorang di sebrang sana dengan nada memelas.
__ADS_1
"Aku tidak perduli. Jika aku bilang kau harus pulang maka kau harus pulang." Kali ini Angel bicara dengan suara tinggi.
Sementara orang yang ia hubungi tidak bisa mengelak, mendengar Angel menangis serasa dunianya runtuh.
...***...
"Hay Yun... Kau tidak makan?" Seseorang menepuk pundak Yuna dari belakang punggungnya. Yuna terkejut sampai minuman yang ia minum muncerat mengenai meja di depannya.
Aissstttt!
Yuna kesal sambil mengipas wajah dengan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menghajar orang kurang ajar yang berani mengganggu kedamaian siang harinya. Jika saja kantin kampus siang ini tidak rame sudah di pastikan sikap kasar Yuna akan meledak seperti biasanya.
Nak, kamu itu perempuan. Kau harus bersikap lembut. Jaga ucapanmu di depan umum karena kehormatan kita tidak boleh tercemar. Ucapan mamanya seolah rantai yang mengikat lehernya, jangan begini, jangan begitu. Dua ucapan itu adalah musuh terbesarnya.
"Vii, kamu tahu kan kalo saat ini aku sangat marah? Jangan menggangguku atau kau akan menyesal."
"Ceilehh, Yun. Masa becada gitu aja marah!"
"Aku baru ingat, tadi pagi aku menonton berita katanya abang mu akan menikah, apa itu benar?"
Yuna menjawab pertanyaan sahabatnya dengan anggukan kepala, sedetik kemudian ia kembali menyeruput jus Mangga yang tersisa tinggal setengah.
"Sayang banget! Padahal aku suka banget sama abangmu, ternyata dia bukan untuk ku!" Ucap Vivi dengan wajah memelas.
"Abangnya Yuna terlalu baik untuk gadis bar-bar sepertimu, bukankah orang tua selalu mengatakan jodohmu adalah cerminan dirimu. Kau tidak memiliki kecocokan dengan abangnya Yuna, paham?" Ucap Arnela sahabat lain Yuna yang sangat akrab dengannya.
"Emang siapa si gadis beruntung yang mendapatkan cinta abang mu, bukankah kekasihnya Angel Sasmita?"
"Jaga ucapanmu! Wanita itu hanya masa lalu, calon kakak iparku yang sekarang jauh lebih baik dari wanita yang kau sebutkan tadi." Ucap Yuna menyela Vivi yang asal bicara.
"Kakak ipar ku hanya wanita biasa, dulu dia bodyguard kak Sawn, gak tahu kenapa kakak ku yang terkenal pemarah itu bisa takluk di hadapan bodyguardnya." Sambung Yuna sambil melirik kiri dan kanannya, berharap tidak akan ada yang mendengar ucapan singkatnya.
__ADS_1
"Bukankah hari ini adalah hari besar untuk abang mu, kenapa kau lebih memilih hadir di kelas? Apa kau merindukan pak Damar?" Arnela meledek Yuna sambil tersenyum padahal sebenarnya ia sangat penasaran.
"Acara akadnya nanti malam, lagi pula kalaupun aku di rumah aku tidak akan bisa membantu apa-apa selain ngeyel sama mama!" Balas Yuna sambil meraih coklat cake yang ada di depan Vivi.
"Di antara kita bertiga hanya kau yang jomblo. Pak Damar itu kan ganteng, dia juga idola kampus. Terima saja cintanya, jika kau sudah bosan kau bisa putus dengannya." Arnela kembali membuka suara, kali ini ucapannya membuat Yuna sedit kesal.
Yuna, gadis pemarah itu bahkan sampai tersedak oleh cake coklat yang ia makan. Hampir saja ia memuntahkannya karena terkejut namun ia segera menelannya kembali.
"Apa aku terlihat seperti gadis putus asa? Apa aku harus menerima setiap pria yang mengatakan cinta padaku? Nggak kan? Lagi pula pak Damar itu bukan tipeku!" Yuna menyeringai kesal, ia berpikir jika dua gadis cantik di depannya bukan sahabatnya sudah di pastikan ia akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.
"Yayaya... Laki-laki tampan, tampang kebule-bulean. Kami sudah tahu!" Ucap Arnela dan Vivi bersamaan membuat Yuna tersenyum getir melihat tampang dua sahabatnya yang terlihat seperti orang bodoh.
Disisi yang tak terlihat, seorang pria mencuri dengar percakapan tiga gadis itu tampa mereka sadari. Merasa sudah cukup dengan impormasi yang di terimanya pria itu langsung meninggalkan kantin untuk menyusun rencana selanjutnya.
...***...
Sementara itu di kediamannya Sawn merasa deg-degan. Sehari menuju halal menjadikan Raina miliknya untuk selama-lamanya membuat Sawn tidak bisa berhenti tersenyum.
Seminggu ini ia bahkan tidak bisa melihat gadis impian yang dirindukan hatinya, meskipun demikian ia berusaha keras untuk belajar membaca Al-Quran.
Sawn sengaja menyewa seorang Ustadz untuk mengajarkannya, sayangnya itu tidak mudah karena ia harus belajar dari awal. Surah Taha yang diminta Raina sebagai mahar ketiganya membuat Sawn sedikit kesulitan, lidahnya masih terasa kaku.
Aku benar-benar payah, bagaimana bisa aku sebodoh ini. Al-Qur'an yang harusnya ku baca dengan mudah, aku malah kesulitan. Aku baru sadar ternyata waktu yang ku buang untuk membaca surat kabar jauh lebih banyak dari pada membaca Qur'an yang sebenarnya sebagai petunjuk bagi manusia. Sawn... Kau dalam masalah besar! Lirih Sawn dalam hatinya.
Tinggal beberapa jam lagi acara akad akan di laksanakan, dan itu membuat Sawn sangat bahagia sekaligus deg-degan. Yang membuatnya sedikit was-was sanggupkah ia membaca surah Taha? Surah yang membawa hidayah bagi Umar Bin Hattab untuk memeluk islam.
"Ya Allah, sehari menuju halal ini membuatku sangat bahagia sekaligus ketakutan. Mudahkan segala urusanku sehingga aku bisa membawa keluargaku menapaki jalan yang kau Rahmati." Ucap Sawn pelan sambil berderai air mata.
Ia mulai mengganti bajunya di bantu seorang penata rias. Dengan perasaan bahagia Sawn mulai bersenandung cinta di dalam hatinya, berharap bahagia ini akan bertahan untuk selamanya walaupun sebenarnya ada duka juga yang mengiringi setiap bahagia.
...***...
__ADS_1