
Huahhhh! Huahhhhh!
Suara teriakan dan bantingan keras yang bersumber dari kamar mandi rumah megah itu memenuhi indra pendengaran ART yang sudah mengabdikan dirinya di rumah megah itu lebih dari belasan tahun lamanya.
Gadis anggun itu semakin kesal melihat leher jenjangnya mulai memerah dan perih bekas cengkeraman pria yang selama ini menjadi pelampiasannya.
"Aku tidak akan memaafkan mu Zain. Tidak akan!" Teriaknya keras.
Prangggg!
Cermin di kamar mandinya pun tak lepas dari amarahnya, cermin itu hancur akibat hantaman benda keras yang ia lemparkan.
Wajah cantik itu terlihat memerah menahan amarah.
"Namaku Angel Sasmita, setiap hal yang kuinginkan akan menjadi milikku, entah dengan sukarela atau paksaan, semuanya akan kembali padaku.
Malam ini kau melakukan kesalahan patal, Zain. Gara-gara gadis payah itu kau berani melukaiku.
Yuna Dinata, tunggu kejutan apa yang akan ku berikan padamu dan kakak ipar murahanmu. Di bandingkan dengan mu, aku jauh lebih muak dengan kakak iparmu. Gadis yatim itu tidak hanya arogan, ia berani mengambil Sawn ku. Kalian berdua akan tamat, entah dengan tanganku sendiri atau dengan tangan orang lain."
Angel membuang nafas kasar, dadanya terasa sesak. Baru kali ini ia merasakan amarah luar biasa sampai membuatnya tidak berdaya. Sikap kasar Prof. Zain nampaknya menjadi pukulan besar bagi seorang Angel Sasmita.
Ia sendiri tidak sadar tangannya terkena pecahan kaca dan mengeluarkan banyak darah.
Jika hatimu terluka sangat dalam dan kau tidak tahu harus berbuat apa, maka segeralah kembali pada Tuhan yang menggenggam jiwa. Minta padanya untuk menenangkan jiwamu, bahkan jika kau tersesat sangat jauh sekalipun, Ia akan tetap menerima uluran tanganmu selama kamu mau kembali dan memohon belas kasihnya.
...****...
Tik.Tik.Tik.
Suara gemerincik air yang menetes dari keran kamar mandi memenuhi indra pendengarannya. Rasa kesal sekaligus amarah bercampur menjadi satu. Yang jadi masalahnya, pada siapa kekesalan yang memenuhi rongga dadanya itu akan ia lampiaskan.
__ADS_1
Ia menggeliat seperti cacing kepanasan, karena merasa sangat terganggu, ia pun segera beranjak menuju kamar mandi dan mematikan kerannya secara sempurna. Dengan mata yang masih terasa berat ia berjalan sembari berpegangan.
Brukkkkk!
Ia kembali menghempaskan tubuh jangkungnya di kasur berukuran besar. Kekesalan yang memenuhi rongga dadanya serasa menguap keangkasa bersamaan dengan tidak terdengar lagi suara berisik dari keran kamar mandinya.
Ia kembali bergemul di balik selimut tebalnya, bahkan suara Azan Subuh yang berkumandang dari Masjid dekat Apartemennya benar-benar tidak bisa membangunkan sosok sempurna pemilik netra biru itu.
Telinganya benar-benar tertutup, jika seorang pria tidak bergetar hatinya kala mendengar Azan yang merupakan panggilan sempurna Tuhan yang maha Esa, kemudian ia lalai dalam melaksanakan ibadah salat subuhnya, bagaimana mungkin seorang wanita aman dari didikannya, wanita tidak hanya butuh materi saja, ia juga butuh seorang yang kan menggenggam erat tangannya sampai kesurga.
Yuna gadis moderen. Dia memang terlihat dingin. Sebenarnya dia gadis yang sangat baik dan penuh perhatian. Untuk bisa mendapatkan hatinya anda juga harus menjadi pria yang baik.
Nasihat Raina pada pertemuan terakhir mereka seolah bergema di telinga pria sempurna pemilik netra biru itu, dengan cepat ia membuka matanya, sedetik kemudian ia melirik pintu kaca yang mengarah menuju balkon, hari hampir saja terang.
Bagai tersengat listrik, dengan cepat ia menendang selimut yang melilit tubuhnya, berlari menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, berusaha mengawali harinya dengan salat subuh. Salat yang biasanya selalu ia tinggalkan.
Entah berapa puluh purnama sudah ia lewati, selama itu juga ia tidak pernah melaksanakan ibadah salatnya.
"Ohh Tuhan, aku benar-benar payah." Gerutu pria pemilik netra biru itu.
Sungguh, ini suasana yang sangat langka. Seandainya mamanya tahu apa yang di lakukannya pagi ini, sudah di pastikan wanita yang paling di cintainya di muka bumi ini akan menangis haru, bukan lantaran sedih. Haru karena bahagia, akhirnya petunjuk menyapa lembut hati putranya.
Orang tua mana yang tidak akan bahagia melihat anak-anaknya tumbuh menjadi permata berharga yang kan membuatnya merasa bangga karena nilai-nilai kebenaran yang di ajarkan sejak usia dini menang melawan kerasnya kehidupan yang kan membuatnya menjadi manusia angkuh dan sombong di hadapan Tuhan.
Assalamu'alaikum Warah Matullah...
Assalamu'alaikum Warah Matullah...
Lima menit berlalu sejak ia memulai Salatnya, Salat subuh itu pun berakhir setelah mengucap salam kekanan dan kekiri.
Zain, sayang. Tidak ada gunanya kesuksesan yang kau miliki jika kau meninggalkan Tuhan yang memberikanmu kehidupan! Seorang laki-laki nilainya tidak di ukur dari seberapa bayak uang yang kau simpan dalam tabungan. Lihatlah papa mu! Dia memiliki segalanya, tapi demi Tuhan yang maha kuasa dia pun rela meninggalkan segalanya.
__ADS_1
Mama tidak akan meminta apa pun darimu. Mama hanya bisa berharap yang terbaik untukmu, jangan terlalu larut dalam mencari Dunia yang tidak sebanding dengan nikmat yang di janjikan Allah.
Profesor. Zain De Lucca.
Status sosial membuatnya menyimpang terlalu jauh. Kini nasihat mamanya yang ia dengar sejak belasan tahun silam kembali terngiang di telinganya.
Mama apa kabar? Prof. Zain kembali bergumam sembari membayangkan wajah teduh mamanya.
"Mama. Aku menemukan permata berharga! Zain janji, Zain akan kembali ke Thailand bersama calon menantu mama. Dia sedikit jutek, tapi sikap juteknya hanya padaku saja." Ucap Prof. Zain sembari melipat sajadah yang ia duduki lebih dari lima belas menit lamanya.
Mentari pagi ini menyapa lembut wajah Prof. Zain De Lucca, untuk sesaat ia berdiri di balkon kamarnya sembari menghirup udara segar pagi ini. Wajah kota nampak indah dari apartemennya. Tidak ada kata yang terlontar dari lisannya selain ucapan syukur saja.
...***...
Tok.Tok.Tok.
"Sarapan sudah siap!" Ucap Raina sambil menatap wajah teduh suami tercintanya.
"Aku menunggumu! Kenapa kau baru datang sekarang!" Protes Sawn sambil menyodorkan dasi berwarna biru pada Raina yang sudah berdiri di depannya.
"Kenapa kau selalu mengetuk pintu? Itu tidak perlu! Semua hal yang ada di kamar ini adalah milikmu, termasuk aku." Ucap Sawn sambil menarik Raina dalam pelukannya.
Dag.Dig.Dug.
Dada Raina berdebar sangat cepat. Tiga bulan menjadi istri sosok sempurna Sawn Praja Dinata, setiap kali berada di dekat suaminya itu masih saja membuat dadanya berdebar tak karuan. Raina merunduk, ia mencoba mengalihkan wajahnya, entah dari siapa ia mencoba untuk sembunyi. Dengan Cepat Sawn menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya. Pandangan mereka kembali beradu, inilah indahnya pacaran setelah pernikahan.
Tidak ada keluhan dari Raina ketika Sawn tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir merah muda milik Raina. Sepuluh detik kemudian Sawn melepaskan bibir lembutnya dari bibir memesona milik istrinya.
"Terima kasih sudah memilihku menjadi imam mu! Akan ku sempurnakan diriku sehingga aku layak untuk terus bersanding dengan hafidzah tiga puluh zuj sepertimu. Kau kebanggaanku, jangan pernah pergi dari sisiku." Ucap Sawn sambil berbisik di telinga Raina.
"Aku akan selalu berdiri di sisimu. Hanya satu pintaku, jangan minum-minuman yang memabukkan. Aku tidak suka itu, dan aku pasti akan marah padamu jika kau sampai melakukan itu." Tutup Raina sambil memamerkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Sawn Praja Dinata setelah mendengar permintaan Raina untuk tidak meminum-minuman haram itu. Sawn balas tersenyum, kemudian meyakinkan Raina kalau ia akan menuruti setiap permintaan istri salehanya.
...***...