
Mata kuliah hari ini berakhir dengan cepat, dosen hanya meninggalkan beberapa tugas kuliah yang harus di kumpulkan minggu depan. Semua mahasiswa bersorak gembira mengetahui dosen mereka hanya berdiri sebentar kemudian keluar terburu-buru.
"Akhirnya, mata kuliah yang membosankan ini berakhir juga. Tadinya aku berniat menyelinap kemudian pergi ke salon kecantikan." Celetuk Vivi sembari memoles bibir pucatnya dengan perona bibir.
"Say... Ayo kita be butik!" Lagi-lagi Vivi nyerocos, kali ini ia menyenggol tubuh Yuna yang duduk di samping kirinya.
"Apa kau tidak waras? Setiap kali kau membuka mulutmu, kau pasti punya rencana besar! Sekarang katakan, rencana besar apa yang di rancang otak sempitmu?" Arnela menyela sambil menatap Vivi dengan tatapan tajam. Biasanya anak itu selalu diam, terlalu sering bergaul dengan Vivi membuat ucapannya sedikit ketus. Mendengar perdebatan kedua sahabatnya semakin tak terkendali, Yuna hanya bisa nyengir tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Malam ini ada acara besar di Hotel sahabat kita!" Vivi menunjuk Yuna dengan netra tajamnya. Sementara yang di tunjuk hanya bisa menghela nafas kasar.
Tentu saja Yuna hanya bisa menghela nafas kasar, karena ia tidak suka dengan acara formal. Menurutnya acara seperti itu terlalu membosankan, dan hanya membuang-buang waktu saja.
"Datanglah! Please, datanglah!" Vivi mencoba merayu Yuna dengan memamerkan wajah imutnya. Sayang sekali, yang di rayunya tidak menunjukan wajah tertarik sedikitpun.
"Tidak!" Balas Yuna ketus.
"Sahabatmu itu hanya gadis rumahan biasa! Dia tidak tahu dengan dunia luar. Jangan mengajaknya melakukan hal di luar batas kemampuannya. Hal itu akan melukai harga dirinya." Seseorang tiba-tiba saja mencoba melebur dalam percakapan serius yang Vivi mulai.
Yuna, Arnela, dan Vivi menatap kearah sumber suara yang berdiri tepat di balik tubuh Yuna yang saat ini duduk di kursi kantin.
Cesss!
Tatapan menyejukkan menembus masuk menuju sanubari terdalam Yuna Dinata, pemilik iris biru itu tiba-tiba datang entah dari mana sembari memamerkan senyum seindah purnama.
"Waw... Prof. Zain!" Vivi dan Arnela menunjukan wajah takjubnya.
Berbeda lagi dengan Yuna, ia hanya menunjukan sikap biasa-biasa saja. Belum ada hal besar yang akan membuatnya merasa tertarik pada Profesor yang menjadi idola kampus itu.
"Aku tidak perlu membuktikan diri pada siapa pun. Entah aku gadis rumahan biasa, atau gadis liar, itu bukan urusan anda." Yuna bicara dengan ketus, beberapa orang yang ada di kantin menatapnya dengan tatapan tajam. Semua gadis ingin dirayu dan di sanjung oleh Profesor ganteng sekelas Prof. Zain, namun dirinya hanya terlihat biasa-biasa saja, itulah yang membuat Prof. Zain tertarik untuk semakin mendekati Yuna. Entah itu cinta atau sebatas obsesi hanya Prof. Zain sendirilah yang tahu. Yang jelas setiap kali menatap wajah polos Yuna Dinata dadanya berdegup lebih kencang.
"Kalian berdua! Nanti malam kita bertemu di Hotel." Tunjuk Yuna pada dua sahabatnya.
"Jangan pernah mencoba untuk menghasud ku lagi, karena itu tidak akan pernah berhasil." Tunjuk Yuna kesal pada Prof. Zain, sedetik kemudian ia menyebikkan bibir tipisnya dan berlalu di depan Prof. Zain tanpa menghiraukan senyum manis yang terus saja terukir di wajah seindah purnama itu.
"Dia sangat manissss!" Ucap Prof. Zain spontan setelah Yuna dan teman-temannya tak nampak lagi di netra indahnya.
__ADS_1
Dari sinilah aku memupuk cinta, merawat harap, bertahan dalam hampa. Aku bahagia bisa melihatmu, satu kalimat yang masih ingin ku ucap, meski tak pernah kau anggap. Aku masih saja menjadikanmu sebagai tujuan. Mungkin karena aku yang belum siuman. Tak pernah sadar atas aku yang tak pernah kau harapkan. Lirih Prof. Zain panjang kali lebar.
"Aku menantikan malam ini!" Ucapnya lagi kemudian beranjak meninggalkan kantin yang semakin ramai di datangi para mahasiswa.
...***...
Raina tiba di kediaman Sawn Praja Dinata kala senja tiba. Sekarang bukan hanya tubuhnya saja yang sakit, namun hatinya juga terasa bagai serpihan-serpihan yang tidak bisa lagi di satukan. Sakit, sangat sakit sampai bernafaspun terasa sesak.
Mungkinkah perasaan sesakit ini yang di alami orang-orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, tanpa berpikir kesedihan orang-orang di sekitarnya?
Raina benar-benar hampa! Ucapan menyakitkan ibunya yang tidak ingin melihat wajahnya masih menggema di telinganya. Ia ingin berteriak walau sekali saja untuk menenangkan jiwa hampanya, sayangnya itu terlalu sulit baginya.
"Non Raina sudah pulang?" Bi Sumi bertanya begitu Raina memasuki rumah tanpa salam.
"Awas non, hati-hati!" Bi Sumi bicara sambil berteriak melihat Raina yang hampir saja terjatuh.
"Ada apa bu?" Ega dan Melati menghampiri bi Sumi dengan kepanikan yang memenuhi rongga dada mereka setelah mendengar suara keras bi Sumi dari belakang.
"Non Raina tidak apa-apa? Maaf non, suara bibi mungkin sedikit mengejutkan non Raina!" Ucap bi Sumi di penuhi penyesalan.
"Wajah non Raina terlihat pucat, apa saya perlu memanggil tuan?" Bi Sumi kembali membuka suara diantara senyapnya udara.
"Ti-tidak. Saya tidak apa-apa! Saya akan istirahat sebentar saja, Insya Allah setelah itu saya akan merasa lebih baik." Ucap Raina pelan. Sudut bibirnya sedikit terangkat memamerkan senyuman, padahal hatinya terasa sakit.
"Bu, sepertinya kita harus menghubungi tuan! Kondisi kak Raina terlihat buruk. Apa terjadi hal buruk selama dia ada di panti?" Melati bertanya sambil menatap wajah bi Sumi, yang di tanya hanya bisa menunjukan wajah khawatirnya saja.
Di kamarnya, Raina langsung berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudhu kemudian melaksanakan salat Magribnya dengan tumpahan air mata.
Innani anallahu la ilaha illa ana fa'budni wa aqimis-salata lizikri.
Sungguh, aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku. (Qs.Taha.14).
Tidak ada hal yang bisa Raina pikirkan untuk menenangkan jiwanya selain mendekatkan diri pada sang empunya jiwanya, Allah.
Cukup lama Raina duduk bersimpuh di atas sajadah, di temani derai air mata dan kesedihan yang masih memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
Tok.Tok.Tok.
Untuk sesaat, pikiran Raina teralihkan oleh suara ketukan pintu yang segaja ia biarkan sedikit terbuka.
"Kak Raina, ada panggilan dari tuan! Tuan bertanya jam berapa kak Raina akan tiba di Hotel. Tuan juga bilang, beliau akan menunggu kakak di lobi Hotel." Ucap Ega begitu ia masuk kekamar Raina.
Menyadari kehadiran Ega yang duduk di belakangnya, pelan Raina menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Ia berdehem pelan seraya mencoba mengatur nafas.
"Aku akan bicara dengannya. Terima kasih." Ucap Raina pelan.
"Assalamu'alaikum..." Raina mencoba menyapa Sawn dari sambungan telpon yang ada di genggamannya.
"Wa'alaikumsalam... Aku akan pulang sekarang!" Terdengar nada khawatir dari sebrang sana.
"Ini hanya masuk angin biasa. Tadinya aku ingin menemanimu dalam acara itu. Sayangnya, aku tidak bisa. Apa kau marah?" Balas Raina penuh penyesalan.
"Bagaimana aku bisa marah, justru aku marah pada diriku sendiri. Disaat istri saliha ku membutuhkan ku, aku tidak ada disisinya." Sawn benar-benar menyesal. Terdengar helaan nafas panjang di telinga Raina.
"Dengarkan aku. Walaupun aku tidak bersamamu, aku ada dalam setiap detak jantungmu. Aku ada dalam setiap tarikan dan hembusan nafasmu.
Aku juga sama! Kau ada dalam setiap doa-doa panjangku. Aku tidak memiliki apa pun yang bisa ku berikan padamu selain rasa cinta dan hormatku yang semakin besar untukmu.
Hanya satu pintaku, apa kau masih ingat dengan itu?" Raina bertanya pelan, ia menggantung kalimatnya. Berharap Sawn masih mengingat setiap hal yang pernah mereka bicarakan.
"Mmm. Aku masih ingat segalanya, aku janji aku tidak akan meminum-minuman yang memabukkan. Cintaku padamu jauh lebih besar dari apa pun, akan ku lakukan semua pintamu tanpa mengeluh. Kau Bidadari Surgaku dan aku bangga tentang itu." Balas Sawn.
"Aku akan marah jika kau sampai melanggar janjimu." Ucap Raina mencoba mengingatkan.
"Kau ada disini? Semua orang mencarimu, ayo kita masuk." Ajak Robin pada Sawn.
"Pergilah, aku mencintaimu." Ucap Raina lagi.
Klik. Sawn menutup panggilan tanpa salam.
Walau merasakan hampa tanpa kehadiran Raina disisinya, Sawn akan mencoba untuk bertahan, cinta dan rindu yang memenuhi rongga dadanya akan menjadi kekuatannya.
__ADS_1
...***...