Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Kita di Takdirkan Untuk Bersama (Sawn&Raina)


__ADS_3

"BU... Kalau Tuan mencari saya, katakan saya akan menemui beliau setelah ganti pakaian. Pakaian ini tidak nyaman untuk Bumil seperti saya!" Ucap Raina setelah ia menghabiskan air mineral di gelasnya.


"Baik, non!" Balas Bi Sumi pelan sambil menunjukan sikap hormatnya. Semenit kemudian Raina sudah tak nampak lagi di netra Bi Sumi.


Sepekan berlalu sejak Sawn memutuskan tidur di lantai bawah, kamar yang dulu Raina gunakan ketika masih berstatus Bodyguard kini menjadi hunian mereka berdua.


Seiring berjalannya waktu, perut Raina pun semakin membesar. Sebagai suami yang selalu siaga Sawn tidak ingin mengambil resiko, lagi pula tidak mungkin baginya untuk selalu menggendong Raina turun naik tangga, kamarnya memang tidak seluas kamar mereka di lantai dua, setidaknya itu bisa meringankan kelelahan Raina.


Bi Sumi tersenyum sambil menutup bibir dengan tangan kanannya. Melihat Bi Sumi tersenyum sendiri memancing kejahilan Ega dan Melati. Kedua gadis muda itu berencana akan mengejukan Bi Sumi, belum sempat mereka mengejutkan Bi Sumi, Sawn malah muncul di belakang mereka dengan tatapan herannya, suara deheman Sawn bahkan berhasil membuat Ega terkejut sampai hampir terpeleset, untungnya Melati segera meraih lengan Ega sehingga gadis itu tidak terjerembab kelantai.


" Se-selamat ma-lam, Tu-tuan?" Ega menyapa Sawn dengan kepala tertunduk.


"Ia... Malam!" Balas Sawn singkat kemudian berjalan mendekati Bi Sumi.


"Berikan aku air!" Pinta Sawn pada Bi Sumi, kali ini ia berusaha melonggarkan dasinya.


"Apa pertunangan Nona Yuna berjalan lancar?Kapan rencana pernikahan mereka?" Bi Sumi membuka suara di antara senyapnya udara. Untuk sesaat Sawn menatap wajah Art separuh bayanya, setelah itu ia kebali meneguk air dingin yang ada di tangannya.


"Yahhh... Pertunangan mereka berjalan dengan lancar. Rencananya, mereka akan menikah bulan depan. Ini memang terkesan terburu-buru, kami menyetujui permintaan Prof. Zain karena tidak ada alasan untuk menunda hal baik." Tutur Sawn setelah menghabiskan air mineral yang ada di tangannya. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja kemudian berjalan menuju kamarnya yang ada di dekat tangga.


Sementara itu di dalam kamar, Raina baru saja selesai berganti pakaian dengan yang lebih longgar, kepalanya pun tertutup rapi dengan kain penutup kepala yang memiliki warna senada dengan gamis yang ia gunakan, hijau.


"Istri tersayangku sudah rapi! Apa kita akan jalan-jalan?" Sawn mencoba menggoda Raina dengan ucapan sederhananya, itu ia lakukan agar cinta di dalam hatinya tak kan mudah memudar. Cinta itu seperti tanaman, ia akan mudah layu kemudian mati jika tak disirami dengan bumbu-bumbu keromantisan.


"Jalan-jalan? Itu terdengar menarik! Sayangnya, buah hati kita meminta Umminya segera istirahat." Jawaban penolakan Raina berhasil membuat Sawn tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa? Ada apa? Apa ada yang lucu? Katakan... Ummi juga ingin tahu!" Raina menunjukan wajah penasarannya. Jarang-jarang Sawn bisa melihat tingkah polos Raina, ia tidak ingin berhenti menggoda istri tercintanya, dengan mata, bibir, bahkan dengan tangannya.

__ADS_1


"Mata Abi, kenapa? Malu, ahhh...!" Raina tersenyum sambil mencubit pipi Sawn Praja Dinata. Berkali-kali Sawn mencoba mengedipkan mata, bukannya terlihat romantis jatuhnya malah sangat lucu sampai Raina tidak bisa menghentikan tawanya.


"Abi tidak boleh mengedipkan mata seperti itu! Abi benar-benar terlihat seperti anak remaja yang sedang mengalami masa puber." Ujar Raina sambil mengambil posisi menyandarkan kepala di pundak suaminya.


"Abi mengaku Abi bukan suami yang romantis. Abi tidak peka. Berbulan-bulan menikah Abi bahkan belum mengenal Ummi secara utuh. Maafkan Abi...!" Sawn terdengar sangat prustasi. Ia menggenggam jemari Raina sambil menatap lurus kedepan, kearah tirai yang terus saja bergerak karena di terbangkan angin malam.


"Apa Ummi merasa kedinginan? Abi akan menutup jendelanya. Sepertinya Bi Sumi lupa menutup jendela ketika sedang membersihkan kamar kita. Tunggu sebentar!" Ucap Sawn sambil berusaha bangun.


"Biarkan jendelanya terbuka. Ummi sengaja membukanya." Balas Raina pelan sambil menarik lengan Sawn agar tetap duduk disisi kanannya.


"Jika Ummi merasa gerah, Ummi tidak perlu memakai baju tertutup seperti ini! Angin malam ini terasa tidak bersahabat, Abi takut Ummi sakit."


"Tidak apa-apa. Bi! Sebentar saja, hanya sebentar." Raina ngeyel tidak mengizinkan Sawn menutup jendelanya, bukan karena ia menyukai angin malam. Hanya saja, malam ini Raina merasa ada hal yang menganjal di hati suami tercintanya, ia ingin bersama dengan hembusan angin malam ini segela resahnya akan menguap keangkasa.


"Menutup Aurat itu wajib bagi semua Muslim Perempuan dimanapun dia berada dan apa pun profesinya. Ummi menutup aurat bukan karena Ummi merasa lebih baik dari wanita manapun. Menutup aurat salah satu bentuk ketaatan Ummi pada Allah.


Kalau seandainya Ummi tiada saat sedang tertidur, maka Ummi akan di temukan dalam keadaan menutup Aurat. Hanya itu alasannya, tidak ada yang lain." Ucap Raina sembari mencoba menjelaskan alasannya tetap menggunakan pakaian tertutup walau di malam hari. Raina masih menyandarkan kepala di bahu kekar Sawn Praja Dinata.


"Ummi lupa sejak kapan Ummi melakukannya. Mungkin sejak SD! Atau... Mungkin saja sejak SMA. Entahlah, Ummi juga lupa.


Wudhu sebelum tidur bisa dibilang kebiasaan Ummi yang tidak akan bisa di ubah sampai kapanpun, agar tidur bernilai ibadah kita di anjurkan untuk bersuci terlebih dahulu. Saat itulah Malaikat akan mendoakan kebaikan.


Sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam pada suatu malam dalam keadaan bersuci, melainkan satu malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimut, tidaklah ia bergerak pada suatu waktu dari malam, melainkan Malaikat itu berdoa 'Wahai Allah ampuni untuk hamba-mu. Sesungguhnya ia tidur malam dalam keadaan suci."


Sawn hanya bisa menganggukan kepala mendengar Raina menyampaikan hikmah dibalik seringnya ia berwudhu sebelum tidur. Bahkan untuk hal sekecil ini pun ia baru mengetahuinya di usia tiga puluh satu tahun, bukankah ini sangat mengejutkan?


"Sekarang katakan! Kenapa Wajah Abi terlihat murung sejak Prof. Zain menyematkan cincin di jari manis Yuna. Apa Abi masih meragukan Prof. Zain?"

__ADS_1


"Tidak! Abi tidak meragukannya. Hanya saja, Abi berpikir Abi adalah suami yang tidak romantis."


Mendengar ucapan suaminya, Raina langsung mengangkat kepalanya dari bahu Sawn Praja Dinata.


"Romantis? Menurut Ummi setiap orang memiliki pandangan berbeda dengan cara mereka di perlakukan. Abi tersenyum dan tidak marah-marah pada Ummi, itu sudah cukup untuk Ummi. Tak perlu berlian dengan harga Fantastis, atau liburan keluar Negri.


Konsep hidup Ummi hanya satu, yakni hidup Sederhana. Kesederhanaan akan membawa kita menjadi Manusia yang taat pada Tuhan yang menggenggam jiwa, yakni Allah." Ucap Raina dengan suara pelan. Ia menggenggam jemari suaminya sambil memejamkan mata.


"Apa Ummi tidak cemburu melihat Yuna memakai Berlian sementar Ummi hanya memakai Emas tiga gram?" Sawn kembali bertanya dengan penuh penyesalan.


"Melihat Prof. Zain mengeluarkan berlian dari sakunya membuat Abi merasa tertampar. Abi bahkan tidak pernah memanjakan Ummi seperti laki-laki lain memanjakan istri mereka!" Sambung Sawn lagi. Kali ini ia merunduk, suara helaan nafas kasarnya membuat Raina ikut-ikutan menghela nafas.


"Abi tidak perlu merasa kecewa. Ummi selalu bersyukur dengan semua hal yang Ummi punya. Abi tidak perlu memanjakan Ummi seperti laki-laki lain memanjakan istri mereka. Ummi adalah wanita tangguh dan juga mandiri.


Dan lebih menakutkannya lagi, Ummi bisa mematahkan tulang lawan dengan sangat mudah. Ummi tidak berbohong! Apa Abi ingin mencobanya?" Mendengar ucapan spontan Raina membuat Sawn tersenyum bahagia, kesedihan yang tadi ia rasakan seolah menguap keangkasa.


"Apa Abi tidak sedih lagi? Jika Abi merasa lebih baik, Ummi akan menutup jendelanya." Ucap Raina sambil bangun dari posisi duduknya, baru saja ia bergerak namun dengan cepat Sawn menarik lengan istrinya.


Raina jatuh tepat di pangkuan suaminya. Bukannya memberikan Raina bergerak, Sawn malah mengunci tubuh istrinya dengan kedua lengan kekarnya.


"Bi, tadi Ummi makan dua piring lo...! Sekarang Ummi semakin gemuk. Emang Abi nggak ngerasa Ummi semakin berat, gituu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Raina, Sawn malah tersenyum dalam diamnya. Ia hanya ingin menikmati waktu luang dengan orang tersayangnya dan ditemani hembusan angin malam. Tidak ada yang lebih berharga untuknya saat ini selain menghabiskan waktu bersama istri cantik nan solehanya.


Dalam malam yang berselimutkan Rembulan dan langit berbintang, kau memenuhi ruang sebagai rasa yang membahagiakan. Luka yang lebam telah menghilang bersama dengan hadirnya dirimu.


Dingin membeku, menghentikan denyut jantungku. Namun kau hadir dalam hidupku bagai hujan yang menghidupkan bumi yang telah lama mati. Terima kasih telah singgah dalam hidupku, kan ku jaga kau sampai ujung usiaku. Kita di takdirkan untuk bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu walau aku harus tiada. Udara di butuhkan untuk bernafas, sama seperti kau adalah kebutuhanku. Gumam Sawn sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Raina.

__ADS_1


Hidup itu terlalu singkat untuk di sia-siakan! Jangan menghina orang lain! Jangan menyakiti orang lain! Dan jangan merampas hak orang lain! Lakukan apa pun yang bisa membuatmu bahagia, namun jangan lupa ada Allah di atas segalanya, Allah yang selalu menyaksikan segala hal yang kita lakukan, dan semuanya pasti akan kita pertanggung jawabkan.


...***...


__ADS_2