
"Parasit? Mama bilang Raina ku seorang parasit! Ucapan mama benar-benar keterlaluan, apa mama tahu wanita yang mama sebut parasit itu menolak ku! Dia menolak ku!" Air mata Sawn mulai tumpah membasahi wajah tampannya.
"Wanita yang mama sebut yatim piyatu itu tinggal di rumah ku dan aku mulai belajar Sholat! Wanita yang mama sebut parasit itu, aku mengamcamnya agar dia tinggal dirumah ku sehingga aku bisa melihat wajahnya setiap hari. Wanita yang mama sebut gila akan kekayaan itu menolak ku! Dia menolak ku!" Sawn bicara dengan nada suara bergetar. Kini kekesalannya sudah memenuhi ubun-ubunnya.
"Aku tidak pernah meminta apa pun dari mama, yang ku inginkan agar mama mendukung ku saja. Bahkan itu pun mama tidak bisa? Aku bisa mengerti mama menolak Angel, tapi dengan Raina? Aku tidak akan pernah menerimanya. Lakukan apa pun yang mama bisa untuk mencegahku datang padanya, aku akan selalu mencintainya. Aku bersumpah atas nama kalian berdua, aku akan menikah hanya dengan Raina saja. Mama setuju atau tidak, dia akan tetap menjadi menantu kalian!" Ucap Sawn sambil bangun dari posisi duduknya.
"Hahaha... Kau ingin menjadikan dia menantu di rumah ini? Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, akan sakit jika kau terjatuh." Balas bu Hanum lagi, kali ini ia pun bangun dari posisi duduknya.
"Mama melahirkan mu dan membesarkan mu tidak untuk melihat mu menjadi anak pembangkang. Jika mama sudah bicara, maka itu adalah keputusan mutlak yang harus kau ikuti. Tidak kau, tidak juga Yuna, kalian berdua hanya akan mengikuti jalan yang sudah ku putuskan." Ucap bu Hanum berapi-api.
"Apa yang mama katakan? Apa ini hasil kebebasan yang selalu papa berikan pada mama selama pernikahan kita? Apa susahnya menerima Raina menjadi menantu di rumah ini? Dia gadis yang baik, dan itu sudah cukup untuk kita sebagai orang tua." Ucap pak Andi menimpali ucapan bu Hanum yang tak berdasar.
"Papa bisa menerima wanita miskin dari keluarga manapun sebagai menantu di rumah kita, tapi tidak dengan ku." Bu Hanum berteriak kepada pak Andi dengan suara lantang.
"Hanum! Beraninya kau meninggikan suara mu padaku!" Balas pak Andi dengan suara bergetar. Pak Andi mengangkat tangan kanannya hendak menampar bu Hanum, untungnya Sawn sengera meraih lengan pak Andi hingga peristiwa buruk itu tidak terjadi.
"Papa berani mengangkat tangan padaku setelah puluhan tahun? Apa ini balasan dari pengabdian ku sebagai istri yang baik selama ini?" Bu Hanum meneteskan air mata, pilu.
"Apa pun yang mama katakan, aku akan tetap menjadikan Raina sebagai istriku. Walau tanpa restu sekali pun, aku pasti akan menikahinya." Ucap Sawn menegaskan.
Sawn benar-benar tidak habis pikir, meminta persetujuan dari kedua orang tuanya akan berbuntut perdebatan panjang bagi keduanya. Jika saja tadi papanya sampai menampar mamanya dalam kemarahan, sudah di pastikan Sawn tidak akan bisa hidup dengan tenang. Bahkan sekarang ia masih terkejut melihat perdebatan orang yang paling di sayanginya di dunia ini.
Sawn membalikkan tubuhnya hendak pergi namun bu Hanum menghentikannya dengan panggilan sayangnya.
"Sawn Praja Dinata! Apa kau akan meninggalkan mama?" Bu Hanum membuka kedua lengannya.
__ADS_1
Pelan Sawn berbalik kearah mamanya, di lihatnya wanita yang paling disayanginya itu tersenyum bahagia, sangat bahagia sampai ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Pelan Sawn berjalan kearah mamanya, kemudian memeluk tubuh bu Hanum dengan derai air mata, ia masih merasakan takut luar biasa, rasa takut menyakiti kedua orang tuanya.
"Dasar anak nakal! Apa kau pikir mama sekejam itu!" Bu Rahayu menepuk pundak Sawn kasar. Baru kali ini ia melihat putranya berani melawan ucapannya, dan itu membuat bu Hanum yakin akan pilihan putranya.
"Mama hanya menguji mu. Mama harus tahu apa kau benar-benar yakin pada pilihan mu, atau kau hanya sekedar bermain-main saja dengan gadis sebaik Raina." Ucap bu Hanum sembari melepas pelukannya dari Sawn.
"Jadi yang tadi itu hanya pura-pura?" Sawn bertanya, penasaran.
"Tentu saja. Tapi mama benar-benar tidak tahu papa mu akan ikut menentang mama. Maafff...!" Ucap bu Hanum sembari menjewer telinganya sendiri.
"Mama benar-benar bangga pada mu nak. Semua laki-laki harus belajar darimu cara mencintai dan menghormati wanita. Seorang laki-laki harus tegas dan berani dalam mengambil keputusan.
Jika ada hal baik yang pernah kau lihat dari mama dan papa, maka ikuti itu agar rumah tanggamu bahagia, namun jika ada hal buruk yang kau lihat dari kami berdua maka buang itu jauh-jauh, sama seperti hari ini papa mu ingin menanpar mama. Jangan pernah lakukan itu!" Ucap bu Hanum sembari menggoda suaminya, pak Andi jadi merasa malu dengan tindakannya.
"Dia sangat menyayangi ibu pantinya. Baginya ibu panti yang membesarkannya lebih berharga dari nyawanya." Balas Sawn lega, akhirnya ia bisa menghirup kebahagian yang sudah ada di depan mata.
...***...
19.30 ba'da Magrib, (Setelah Magrib).
Tok.Tok.Tok.
Assalamu'alaikum...
__ADS_1
Berkali-kali mengucapkan salam, namun belum ada yang datang untuk membuka kan pintu. Sawn menghela nafas kasar.
"Siapa?" Tanya seseorang sambil membuka pintu dari dalam.
"Selamat malam, apa anda ibunya Raina?" Bu Hanum bertanya karena ia benar-benar tidak tahu dengan siapa ia bicara.
"Bukan. Saya bude nya. Nama saya Romlah." Ucap bu Romlah dengan tatapan heran kearah empat orang asing yang berdiri di depannya.
"Siapa yang datang, Rom...?"
"Aahhh... Itu ibunya Raina, kakak saya. Namanya Rahayu." Ucap bu Romlah lagi sembari menjelaskan pada empat orang yang masih berdiri tegap di depannya.
"Siapa yang datang, Rom? Kenapa tidak di persilahkan masuk." Ucap bu Rahayu sambil berjalan pelan.
"Silahkan masuk." Ucap bu Romlah sambil mempersilahkan duduk di sofa yang tak jauh dari pintu depan. Netra Sawn menerawang mencari sosok yang di rindukannya, sayangnya ia tidak menemukan bayangan Raina di panti yang seukuran setengan dari rumah besarnya.
"Apa kita saling mengenal? Tapi, sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Ucap bu Rahayu setelah mereka saling duduk berhadapan.
"Ini putra saya, namanya Sawn Praja Dinata. Itu suami saya Andi Dinata, dan yang satunya lagi adik dari suami saya Alya Dinata. Saya Hanum." Ucap bu Hanum memperkenalkan semua anggota keluarganya.
"Tujuan kami datang kemari ingin melamar anak bu Rahayu, Raina. Untuk putra kami Sawn Praja Dinata!" Sambung pak Andi tanpa berbasa-basi.
Hampir saja minuman yang ada di tangan bu Romlah terjatuh karena terkejut. Begitu juga dengan bu Rahayu, ia sangat terkejut sampai ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Sawn melihat wajah terkejut dua wanita kesayangan Raina.
__ADS_1
Aku yakin kau tidak pernah menceritakan apa pun tentang diriku pada keluarga mu! Aku kecewa, sangat kecewa. Meskipun begitu cinta ku sudah cukup untuk kita berdua. Lirih Sawn dalam hatinya, berharap rasa kecewanya menguap ke angkasa bersama dengan hembusan nafasnya yang penuh dengan perasaan cinta yang ia sendiri tidak dapat mengukur kedalamannya.
...***...