Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menanti Jawaban (Prof. Zain)


__ADS_3

"Wahhh... Kau dalam masalah besar! Kenapa kau memilih gadis manja ini sebagai pelabuhan hatimu? Kau tidak akan merasakan ketenangan, dia sangat bawel!" Celetuk Robin dengan wajah seriusnya. Ia menatap Prof. Zain dengan tatapan memperingatkan.


"Bang Robin." Yuna geram sambil meremas bantal kecil yang ada diatas pahanya.


"Lihat! Belum genap sehari kau meminta restu di hadapan Om Andi dan Tante Hanum dia malah bertingkah seperti orang kesurupan!" Ucap Robin lagi dengan nada kesal. Ia sengaja menjelek-jelekkan Yuna agar Prof. Zain membatalkan niatnya.


Tak jauh berbeda dari Sawn, Robin pun merasakan hal yang sama. Ia belum yakin dengan pria asing yang duduk di depannya. Tidak ada yang mengenal laki-laki lebih baik selain laki-laki itu sendiri. Terkadang mereka datang di hadapan wanita dengan segala macam persiapan, mereka mengucapkan berbagai macam gombalan hanya untuk menarik perhatian, Robin tahu itu karena ia terlalu sering melakukannya.


"Kenapa? Kau kesal padaku?" Robin bertanya sambil menatap Yuna dengan tatapan tajam, Seolah tatapan itu menjelaskan 'Kau adik perempuanku, aku tidak akan membiarkanmu bersanding dengan pria yang salah'


"Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku tahu seberapa baik kau untuk adik perempuanku! Jika kau melakukan kesalahan dan memanfaatkan Yuna untuk tujuan pribadimu, maka maafkan aku! Saat itu terjadi, kau tidak akan bisa menghalangi tinjuku di wajah tampanmu." Ucap Sawn dengan wajah serius.


Mendengar ucapan Kakaknya Yuna hanya bisa tersenyum sambil menutup bibir dengan tangan kanannya, ia menatap wajah tampan kakaknya tanpa berucap sepatah katapun. Seorang kakak laki-laki akan menunjukan kuasa dan kemarahannya jika adik perempuannya disakiti oleh siapa pun, dan kali ini sebelum Yuna disakiti oleh siapa pun Sawn pun menunjukan sikap tegasnya.


"Insya Allah, saya tidak akan menyakiti Yuna." Balas Prof. Zain dengan suara meyakinkan.


"Dengar, aku kakak keduanya Yuna! Jika kau berani menyakiti adik perempuan kami, tidak hanya meninju wajahmu, aku juga akan mematahkan tulangmu!" Sambung Robin dengan wajah garangnya.


"Sudahlah, kalian berdua tidak perlu menakutinya. Prof. Zain tidak akan menyakiti Yuna. Aku yakin itu, karena adik perempuan kalian lebih berharga dari nyawanya." Ujar Raina sambil memandangi tiga pria tampan yang duduk di sofa.


"Aku yakin Prof. Zain mengerti ucapkan Papa dengan baik. Jika dia melakukan kesalahan, dia tidak akan bisa melihat Yuna lagi." Sambung Raina pelan, ia mencoba meyakinkan Sawn dan Robin agar tidak terlalu keras. Melihat wajah tampan Prof. Zain memerah membuat Raina menengahi percakapan serius mereka.


"Pembicaraan serius ini akan kita sudahi sampai disini. Lusa kau akan berkunjung kerumah Papa, aku berharap kau tidak melakukan kesalahan.


Satu lagi, jangan bersikap gugup di depannya. Jika kau melakukan kesalahan di depan Papa maka kau akan berakhir, sangat sulit mendapat maaf dan restu darinya." Sawn mencoba mengingatkan Prof. Zain sembari menepuk pundak pria Thailand itu, tidak ada ketegangan yang terukir di balik wajah tampannya. Yang ada hanya senyuman saja, setidaknya hal itu menambah nilai positif Prof. Zain di hati Sawn Praja Dinata.


...***...


Kediaman Dinata, 19:30.


Suasana di kediaman Dinata terasa sangat sunyi, seolah para penghuninya tak berada di dalam rumah megah itu. Sejak Pak Andi memutuskan agar Prof. Zain berkunjung untuk memberikan keputusan final tentang hubungan dua insan itu, tak sedetik pun berlalu tanpa ketakutan dalam hati Yuna dan Prof. Zain.


Pak Andi tidak semudah itu memberikan restunya, apalagi hubungan mereka tidak memiliki dasar yang kuat, sekali Pak Andi mengatakan tidak maka berakhirlah segalanya.

__ADS_1


Laki-laki di takdirkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, hal itu menuntutnya agar menjadi sosok yang tangguh dan juga bertanggung jawab dalam memimpin keluarganya dengan baik. Jika seorang wanita menikah dengan pria yang baik maka ia akan di perlakukan seperti Ratu, di hormati, disayangi dan di cintai. Hal itulah yang akan di lakukan Pak Andi untuk putri tersayangnya, menentukan pilihan demi masa depan bahagianya.


Makan malam kali ini terasa sangat berbeda, tidak ada basa-basi atau senyuman di wajah Pak Andi, yang terlihat hanya sikap dingin saja. Yuna yang duduk di samping Mamanya terlihat sangat tegang. Sementara itu, Raina yang duduk di sebelah kanan Sawn hanya bisa meyakinkan Yuna dengan gerakan matanya kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Tante, Mama titip salam! Beliau bilang, beliau akan berkunjung minggu depan." Ujar Robin memecah keheningan.


"Benarkah? Itu berita besar, sampaikan salamku pada Mama mu, katakan padanya kalau Tante sangat merindukannya. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir kami!" Balas Bu Hanum sambil menatap wajah ceria Robin.


Syukurlah bang Robin ikut nimbrung di malam menegangkan ini! Jika tidak, habislah aku dengan sikap protektif papa. Yuna bergumam sendiri sambil memainkan makanan yang ada di piringnya dengan sendok yang ada di tangan kanannya.


"Yuna, habiskan makan malammu, nak!" Ujar Bu Hanum sambil menepuk bahu putri cantiknya. Sedetik kemudian, Pak Andi menatap wajah tegang putrinya, seolah wajah itu menjelaskan ketakutannya bila mendapat penolakan.


"Papa sudah selesai makan! Papa akan menunggu Nak Zain di ruang baca."


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


Yuna tersedak makanan yang hampir masuk di saluran pernafasannya. Mendengar ucapan Papanya seolah ada ganjalan besar yang sedang memenuhi rongga dadanya.


"Ke-kenapa harus di ruang ba-ca? Kenapa tidak disini saja?" Yuna mengurai tanyanya sambil meletakkan gelas air mineral yang ada di tangannya.


Pak Andi terlihat mengerutkan dahi mendengar penuturan putri cantiknya, baru kali ini ia mendengar Yuna berpihak pada orang lain selain dirinya. Itu artinya 'Putri cantiknya benar-benar yakin dengan pilihan hatinya' Pilihan yang Pak Andi sendiri belum yakin tentang baik dan buruknya.


"Apa kau akan mengajari Papa tentang hal yang baik dan buruk? Ini tentang masa depanmu, Papa tidak akan lengah soal itu." Balas Pak Andi sambil menatap Yuna dengan tatapan penuh kasih sayang. Mendengar ucapan Papanya Yuna hanya bisa mengangguk dalam diam, tak ada lagi bantahan, yang ada hanya keyakinan akan keputusan seadil-adilnya.


Sedetik kemudian, Bu Hanum, Sawn, Raina, Robin dan Yuna hanya bisa menatap punggung dua pria beda generasi itu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Huhhhhh...!


Yuna membuang nafas kasar, tangannya tak bisa diam. Sendok dan garpu yang ada di tangannya terdengar sangat berisik, wajah cantiknya memamerkan kegugupan tingkat tinggi seolah dunianya akan runtuh.


"Mam, apa Papa akan menekannya? Yuna sangat takut! Biasanya Papa tidak pernah bersikap seagresif itu, jika Papa berkata tidak habislah aku!" Keluh Yuna sembari menyangga kepala dengan tangan kanannya.


Pletakkkk!

__ADS_1


Robin menyentil kepala Yuna dengan jarinya, wajah yang tadinya khawatir terlihat memerah karena kesal pada ulah nakal Robin.


"Bang Robin!" Yuna berteriak dengan nada suara tinggi. Untungnya saat ini ia masih duduk di kursi roda, jika tidak, ia pasti akan membalas Robin dengan pukulan kerasnya.


"Ma... Mama lihat tingkah Bang Robin, dia sangat menyebalkan!" Adu Yuna sambil menarik lengan bu Hanum.


"Yang menyebalkan itu kau, untuk apa kau membela pria berkulit pucat itu di depan Om Andi. Jika aku jadi Om Andi aku pasti akan menolaknya." Goda Robin sambil menjulurkan lidahnya kearah Yuna yang terlihat akan menangis.


Melihat tingkah konyol Robin dan Yuna membuat Sawn dan Raina hanya bisa tersenyum sambil menautkan jemari mereka.


"Kau lihat dua makhluk aneh itu? Mereka seperti tikus dan kucing! Mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu." Sawn berbisik di telinga Raina sambil memamerkan senyum manisnya.


"Jika kau berani bersikap seperti itu padaku, aku tidak akan ragu-ragu untuk menghukummu! Tentunya dengan hukuman yang manis!" Goda Sawn lagi, mendengar ucapan nakal suaminya Raina melotot sambil menyebikkan bibir tipisnya.


"Aku akan menjadi seorang ibu, tidak mudah menghukumku sesuka hatimu!" Balas Raina sambil memukul pelan perut rata Sawn Praja Dinata.


Sementara itu di tempat berbeda Prof. Zain sudah duduk di sofa lantai dua ruang baca. Lima menit berlalu namun tetap saja tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Pak Andi, ia masih berdiri di depan rak buku sambil memilih beberapa buku yang menjadi bahan bacaannya selama beberapa waktu ini.


"Hidup itu terasa menyedihkan tanpa pasangan. Sebaik-baiknya teman adalah pasangan hidup yang selalu mendukung kita dalam kebaikan.


Yuna? Dia satu-satunya putri yang ku punya. Dulu ayahku pernah berkata, menjaga satu anak perempuan jauh lebih sulit dari pada menjaga satu kandang ternak. Kita hidup di zaman moderen, zaman dimana fitnah dan zina di pandang biasa-biasa saja. Jadi, aku pikir ucapan ayah ku ada benarnya, karena itulah aku selalu menjaga Yuna dengan segala kekuatan yang ku punya.


Sebagai seorang ayah, aku tidak pernah membatasi pergaulannya. Dengan caraku, aku selalu menjaganya. Hari itu kau datang dan mengungkapkan semua perasaanmu di depanku, jujur, aku masih ragu dengan mu. Aku masih ragu karena kau tidak mengenal putriku dengan baik. Aku masih ragu karena aku baru mengenalmu, dan aku sangat takut kau akan menyakiti putri manisku!


Yuna gadis yang baik, jika kau menyerahkan setengah hidupmu untuknya, maka dia akan menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Aku tidak ingin putri manisku mendapat pasangan yang salah. Merestuinya dengan pasangan yang buruk sama saja aku melempar putriku menuju jurang penderitaan, aku tidak suka itu!" Ucap pak Andi sambil menatap wajah merunduk Prof. Zain.


"Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan untuk membuat putriku bahagia?" Pak andi kembali mengurai tanyanya, dan ini untuk kesekian kalinya.


"Jika Tuan bertanya apa yang akan saya lakukan untuk membuat Yuna bahagia? Saya hanya bisa menyakinkan anda dengan ucapan tulus saya, saya akan melakukan segalanya demi kebahagiaan Yuna. Saya akan tertawa bersamanya, saya juga akan menangis bersamanya." Prof. Zain diam sejenak, ia menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskan dari bibirnya.


"Saya tidak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik, tapi saya berjanji akan selalu menemani putri Tuan." Sambung Prof. Zain penuh ketulusan, air matanya menetes membasahi wajah tampannya.


Pak Andi meminta Prof. Zain ke lantai atas hanya untuk mengetahui seberapa serius perasaannya pada Yuna. Setelah yakin akan jawaban yang ia punya, Pak Andi pun memegang lengan Prof. Zain dan membawanya kembali kelantai bawah untuk mengumumkan keputusan finalnya.

__ADS_1


Aku seperti burung kecil yang memiliki harapan kecil, akan selalu tinggal dan menemani di hati kecilnya. Aku pun yakin bahwa Tuhan memiliki rencana karena mempertemukan kita. Berharap jalinan kasih ini tidak akan pernah terhalang restu. Gumam Prof. Zain sembari mengikuti langkah Tuan Andi menuruni anak tangga.


...***...


__ADS_2