
"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau habis bergulat dengan banteng?" Tanya Sawn, ia hanya mencoba mencairkan suasana. Melihat tatapan kesal Raina membuatnya merinding. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah menakutkan itu.
Ooh ya ampun, tatapan matanya melumpuhkan jiwa ku! Sepertinya ia akan menguliti ku dengan sikap cerewetnya. Apa yang membuatnya semarah itu? Siapa orang kurang ajar yang berani memukul di bagian wajahnya? Melihat caranya membanting pintu aku yakin ia sangat marah, tamatlah riwayat mu Sawn! Kau belum memulai apa pun dengannya, tapi hari ini gadis impian mu akan mengakhiri segalanya. Lirih Sawn dalam hatinya, netranya masih bertemu dengan netra Raina.
Biasanya Singa betina ini akan mengalihkan pandangannya dari ku. Melihat caranya menatapku, apa dia akan memukul ku? Sawn bertanya pada dirinya sendiri, tentu saja dia tidak akan mendapatkan jawaban apa pun. Meskipun demikian, ia akan tetap melakukannya. Setidaknya itu akan menenangkan gundah di hati terdalamnya.
"Kali ini anda sudah kelewatan. Berani sekali anda mengirim Preman ke rumahku? Jika terjadi hal buruk pada ibu ku, aku bersumpah akan membalas anda seumur hidupku!" Ucapan ketus keluar dari bibir Raina begitu ia membuka mulutnya.
"Aku?" Tanya Sawn singkat.
"Ya, anda!"
"Preman apa maksut mu? Aku tidak mengirim siapa pun?" Sawn bersungguh-sungguh ketika mengatakannya, namun Raina terlanjur tidak mempercayai ucapannya.
"Apa anda masih ingat dengan apa yang anda katakan di Restaurant? Walaupun anda lupa, tapi saya masih mengingatnya dengan jelas. Orang kaya seperti kalian hanya bisa memberikan luka. Aku benci kalian semua!" Raina beteriak keras.
Dia membenci ku? Apa yang membuatnya semarah itu? Ucapan ku yang mana yang menurutnya salah? Setidaknya ia harus memberitahuku agar aku tidak sebingung ini!Gumam Sawn dalam hatinya. Sawn masih berdiri mematung, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, ia masih terkejut. Melihat Raina berteriak sambil menangis membuat hatinya terasa perih.
"Jika anda membenci ku, katakan padaku! Jangan datang kerumah ku dan menakut-nakuti keluarga ku! Ibu ku yang malang dan adik-adik tersayang ku sampai terkejut karena kalian." Raina menghentikan ucapannya sembari menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Kalian? Apa maksutnya? Aku dan siapa? Lirih Sawn lagi. Sungguh, ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Raina.
"Tolong katakan pada nyonya Alya, sampai kapan pun kalian tidak akan pernah bisa mengambil adik ku dari ku. Kali ini preman yang kalian suruh menghancurkan rumah ku bisa pergi dengan selamat, lain kali aku pasti akan mematahkan kaki dan tangannya."
"Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi? Setidaknya katakan apa yang membuatmu sangat marah?" Sawn bertanya dengan nada keras.
"Hahaha... Kau benar-hebat hebat." Ucap Raina sambil tertawa memamerkan gigi ratanya.
__ADS_1
Dia tertawa! Dia sangat marah! Lirih Sawn tak melepaskan tatapannya dari wajah Raina yang mulai lebam.
"Baik, aku akan mengatakannya jika itu yang anda inginkan. Jangan gunakan trik kotor untuk menakut-nakuti kami, aku tidak takut pada kalian. Katakan pada tantemu, nyonya Alya yang terhormat, sampai kapan pun Andre tidak akan pernah menjadi bagian keluarganya." Ucap Raina sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Andre? Apa Andre anak tante Alya?"
"Jangan bertanya lagi! Mendengar pertanyaan anda membuat ku kesal, mulai hari ini aku tidak ingin melihat wajah anda lagi. Aku berhenti dari pekerjaan ini." Ucap Raina kasar, air mata kembali menetes dari sudut matanya.
Sawn masih berdiri mematung mencerna setiap ucapan ketus Raina, gadis impiannya itu sudah menghilang dari pandangannya bersama dengan bantingan keras di pintu. Ia terkejut karena Raina memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.
Kau menghilang dari pandangan ku? Bagaimana jika aku merindukanmu? Tante Alya, kekacauan apa yang tante lakukan sampai Raina ku sangat marah pada ku? Tak ingin berlama-lama dalam kesedihannya Sawn berjalan menuju meja kerjanya sembari meraih ponsel dan menghubungi nomor orang yang tidak asing lagi baginya.
...***...
Kakak... Ibu ku di bawa kerumah sakit. Orang-orang jahat itu menghancurkan rumah kami. Tolong kak Raina... Hiks. Hiks. Hiks.
Pantas saja Singa Betina itu sangat marah! Kekacauan besar di lakukan suruhan tante Alya di rumahnya. Lirih Sawn pelan sembari menambah kecepatan mobilnya.
"Kakak? Kakak sedang apa disini?" Yuna yang baru pulang dari Swalayan terkejut melihat Sawn datang dengan wajah kesal.
"Kakak." Panggil Yuna lagi, namun Sawn tidak menghiraukannya. Ia terlalu marah untuk sekedar meladeni Yuna.
"Dimana tante Alya?" Sawn bertanya sambil berjalan. Ia benar-benar tidak menghiraukan Yuna yang terus mengikuti langkah kakinya dari belakang.
"Tante Alya ada di dapur bersama mama. Sementara papa ada di atas."
"Tante." Sawn berteriak kasar sampai seisi rumah terkejut termasuk papanya yang berada di ruang baca.
__ADS_1
"Sawn, sayang. Kanapa kau harus berteriak? Mama dan papa tidak pernah mengajarimu bersikap kasar pada orang tua." Ucap bu Hanum sembari mendekati Sawn, bu Alya ada di belakang bu Hanum.
"Ma. Aku sangat marah. Darah ku terasa mendidih. Apa mama tahu apa yang sudah di lakukan tante Alya, aku bahkan malu menyebutnya tante ku." Ucap Sawn lagi.
"Apa kau sudah selesai dengan omong-kosong mu? Berani sekali kau berteriak pada tante mu dirumah ku? Apa begini cara kami membesarkan mu? Kami terlalu memanjakan mu sampai kau bertindak di luar batas. Minta maaf pada tantemu!" Ucap pak Andi kasar sambil menuruni anak tangga.
"Maaf." Ucap Sawn sambil membuang muka.
"Apa yang di lakukan tantemu sampai kau semarah itu? Apa dia merugikan perusahaan mu? Semarah-marahnya seorang anak, dia tidak berhak berteriak pada orang yang lebih tua." Ucap pak Andi lagi, kali ini ia bisa mengontrol nada suaranya.
Sawn duduk di sofa, di ikuti pak Andi, bu Hanum dan bu Alya. Yuna juga ikut nimbrung di dalamnya.
"Tante, bukankah aku sudah bilang kalau aku, mama dan papa akan membantu tante mendapatkan kembali putra tante. Lalu untuk apa tante melakukan kekacauan? Apa tante tahu? Karena kecerobohan tante anak itu jadi takut. Tidak hanya menakutinya, kau bahkan membuat ibunya masuk rumah sakit." Ucap Sawn dengan nada suara pelan, ia tahu papanya tidak akan suka jika ia berteriak. Karena itulah sebisanya ia mengendalikan amarahnya.
"Anak? Anak siapa maksutmu?" Pak Andi terlihat terkejut.
"Jadi papa tidak tahu kalau tante Alya punya anak? Jauh sebelum tante Alya menikah dengan suami bule nya, ia sudah memiliki putra dengannya. Dulu dia membuang anaknya dengan alasan malu, dan sekarang ia menghancurkan rumah Raina hanya untuk mengambil adiknya." Sawn menghela nafas sambil membayangkan wajah lebam Raina.
"Adik Raina? Apa maksutmu?" Bu Hanum bertanya karena penasaran, sementara pak Andi dan Yuna masih terlihat Shock dengan berita yang di dengarnya.
"Anak tante Alya adalah adiknya Raina. Anak malang itu bahkan ketakukan karena pereman yang di kirim tante Alya ke panti mereka. Tidak tahu apa yang akan dipikirkan Raina tentang keluarga kita." Ucap Sawn sambil menyenderkan kepalanya di sofa.
Bu Alya hanya bisa diam, tidak ada pembelaan yang ingin disampaikannya. Ia mengaku salah. Pak Andi, bu Hanum, Sawn dan Yuna, mereka hanya bisa melihat kesedihan di mata bu Alya. Lebih dari itu mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Apa yang harus ku lakukan agar Singa Betina ku tetap berada di depan mata ku? Aku sangat merindukannya! Tapi, dia sangat membenciku. Kesalah pahaman ini akan menjauh kan kami berdua. Kenapa ini harus terjadi? Aku bahkan tidak melakukan apa pun untuk membuatnya kesal. Kenapa aku harus membayar kesalahan tante Alya? Tuhan, tolong katakan pada Raina aku sangat menyayanginya dan aku sama sekali tidak terlibat dengan ketiga pereman yang di kirim tante Alya. Lirih Sawn pelan sambil menahan pedih di hatinya.
...***...
__ADS_1