Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menjaga Perasaan


__ADS_3

"Silahkan duduk!" Bu Rahayu mempersilahkan keluarga Dinata untuk duduk, bahkan wanita separuh baya itu tidak pernah melepas senyuman dari wajahnya, rasanya kebahagian ini telah memenuhi seluruh pori-pori di tubuhnya.


Tuhan, aku sangat bahagia. Pantaskah aku sebahagia ini padahal salah satu anakku hampir dalam masalah? Aku tidak ingin kehilangan Raina dan Andre disaat bersamaan. Gumam bu Rahayu. Air matanya mulai tumpah, namun dengan segera ia menghapusnya agar tidak ada yang tahu kesedihan yang coba ia sembunyikan. Sayangnya itu sudah terlambat karena bu Hanum menangkapnya sedang menghapus mata dengan punggung tangannya.


"Bu Rahayu tidak perlu khawatir, kami sekeluarga sudah menganggap Raina seperti anak kami sendiri. Aku dan papanya Sawn pasti akan memperlakukan Raina seperti bu Rahayu memperlakukannya di rumah!" Ucap bu Hanum sambil tersenyum.


Mendengar ucapan singkat bu Hanum membuat bu Rahayu lega, rasanya ada angin Surga yang membelai lembut hatinya.


"Nak Sawn, tolong jaga putriku! Setelah ini dia akan menjadi tanggung jawabmu!" Pinta bu Rahayu pelan, kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan air matanya.


"Putri ku adalah putri yang sederhana! Aku bisa jamin kemurniannya. Raina tidak akan pernah mengecewakanmu.


Putriku tidak pernah berbohong, jika suatu hari nanti ada masalah dalam hubungan kalian, tolong percayalah padanya, karena dia pasti benar. Genggam erat tangannya kala hujan, karena putriku tidak akan berani sendirian. Aku memintamu karena sekarang masa lalu dan masa depan Raina akan menjadi milikmu." Sambung bu Rahayu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Bu Romlah yang melihat kakaknya berderai air mata ikut larut dalam kesedihan.


"Mbak yu..." Ucap bu Romlah sambil memeluk tubuh bu Rahayu yang duduk di samping kanannya.


"Ada seseorang yang pernah berkata padaku, jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira. Saat ini rasanya kebahagiaanku sudah mencapai puncaknya, dan kegembiraan yang kurasakan melebihi semua rasa yang ada. Meskipun demikian, aku tidak akan membuat janji pada ibu. Aku hanya bisa berkata, aku Sawn Praja Dinata akan selalu menemani Raina Salsadila sampai di ujung usiaku.


Aku tidak akan membiarkannya jauh dari ku, bahkan jika dia menghilang dari pandanganku, akan ku pastikan untuk membawanya kembali dalam pelukanku." Ucap Sawn panjang kali lebar hanya untuk menyakinkan bu Rahayu.


Sementara Raina, ia tersenyum dalam diamnya. Ia tidak menyangka pria yang membuatnya menangis dalam pertemuan pertama mereka begitu mencintainya sampai ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya dengan sekedar kata-kata saja.


Wanita tidak perlu janji, yang ia butuhkan pria yang meminangnya di hadapan orang tuanya dan di saksikan yang kuasa alam semesta selalu mencintainya dengan sepenuh hati dan setulus jiwanya. Berbagi dalam suka dan duka, dilandasi kepercayaan dan kejujuran dalam hubungan yang terkadang begitu mudah rapuh.


Hubungan tercipta dengan kasih sayang dan cinta, semoga kau selalu mencintaiku seperti ini. Gumam Raina dalam hatinya, sungguh rasanya seperti angin Surga yang dirindukan setiap orang membelai lembut hatinya. Setiap duka yang pernah datang terasa sirna dalam hitungan detik saja. Bahagia ini tidak terkira.

__ADS_1


Apa setiap wanita merasakan bahagia yang sama seperti yang kurasakan?Aku berharap tidak ada duka yang menghampiri wanita manapun dalam kehidupan singkat kami. Gumam Raina lagi dalam hatinya.


Untuk sesaat netra Raina memburu netra Sawn, netra pria berparas rupawan itu berkaca-kaca, menggambarkan kebahagiaan yang menyelimuti lubuk terdalamnya.


Allah Akbar...


Alhamdulillah...


Takbir dan syukur yang membuncah memenuhi lubuk terdalam Raina.


"Raina, apa aku boleh bertanya?" Ucapan Sawn menyadarkan Raina dari kesibukan hatinya yang terus menerus mengagungkan Tuhannya dalam diam.


Raina Menjawab Sawn dengan senyum manis yang menghiasi wajah ayunya. Jika di pikir-pikir ini pertama kalinya Sawn memanggil nama Raina secara terang-terangan di depan gadis impiannya itu. Biasanya mereka saling bicara namun jarang memanggil nama.


Raina! Raina! Aku tidak tahu namaku bisa seindah itu kala di panggil olehnya. Gumam Raina dalam hatinya.


"Tanyakan apa pun yang pak sawn ingin tanyakan, Insya Allah akan ku jawab dengan jujur tanpa menyembunyikan apa pun." Balas Raina sambil menatap netra Sawn.


Raina menjawab dengan anggukan kepala, ia ingin tersenyum bahagia namun ia mengurungkan niatnya karena ia terlalu malu untuk itu.


"Aku memiliki banyak kekurangan! Aku bahkan masih belajar cara membaca Al-Quran agar mahar membaca Qur'an surah Taha yang kau minta bisa ku baca dengan sempurna. Apa kau bersedia sehidup semati dengan pria yang memiliki banyak kekurangan ini?"


Raina berpikir sesaat, membuat dada sawn berdebar lebih cepat. Lagi-lagi Raina membalas dengan anggukan kepala, membuat kecemasan Sawn serasa menguap keangkasa bersama dengan rasa letihnya.


Sedetik kemudian Sawn bersujut syukur, ia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Ia berjalan pelan menuju Raina yang duduk di samping bu Hanum.


Semua mata terpesona pada perilaku Sawn yang saat ini sedang bersimpuh di depan Raina. Ia membuka kotak kecil itu dan memasangkannya di jari manis gadis impiannya, sebuah cincin berlian yang sengaja Sawn pesan dari langganan perhiasan mamanya.

__ADS_1


Hampir saja Sawn menangis karena bahagia, pelan Raina merunduk dan berhenti di dekat telinga Sawn.


"Apa ini tidak berlebihan?" Bisik Raina dengan senyuman yang masih mengembang di bibir merah mudanya.


Sawn terkejut mendengar ucapan Raina.


"Tentu saja... Tidakkkk!" Balas Sawn cepat, membuat semua yang ada di ruang tamu tertawa lepas melihat ekspresi wajahnya yang memerah bagai kepiting rebus.


Ini masalah besar! Ia berada sangat dekat denganku namun aku tidak bisa memeluknya. Gumam Sawn dalam hatinya, pelan ia beranjak bangun dan kembali duduk di sofa sambil menenangkan hatinya agar selalu bersyukur atas karunia yang Allah berikan untuknya.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:09


Semua keluarga Dinata bersiap untuk pulang setelah memberikan hantaran. Sementara bu Rahayu, ia meminta Raina mengantar Sawn sampai pintu depan.


"Sebenarnya ada hal lain yang ingin ku tanyakan, apa kau sudah melihat hadiah yang kuberikan padamu? Kenapa sampai saat ini kau tidak memakainya?" Tanya Sawn begitu mereka sampai di pintu depan.


"Boleh memakainya setelah menikah." Balas Raina sambil merunduk.


"Hidup kami di tempat ini begitu sederhana. Bila memakai hadiah mahal, aku akan merasa canggung." Ucap Raina lagi.


"Baiklah. Aku paham. Aku menyukai kau katakan isi hatimu dengan jelas. Mungkin ini kebenaran yang di katakan orang harus di ucapkan dalam ikatan ini. Ini pertemuan terakhir kita sebelum pernikahan. Apa kau akan baik-baik saja tanpa melihat ku?"


Raina mengangguk pelan.


Kau akan baik-saja, tapi aku yang tidak akan baik-baik saja! Aku akan merindukanmu di titik aku pikir aku akan gila jika tidak melihatmu. Gumam Sawn dalam hatinya.


Dua anak manusia yang saling menjaga perasaan cintanya agar tidak ternoda oleh hawa nafsu sebelum pernikahan, kini harus berpisah kembali.

__ADS_1


Tidak perduli jika rasa rindu itu membuncah sampai mereka tidak bisa menahan diri, namun bagi mereka kebaikan yang kuasa akan selalu menjaganya untuk tidak berbuat dosa.


...***...


__ADS_2