Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menjaga Diri


__ADS_3

Ketika cinta menyapa hatimu, rasakan rasa itu kemudian panjatkan rasa syukur yang sebesar besarnya pada Tuhan yang menggenggam jiwa mu. Biarkan rasa itu tetap bersemanyam di dalam hatimu, tak perduli rasa sakit kan menghampirimu di kemudian hari sebagai balasan dari rasa cinta itu.


Reaching for a love that seems so far.


So I say a little prayer and hope my dreams will take me there.


Where the skies are blue, to see you once again my love.


Overseas from coast to coast to find the place I love the most.


Where the fields are green, to see you one again my love.


Prof. Zain terus saja bersenandung penuh cinta, nyanyiannya terhenti ketika matanya terbelalak karena melihat pintu apartemennya sedikit terbuka. Pelan ia memasukkan kepalanya, menoleh kekanan dan kekiri mencoba mencari tahu siapa yang berani membuka apartemennya tanpa izin, sayangnya netra birunya tidak menangkap siapa pun.


Dasar payah. Saking semangatnya bertemu gadis aneh itu aku bahkan sampai lupa menutup pintu apartemen ku. Gumam Prof. Zain sambil menepuk kepalanya pelan.


Bapak tidak perlu memasukkan semua ucapan mama dan papa ku ke dalam hati. Anda tahu sendiri, kan? Mereka berdua hanya mencoba bersikap ramah. Ucap Yuna ketika mengantar Prof. Zain keluar menuju mobilnya yang di parkir di halaman depan.


Seandainya mama dan papa terlanjur menyukai bapak sebagai calon menantu ideal mereka, aku akan tetap menolak bapak. Menurutku bapak terlalu misterius, dan aku tidak suka menebak keburukan orang. Ucap Yuna lagi. Prof. Zain hanya bisa diam mendengar gadis anggun di depannya terus saja mengoceh tanpa jeda.


Aku sudah bilang, aku tidak suka pada bapak. Seperti ucapanku sebelumnya, pria tampan tidak selamanya pria baik, dalam pandangan ku nilai bapak hanya nol. Nol besar. Kali ini tidak hanya diam, Prof. Zain bahkan menghela nafas panjang mendengar nilai yang di berikan Yuna padanya. Gadis cantik itu tidak hanya mengucapkan omong kosong saja, ia benar-benar membuktikan ucapannya.


Awalnya aku berpikir bapak pria yang baik, dan kita bisa menjadi teman. Mau bagaimana lagi? Kelakuan buas bapak di clab malam waktu itu membuatku merinding. Di luar negri mungkin tidak apa-apa pria menempelkan bibirnya pada sembarang wanita, tapi disini kami berbeda. Kami para gadis tidak akan menyerahkan diri kami pada pria yang bukan pasangan halal kami.


Sungguh, melihat bagaimana bapak menerkam wanita di clab itu membuatku merasa takut. Seketika itu juga bapak sudah mendapat cap buruk dariku, pria mesum dengan tampang bak Malaikat tanpa dosa. Aku tidak suka itu. Ucap Yuna menjelaskan panjang kali lebar. Sungguh, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Prof. Zain selain penyesalan yang memenuhi lubuk hati terdalamnya.


Mungkin, ini pertemuan terakhir kita sebagai pria dan wanita, setelah ini kita akan kembali menjadi orang asing seperti semula. Maksutku, hubungan antara Profesor dan mahasiswanya, itu terdengar lebih baik dari pada menjadi teman. Ucap Yuna lagi sembari menyodorkan tangannya pada Prof. Zain.


Yuna menatap Prof. Zain sambil memamerkan senyum seindah Purnama, saling berjabat tangan sebagai salam perpisahan pada hubungan yang bahkan belum memiliki nama.


Prof. Zain masih berdiri mematung di dalam apartemennya mengingat setiap kata yang di rangkai Yuna Dinata. Ia benar-benar heran, bagaimana bisa wanita anggun itu tetap konsisten pada pendiriannya untuk tetap menolak pria setampan Prof. Zain De Lucca.


"Aku merasa bahagia berada di dekatmu, aku tidak menyangka kau gadis pertama yang menolak ku secara terang-terangan. Dan hal itu membangkitkan egoku untuk terus berada disisimu." Ucap Prof. Zain pelan sembari membayangkan senyuman sempurna milik Yuna Dinata sebelum perpisahan mereka.

__ADS_1


"Aku pun me-ra-sa bahagia be-ra-da di dekat mu." Ucap seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Prof. Zain dari belakang. Karena terkejut Prof. Zain mendorong wanita yang ada di belakangnya dengan kasar, wanita itu terpental dan jatuh di sofa.


"Si-a-pa?" Ucapan Prof. Zain tertahan di tenggorokannya begitu ia memandang wanita yang jatuh di sofanya. Prof. Zain mulai menghela nafas, ia benar-benar heran kenapa gadis incarannya bisa masuk kedalam rumahnya secara tiba-tiba.


"Kau mabuk?" Prof. Zain bertanya sambil menutup hidung. Iris birunya menatap dengan tatapan kecewa, wanita anggun di depannya terlihat kacau dan menyedihkan.


"Tidak sa-yang. Aku ha-nya mi-num sedikit sa-ja tidak mungkin aku mabuk karenanya."


"Angel, sadarlah. Kau bukan Angel yang ku kenal. Angel yang ku kenal adalah wanita anggun penuh pesona. Aku akan menelpon sopir pribadimu. Dia akan mengantarmu pulang." Ucap Prof. Zain sambil menggelengkan kepala.


Angel berusaha bangun dari sofa, sayangnya tenaganya tidak sekuat itu, berkali-kali ia jatuh terlentang. Pelan Prof. Zain berjalan kearah Angel berusaha membantunya, entah apa yang di pikirkan Angel Sasmita, tanpa aba-aba ia langsung menempelkan bibir seksinya pada bibir lembut milik Prof. Zain De Lucca.


Prof. Zain menikmati ******* Angel di bibir tipisnya, ketika ia mencoba menutup mata menikmati rasa yang ada, seketika itu juga senyuman manis Yuna seolah-olah menari di pelupuk matanya. Prof. Zain tersadar, ia segera menarik diri dari kelakuan buasnya, ia berdiri dan menjauh dari Angel sambil menghapus lipstik Angel yang masih menempel di bibirnya.


"Ada apa? Apa aku tidak menarik lagi? Kenapa kau menjauh dari ku? Malam ini kita akan menghabiskan malam bersama." Ucap Angel sambil berdiri, sekarang ia mulai terlihat normal.


Angel menyisir rambut dengan jemarinya. Berusaha memperbaiki gaunnya yang berkerut di beberapa bagian. Malam ini Angel menggunakan gaun merah dengan belahan dada tengah, membuatnya terlihat sempurna di bawah cahaya temaram ruang tengah.


"Aku sudah menelpon sopirmu, dia berada di bawah. Kau harus pulang, ini sudah tengah malam. Tidak baik bagi wanita berduaan dengan seorang pria yang tidak halal baginya." Ucap Prof. Zain sambil menyodorkan tas tangan milik Angel Sasmita


"Ada apa denganmu? Aku bilang aku ingin menghabiskan malam ku dengan mu, kenapa kau mengusirku? Apa aku tidak menarik lagi dimatamu?" Angel bicara dengan nada tinggi, setiap kata yang di ucapkannya terasa bergema di apartemen Prof. Zain yang kedap suara.


"Apa kau juga berpaling dari ku? Kau bilang kau akan mengembalikan Sawn ku? Lalu apa ini? Apa begini caramu mengembalikan Sawn ku? Bukannya menepati janjimu kau malah bersenang-senang dengan adiknya. Apa kau sudah mendapatkan tubuhnya sampai kau menolakku?"


Wajah Prof. Zain memerah menahan amarah. Rasanya ia ingin melayangkan tamparan keras di wajah cantik itu, sayangnya tangannya tidak bisa di gerakkan.


"Jaga ucapanmu! Berani sekali kau bicara buruk tentang wanita itu. Dia bukan wanita sembarangan yang akan menyerahkan tubuhnya pada laki-laki. Jangan pernah ulangi ucapan itu. jika tidak kau akan menyesal! Ucap Prof. Zain memperingatkan.


Anggel hanya bisa tersenyum sinis mendengar ucapan pria tampan di depannya.


"Setiap hari kau menempel pada ku seperti permen karet, sekarang kau berani menentang ucapanku. Kita lihat seberapa kuat kau bisa mempertahankan dirimu di depan pesonaku." Gerutu Angel yang masih di penuhi emosi.


Pelan Angel melepaskan ikatan gaun merahnya, kemudian melepaskan kedua lengan bajunya. Prof. Zain mulai tergoda melihat tubuh molek yang ada di depannya. Tubuh indah itu kini hanya terbalut pakaian seadanya, sungguh naluri laki-laki Prof. Zain kembali kumat. Ingin rasanya ia menerkam gadis di depannya dengan kasar, namun ia berusaha menahan gejolak dihatinya. Hanya orang cerdas yang mengetahui batasannya, dan Prof. Zain mulai sadar kondisi di depannya tidak lagi aman bagi dirinya, menahan gejolak nafsunya terasa lebih ringan ketimbang memikul dosa zina seumur hidupnya.

__ADS_1


Karena tak terima Prof. Zain terus menghindarinya, Angel semakin mengganas. Dia berjalan mendekati Prof.Zain dan mencumbu bibirnya.


"Kau ingin tubuhku bukan? Maka tunggu disini, aku akan lihat bagaimana caramu memenangkan diriku." Ucap Prof. Zain sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh setengah telanjang Angel Sasmita.


Sekarang Prof. Zain tidak lagi menghiraukan senyum sinis gadis di depannya. Ia benar-benar berpikir akan memutuskan semua hubungan yang tersisa.


Prof. Zain masuk kekamar mandi, cukup lama ia berada didalam. Membuat Angel kesal menunggu kedatangannya.


Beberapa menit kemudian Prof. Zain keluar dari dalam kamar mandi, dengan penampilan yang sama, namun ada yang berbeda. Prof. Zain terus melangkah mendekati Angel Sasmita.


"Kau mau tubuh ku bukan? Ayo kita lakukan!" Ucap Prof. Zain sambil berusaha memaksakan dirinya pada Angel.


"Ada apa denganmu? Kau membuatku ingin muntah! Menjauh dariku. Aku muak padamu. Aku muak pada semuanya, malam ini kau telah menghinaku. Aku pasti akan membalas mu. I hate you Zain. I hate you." Ucap Angel kesal, rasanya ia ingin muntah mencium aroma pesing yang menguap dari tubuh Prof. Zain.


Dengan kekesalan yang memenuhi raganya, Angel meraih gaunnya, memakainya lagi. Ia menatap Prof. Zain dengan tatapan tajam, amarah dan dendam berkumpul menjadi satu.


Prakkkkk!


Angel membanting pintu kasar, meninggalkan Prof. Zain yang masih duduk bersimpuh di lantai yang dingin.


Hiks.Hiks.Hiks.


Tangis Prof. Zain pecah, baru kali ini ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Mengingat waktu yang sudah ia habiskan membuatnya ingin tiada.


Hhhhuuuuaaaaaa!


Prof. Zain berteriak, ia benar-benar lemah. Di hadapan pesona gadis impiannya ia hanya manusia lemah tak berdaya. Prof. Zain menyadari ia hanya pria hina, meskipun begitu ia tidak akan menodai wanita manapun sebelum ada ikatan pernikahan.


Malam ini ia bahkan sampai melakukan hal menjijikkan untuk mengusir Angel dari apartemennya, Prof. Zain masuk kekamar mandi dan menyiramkan air kencing ditubuhnya. Baju biru pilihan Yuna basah oleh air kencingnya yang ia paksa keluar. Hanya cara itu yang bisa ia pikirkan untuk menjaga dirinya dari nafsu hina yang kan menggiringnya keneraka.


Entah rencana apa lagi yang akan di lakukan Angel Sasmita, yang jelas Prof. Zain sudah kehilangan rasa cintanya pada gadis berparas sempurna itu.


Aku baru menyadari bahwa antara cinta dan rasa ingin memiliki itu tidak sama. Gumam Prof Zain di sela kesedihan panjangnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2