
Waktu terus bergulir, namun Sawn tetap berdiri mematung membelakangi Raina. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Keduanya.
Sawn, lelaki tampan itu sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ia memanggil Raina namun ia sendiri tidak sanggup memandangi wajah wanita yang mencuri setiap malamnya.
Degup jantungnya semakin kencang, dan suaranya tertahan di tenggorokannya. Baru kali ini ia merasakan sulit bicara. Padahal sebelumnya ia bagai Singa kelaparan yang selalu mengaung untuk memenangkap setiap Tender dengan perusahaan besar.
"Bapak membutuhkan sesuatu? Katakan saja, saya akan melakukannya." Ucap Raina memecah keheningan.
"Tii-dakkk." Balas Sawn gugup sembari menghadapkan wajahnya pada Raina.
Ceesss...!
Tatapan mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Sawn berhasil menguliti setiap inci wajah Raina, Alis tebal nan hitam, bibir yang tidak terlalu tipis di balut dengan sedikit perona bibir, Mata hitamnya memancarkan sinar kejujuran. Wajah itu terlihat polos tanpa adanya riasan kecuali perona bibir, dan Sawn yakin itulah yang membuatnya semakin terkesima.
Mengetahui Sawn memandanginya dengan tatapan berbeda, Raina mengalihkan pandangannya kearah jendela.
"Lebih baik saya keluar, jika anda sudah ingat apa yang ingin anda katakan, anda bisa memanggil saya lagi." Kali ini Raina menunjukan wajah kesalnya, lima belas menitnya berlalu tanpa adanya percakapan di antara mereka. Dan Raina berpikir Sawn hanya mengerjainya.
"Ma-afff." Ucap Sawn gugup sembari merunduk.
"Maaff! Maaf untuk apa? Anda tidak perlu meminta maaf, lagi pula saya bukan orang yang layak menerima permintaan maaf orang besar seperti anda." Balas Raina.
Bukannya senang mendengar ucapan Raina, Sawn malah naik pitam. Ia memandang Raina dengan tatapan tajam, seolah ia ingin memberikan pelajaran pada lawannya. Pelajaran yang tidak akan pernah bisa di lupakan.
"Maaf karena malam itu..."
"Karna malam itu anda mendorong saya? Tidak apa-apa selama anda menikmati pestanya. Jika hanya itu yang ingin bapak katakan, maka saya tidak seharusnya berada di tempat ini." Ucap Raina lagi, kali ini ia memandang Sawn dengan tatapan kesal, ntah dari mana ia mendapatkan keberanian itu.
"Kamu tidak boleh bersikap seperti itu padaku! Aku benci, benar-benar benci ketika kamu mengabaikanku." Balas Sawn.
Sesaat, Raina larut dalam imajinasi konyolnya.
"Aku heran kenapa bapak semarah itu? Seharusnya aku yang marah, di depan semua orang bapak malah membela nona Angel, padahal wanita itu jelas-jelas salah. Yaya... Aku bisa mengerti alasan bapak membelanya, karna dia kekasih anda." Ketus Raina.
"Kenapa kamu sejutek itu?"
Raina tersentak mendengar teriakan Sawn.
"Aakuu....aku... hanya kesal saja. Selama ini aku selalu sabar meladeni anda. Sikap pemarah anda benar-benar membuat kesabaranku terkikis habis." Lanjut Raina. Ia terdiam, begitu juga dengan Sawn.
"Bapak marah padaku? Pecat saja, aku tidak takut. Ancaman? Aku tidak takut dengan ancaman." Raina yang tersulut emosi, terpaksa berterus terang.
"Apa karna aku mempermalukan mu di depan umum kamu bersikap kasar padaku? Okey, Fine. Aku minta maaf. Tidak bisakah kamu memperlakukan ku biasa saja, tanpa memanggil bapak?"
Raina terdiam sembari memandangi wajah tampan Sawn. Ia tidak tahu lelaki dihadapanya ini tulus meminta maaf atau hanya trik saja.
__ADS_1
"Sampai kapan pun, kita tidak akan pernah bisa menjadi teman! Jangankan memanggil bapak dengan nama, berdiri di satu ruang tanpa ada siapapun membuatku takut. Kita berbeda dan akan selamanya berbeda." Raina membuka suara di antara senyapnya udara.
"Aku tahu kamu memperlakukan Robin dan ketiga rekanmu itu berbeda dariku. Di dekat mereka kamu selalu tertawa lepas, sementara di depan ku kenapa kamu bersikap seperti ini, hahh?" Sawn yang masih emosi membalas Raina cepat.
Raina kembali diam, dia berpikir lelaki di depannya ini benar-benar bodoh, menghabiskan waktu berbulan-bulan di rumahnya dia masih tidak sadar perasaan lawan bicaranya. Apa Raina yang terlalu pintar menyembunyikan perasaannya, atau justru Sawn yang terlalu bodoh, entahlah.
"Tidak ada hal yang harus ku jelaskan pada bapak. Hubungan di antara kita hanya sebatas Bos dan Bodyguard. Lain kali anda tidak perlu meminta maaf, karna anda tidak melakukan kesalahan apapun pada ku!" Ucap Raina. Emosinya mulai mereda. Ia mulai mampu mengontrol nada suaranya.
"Aku bicara padamu sebagai lelaki biasa tanpa mengungkit setatus, tidak bisakah kamu bersikap normal tanpa marah-marah?" Balas Sawn.
"Fine... Whatever..." Deru Raina sambil melangkah meninggalkan Sawn.
Sawn memandang terkesima.
Sepersekian detik kemudian, Raina bersiap membuka pintu kantor Sawn.
Prakkk!
Raina terkejut. Sawn malah membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Raina merunduk begitu mengetahui Sawn berdiri di hadapannya sembari memandangi wajah polosnya, tidak ada jarak di antara mereka berdua. Bahkan sekarang mereka bisa saling mendengar deru nafas satu sama lain.
Dag.Dig.Dug.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya Setan menjadi yang ketiga diantara mereka berdua." (HR.Ahmad).
Setan akan menjadi yang ketiga, membisikkan untuk melakukan kemaksiatan. Menjadikan Syahwat wanita dan lelaki yang bukan pasangan bergejolak. Menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya, serta menghiasi kemaksiatan hingga tampak Indah di hadapan mereka berdua. Sampai akhirnya setan pun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan yaitu BERZINA.
Wa la taqrabuz-zina innahu kana fahisyah, wa sa'a sabila.
Dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Qs.Al-Isra:32)
Sawn terkejut melihat sekujur tubuh Raina bergetar, bahkan bulir-bulir hangat mulai keluar dari matanya yang masih tertutup.
Raina bisa merasakan tubuh Sawn mulai menjauh darinya karna wangi Parfum yang keluar dari tubuh lelaki tampan itu tidak lagi tercium di indra penciumannya. Ia kembali mengatur deru nafasnya.
"Pergilah. Maafkan aku karna membuatmu ketakutan." Sawn membuka suara di antara senyapnya udara.
Dengan tubuh yang masih bergetar Raina berusaha membuka pintu, namun itu tidak mudah baginya. Berkali-kali mencoba akhirnya ia bisa keluar dari ruangan yang berhasil membuatnya panas dingin.
Aaahhhh!
Sawn berteriak keras setelah kepergian Raina. Untungnya kantornya kedap suara, jika tidak ia pasti di anggap tidak waras.
...***...
__ADS_1
"Kak Raina, apa kakak sakit? Kenapa wajah kakak terlihat sangat pucat." Raina kaget mendengar ucapan Rita.
"Neng Raina pulang saja! Tidak hanya terlihat pucat, neng Raina juga terlihat ketakutan, seperti baru melihat setan saja." Sambung pak Yanto. Agil dan Bobby yang duduk di dekat Rita pun hanya bisa memandang dengan tatapan perihatin.
"Kalo kak Raina tidak mau pulang, kakak bisa istirahat di ruang istirahat." Ucap Rita lagi.
Raina tersenyum sembari mengikuti saran gadis manis di depannya. Untuk berjalan saja rasanya Raina tidak mampu, langkahnya tertatih-tatih. Dan untuk pertama kalinya ia menampakkan wajah takutnya, berdua di ruang tertutup bersama lelaki yang membuat hatinya merasakan cinta dan dilema jauh lebih menakutkan dari pada tubuhnya mendapat pukulan.
"Ada apa dengan kak Raina? Apa mas Agil Tahu sesuatu?" Tanya Rita penasaran.
"Bagaimana aku bisa tahu? Sejak datang aku tidak melihatnya, dan sekarang dia terlihat seperti orang ling-lung." Balas Agil khawatiran.
"Siapa tahu kau mengetahui sesuatu, bukankah kau sangat dekat dengan bude cantiknya." Yanto kembali membuka suara.
"Apa? Kau dekat dengan bude neng Raina?Wahhh... wahhhh... Ini bencana untuknya, dan berkah untuk mu." Ledek Bobby mencoba mengalihkan resah sahabat-sahabatnya.
Terdengar tawa kecil dari keempat orang yang ada di Pantry.
Syukurlah dia baik-baik saja. Lirih Sawn pelan karna mendengar suara tawa.
Sawn mencoba mencari tahu apa Raina baik-baik saja, setelah Raina keluar dari kantornya gundah seolah menjadi temannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berjalan ke Pantry tempat Raina biasa berkumpul dengan tema-temannya, termasuk Robin di dalamnya.
Sayangnya ia tidak bisa melihat wajah yang sangat di rindukannya, karna hanya Rita yang ada di Pantry bersama tiga Bodyguard lelaki bertubuh kekar yang siap menjadi baju anti pelurunya.
...***...
Mmmmm....!
Raina menggeliat seperti cacing kepanasan, kepalanya terasa sakit. Pelan ia menempelkan tangan di keningnya.
"Aahhh... Aku demam! Jam berapa sekarang?" Ucap Raina sembari mengambil ponsel di samping bantal tempat tidurnya.
"Hahhh.... Ada apa dengan ku? Kenapa aku bisa seceroboh ini. Ini sudah sore, aku bahkan melewatkan Salat Zuhur." Raina bangkit dari tempat tidur dan bersiap mengambil Wudhu.
Hukum mengqadha Sholat wajib adalah boleh selama ia tidak sengaja meninggalkan sholat tersebut.
Dari Anas bin Malik dari Nabi Sallallahu 'alaihi wassallam bersabda, "Siapa yang terlupa sholat, maka lakukanlah Shalat ketika ia ingat dan tidak ada tebusan kecuali melaksanakan shalat tersebut dan dirikanlah shalat untuk mengingat-ku. (Hr.bukhari).
Ya Allah, maafkan aku! Masalahku telah melalaikan diriku. Lirih Raina sebelum ia memulai Shalatnya. Waktu menunjukkan pukul 17.15 ketika Raina melaksanakan shalatnya.
Perdebatan. Kadang itu bisa saja terjadi, namun perdebatan singkat antara Raina dan Sawn Praja Dinata tidak seharusnya terjadi.
Cinta selalu menemukan jalannya untuk kembali, terkadang akan ada perdebatan dan kecemburuan. Namun begitulah cinta, tidak terlihat namun ia bisa membuatmu bahagia.
...***...
__ADS_1