Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Terbongkar


__ADS_3

Jakarta malam ini terasa hangat, sehangat jiwa Raina Salsadila yang di taburi pernyataan-pernyataan membahagiakan dari dokter Nova, dokter keluarga Dinata.


Raina sempat ragu untuk mengunjungi dokter Nova, namun alam bawah sadarnya seolah memberikan dorongan keras agar ia melangkahkan kaki menuju rumah sakit tempat yang sangat-sangat tidak disukainya.


"Hai... Kau ada disini?" Suara dokter Nova membuat Raina terpaksa melangkahkan kakinya memasuki kantor pribadi wanita anggun yang seusia dengan bu Alya itu.


"Alya sudah menceritakan segalanya padaku, dan dia memintaku untuk merawatmu sebaik mungkin! Ahhh maafff, maksudku bukan merawat, hanya mememeriksa ringan saja." Sambung dokter Nova lagi. Wajahnya sama sekali tidak melepas senyuman sejak Raina datang.


Pelan Raina melangkah masuk dan duduk di sofa yang di tunjuk dokter Nova.


"A-aku...!"


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun! Seperti yang tadi sudah ku katakan, tantemu sudah menceritakan segalanya." Ucap dokter Nova memotong ucapan Raina.


"Kau tahu, tantemu itu sangat cengeng. Setahun yang lalu dia menangis dihadapanku sambil menceritakan putra yang ia tinggalkan. Hari ini, dia menghubungiku dan menceritakan bahwa ia telah menemukan putranya. Kali ini pun sama, dia menangis, namun dengan tangisan berbeda, tangisan bahagia luar biasa. Semuanya terjadi karena andil dari keputusan tepat yang kau ambil. Walaupun awalnya terasa berat, aku yakin ibu pantimu pasti akan memahami segalanya." Ucap dokter Nova sambil memandang lekat wajah ayu milik Raina.


"Baiklah, aku akan memeriksa kondisimu sekarang. Semoga ucapan tantemu benar kalau kau sedang hamil." Dokter Nova bangun dari posisi duduknya sembari mengarahkan Raina dan memintanya untuk berbaring.


Satu menit, dua menit, hingga menuju menit kelima dokter Nova dengan senang hati turut berbahagia.


"Selamat sayang, kau akan menjadi seorang ibu." Ucap dokter Nova tanpa basa-basi. Ucapan singkat dokter Nova berhasil membuat air mata Raina menetes karena sangat-sangat bahagia.


Untuk sesaat Raina membayangkan wajah bahagia semua orang. Senyum bahagia Sawn karena akan menjadi ayah, senyum bahagia ibunya dan mertuanya karena akan menjadi kakek dan nenek. Dan yang lebih membahagiakan lagi, Raina membayangkan senyum bahagia adik-adiknya karena mereka akan menjadi paman dan bibi diusia mereka yang masih sangat muda.


Untuk sesaat Raina membayangka anaknya bertengkar dengan si bungsu Amel yang baru berusia tiga tahun karena memperebutkan mainan baru. Semuanya terasa nyata walaupun itu masih lama.

__ADS_1


"Ya Allah, nikmatmu sangat besar padaku. Maafkan aku karena belum bisa menjadi hambamu yang dirindukan Surga. Terima kasih kau takdirkan aku menjadi seorang ibu tanpa menunggu sampai usia tua, seperti yang kau takdirkan pada Nabi Zakaria." Ucap Raina pelan sembari mengelus perutnya yang masih rata.


"Kak. Kak Raina, kakak mau makan apa?" Raina tersentak oleh usapan kecil di bahunya, mengingat berita besar yang di berikan dokter Nova satu setengah jam yang lalu membuatnya larut dalam pikiran panjangnya.


Raina kembali kekediaman mewah Sawn Praja Dinata kala senja, semburat cahaya indah yang di pancarkan semesta kala senja seolah mengabarkan pada dunia bahwa ia sangat bahagia, bahagia yang tidak akan pernah bisa di lukiskan dengan sekedar kata-kata. Dan bahagia yang tak akan bisa di bandingkan kedalamannya walau dengan kedalaman Lautan lepas sekalipun.


"Ahh iya, kakak belum lapar Ega. Kau bisa memanggilku nanti setelah tuanmu kembali. Kami akan makan malam bersama. Sebelum beliau kembali, biarkan kakak di kamar sendiri dulu, jangan ada yang mengganggu. Kau mengertikan maksut kakak?" Raina menyentuh wajah Ega dengan jemari lembutnya, sementara wajahnya tak melepaskan senyuman indahnya.


"Ia, kak!" Balas Ega singkat, kemudian Ega hanya bisa menyaksikan Raina berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


...***...


Klik!


Raina menyalakan lampu di kamarnya, ia sengaja hanya menyalakan lampu kecil yang berada di atas nakas.


"Pada siapa berita bahagia ini akan ku bagi untuk pertama kalinya? Pada Sawn kah? Atau pada ibu di panti? Apa aku harus mengumpulkan semua keluarga untuk mengabarkan berita besar ini? Aku bingung!" Ucap Raina pelan sambil menangkup wajah dengan kedua tangannya.


"Untungnya aku sudah meminta dokter Nova merahasiakan kehamilanku dari semua orang, termasuk dari tante Alya. Sepertinya aku harus mengabarkan berita bahagia ini pada Sawn ku untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat lucu bila sedang terkejut. Wajah tampan itu terlihat seperti Kelinci bila sedang terkejut." Raina kembali tersenyum sambil membayangkan wajah tampan suaminya.


"Aku ingin menatap wajah bahagia semua orang! Aku benar-benar tidak sabar!" Ucap Raina lagi pada dirinya sendiri, pelan ia berbaring di atas tempat tidur.


Dret.Dret.Dret.


Suara getaran dari ponsel Raina yang ia letakkan di atas nakas membuyarkan lamunan panjangnya.

__ADS_1


"Bude Romlah." Raina sangat bahagia sembari membaca nama yang tertera di ponselnya.


Apa kau baik-baik saja? Ibumu sangat marah! Kau dari mana saja?


Raina menyadari kekhawatiran budenya hanya dengan membaca pesan singkatnya. Sepersekian detik kemudian, Raina menekan nomor bu Romlah dengan niat akan mengabarkan berita baiknya melalui panggilan singkatnya. Raina yakin bila ibunya mengetahui tentang kehamilannya, ibunya itu pasti akan sangat bahagia sampai ia sendiri akan melupakan kemarahan dan kesedihannya.


Assalamu'alaikum.


Bude... Apa bude tahu hari ini Raina sangat-sangat bahagia. Rasanya bahagia ini tidak akan lengkap tanpa di bagi dengan bude dan ibu! Raina terus saja bicara tanpa mendengar ucapan lawan bicaranya.


Wa'alaikumsalam... Jawab bu Romlah begitu Raina berhenti bicara. Saking bahagianya Raina bahkan sampai lupa mendengar balasan salamnya.


Berita apa yang kau punya sampai membuatmu begitu yakin kalau ibumu akan melupakan kekesalannya? Bude berharap kemarahan ibumu akan segera hilang! Kali ini benar-benar berbeda, kau tidak akan mudah untuk menenangkannya. Ucap bu Romlah dengan suara beratnya.


Bude sebenarnya aku hammm...! Ucapan Raina terhenti, ia berpikir sebaiknya ia mengabarkan langsung pada ibunya. Bukan dari sambungan telpon.


Tanpa bu Romlah sadari sepasang mata sedang mengawasi dan mendengar percakapan seriusnya dengan Raina. Awalnya biasa saja sampai orang yang bertingkah seperti mata-mata itu akan meninggalkan kamar bu Romlah. Entah kenapa bu Romlah begitu tergesa-gesa menanyakan pertanyaan seriusnya.


Apa kau tidak waras? Kenapa kau begitu terburu-buru menyatukan Andre dan mamanya? Seharusnya kau bicara dulu dengan ibumu! Bagaimana jika dia tahu? Kau tidak akan bisa meredakan amarahnya jika ibumu tahu bu Alya adalah mamanya Andre dan bu Alya pula yang mengirim preman waktu itu! Ucap bu Romlah spontan, namun dengan suara cukup pelan.


Sayang sekali, sepelan-pelannya suara bu Romlah, akhirnya rahasia yang ia pendam selama beberapa waktu ini terbongkar juga.


Pemilik sepasang mata yang biasanya terlihat teduh itu menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu, melihat ekspresi menakutkan yang di terimanya, bu Romlah hanya bisa menelan salivanya.


Klik. Bu Romlah mematikan ponselnya tanpa Salam.

__ADS_1


Di tempat berbeda Raina merasa terheran-heran, tidak seperti biasanya bu Romlah mematikan ponselnya tanpa salam, meskipun demikian Raina hanya bisa berpikir semuanya akan baik-baik saja. Justru saat ini Raina menunggu mentari agar segera menampakkan sinarnya, ia benar-benar ingin menyampaikan berita besarnya. Berita yang kan membuat semua orang tersenyum dan menangis karena bahagia.


...***...


__ADS_2