
Motor Matic Raina melaju membelah jalanan yang padat, sejak mendengar berita duka tentang kepergian kakek Alfa rasanya seperti langit runtuh dan menimpa tubuh kecilnya.
Apa air matanya terbuat dari air keran? Ucapan yang ia tujukan untuk wanita yang menghubunginya tadi benar-benar kembali padanya.
Ya Allah... Mataku di penuhi dengan air mata! Gumam Raina karena tidak bisa menahan kepedihannya.
Sementara itu di kantor, Sawn sangat gelisah sampai tidak bisa berkonsentrasi pada setumpuk laporan dimeja kerjanya.
Tok.Tok.Tok.
Berkali-kali mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam. Yuna memutuskan untuk masuk tanpa izin, di dapatinya kakak nya itu sedang duduk termenung di sofa sembari menangkufkan wajah tampannya dengan kedua tangannya.
Wajah tampan itu terlihat frustasi, tatapan matanya terlihat kosong. Dan sesekali ia menghela nafas panjang.
"Kakak, kakak kenapa?" Yuna bertanya begitu ia melihat Sawn terlihat lesu.
"Kapan kau datang?"
Yuna menatap kakaknya dengan tatapan tajam, bagaimana mungkin kakaknya tidak menyadari kedatangannya padahal sebelumnyai ia mengetuk pintu berkali-kali.
Kakak larut dalam pemikiran panjangnya! Ia berada dalam dunia nya sendiri. Aku rasa kakak dalam masalah! Gumam Yuna sembari meletakkan kotak makan siang yang sengaja di siapkan mamanya untuk Sawn.
"Mama memintaku mencari tahu kondisi kakak, kenapa kakak tidak pernah pulang, mama sangat khawatir."
"Kakak sangat sibuk." Balas Sawn sembari memamerkan senyum tipisnya.
"O iya kak... Aku hampir saja lupa, mama sangat kesal dengan berita yang melibatkan kak Sawn, kak Raina dan juga Angel. Papa bilang dia akan datang kekantor kakak hari ini. Karena itu aku datang memberitahukan kakak secara langsung, sekaligus membawakan kotak makan siang ini. Sepertinya papa benar-benar marah." Ucap Yuna lirih.
"Jangan pikirkan itu, kakak akan mengurus segalanya." Balas Sawn sambil membuka kotak makan siang, wajahnya terlihat bahagia melihat makanan kesukaannya tersaji dalam kotak makan siang, mamanya benar-benar peka dengan kondisinya. Setidaknya dengan menikmati makanan kesukaannya sedikit resahnya akan berkurang.
__ADS_1
"Kakak, bagaimana keadaan kak Raina? Apa dia merasa terganggu? Ini merupakan hal baru bagi nya. Aku khawatir dia akan terluka!" Yuna menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar.
"Jangan khawatirkan dia. Dia itu seperti rumput liar, walaupun di injak dia akan tetap tumbuh subur." Jawab Sawn cepat, kemudian memasukan potongan pertama roti goreng isi daging dengan saus khas buatan mamanya.
"Kakak itu tidak tahu hati wanita, walaupun di luar kami terlihat kuat seperti karang, siapa yang tahu kalau kami sedang menangis. Wanita itu lebih mudah berpura-pura bahagia dari pada berpura-pura sedih." Yuna mengambil tissu yang tidak jauh dari tempat duduknya kemudian ia membersihkan bibir kakaknya.
"Sudahlah, kakak tidak akan mengerti." Ucap Yuna lagi sembari bangun dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana? Apa kamu tidak akan menemani kakak untuk makan siang?"
"Untuk apa Yuna menemani kakak makan siang? Bukankah mama dan papa sudah jelas-jelas meminta kakak untuk segera menikah. Kalau gadisnya seperti mbak Angel...
Aku menolaknya! Aku tidak menyukainya!" Balas Yuna sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Gadis manja itu, ia meninggalkan Sawn sendiri bersama makan siangnya, tidak bisakah ia memutuskan untuk tinggal sebentar lagi, minimal sampai papanya datang kemudian pergi.
Mungkin karena itulah pepatah mengatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, dan masa muda itu benar-benar penuh tantangan. Hanya orang yang memiliki kekuatan iman yang akan selamat dari sahwat tanpa batas.
...***...
"Kak Raina... Hiks...hiks." Seorang wanita menghambur dan memeluk Raina dengan derai air mata. Tatapannya kosong, dan semua orang yang berada di rumah sederhana itu pun terlihat sangat kehilangan.
Ketika orang baik meninggal, kebaikannya akan kekal dan akan selalu di ingat. Dan ketika orang jahat yang meninggal semua orang merasa lega karena aman dari keburukannya.
Semua orang akan tiada, karena sejatinya kita semua sedang menunggu jadwal saja. Tidak ada yang salah dengan bersedih, namun jangan sampai hilang kendali.
Mata Raina menerawang kesegala arah, di dapatinya seorang wanita selalu melempar senyuman pada setiap tamu yang datang melayat.
Dialah nenek syifa, wanita kuat yang selalu menemani kakek Alfa berjuang dalam kebaikan sampai lelaki baik itu tutup usia.
__ADS_1
"Nenek..." Raina memeluk istri kakek Alfa dengan derai air mata yang tidak dapat ia tahan. Air matanya terus saja menetes, namun ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Hanya dia saja yang tahu arti dari kekek Alfa dalam hidupnya.
Sejak perpisahan di usia muda, mereka akhirnya di pertemukan kembali di usia senja kakek Alfa, dan itu pun tidak lama. Laki-laki separuh baya itu hadir sesaat hanya untuk memberikan nasihat untuk Raina, dan sekarang ia tidur dalam damai. Lihatlah wajahnya penuh dengan senyuman, ia tampak seperti pengantin yang bahagia ketika melihat wanitanya berhias hanya untuk dirinya.
"Nak. Kakek mu menitipkan sesuatu untuk mu. Beliau berpesan kau boleh membukanya ketika kau sendirian." Ucap istri kakek Alfa lirih.
Raina hanya bisa mengangguk pelan.
Raina melihat tubuh renta kakek Alfa di angkat oleh beberapa orang untuk di mandikan.
Apa yang bisa ku banggakan dalam kehidupan ini? Nyawa yang ku punya hanya pinjaman saja. Kecantikan? Kecantikan ini pun akan sirna di makan usia kemudian akan berakhir ditanah yang dingin. Lirih Raina dalam hatinya.
...***...
Sementara itu di bandara, Robin sangat kesal menunggu kedatangan tamu asing yang akan menandatangi kontrak kerja sama dengan perusahaannya.
Sudah dua jam ia menunggu namun orang yang ia nantikan tak kunjung datang.
"Apa orang asing ini memakai jam karet sampai ia tidak menghiraukan waktu. Dua jam ku sia-sia saja karenanya." Gumam Robin kesal.
Netra Robin menangkap dua laki-laki tampan berjalan kearahnya. yang satunya menggunakan setelah hitam lengkap dengan dasi. Sementara lelaki yang satunya lagi hanya berpakaian santai, ia menggunakan kaos putih berlengan pendek yang di padu padankan dengan jin biru. Dan sepatu kets yang senada dengan baju putihnya. Lelaki itu benar-benar terlihat tampan, jika Robin saja menyanjung ketampanannya maka lelaki itu benar-benar tampan tak terbantahkan.
"Good afternoon, my name is Ruan from YMC Groub." Ucap lelaki yang mengaku namanya Ruan. Seutas senyuman mengembang di wajah putihnya.
Ooohhh... Jadi orang Asing ini bisa tersenyum di hari pertamanya. Aku berharap ia tidak akan menyusahkan kami karena memintanya datang. Gumam Robin sembari balas tersenyum pada lelaki di hadapannya.
Sekali lagi Robin melirik kearah lelaki yang menggunakan setelan hitam, tidak ada kesenangan di wajah itu. Wajah itu terlihat serius, datar tanpa senyuman. Meskipun begitu, akhirnya mereka berjalan meninggalkan bandara menuju hotel.
...***...
__ADS_1