
"Kita sudah sampai!" Ucap Sawn memecah keheningan.
Sejak Sawn dan Raina meninggalkan hotel, tidak sepatah kata pun terucap dari bibir mereka berdua. Raina memilih untuk tetap diam, dan Sawn sendiri tidak ingin mengganggu ketenangan Raina.
Aku tahu kau sedang bingung! Karena itu aku tidak ingin membebanimu dengan ucapan yang akan membuatmu semakin tidak nyaman berada di sampingku! Lirih Sawn dalam hatinya begitu mereka sampai di depan gerbang panti Hijau itu.
"Aahh... Benarkah? Sepertinya aku terlalu larut dalam pikiran panjangku." Balas Raina, ia terlihat sedikit ling-lung.
"Aku tahu kau tidak akan mempersilahkan ku untuk masuk kedalam rumahmu, karena itulah kau harus cepat masuk sebelum aku memaksamu ikut ke rumahku." Guyon Sawn sembari menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Terima Kasih untuk malam ini! Assalamu'alaikum." Tutup Raina kemudian ia bersiap untuk membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsalam." Balas Sawn kemudian melajukan mobilnya pelan, meninggalkan Raina yang masih berdiri mematung di depan gerbang panti yang ia anggap rumah keramatnya.
Setelah mobil Sawn tak terlihat lagi oleh netranya, Raina membuka gerbang dan berjalan memasuki istana sederhananya.
Istana?
Itu terdengar sangat berlebihan, namun Raina percaya tempatnya di besarkan lebih berharga dari hidupnya. Dan ia akan melakukan segala cara untuk melindungi istananya dan semua penghuninya.
"Assalamu'aaikum!" Berulang kali mengucapkan salam dan mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, tak ingin menunggu terlalu lama Raina membuka pintu dengan kunci cadangan yang ada di dalam tasnya.
"Wa'alaikumsalam, kakak sudah pulang?" Aldy menyapa Raina sambil membuka pintu.
"Apa ibu sudah makan?" Raina bertanya sambil menyentuh wajah polos adiknya.
"Bude belum pulang dari Swalayan, dan ibu belum makan." Ucap Aldy. Mata Raina membulat karena terkejut, ia segera berlari kekamar ibunya dengan membawa perasaan menyesal.
Raina berdiri tepat di depan pintu kamar bu Rahayu yang terbuka. Melihat kondisi ibunya yang duduk sambil menyandarkan kepala di sandaran tempat tidurnya membuat Raina merasa bersalah.
"Bu, maafkan Raina!" Ucap Raina sambil berjalan mendekati bu Rahayu yang masih menutup mata, mendengar ucapan Raina sontak membuat bu Rahayu membuka mata. Di perhatikannya putri kesanyangannya itu sambil memamerkan senyum tipis di wajah pucatnya.
"Kau sudah pulang? Apa kau datang sendiri?" Tanya bu Rahayu dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Ya, Raina sendiri." Balas Raina singkat sambil balas tersenyum.
"Raina akan membawa makanan untuk ibu, tunggulah sebentar." Ucap Raina lagi sambil beranjak untuk pergi, bu Rahayu menarik tangan Raina dan membawanya dalam pelukan hangatnya.
"Apa pun yang terjadi Ibu akan selalu berada di samping mu! Jika sakit katakan sakit. Jangan pernah menyembunyikan rasa sakit mu sendirian." Ucap bu Rahayu sembari mengelus kepala Raina.
__ADS_1
"Apa ada yang mengganggu ibu?"
"Putriku putri yang pemberani. Tidak akan ada yang berani mengganggu ibu. Pergilah kekamarmu. Sebentar lagi, azan Magrib akan di kumandangkan, ajak adik-adikmu untuk bersiap-siap Shalat berjama'ah." Ucap bu Rahayu lagi sambil melepas pelukan hangatnya dari tubuh Raina.
...***...
Waktu menunjukan tepat pukul 1:30 pagi, sayangnya Sawn masih tidak bisa tidur, kegelisahannya telah memenuhi relung jiwanya. Baru saja ia menutup mata, wajah manis Raina seolah menari-nari di pelupuk matanya.
"Aku tidak bisa tidur, apa yang akan ku lakukan tengah malam begini?" Lirih Sawn sambil bangun dari posisi tidurnya.
Terlintas pikiran nakal di kepala Sawn.
"Ya, itu benar... Jika aku tidak bisa tidur maka seseorang harus menemaniku." Gumam Sawn sembari meraih ponselnya di atas nakas.
Sementara itu di tempat berbeda, seseorang sedang asyik terbuai dalam mimpi indah di bawah selimut hangatnya. Ia tersenyum dalam tidurnya sambil memanggil nama gadis yang muncul dalam tidur lelapnya.
Ya... Aku akan bicara dengan Om dan Tante. Jangan khawatir. Gumam seseorang di balik selimut tebal itu.
Kring.Kring.Kring.
Suara nyaring yang terdengar dari Hand-phone yang ada di atas tempat tidurnya memenuhi indra pendengarannya, buyar sudah mimpi indahnya.
"Apa kau tidak waras? Kenapa kau mengganggu orang lain di tengah malam begini? Pergi ke Neraka!" Balas seseorang di balik selimut dengan nada suara khas bangun tidur itu
Tut.Tut.Tut.
Tidak ada lagi percakapan di antara dua anak manusia, yang tersisa hanya kekesalan saja. Sawn yang mendengar ucapan kasar sahabatnya hanya bisa menghela nafas kasar, ia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
...***...
14:15 Kantor Sawn.
"Tadi malam ada seseorang yang bicara kasar padaku!" Ucap Sawn memecah keheningan.
"Apa? Berani sekali orang kurang ajar itu bicara kasar pada bapak." Balas Rita kesal.
"Kenapa Bapak tidak memberikan pelajaran pada orang kurang ajar itu." Ucap Rita lagi sambil memandang wajah merunduk Sawn.
"Aku juga berpikir seperti itu." Balas Sawn sambil menutup berkas yang ada di tangannya kemudian melirik Robin yang duduk di depannya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kenapa bapak menatap Pak Robin dengan tatapan dingin? Jangan bilang, orang yang Bapak maksud adalah Pak Robin?" Tanya Rita dengan wajah penasaran.
"Jika benar itu pak Robin? Aku tidak mau ikut campur." Ucap Rita lagi, ia terburu-buru bangun dari posisi duduknya kemudian keluar sambil menutup pintu rapat-rapat.
"Kau ingat apa yang kau katakan semalam?" Sawn pura-pura marah.
"Tidak. Memang siapa yang kau maksud?" Balas Robin santai.
"Tadi malam ada seseorang yang ku ajak bicara. Dia tidak hanya bersikap jutek padaku, dia juga menyuruhku keneraka. Menurutmu, kira-kira siapa orang tidak sopan itu?" Tanya Sawn sambil melirik Robin yang pura-pura acuh. Melihat tatapan tajam Sawn membuat Robin meletakkan kedua tangan di telinga sambil berucap "Maafff."
"Aku sudah melupakannya." Balas Sawn sambil tersenyum.
"Sekarang katakan, apa yang membuat laki-laki sempurna sepertimu menghubungiku di tengah malam buta?" Kali ini Robin serius.
"Aku jatuh cinta!" Ucap Sawn jujur.
"Apa? Kau jangan macam-macam dengan ku? Aku ini laki-laki normal. Aku tidak suka pisang." Robin menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatap Sawn dengan kekesalan yang memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya.
Pletakkk!
Sebuah bantal mendarat tepat di kepala Robin. Rasanya Sawn ingin muntah mendengar ucapan sahabatnya itu walaupun itu hanya sekedar guyonan tak berarti apa-apa.
"Apa kau tidak waras? Apa aku terlihat seperti laki-laki kurang ajar? Seburuk-buruknya aku, aku tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan itu. Dasar payah." Umpat Sawn kesal.
Melihat kemarahan Sawn, bukannya Robin membalas ucapan sahabatnya itu, ia malah tertawa lepas.
"Baiklah, aku percaya itu. Sekarang katakan padaku, kau jatuh cinta pada siapa? Apa dia dari keluarga Wijaya yang terkenal dengan bisnis Fashionnya? Atau dia dari keluarga Bramastha yang terkenal dengan bisnis Elektroniknya?" Robin bertanya sambil meraih air mineral yang ada di depannya. Pelan ia meneguknya sambil mendengar jawaban yang akan Sawn berikan pada pertanyaannya.
"Bukan dari keluarga terpandang manapun! Aku jatuh cinta pada Raina."
Air mineral yang memenuhi bibir tipis Robin menyembur keluar seperti lahar panas yang mengenai jas mahal yang di kenakan Sawn sejak pagi tadi. Mata Robin membulat, tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
Ini masalah besar, jika Om dan Tante tahu, habislah kau! Lirih Robin dalam hatinya. Mendengar penuturan sahabatnya itu membuat Robin terkejut sambil sesekali menggigit bibir bawahnya tak percaya.
Sawn dan Raina? Aku tidak percaya ini.
Tuhan... Kejutan apa ini? Gumam Robin pelan tanpa memperdulikan tatapan tajam Sawn kearahnya.
...***...
__ADS_1