
Alunan merdu musik yang mengalun indah mulai memenuhi ballroom hotel. Semua orang terlihat menikmati waktu mereka, kecuali Sawn yang mulai bosan dengan rangkaian acara malam ini. Sesekali ia menghela nafas kasar, setelah itu ia mencoba meneguk kembali minuman bersoda yang ada dalam genggamannya.
"Kau tidak makan?" Pak Andi duduk di sebelah Sawn yang mulai menampakkan kebosanannya.
Tanpa kehadiran Raina disisinya, hidup Sawn akan tetap terasa hampa, ia bahkan berusaha tersenyum di hadapan papanya. Senyum yang coba ia paksakan.
"Nanti aja, pa! Sawn tidak tahu apa Raina sudah makan atau belum. Acara ini sangat membosankan." Keluhnya di hadapan pak Andi.
Bukannya sedih melihat wajah cemberut putranya, pak Andi malah cekikikan.
"Yaya... Papa tahu rasanya jadi pengantin baru. Kau bisa pulang jika kau sangat merindukan istrimu." Balas pak Andi sambil menepuk bahu putra kesayangannya.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya..."
"Kau hanya gelisah karena Raina tidak ada disisimu, iya kan?" Pak Andi memancing Sawn untuk bicara terus terang.
"Temui mamamu, setelah itu kau boleh pulang!" Ucap Pak Andi lagi sambil tersenyum bangga pada putranya yang mulai bersikap dewasa.
"Satu lagi. Kau harus menjaga kepercayaan yang sudah diberikan istrimu. Jika kepercayaan itu mulai goyah, maka rasa hormatnya padamu akan berkurang. Papa yakin Raina tidak akan memarahimu jika kau tidak melakukan kesalahan patal. Jaga menantu papa baik-baik." Ucap pak Andi memperingatkan, setelah itu ia berjalan menuju bu Hanum yang saat ini duduk dengan teman-teman sosialitanya.
Setelah pak Andi tak lagi bersamanya, Sawn bersiap untuk pulang, ia tidak perduli dengan satu jam permintaan Robin untuk tinggal bersamanya. Ia tidak ingin tinggal walau satu menit tanpa kehadiran Raina disisinya. Baru saja Sawn berajak untuk pergi, rekan bisnisnya justru menghampirinya dan menjabat tanganya.
"Selamat malam tuan Sawn! Pesta ini pesta yang luar biasa, tapi anda terlihat bosan." Sapa pria separuh baya di hadapan Sawn. Tidak ada tanggapan dari Sawn, ia hanya mengangguk pelan.
"Saya sudah membaca artikel majalah bisnis bulan ini, saya salut dengan semua yang tuan Sawn sampaikan dalam wawancara itu. Tuan Sawn memang benar, seorang pengusaha dikatakan sukses jika ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Dan saat ini perusahaan tuan Sawn memiliki lebih dari seribu Karyawan. Untuk pengusaha muda seperti anda, menurut saya itu sangat luar biasa." Sanjung pria separuh baya yang berdiri tepat di depan Sawn Praja Dinata, pria itu menunjukan rasa hormatnya dengan sikap dan tindakannya.
"Terima kasih untuk sanjungannya. Sebenarnya, sanjungan itu lebih pantas untuk istri saya. Dia selalu bilang tidak butuh barang mewah, dia merasa bangga ketika saya lebih memilih untuk berbagi pada orang yang kurang mampu, dari pada sekedar membelikannya barang mahal. Saya hanya mengikuti sarannya. Apa pun akan saya lakukan untuk istri saya." Balas Sawn sambil membayangkan kecantikan alami istrinya.
"Saya yakin nyonya Sawn sangat beruntung memiliki anda sebagai pendampingnya."
"Itu tidak benar. Justru saya yang merasa beruntung karena dia memilih saya sebagai suaminya." Balas Sawn tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya. Setiap kali membicarakan tentang kebaikan Raina, hatinya merasa tenang.
Cihhh!
Gadis anggun yang tak sengaja mendengar sanjungan yang di tujukan Sawn untuk wanita lain selain dirinya merasa kesal luar biasa. Ia mengepalkan tangan kanannya seolah ingin menghajar wanita yang tak ada di dekatnya itu. Ia bahkan berdandan bagai peri dalam dongeng hanya untuk merebut perhatian Sawn Praja Dinata, pria yang sangat di cintainya. Mendengar nama wanita lain dari pria yang sangat dicintainnya membuat darahnya terasa mendidih.
"Kau milikku! Hanya milikku!" Gerutu wanita anggun itu sambil berjalan mundur menyusun rencana.
Denting piano yang mengalun merdu membuat semua orang hanyut dalam nadanya. Semua orang menebak-nebak lagu ini dan baru tersadar setelah beberapa detik berlalu. Lagu itu Right Here Waiting For You yang di nyayikan merdu oleh Richard Marx.
__ADS_1
Semua orang penasaran dan menengok kearah piano yang masih dimainkan, beberapa mata terkesima menatap keindahan ciptaan Tuhan itu, dia adalah Prof. Zain. Dia hanya tersenyum. Kemudian lirik lagu Richard Marx mulai di lantunkan.
Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain
If i see you next to never
How can we say forever
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Dia bilang aku calon menantu Mommy-nya! Mungkinkah lagu ini untukku? Sangat indah dan romantis. Aku benar-benar merasa berharga sebagai perempuan! Gumam Yuna dalam hatinya, entah kenapa kekesalannya pada Prof. Zain sedikit demi sedikit mulai mencair. Seperti malam ini, ia merasa sangat di hormati dan di hargai.
Ruangan masih hening mendengarkan suara merdu dan lantunan nada piano dari Prof. Zain.
Yuna masih menatap Prof. Zain dengan tatapan takjub ketika seseorang dengan sengaja menabraknya.
Rubah ini lagi! Gerutu Yuna sambil mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menjambak rambut wanita yang berdiri di sampingnya, sekuat tenaga ia berusaha menahan emosinya. Emosi yang hampir meledak.
Prof. Zain tersenyum indah sambil memandang Yuna Dinata. Ada haru yang menyeruak di dada, tangisan kebahagiaan mulai menitik perlahan dari mata Ptof. Zain. Berharap cinta yang memenuhi hati dan pikirannya bukan cinta sendirian.
Pria tampan itu kemudian melanjutkan lirik dari lagu sambil terus memainkan piano dengan tenang dan menggetarkan, untuk sesaan Prof. Zain kembali menatap wajah Cantik Yuna Dinata.
I took for granted, all the times
That i thought would last somehow
__ADS_1
I hear the laughter, I taste the tears
But I can't get near you now
Oh, can't you see it baby
You've got me going crazy
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Oh how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Semua orang masih terpana mendengar suara merdu dan lantunan lagu dari Prof. Zain.
"Kamu tidak perlu merasa bahagia, lagu itu bukan untukmu!" Sambar wanita anggun yang berdiri di samping Yuna. Ia menatap Yuna dengan tatapan tajamnya, seolah tatapan tajam itu ingin menguliti setiap inci tubuh Yuna Dinata.
"Aku rasa kita tidak berteman. Kamu tidak bisa bicara seintim itu denganku, dan aku tidak senang melihatmu. Jangan pernah sok akrab denganku.
Kamu tahu? Setiap kali aku melihat wajahmu, hal yang terlintas pertama di benakku, aku ingin menjambak rambutmu." Ucap Yuna ketus.
Yuna menjauh dari wanita yang berhasil memancing emosinya.
"Apa yang kau katakan pada Yuna Sampai membuatnya sekesal itu?" Prof. Zain mendekati wanita anggun itu dengan amarah membuncah setelah ia menyelesaikan aksi panggungnya.
"Tenanglah Zain, sayang! Aku tidak mengatakan apa pun padanya! Aku hanya mengatakan kau sangat mempesona ketika kau bernyanyi."
"Dengar, Angel! Kita bukan lagi teman atau pun kekasih. Jika kau berani mengganggu kehidupan damai yang coba kuciptakan, maka kau akan tahu betapa menakutkannya diriku." Ucap Prof. Zain lebih ketus sembari menepuk tangan Angel Sasmita yang terus saja bermain di bahunya.
Prof. Zain meninggalkan Angel dan berjalan mendekati Sawn yang saat ini duduk bersama Robin.
Tiga pria tampan itu kini saling berjabat tangan dan melempar senyuman, mereka terlihat begitu santai, entah apa yang mereka bicarakan sampai membuat Sawn tersipu malu.
Sementara Angel Sasmita, ia justru mendengus kesal. Ia memanggil pelayan yang berdiri tak jauh darinya, dengan nada ketus seolah memberikan titah penting yang tak boleh salah sasaran.
__ADS_1
"Selalu ada jalan menuju Roma, dan tak ada yang bisa menghentikan keinginanku jika aku sudah menginginkannya, termasuk gadis yatim piatu itu ataupun kamu Yuna Dinata." Ucap Angel dengan senyum liciknya. Entah dari apa hati terdalamnya tercipta, ia begitu di penuhi amarah, tatapan tajamnya seolah menjelaskan tidak akan ada yang selamat jika ada yang berani menentangnya.
...***...