Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Ucapan Yang Menenangkan


__ADS_3

Mentari baru saja menampakkan sinarnya ketika Bu Hanum datang berkunjung, mendengar kabar dari putra tersayangnya, ia langsung meluncur menuju Rumah sakit di temani suaminya, Pak Andi Dinata. Selama dalam perjalanan bu Hanum terus saja mengoceh sampai membuat pak Andi menggelengkan kepalanya. Maklum saja, sepekan tidak bicara dengan menantu kesayangannya membuat Bu Hanum merindukannya sampai di titik ia tidak bisa makan karena sangat mengkhawatirkan kondisi Raina.


Butuh waktu tiga jam untuk pak Andi agar bisa sampai dirumah sakit dengan aman, kini ia duduk manis di temani Sawn dan Yuna disebelahnya. Dari sofa tempanya duduk, lagi-lagi Pak Andi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol istrinya. Sejak tadi Bu Hanum terus saja menyuapi Raina bubur yang di bawanya dari rumah, jika Raina menolak maka ia mulai bersikap kekanak-kanakan dengan berpura-pura cemberut.


"Mam, biarkan Raina ku istirahat. Kenapa Mama terus saja menyuapinya? Dia tidak bisa berkata tidak Karena dia tidak ingin mengecewakan Mama!" Ucap Sawn pelan sembari menuangkan air mineral di gelas milik Raina. Tidak ada bantahan dari Raina selain senyum yang mengembang di wajah ayunya sebagai bentuk pembenaran dari ucapan Sawn Praja Dinata.


"Kak Sawn benar, Ma! Apa Mama tidak lihat wajah kakak ipar? Ia tersenyum seolah membenarkan ucapan kak Sawn." Sambung Yuna yang saat ini masih duduk di atas kursi roda.


"Apa sekarang kalian berkomplot membantah Mama? Seharusnya kalian membela Mama, membela Mama agar menantu kesayangan Mama ini banyak makan sehingga badannya tidak sekurus ini!" Ucap Bu Hanum membela diri.


"Mam... Aku tidak ingin Raina ku bengkak seperti Labu gara-gara Mama terus saja menyuapinya!" Guyon Sawn sembari menyenderkan kepalanya di pundak Bu Hanum.


"Memangnya kenapa? Aku suka Mama menyuapiku! Apa kau cemburu padaku?" Balas Raina sambil menatap wajah tampan suaminya, Sawn yang di tatap dengan tatapan tajam malah salah tingkah di hadapan kedua orang tuanya dan Yuna. Wajah heran Sawn karena mendengar ucapan Raina memancing gelak tawa keempat orang tersayangnya. Bukannya marah, Sawn malah ikut larut dalam bahagia yang tercipta pagi ini bersama dengan anggota keluarga intinya.


Jangan ukur bahagiamu dengan banyaknya materi yang kau punya karena kau akan tetap merasa kekurangan berapapun bayaknya, beribadah dengan tenang adalah rizki. Sehatmu adalah rizki. Berkumpul dengan keluarga adalah rizki. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Melihat wajah bahagia keempat orang terkasihnya membuat Raina mulai meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata yang menandakan begitu besar nikmat yang Tuhan berikan padanya, nikmat yang tidak bisa ia ukur dengan sekedar kata-kata.


Semakin kamu bersyukur maka Tuhan yang maha pemurah akan semakin menambah nikmatnya untukmu.


Baik atau buruk semuanya sudah di tentukan yang kuasa, tinggal kita saja bagaimana melewati setiap episode hidup ini. Semua orang sejatinya adalah Aktor dan Aktris bagi kehidupannya masing-masing, lakukan yang terbaik dalam hidup ini sehingga nanti ketika kembali kepangkuan Ilahi tidak ada lagi yang kan kita sesali. Nasihat yang sering Raina dengar dari Bu Rahayu sejak ia masih kecil, nasihat yang selalu bergema di telinganya bahkan sampai ia dewasa, karena itulah Raina selalu berusaha untuk tetap bersyukur bagaimanapun keadaan yang ia lalui.

__ADS_1


Tok.Tok.Tok.


Keempat anggota keluarga Dinata masih larut dalam bahagianya ketika seseorang mengetuk pintu. Sedetik kemudian wajah bu Rahayu menyembul dari balik daun pintu, di ikuti oleh Bu Romlah di belakangnya sembari menggendong Malaikat kecil yang Raina tahu dengan jelas itu anaknya Agil, Bodyguard Sawn Praja Dinata.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Bu Rahayu dan Bu Romlah bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Balas Pak Andi di ikuti oleh semua anggota keluarganya termasuk Raina di dalamnya.


Melihat bu Rahayu yang datang, senyum di wajah Raina terlihat memudar, ingatan tentang amarah Bu Rahayu membuatnya merinding. Ia takut ibunya akan memarahinya lagi, sejujurnya yang Raina takuti hanya satu, melihat ibunya tidak bahagia karena dirinya.


Ya Allah... Ku akui aku anak yang buruk! Satu pintaku padamu, ampuni dosaku dan jangan masukkan orang tuaku kedalam neraka-Mu di sebabkan buruknya perbuatan dan tingkah lakuku. Gumam Raina sebari merunduk.


"Terima kasih karena kau tidak membuat kami menunggu terlalu lama. Kau bangun? Itu merupakan karunia terindah yang Tuhan berikan." Ucap bu Rahayu sembari memeluk tubuh Raina yang masih terlihat lemah.


"Apa kau sangat marah pada ibu sampai kau berani menghukum ibu seberat ini? Jangan pernah melakukan itu lagi! Jika kau berani melakukan itu lagi maka kau akan melihat ibu tiada." Sambung Bu Rahayu lagi, kali ini dengan suara lirihnya.


"Sssttttt! Ibu tidak perlu mengatakan itu. Aku menyayangi ibu melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Mungkin ini terdengar seperti omong-kosong, tapi itulah kebenarannya.


Aku selalu berusaha menjadi putri yang berbakti semampu yang ku bisa, nyatanya aku tidak bisa membuat ibu bangga! Maafkan Raina Bu! Maafkan Raina." Sambung Raina dalam isakan tangisnya, tubuh lemahnya masih merengkuh tubuh separuh baya Bu Rahayu.


Mendengar isakan pilu Raina membuat Sawn menghela nafas kasar. Suasana bahagia yang tadi tercipta kini berganti menjadi suasana haru luar biasa. Sama seperti Sawn, Pak Andi pun hanya bisa merunduk sedih.

__ADS_1


Sementara itu di samping Bu Hanum, berdiri Bu Romlah dengan derai air mata, ia terharu melihat ibu dan anak yang ada di depannya. Ia bangga pada hubungan yang terjalin antara ibu dan anak itu padahal mereka tidak terikat hubungan darah. Bukan darah yang menentukan hubungan keluarga, hubungan yang terjalin atas nama cinta dan rasa syukur pada yang kuasa akan menghantar seseorang menuju kebahagiaan yang hakiki, sejatinya manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.


"Terima kasih karena menjadi putriku! Tanpa mu hidup ibu terasa hampa! Terima kasih karena kau menyadarkan ibu untuk tidak bersikap egois!


Terima kasih karena sudah menyatukan Adikmu dengan Bu Alya, penyatuan yang tidak akan pernah bisa ibu lakukan bahkan sampai ibu tiada. Terima kasih karena sudah menjadi teladan yang baik untuk kami semua, terlebih teladan bagi adik-adikmu yang sangat berharga." Untuk sesaat Bu Rahayu terdiam sembari mengeratkan pelukannya pada putri yang sangat dirindukannya.


"Seorang muslim ibarat sebuah buku dengan cover yang indah dan akhlaknya adalah isinya. Orang lain akan melihat indahnya Islam dari akhlak atau prilaku yang kita tunjukan. Terima kasih sudah mengajarkan ibu untuk memperbaiki Akhlak ibu sehingga ibu bisa menjadi contoh bagi sesama." Ucap Bu Rahayu lagi, masih dengan derai air mata.


Begitu bayak ucapan terima kasih yang terlontar dari bibir Bu Rahayu sampai Raina tidak bisa berkata apa-apa. Sawn yang mendengar ucapan ibu mertuanya pun ikut larut dalam keharuan luar biasa.


Pemandangan di depan Sawn terlihat biasa saja, namun kali ini ia mendapat pelajaran luar biasa, pelajaran yang bahkan tidak bisa ia dapatkan di bangku Univeraitas sekalipun. Jika hal itu baik maka lakukan dengan segera, jangan menunggu hari esok karena kau tidak tahu apakah hari esok akan datang untukmu atau tidak.


"Ibu tidak perlu menjelaskan apa pun! Raina tahu segalanya." Balas Raina sembari melepas pelukannya dari bu Rahayu, ia menatap wajah kriput ibunya dengan senyuman yang dapat menenangkan hati ibunya.


"Ibu lihat senyumku? Ini adalah senyum bahagia. Aku bangga karena ibu adalah ibuku. Terima kasih sudah membesarkanku, dan terima kasih untuk segalanya." Ucap Raina pelan kemudian ia kembali memeluk tubuh separuh baya Bu Rahayu.


Minta maaf jika kau melakukan kesalahan, dan berterimakasihlah jika kau mendapat kebaikan, walaupun kebaikan itu datang dari musuh yang kau benci sekali pun.


Kata maaf dan terima kasih terdengat sangat sederhana, namun dua kata itu tanpa kamu sadari bisa menenangkan hati yang terlanjur terluka. Tidak ada gunanya hidup menjadi pembenci, karena begitu kamu membenci orang lain maka saat itu tanpa kamu sadari bahagia sedang menjauh dari kehidupanmu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2