
Rembulan malam ini bersinar sangat terang, seolah menceritakan pada dunia bahwa dua insan yang saling jatuh cinta telah menghabiskan malam mereka dengan bahagia tiada tara.
Bahkan angin malam ini terasa membelai lembut wajah ayu Raina Salsadila yang saat ini memilih berdiri sejenak di balkon sebelum memutuskan mandi.
Ketenangan?
Ketenangan sungguh memenuhi kehidupannya. Ia sendiri takut untuk tidur lagi, berharap malam indah ini tidak akan berakhir dengan cepat.
"Aku berharap malam ini tidak akan berakhir, bersamamu membuat malam ini menjadi spesial. Sungguh, hatiku, lisanku, dan semua yang ada dalam diriku mensyukuri kehadiranmu." Ucap Raina begitu ia kembali kekamar sambil membelai lembut puncak kepala Sawn Praja Dinata.
Di tatapnya wajah tampan suaminya, ada keteduhan di wajah itu. Tak ingin terlalu larut dalam bahagianya, pelan Raina beranjak dari tempat tidurnya. Meraih ikat Rambut di atas nakas, kemudian menguncir Rambutnya sembarang.
Raina berjalan menuju kamar mandi, dengan niat bersuci dari hadas besar agar bisa melaksanakan Tahajut pertamanya setelah malam penyatuan yang Insya Allah di berkahi dengan segala kebaikan.
...***...
Waktu menunjukan pukul 6.50 ketika pak Andi dan bu Hanum duduk di meja makan. Seperti biasa, kebiasaan keluarga itu, sarapan tidak akan dimulai tanpa kehadiran semua anggota keluarga. Dan kali ini, pak Andi masih menanti kedatangan putri manjanya sambil membaca surat kabar. Sementara bu Hanum, sesekali ia menyeruput teh hijaunya yang sudah tidak panas.
"Huh... Huh." Yuna duduk di bangku menghadap mamanya, nafasnya masih terdengar tak beraturan efek berlari menuruni anak tangga.
"Anak perempuan kok selalu telat!" Protes bu Hanum sambil menatap Yuna yang duduk di depannya. Melihat tatapan mamanya, Yuna sampai salah tingkah. Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, ma. Yuna baru saja menyelesaikan tugas yang harus di kumpulkan pagi ini." Ucap Yuna membela diri sambil membuang nafas lega.
"Bagus, nak. Kau harus semangat dalam menuntut ilmu." Ucap pak Andi sambil memberikan dua jempol pada Yuna.
"Pa, apa Yuna boleh...."
"Nanti. Bicaranya nanti, selesai sarapan." Ucap bu Hanum memotong ucapan putrinya sambil mengoleskan selai kacang pada roti Yuna dan meletakkannya di piring.
"Baiklah." Balas Yuna pelan sambil menyebikkan bibir tipisnya.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu di meja makan tanpa ada percakapan apa pun.
"Pa, apa Yuna boleh ikut mobil papa? Yuna malas nyetir, pa." Ucap Yuna sambil mengapit lengan papanya.
Melihat tingkah konyol Yuna membuat bu Hanum tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.
"Pa, mama meledek ku?" Yuna menarik-narik lengan papanya sambil menunjukan wajah cemberutnya.
"Papa tidak akan membelamu, karena papa lebih mencintai mama, dasar anak manja. Hueks!" Bu Hanum meledek Yuna sambil menjulurkan lidah.
"Papa lihat kan? Mama meledek ku!" Kali ini Yuna pura-pura menangis.
Melihat istri dan putrinya yang bertingkah seperti remaja labil membuat pak Andi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kau boleh ikut dengan papa. Satu lagi, sopir baru mu akan tiba sore ini! Papa tidak mau kau membuat alasan lagi." Ucap pak Andi pada Yuna yang masih sibuk merapikan rambutnya yang sempat di acak mamanya.
"Mama, kenapa mama selalu melakukan ini ketika Yuna akan berangkat? Yuna kan malas harus ke kamar. Gara-gara mama rambut Yuna jadi berantakan!" Protes Yuna yang kemudian disambut dengan tawa oleh pak Andi.
"Papa tidak boleh membela mama! Yang harus papa bela itu Yuna!" Yuna pura-pura cemberut, sebenarnya ia ingin tersenyum, sekuat tenaga ia berusaha menahannya.
"Baiklah, baik. Yuna paham." Ucap Yuna kemudian ia berjalan beriringan bersama dengan pak Andi. Meninggalkan bu Hanum yang akan sarapan sendiri.
Sarapan sendiri? Begitulah setiap ibu, mereka selalu mementingkan suami dan anak-anaknya sebelum mementingkah dirinya sendiri. Terbayang bagaimana susahnya setiap anak tanpa kehadiran orang tua disisinya, karena itulah Yuna selalu bersikap manja pada mama dan papanya, ia tidak ingin berubah menjadi gadis dewasa, ia hanya ingin kasih sayang kedua orang tuanya walaupun ia akan bertingkah seperti bayi besar.
Maafkan Yuna ma! Yuna tahu alasan mama selalu mengacak rambut Yuna agar Yuna memakai Jilbab seperti mama dan kak Raina. Rasanya tidak semudah itu untuk membuat keputusan. Ada apa dengan diriku? Kenapa langkah kaki ku terasa berat menuju perubahan itu? Tunggu sebentar lagi, Ma. Saat ini aku sedang meyakinkan diriku menuju perubahan itu, aku tidak ingin memakainya jika hanya untuk membukanya lagi. Gumam Yuna dalam hatinya sambil melambaikan tangan pada mamanya yang saat ini masih duduk di meja makan.
"Anak manja itu, semoga Allah segera memberikan ketetapan hati padanya untuk berjilbab. Walaupun aku mamanya aku tidak bisa memaksakan kehendak ku padanya. Aku tidak suka lelaki yang tidak halal baginya menikmati kecantikannya." Ucap Bu Hanum pelan sembari menuang air mineral kedalam cangkir yang ada di depannya.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda Raina dan Sawn pun baru saja menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
Raina terlalu bersemangat, ia bahkan tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Membayangkan wajah senyum ibunya membuatnya bahagia. Sejak pernikahannya, ia belum bisa berkunjung ke panti, beruntungnya Sawn sendiri yang mengajaknya berkunjung, dan hal itu membuat Raina sangat bahagia.
"Aku sudah siap! Ayo kita berangkat." Pinta Sawn begitu ia keluar dari kamar mandi. Ia merentangkan tangannya dan meraih jemari lentik Raina.
Cinta adalah... Merasakan seluruh emosi jungkir balik dan berbaur menjadi satu. Merasa semuanya akan baik-baik saja selama berpegangan tangan dengannya. Seperti sedang bermimpi dengan kedua mata terbuka lebar-lebar.
π¦πΌπ¦
"Rom, cepat selesaikan pekerjaanmu. Sebentar lagi Raina dan suaminya akan datang. Aku tidak mau Raina melihat kita sibuk." Pinta bu Rahayu setelah ia selesai membersihkan kamar Raina.
"Apa mbak yu yakin kamar Raina akan nyaman untuk suaminya? Mbak yu kan tahu suami Raina orang seperti apa? Memikirkannya menginap di tempat kita membuatku khawatir." Bu Romlah mengurai cemasnya sambil menghela nafas kasar.
"Mbak juga khawatir Rom, hanya saja mbak mencoba meyakinkan diri mbak kalo semuanya akan baik-baik saja. Sawn tidak biasa tinggal di tempat kecil seperti rumah kita, dia juga tidak terbiasa tidur di kamar kecil tanpa pendingin ruangan."
"Jadi alasan mbak yu menaruh pendingin ruangan di kamar lama Raina, murni hanya karena mbak yu takut nak Sawn tidak akan nyaman tinggal dirumah kita? Seharusnya mbak yu tidak perlu seperti itu. Nak Sawn mencintai Raina dengan sepenuh hatinya, saya yakin anak itu tidak akan berubah pikiran hanya karena ia menginap satu malam di tempat kita."
"Bude benar, cintaku pada Raina tidak akan berubah oleh keadaan." Sambung Sawn begitu ia datang.
Bu Rahayu dan bu Romlah saling menatap tak percaya. Mereka tidak menyangka Sawn mendengarkan percakapan mereka.
"K-kkau? Di-dimana Raina?" Tanya bu Romlah gugup.
"Raina di depan bude, bersama adik-adik."
"Apa kalian benar-benar akan menginap?" Bu Rahayu bertanya sambil meletakkan kopi di atas meja depan Sawn.
"Ia, bu. Malam ini kami akan menginap disini. Selama seminggu ini Raina sangat merindukan kalian, aku ingin Raina menghabiskan waktu dengan kalian. Aku hanya ingin melihat istri ku bahagia, selalu bahagia!" Ucap Sawn sambil tersenyum.
"Ibu sangat berterima kasih padamu, nak. Kau mencintai anak ibu dengan sepenuh hatimu, itu sudah cukup untuk ibu, ibu tidak ingin apa-apa lagi." Ucap bu Rahayu sambil menggenggam erat jemari Sawn.
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Sawn Praja Dinata selain senyum tipis yang mewakili perasaan bahagianya. Sekarang ia baru menyadari, bahagia tidak di ukur dari seberapa mewah tempat yang kau tinggali? Atau seberapa bayak harta yang kau punyai? Bahagia tidak di ukur dari semua itu, sama seperti ketenangan yang bersumber dari hati, maka bahagia pun adanya dari dalam hati. Percuma harta berlimpah jika hati terasa sempit.
__ADS_1
Ya Allah lapangkan dadaku! Dan buatlah orang yang ku cintai dan orang yang mencintaiku selalu bahagia. Lirih Sawn dalam hatinya sembari memandangi dua wanita hebat yang duduk di depannya. Keputusan berkunjung kepanti kali ini benar-benar keputusan yang tepat.
...***...