Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Resepsi (Part2)


__ADS_3

Hiks.Hiks.Hiks.


"Hentikan tangis tidak bergunamu! Jika Yuna sampai melihatnya, bukannya tersenyum di hari bahagianya, dia malah akan bersedih karenamu!" Gerutu Arnela sambil menatap Vivi dengan tatapan tajamnya. Vivi yang di tatap malah bersikap acuh.


"Hiks. Hiks. Hiks. Ba-ik-la-h." Ucap Vivi dengan suara yang di paksakan. Ia menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Cailahhhh, kalian berdua! Kalian benar-benar lebayyyy! Tidak heran kenapa kalian bertiga menjadi sahabat akrab." Ujar Robin dengan suara datarnya, entah dari mana dia datang kemudian menyambar seperti petasan. Melihat perdebatan Vivi dan Arnela di depan pintu masuk yang di jaga ketat oleh dua penjaga bertubuh kekar itu membuatnya merinding.


"Apa kalian tidak bisa melihat? Semua orang menatap kalian dengan tatapan tajamnya!" Sambung Robin lagi sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Ma-af, kak. Kami hanya sedih saja. Memikirkan Yuna akan meninggalkan kami membuat hati kami merasakan sedih luar biasa." Balas Vivi di sela-sela tangisnya.


"Baiklah. Itu bisa di pahami, melihat kalian yang selalu bersama membuatku teringat pada Doraemon yang selalu punya kejutan untuk Nobita." Ucap Robin pelan sambil memamerkan wajah datarnya, ia berdecak heran kemudian beranjak meninggalkan dua gadis muda itu.


"Ap-apa maksud mas Robin? Nobita? Doraemon? Apa itu?" Arnela bertanya dengan wajah polosnya.


"Itu artinya, kita sahabat yang setia. Dia bilang, kita tidak perlu menangis walau Yuna tidak bersama kita lagi. Walau kehidupan kita berbeda setelah pernikahan Yuna, Yuna akan tetap setia dan menyayangi kita sebagaimana Doraemon yang selalu setia dan menyayangi Nobita." Ucap Vivi dengan nada suara beratnya. Setidaknya ucapan itu yang bisa ia tangkap dari sindiran Robin setelah kepergiannya.


Sementara itu di dalam gedung mewah itu sudah duduk Sawn dan Raina, mereka saling menatap takjup. Setahun berlalu sejak pernikahan mereka namun rasanya masi saja sama, saling jatuh cinta layaknya pasangan muda yang sudah lama tak bertemu.


"Dimana putra kesayanganku?" Sawn bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ia memilih duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari tempat Yuna dan Prof. Zain berdiri.


"Ummi meninggalkan Hasan saat ia sedang tidur pulas. Bi Sumi dan Ega ada bersamanya. Jadi... Abi tidak perlu khawatir tentangnya, lagi pula Ummi hanya melihat Yuna sebentar, setelah itu Ummi akan kembali kekamar." Ucap Raina menjelaskan dengan suara lemah lembutnya


"Benarkah putra kesayangan Abi sedang tidur?" Sawn berusaha mengulangi pertanyaannya. Tidak ada balasan dari Raina selain anggukan kepala.


"Karena putraku sedang tidur, apa aku boleh meminjam Umminya?"


"Meminjam?"


"Iya... Aku ingin meminjam Umminya, apa boleh?" Sawn menangkup wajah ayu Raina dengan kedua tangannya.


"Jika Ummi Hasan berkata tidak, apa yang akan tuan lakukan? Saya berharap tuan tidak akan menangis di pojok kamar sambil memanggil-manggil nama Ummi Hasan." Raina berusaha menggoda Sawn sambil menahan diri agar tidak tersenyum.


Mmmmm! Sawn meletakkan jari telunjuknya di kepala sambil berpikir sejenak.


"Jika Ummi Hasan menolak permintaanku, aku pasti akan menculiknya!" Balas Sawn tanpa ragu-ragu.


Sedetik kemudian Sawn dan Raina saling tertawa untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Namun tatapan mata mereka tak lepas dari wajah rupawan Prof. Zain De Lucca dan Yuna Dinata.

__ADS_1


"Selamat nak Yuna. Akhirnya kau menikah juga, semoga Vivi segera menyusulmu." Ucap Mama Vivi sambil memeluk tubuh Yuna.


"Suamimu sangat tampan, kau harus menjaganya. Terkadang, ada saja wanita lain yang menyusup dalam rumah tangga bahagia. Tapi kau jangan khawatir, dia tipe pria yang setia." Sanjung Mamanya Vivi sambil menunjuk Prof. Zain dengan tangan kanannya.


"Thank you, tanteee." Balas Prof. Zain sambil memamerkan senyum seindah purnama miliknya.


Beberapa tamu undangan ada yang terlihat sedang asyik berdansa dengan pasangannya, diiringi alunan merdu music dari group band yang saat ini sedang naik daun. Dan yang lebih mengejutkan lagi, entah untuk apa Sawn naik ke atas panggung music perayaan Prof. Zain dan Yuna. Tak perlu bertanya kenapa ia naik ke atas panggungnya, semua orang bisa menebak apa yang akan dia lakukan selanjutnya, senyum bahagianya menjelaskan segalanya.


"Attention, please!" Sawn membuka suara sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Kini semua mata benar-benar tertuju padanya.


"Aku rasa aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi, karena aku yakin semua orang pasti mengenalku." Ucap Sawn percaya diri.


Gelak tawa kini memenuhi ballroom hotel, semua tamu undangan tertawa sambil menatap Sawn Praja Dinata.


"Semua orang mengatakan aku sangat beruntung. Aku rasa semua itu benar adanya." Untuk sesaat, Sawn menggantung kalimatnya. Ia menatap wajah heran Raina dengan tatapan penuh cinta. Ia tersenyum sambil mengedipkan mata kearah Raina yang masih duduk mematung di tempat ia duduk sebelumnya.


"Semua orang melihat Sawn yang sekarang dengan tatapan takjub luar biasa. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku melalui hari-hari ku dengan air mata.


Orang bilang, orang tua yang kaya ibarat hujan yang akan menyuburkan kehidupan anak-anaknya. Tapi jujur, aku tidak seperti itu. Aku membangun segalanya dari nol.


Dulu aku pria yang dingin, lebih dingin dari es. Tapi sekarang es ini telah mencair oleh Cinta seorang wanita saliha. Tepuk tangan untuk semua wanita hebat di dunia ini." Suara Sawn menggelegar, saat ini ia di penuhi semangat.


Semua tamu undangan bertepuk tangan mengikuti instruksi Sawn.


"Malam ini resepsi pernikahan dari adik perempuan ku satu-satunya. Sejujurnya aku sangat bahagia, dan dengan jelas kukatakan pada kedua mempelai kita. Selamat menempuh hidup baru!" Ucap Sawn, lagi-lagi ia bicara dengan suara penuh semangat.


Huhhhhhh!


Tepuk tangan riuh kembali memenuhi ballroom hotel. Bahkan gelak tawa Prof. Zain memenuhi indra pendengaran Yuna dinata.


"Satu lagi. Orang bilang wanita itu sangat cerewet. Tapi, anda tahu? Cerewet mereka sangat menggemaskan. Aku bahkan selalu menggoda istriku agar bisa mendengar omelannya. Lagu ini untuk kalian semua


para wanita hebat. Dan spesialnya untuk istri tercinta ku Raina Salsadila."


Yuna merasa tersanjung oleh setiap kata yang di rangkai kakaknya. Ia bahkan sampai meneteskan air mata. Dengan sigap Prof. Zain merangkul pundak Yuna, ia hanya mencoba menghibur istri cantiknya. Selain air mata, kini senyum menawan kembali memenuhi wajah raja dan ratu sehari itu. Tentu saja Yuna langsung menghapus sudut matanya.


Sementara itu alunan merdu musik mulai mengiringi Sawn Praja Dinata.


I figured it out...

__ADS_1


I figured it out, from black and white


Seconds and hours


Maybe they had to take some time


I know how it goes


I know how it goes, from wrong and right


Silence and sound...


Did the ever hold each other tight like us


Did the ever fight like us...


Tepuk tangan mengiringi suara merdu Sawn Paraja Dinata. Raina bahkan sampai mengacungkan dua jempolnya. Dan hal itu membuat Sawn semakin bersemangat di malam yang penuh dengan kebahagiaan ini.


You and I


We don't wanna be like them


We can make it till the end


Nothing can come between you and I


Not even the gods above


Can't separate the two of us


Nothing can came between You and I


Tepuk tangan meriah kembali mengiringi suara merdu Sawn Praja Dinata. Semua orang terlihat takjub, baik keluarga Prof. Zain yang saat ini duduk di meja yang berdekatan dengan bu Hanum. Atau Raina yang saat ini tepuk tangan sambil berdiri di tempat duduknya, mereka semua sama saja.


Entah kenapa Raina kembali mengacungkan dua jempolnya. Tersenyum bahagia kemudian mengedipkan mata, ia berusaha mengekspresikan perasaan bahagianya dengan cara sederhana.


Semua orang tampak bahagia, bukankah itu sudah cukup? Prof. Zain dan Yuna pun tak berhenti tersenyum di tengah perayaan resepsi pernikahan mereka. Akankah semuanya berjalan sesuai rencana?


...***...

__ADS_1


__ADS_2