
"Kakak beneran mau nikahin kak Raina? Apa kakak yakin dengan pilihan kakak? sepertinya..."
"Yuna, habiskan makananmu. Tidak baik makan sambil bicara." Balas bu Hanum yang sedari tadi sibuk menyendok makanan ke dalam mulutnya.
Mendengar ucapan mamanya, Yuna hanya bisa mengangguk kecil. Meja makan kembali hening.
"Kakak, hari ini aku akan pulang ke rumahku. Orang tua Loise akan berkunjung bersama adik perempuannya. Aku khawatir dia akan mulai bertanya tentang putraku." Ucap bu Alya memecah keheningan setelah ia menyelesaikan makanannya.
"Dari mana mereka tahu tentang putramu? Bukankah mereka tidak tahu apa pun!" Pak Andi bertanya karena ia penasaran.
Hemm! Bu Alya menghela nafas karena kesal pada dirinya sendiri.
"Mamanya Loise adalah orang yang baik, ia hanya merindukan cucunya saja. Maklumlah kak, Loise anak satu-satunya keluarga itu. Kematian Loise bagaikan kiamat besar bagi keluarga itu, mengetahui putra yang di rindukannya memiliki anak merupakan kabar besar bagi mereka. Yang jadi masalahnya, bagaimana caraku mempertemukan Andre dan ibu mertuaku? Jika bu Rahayu tahu, ini akan berdampak bagi hubungan Sawn dan Raina." Ucap bu Alya khawatir.
Sawn hanya bisa diam saja, ia tidak tahu harus berbuat apa. Kurang dari dua puluh empat jam Raina menerimanya menjadi calon pendampingnya, lalu bagaimana mungkin ia berani untuk meminta pertolongan pada gadis itu. Bagai boneka tak bertuan, Sawn pura-pura menyibukkan diri dengan makanannya tanpa harus berkomentar apa pun.
"Sawn, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini? Haruskah kita minta tolong pada Raina?" Bu Alya bertanya dengan harapan Sawn mau membantunya, yang di tanya hanya bisa diam saja.
"Sawn, tantemu bertanya padamu?" Pak Andi membuka suara.
"Pa, Raina baru saja menerimaku menjadi calon suaminya! Aku masih seorang calon! Aku bahkan tidak berani menatap matanya terlalu lama, apa yang akan di pikirkannya tentang keluarga kita?" Sawn menatap satu persatu keluarganya, termasuk Yuna yang masik asyik dengan ponselnya.
"Kak. Sawn benar! Aku rasa kita tidak perlu melibatkan masalah ini dengan Raina. Aku akan bicara pada mertuaku, kalau putraku ada di luar kota." Bu Alya tampak lesu, memikirkan untuk membohongi ibu mertua yang sangat menyayanginya membuat perutnya terasa sakit.
Sawn hanya bisa menghela nafas sembari beranjak bangun dari tempat duduknya, sudah seminggu ini ia menginap di kediaman orang tuanya. Ia berencana kembali kerumahnya setelah pernikahannya dengan Raina usai.
__ADS_1
"Ma, Pa, Sawn berangkat kerja dulu!"
Pak Andi dan bu Hanum mengangguk pelan kemudian fokus kembali dengan bu Alya yang tampak panik. Sejujurnya Sawn jauh lebih panik di bandingkan dengan kedua orang tuanya dan bu Alya, hanya saja ia terlalu pandai untuk menyembunyikan perasaannya.
...***...
Apa yang harus ku lakukan? Tante Alya terlihat sangat frustasi. Jika aku tidak membantunya, ia pasti akan sangat sedih. Bagaimana caraku bicara pada Andre? Anak itu harus tahu kalau tante Alya adalah mamanya dan aku adalah kakaknya. Gumam Sawn sembari mondar-mandir di kantor sunyinya, ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai ia tidak menyadari Robin memasuki ruangannya secara diam-diam dan memvidiokan dirinya yang sedang gelisah.
"Apa stock kebahagiaanmu sudah habis? Kenapa setiap kali aku melihat mu kau selalu saja gelisah. Santai man, santai."
"Apa Raina menekan mu? Kau bahkah belum menjadi suaminya, tapi wajahmu terlihat lebih tua lima tahun." Guyon Robin sembari tertawa lepas.
"Tutup mulut mu! Atau pergi saja." Balas Sawn kesal.
"Baiklah. Aku akan diam." Balas Robin sembari duduk di sofa.
"Seharusnya kau sibuk dengan rencana pernikahanmu! Melihat kau datang kekantor tanpa beban, beberapa karyawan berpikir Raina gadis tidak tahu malu karena berani mengelabuhi mu." Ucap Robin mengurai beritanya.
"Berani sekali mereka bicara buruk tentang Raina ku! Segera cari tahu darimana sumber gosip ini, kemudian hadapkan orang kurang ajar itu padaku." Pinta Sawn sembari menghempaskan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempat Robin duduk.
"Sekarang katakan apa yang membuat mu resah?" Robin bertanya dengan hati-hati agar Sawn tidak marah.
"Huh! Aku harus bilang apa? Sekarang masalahnya sedikit rumit." Ucap Sawn pelan. Robin yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, prihatin.
"Pernikahanmu dengan Raina akan di adakan kurang dari satu bulan. Dan sekarang kau bilang, masalahnya sedikit rumit! Memang apa masalah yang begitu rumit sampai wajahmu terlihat seperti pengantin yang di tinggal pengantinnya sebelum akad nikah?" Lagi-lagi Robin meledek Sawn dengan ucapan tidak masuk akalnya.
__ADS_1
Pengantin yang di tinggal sebelum akad nikah? Amit-amit! Lirih Sawn dalam hatinya sembari menatap Robin dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh lawannya.
"Tante Alya memiliki seorang putra sebelum menikah dengan mendiang suaminya. Karena malu tante Alya menyingkirkan anak itu, bahkan sebelum memberi nama padanya. Dan sekarang masalahnya, anak itu adalah adiknya Raina." Ucap Sawn menghentikan kalimatnya.
Robin yang mendengar cerita Sawn hanya bisa menelan salivanya, ia sendiri tidak menyangka wanita seanggun Alya Dinata memiliki masa lalu yang cukup rumit.
"Makkk...Makksuttt mu, salah satu adik Raina yang tinggal di panntii addalah anak tantteee Alyyaaa?" Robin masih terlihat gugup. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Sawn selain anggukan kecil saja.
"Ini masalah besar!" Ucap Robin masih tak percaya.
"Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan, kau harus meminta tolong pada nona sendirian. Aku yakin dia pasti akan membantumu, karena dia tidak berpikiran sempit sepertimu." Ledek Robin, kali ini sambil tersenyum.
Benarkah aku berpikiran sempit? Apa aku harus meminta pertolongan pada Raina? Bagaimana jika dia menolak membantuku lalu memutuskan berpisah sebelum kami menikah? Aahhh, ini benar-benar membuatku gila! Lirih Sawn sembari memandang wajah serius Robin.
...***...
Waktu menunjukan pukul 20:30 ketika Sawn memasuki kamarnya. Hari ini ia memutuskan pulang kerumahnya karena tidak ingin mama dan papanya bertanya apa ia sudah meminta bantuan Raina.
Memikirkan kata apa yang harus dia ucapkan saja membuat Sawn deg-degan tidak karuan.
Hay... Kau sedang apa? Apa aku bisa meminta bantuanmu? Ahhh, tidak. Gumam Sawn pelan kemudian ia buru-buru menghapus pesan singkat yang belum sempat ia kirim dari layar ponselnya.
Sawn melempar ponsel di tempat tidurnya sekaligus berkali-kali meyakinkan diri kalau ia harus meminta bantuan Raina.
"Baiklah, aku harus melakukannya. Tidak perduli jika kau marah padaku. Aku pasti akan membujukmu." Gumam Sawn dalam kegelapan, ia sengaja tidak menyalakan lampu di kamarnya, karena sesungguhnya bukan kamarnya yang membuatnya merasa gelap, hatinya jauh lebih gelap.
__ADS_1
Ya, aku harus meminta bantuan. Bantuan padanya! Lirih Sawn pelan kemudian mengirimkan pesan singkat, ia benar-benar khawatir menunggu balasan apa yang akan ia terima selanjutnya.
...***...