Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tahajud


__ADS_3

Setelah menerima panggilan dari Bodyguard-nya, Sawn langsung meninggalkan prusahaan, ia berkendara dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Raina dirawat. Untungnya jalanan sore ini tidak terlalu padat sehingga ia tidak terjebak dalam kemacetan panjang.


Butuh waktu dua jam agar bisa sampai di rumah sakit dengan aman tanpa ada gangguan. Selama dalam perjalanan Sawn terus saja memaki dengan kata-kata kasar, ia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.


Lima pria berbadan tegap dengan raut wajah putus asa kini berlutut tepat di depan Sawn. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya padahal Sawn sudah memaksanya untuk bicara.


"Kalian berani datang kemari? Apa kalian tidak takut mati?" Sawn tersenyum namun hatinya terasa panas. Rasanya ia ingin melenyapkan berandalan yang berdiri di depannya tanpa kenal rasa takut.


"Apa kalian tahu kalau aku mencari kalian seperti orang tidak waras? Wahhhh... Ini benar-benar kejutan. Kalian datang padaku seperti Anjing yang sedang kelaparan.


Ku akui kalian benar-benar Anjing pemburu yang setia pada tuannya! Dan yang lebih menyedihkan dari itu, tuan kalian malah menghilang seperti di telan bumi!


Apa kalian lihat siapa yang sedang terbaring lemah di tempat tidur itu?" Sawn bertanya sembari menunjuk kearah Raina yang masih belum sadar. Ada kesedihan mendalam yang saat ini memenuhi rongga dada Sawn Praja Dinata, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkan istri tercinta belahan jiwanya.


"Dia istri ku! Dan kalian sudah melukainya! Rasanya aku ingin membunuh kalian semua!" Ucap Sawn dengan nada tinggi. Matanya memerah menahan amarah. Sepersekian detik kemudian...


Plakkkkkkk!


Satu tamparan mendarat tepat di pipi kanan pria jangkung yang saat ini masih berlutut di depan Sawn. Pria jangkung itu meringis menahan nyeri di wajah lebamnya. Bahkan tangan pria jangkung itu masih terikat dengan sempurna. Sepertinya ketiga Bodyguard Sawn yakni Pak Bobby, Agil dan Pak Yanto yang saat ini berdiri di luar kamar Raina telah menghajar kelima pria itu sampai wajah mereka tampak seperti tomat matang.


"Kalian tahu? Menemukan kalian memang sedikit sulit. Bahkan jika kalian bersembunyi di dalam lubang Semut sekalipun, aku pasti akan menemukan kalian.


Kalian meremehkanku karena itu kalian berani memasuki kehidupanku. Sayangnya, aku bukan orang yang mudah untuk melepaskan serangga seperti kalian." Ucap Sawn lagi kepada kelima pria jangkung itu, tatapan matanya masih setajam belati. Sungguh, rasanya Sawn ingin menghancurkan kelima pria di depannya dengan semua kemampuan yang ada.


Lagi-lagi ucapan Raina yang menjadi penghalang Sawn menghajar pria brengsek yang ada di depannya, karena ucapan itu selalu bergema di telinganya, '*Amarah itu seperti api yang membakar jiwa, jika amarah sampai menguasai mu maka kau tidak hanya menghancurkan dirimu. Sabar itu lebih utama dari pada amarah.


Amarah itu datangnya dari Setan*!


Sabar itu adalah bukti kecintaan dan kepatuhan kita pada Allah. Bahkan jika kita harus tiada kita harus tetap memilih jalan yang sudah di tunjukan Tuhan.

__ADS_1


Jangan pernah lupakan ini, Setan akan selalu mengajak manusia melakukan keburukan dan kerusakan! Aku tahu kau tidak akan percaya dengan ucapan ku karena kita sama-sama tidak pernah melihat buruknya tempat yang bernama Neraka. Setidaknya kita sudah berusaha untuk saling mengingatkan agar kita terhindar dari buruknya Neraka itu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku lebih baik darimu, aku berkata seperti ini karena aku sangat mencintaimu, hanya orang yang mencintaimu yang akan selalu berusaha untuk mengingatkanmu' Ucap Raina pada Sawn Praja Dinata dua hari sebelum tragedi yang menimpa dirinya dan Yuna.


"Pergi dari hadapanku sebelum aku membunuh kalian....!" Sawn berteriak sambil menendang salah seorang pria yang tangannya masih terikat itu. Sepersekian detik kemudian Pak Bobby masuk bersama tiga petugas kepolisian yang berseragam lengkap.


Akibat kesal dan tidak bisa melampiaskan amarahnya Sawn hanya bisa berharap, semoga amarahnya akan menguap keangkasa bersama dengan helaan nafas kasarnya. Hatinya tak berhenti untuk tetap beristigfar.


Kini hanya Sawn dan Raina yang berada di ruang rawat Raina. Suasananya tampak tenang, sementara itu di ponselnya Sawn berusaha untuk tetap memutar Murottal Al-Quran yang menjadi kesukaan Raina kala sedang bersantai.


"Hai Bidadari Surgaku... Apa kabarmu? Cepat, bangun! Aku merindukan senyum indahmu! Aku merasa kesepian tanpa hadirmu disisiku. Jika aku bisa, aku berharap aku saja yang terbaring disini dan kau yang bicara padaku." Ucap Sawn pelan sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


Tanpa Sawn sadari tangan Raina mulai bergerak dengan seizin Tuhannya.


...***...


Tengah Malam!


Waktu menunjukan pukul 2.30 ketika Sawn terbangun dari tidur singkatnya. Ia menguap, setelah itu ia membaca doa bangun tidur. Sedetik kemudian ia beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil Wudhu.


Ya Allah segala puji bagimu, engkau penguasa Langit dan Bumi. Engkau maha benar, janjimu benar, pertemuan denganmu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Ya Tuhanku hanya kepadamu aku berserah, kepadamu aku pasrah. Hanya kepadamu aku kembali. Ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian. Tiada daya dan upaya yang dapat ku lakukan melainkan atas pertolonganmu.


Sawn terisak dalam doa panjangnya. Memikirkan kondisi Raina semakin membuatnya terisak.


Ya Allah ya Rabb ku...


Aku datang mengetuk pintumu, duduk bersimpuh di hadapanmu dan memohon pertolonganmu. Aku mohon, jangan uji aku melebihi batas kesanggupanku. Dengan segala kemurahanmu dan kebaikanmu to-lo-ng...


Sawn semakin terisak. Bahkan suaranya tertahan di tenggorokannya. Siapa pun yang mendengar tangisnya tengah malam buta akan ikut terbawa suasana dalam kesedihan panjangnya.


Tolong kembalikan Raina-ku! Aku tidak bisa hidup tanpanya. Jika aku pernah melakukan kebaikan walau hanya sekali dalam hidupku maka dengan izinmu, kembalikan Rainaku dengan cahaya kebaikan itu.

__ADS_1


Selama ini aku tidak pernah meminta apa pun darimu namun hari ini aku duduk bersimpuh di hadapanmu, tolong kembalikan Rainaku...


Aku tidak pernah bersyukur atas nikmatmu, ampunilah aku karena kesombongan ku itu. Jika doa adalah kekuatan seorang muslim maka hari ini pun aku meminta kekuatan padamu, berikan aku kekuatan untuk selalu tabah dalam menerima setiap takdir yang kau gariskan untukku bahkan sebelum aku terlahir kedunia ini. Aku memohon keajaiban untuk istri tercintaku.


Pinta Sawn panjang kali lebar. Ia menyudahi permohonannya dengan mengusap kedua tangan di wajahnya. Tanpa ia sadari sosok yang sangat ia rindukan sedang menatapnya dengan derai air mata kerinduan.


Sawn masih duduk bersimpuh di atas sajahnya, pelan ia menghapus sudut mata dengan kedua tangannya. Ada kelegaan luar biasa yang membelai lembut hatinya. Rasanya segala dukanya telah menghilang, 'mungkinkah ini yang di maksud Raina dengan keajaiban doa? aku merasa lega setelah menumpahkan segala hal yang memberatkan hati dan pikiranku' Gumam Sawn pelan.


"Aku tidak tahu kalau suamiku sangat cengeng!"


Dada Sawn berdebar sangat cepat begitu melihat sosok yang sangat di rindukannya kini mulai bicara padanya. Terukir senyuman tipis di wajah itu, senyuman yang sangat ia rindukan selama sepekan ini. Sawn beranjak dari tempat duduknya kemudian memeluk tubuh lemah Raina yang masih terbaring dengan perasaan bahagia luar biasa.


"Kau tidak tahu betapa takutnya diriku kehilanganmu! Terima kasih sudah bangun. Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik lagi." Ucap Sawn sembari membelai lembut wajah cantik Raina yang masih terlihat pucat.


"Bukankah aku pernah bilang, jika kau merindukanku pinta aku pada Tuhan-ku, maka aku akan datang padamu walaupun aku berada di belahan Bumi manapun." Balas Raina dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun!" Balas Sawn dengan suara pelan, ia berusaha naik di tempat tidur Raina.


"Kau mau apa? Ini tempat tidur Pasien!"


"Selama sepekan ini istri cantik nan saliha ku membuat keadaanku lebih buruk dari seorang pasien! Aku tidak bisa tidur di malam hari dan di siang hari pun aku tidak bisa tenang." Ucap Sawn sembari berbaring di samping Raina.


Sawn meletakkan kepala Raina di atas lengan kekarnya. Ia memberikan kecupan di puncak kepala istri tercintanya, cukup lama Sawn mencium puncak kepala Raina sampai Raina tersipu malu oleh perlakuan lembut Sawn Praja Dinata, perlakuan suami tercinta yang sangat dirindukannya.


Tidak ada tempat mengadu terbaik selain di atas sajadahmu, Tidak ada waktu terbaik untuk mengadu selain di sepertiga malammu. Sebab saat itu Rabb mu turun untuk merangkul hatimu, dan melapangkan dadamu.


Allah menunggu.


Percayalah, setumpuk pedihmu. Segudang inginmu, luasnya lelahmu akan terjawab di sepertiga malammu. Doa yang kau panjatkan saat tahajud, sama dengan lesatan anak panah yang tidak meleset dari targetnya. Karena itulah Sawn memilih merintih dan menumpahkan segala keluh kesahnya pada sang pemilik jiwa di sepertiga malamnya, Allah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2