Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Parasit


__ADS_3

"Sayang. Kapan kau datang?" Sapa bu Rahayu sambil menuruni anak tangga setelah melihat Sawn duduk di sofa.


"Baru saja." Balas Sawn.


"Apa kau datang sendiri?"


"Tentu saja! Memangnya aku harus datang dengan siapa lagi?" Ucap Sawn sambil menatap mamanya dengan tatapan heran.


"Papa dimana, ma?" Tanya Sawn sambil duduk di samping mamanya.


"Papa sedang memeriksa laporan karyawan Hotel bulan ini, sepertinya adik mu akan bekerja sebagai karyawan magang bulan depan. Tidak tahu kenapa anak itu tertarik dengan bisnis Hotel." Ucap bu Hanum sambil memandangi suaminya yang sedang menuruni anak tangga.


"Kau bilang akan mengatakan hal penting? Kita akan bicara setelah makan malam." Ucap bu Hanum sembari menggenggam jemari Sawn kemudian mengajaknya menuju meja makan.


Netra Sawn membulat melihat menu yang tersaji di atas meja persegi itu, sayur sup kesukaan pak Andi dengan satu ayam utuh di dalamnya, daging sapi yang sudah di olah menjadi abon kesukaan Yuna, tumis kacang panjang dengan berbagai macam sayuran di dalamnya, wortel, kentang, brokoli, dan toge di olah menjadi satu dan di letakkan dalam wadah mangkuk kaca yang bu Hanum beli dari Spanyol. Ikan nila goreng, tahu goreng, tempe goreng yang di potong dadu dan tak lupa sambal ulek pedas kesukaan bu Hanum. Terakhir, satu toples penuh kerupuk udang untuk meramaikan meja makan.


"Mama serius? Makanan sebayak ini!"


"Duduklah." Pinta bu Hanum sambil memandang suami dan putranya bergantian.


"Mbok, panggil semua orang." Bu Hanum meminta bok Dami memanggil semua pelayan yang ada di rumahnya.


Empat laki-laki, dua diantaranya bertugas sebagai security dan dua orang lelaki lainnya bertugas sebagai sopir dan tukang kebun. Sementara wanita berjumlah lima orang, dua di antaranya bertugas mengurus cucian, dan dua wanita lagi bertugas menjaga kebersihan rumah, sementara bok Dami khusus di dapur memasak masakan dengan rasa khas Nusantara.


Sembilan orang yang bekerja di rumah keluarga Dinata sudah di anggap seperti keluarga sendiri, tidak ada istilah yang kuat yang berkuasa dan yang lemah yang di tindas.

__ADS_1


"Silahkan duduk." Ucap pak Andi mempersilahkan sembilan pekerja yang sudah mengabdikan diri mereka demi kenyamanan keluarganya.


"Tidak, tuan. Kami bisa makan nanti saja." Balas Mbok Dami mewakili delapan pekerja lainnya.


"Bukankan kita sudah sepakat, setiap tahunnya tidak ada jarak antara majikan dan pekerjanya. Kita akan makan bersama di meja yang sama. Kali ini Mbok Dami dan yang lainnya tidak bisa menolak. Duduklah." Pinta bu Hanum.


Pekerja? Bu Hanum selalu memanggil semua yang bekerja di rumahnya dengan sebutan pekerja, ia lebih nyaman mengucapkan kata itu ketimbang menyebut mereka dengan sebutan pembantu.


"Tuan dan nyonya tidak perlu sebaik ini pada kami! Kami bisa bekerja dengan aman di tempat ini merupakan nikmat terbesar dari Tuhan. Tuan dan nyonya selalu memperlakukan kami seperti keluarga sendiri." Ucap pak Abib suami mbok Dami. Tiba-tiba saja lelaki separuh baya itu meneteskan air mata, ia teringat pada anak teman satu kampungnya yang bekerja di perumahan yang berbeda, majikan kejamnya bahkan tega menyiksa anak malang itu sampai sekujur tubuhnya memar, tak jarang anak malang itu mendapat siksaan dari majikannya yang sering pulang dalam keadaan mabuk.


"Apa kita akan terus bicara? Aku lapar!" Ucap Sawn pura-pura memegang perutnya menahan lapar. Melihat raut majah menyedihkan Sawn membuat semua orang yang ada di meja makan tersenyum lega.


Sekarang semua orang duduk dengan tenang di meja makan sembari menikmati semua yang telah tersaji. Tak terkecuali Sawn, sejak kecil ia selalu melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini, majikan dan pembantunya sama-sama makan di meja yang sama tanpa memperhatikan baju yang ia pakai harganya berapa, dan berapa uang yang ada di rekeningnya.


Mama dan papa sangat baik pada semua orang! Semoga mereka berdua bisa menerima Raina ku dengan tangan terbuka! Lirih Sawn sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


...***...


"Dia ada di kaa..." Ucapan bu Hanum tertahan di tenggorokannya karena melihat Sawn berjalan pelan sembari menuruni anak tangga.


"Dia ada disini." Ucap bu Hanum lagi.


Sawn duduk di Sofa yang menghadap kearah mama dan papanya. Dadanya berdebar, nafasnya terasa tak beraturan. Ada perasaan aneh yang mengganjal di lubuk hati terdalamnya. Perasaan takut yang menghantuinya, ia benar-benar takut jika kedua orang tua yang sangat di sayanginya itu menolak wanita impiannya.


Aku sudah dewasa. Jika mama dan papa menolak Raina, aku tidak akan membiarkannya! Lirih Sawn sembari menyusun kata-kata yang akan di ucapkannya.

__ADS_1


"Ma. Pa. Aku ingin mengatakan hal penting!" Ucap Sawn memecah keheningan di antara senyapnya udara. Pak Andi dan bu Hanum saling melempar pandangan karena melihat Sawn terlihat sedikit tegang.


"Katakan apa pun yang kau inginkan, kami akan mendengarkan mu." Balas pak Andi sembari melipat surat kabar yang ia baca dan meletakkannya di atas meja.


Sama seperti suaminya, bu Hanum pun terlihat serius menanti kejutan apa yang akan di katakan putra kebanggaannya.


"Aku akan menikah, ada seorang gadis baik yang telah mencuri hatiku." Ucap sawn tanpa basa-basi. Pak Andi dan bu Hanum terkejut mendengar penuturan Sawn yang begitu tiba-tiba.


"Menikah? Gadis dari keluarga mana yang ingin kau nikahi? Katakan pada ku, aku akan secara khusus melamarnya untukmu." Ucap bu Hanum dengan wajah sumringah.


"Dia berasal dari keluarga yang ekonominya di bawah kita. Meskipun begitu aku sangat mencintainya dan aku ingin menikah dengannya. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersama dengannya." Balas Sawn sambil membayangkan wajah tersenyum gadis yang selalu hadir dalam mimpinya.


"Siapa gadis itu?" Bu Hanum menatap Sawn dengan tatapan tajam. Melihat raut wajah kecewa istrinya membuat pak Andi sedikit takut, ia khawatir peristiwa penolakan akan terulang kembali seperti dulu dia menolak Angel.


"Raina. Gadis itu adalah Raina, dan aku sangat mencintainya!" Sawn menegaskan pada kedua orang tuanya kalau sekarang keputusannya tidak akan bisa di ganggu-gugat lagi.


"Apa? Gadis yatim piyatu itu? Jangan pernah berharap mama akan menerima wanita itu. Jadi ini yang di inginkan wanita itu menempel setiap hari padamu? Beralasan menjadi Bodyguard, mama benar-benar kesal..." Ucap bu Hanum ketus sambil mengipas wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya terlihat memerah menahan amarah yang hampir membuncah.


"Ma. Biarkan Sawn memutuskan pilihannya sendiri. Kita cukup mendukungnya. Mungkin bersama Raina putra kita akan bahagia." Ucap pak Andi membela keputusan Sawn.


"Apa papa pikir mama tidak ingin melihat putra kita bahagia! Siapa wanita itu? Dia hanya seorang yatim piatu yang terus menempel seperti parasit. Aku tidak akan pernah menerimanya sampai kapan pun!" Ucap bu Hanum menegaskan dengan suara menggelegar.


Parasit! Wahh... Aku benar-benar marah. Seharusnya aku tidak perlu meminta persetujuan dari siapa pun. Gumam Sawn sembari menahan kekesalannya.


Sementara itu, sembilan pekerja yang bekerja di kediaman Dinata hanya bisa menatap dengan tatapan prihatin melihat perdebatan tiga orang yang sangat mereka hormati.

__ADS_1


Mata Sawn memerah karena kesal, ingin rasanya ia membanting semua yang ada di depannya, namun sebisanya ia mengontrol emosinya agar tidak terlihat seperti lelaki menyedihkan hanya karena cinta.


...***...


__ADS_2