Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Apa Ini Nyata?


__ADS_3

Adalah kita yang terkadang tak pernah saling menyapa, memiliki rasa tapi hanya sebatas tanya. Bertahan dengan separuh harapan, menunggu diantara batasan tipis antara memiliki dan kehilangan. Menjadikan semoga sebagai kumpulan dari beberapa keyakinan, bertambah seiring waktu, tumbuh bersama detak rindu.


Tin.Tin.Tin.


Prof. Zain mulai menghela nafas kasar, ia benar-benar kesal. Dua jam berlalu namun mobilnya masih terjebak di antara ratusan bahkan ribuan mobil yang masih mengular sejauh mata memandang.


Entah berapa puluh kali sudah ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, semakin ia melihat arlojinya semakin ia kesal pada keterlambatannya.


"Shitttt!" Gerutu Prof. Zain sambil mengetuk kepalanya di sandaran kursi. Ada dua hal yang paling Prof. Zain benci dalam hidupnya, terlambat masuk kekelas untuk mengajar dan terlambat menemui kekasih hatinya.


"Ada apa dengan hari ini? Kenapa sangat sulit menuju kearahnya! Ini benar-benar menyebalkan." Gerutu Prof. Zain, ia kembali menghela nafas kasar. Kali ini ia berusaha mengetik pesan singkat di ponselnya, sayangnya ia tidak berani mengirim pesan singkat itu pada Yuna.


Sementara itu di tempat berbeda, Yuna menantikan kedatangan Prof. Zain dengan perasaan campur aduk, senang, takut, juga gelisah memenuhi rongga dadanya.


Yuna sendiri tidak tahu dari siapa ia merasa takut. Meskipun demikian, ia mencoba melebur dengan semua rasa yang ada. Bagi seorang Yuna Dinata, menantikan kedatangan Prof. Zain saat ini jauh lebih menakutkan dari pada menonton Film horor yang sangat di bencinya.


Allah... Ada apa denganku? Kenapa aku merasa kepanasan walaupun cuacanya sangat dingin. Yuna bergumam sendiri sembari mengipas wajah cantiknya dengan kedua tangannya.


"Apa dia tidak akan datang? Aku menunggunya lebih dari tiga jam!" Ucap Yuna pelan, kali ini ia bangun dari posisi duduknya dan berjalan menuju lampu taman.


"Aku tidak tahu malam akan terasa sangat panjang bagi seorang kekasih ketika menunggu kedatangan kekasihnya." Yuna berucap lagi, kali ini sambil memainkan jemari lentiknya di antara belasan kuncup Mawar merah yang tertata rapi di taman depan kediman Sawn Praja Dinata yang menjadi target pertemuannya dengan Prof. Zain De Lucca.


Tanpa Yuna sadari, sepasang mata menatapnya dengan tatapan penuh cinta, mendengar ucapan gadis anggun di depannya tanpa sengaja membuat pemilik iris biru yang baru saja tiba itu bahagia luar biasa. Ingin rasanya ia segera berhambur kemudian memeluk gadis anggun di depannya seperti yang ada dalam drama, namun sekuat tenaga ia menahan gejolak itu karena ia tahu gadis anggun di depannya tidak suka dengan perlakuan tidak senonoh seperti itu.


Mmmm.... Lagi-lagi Prof. Zain hanya bisa berdeham untuk mencairkan suasana tegang yang akan ia lewati. Dan ini bukan untuk pertama kalinya, sebelumnya ia melewati saat-saat menegangkan di kantornya ketika mengungkapkan isi hatinya pada gadis anggun yang berdiri di depannya.


"Anda sudah sampai?" Yuna bertanya tanpa melepas senyuman dari bibir indahnya. Sejujurnya, dadanya berdebar sangat kencang. Namun ia berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyum indahnya.


Tidak jauh berbeda dari Yuna, Prof. Zain pun merasakan getaran yang sama, untuk pertama kalinya ia merasakan dadanya berdebar sangat cepat. Seolah-olah jantungnya akan loncat keluar.

__ADS_1


Tanpa Yuna sadari, Prof. Zain merunduk membuang nafas kasar, ia mencoba menghilangkan kegugupannya, sayangnya itu tidak berhasil. Sikap Playboy-nya takluk di hadapan pesona Yuna Dinata.


"Ia... Baru saja! Apa aku mengganggumu?"


"Sama sekali tidak. Ayo, kita bicara disana saja!" Balas Yuna sembari menunjuk ke arah bangku yang terletak di bawah pohon dekat lampu taman. Prof. Zain hanya bisa mangut mendengar permintaan Yuna, ia bahkan berjalan di depan gadis impiannya itu.


Rambut sebahu Yuna tidak bisa diam, hembusan angin malam membuat gadis anggun di depan Prof. Zain itu terlihat tidak nyaman. Meskipun begitu ia mencoba bersikap sewajarnya.


"Seperti yang anda lihat, tempat ini tidak nyaman untuk kita bicara serius. Meskipun demikian, hanya tempat ini yang bisa ku pikirkan. Kita tidak bisa bicara di dalam, karena di dalam rumah tidak ada siapa pun. Kita bisa saja masuk dan bicara di sana. Tapi, aku tidak akan melakukan itu. Beginilah caraku menjaga diri." Ucap Yuna dengan nada suara lantang begitu ia memulai percakapan seriusnya. Yuna bahkan memainkan Murottal Al-Qur'an di ponselnya, agar kesan horor selama mereka bicara berdua tanpa ada siapa pun disisinya tidak akan terasa, karena ada Allah yang membersamai setiap langkah kakinya.


"Sebelumnya, aku tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Bagiku cinta itu adalah cinta yang di tunjukan oleh kedua orang tua ku. Tapi, semenjak anda mengungkapkan semua perasaan anda di kantor waktu itu, aku mulai goyah." Ucap Yuna lagi tanpa melepas tatapan matanya dari wajah rupawan di depannya.


Prof. Zain pun sama, ia tidak bisa melepas pandangannya dari wajah sempurna milik Yuna Dinata. Bahkan jepit rambut yang terselip di dekat telinga Yuna Dinata pun terlihat berharga dan sempurna karena Yuna yang menggunakannya.



Kecantikan bak Purnama milik Yuna Dinata benar-benar menyihir Prof. Zain De Lucca sampai ia tidak bisa berkata-kata.


"Anda tahu? Anda sangat tampan dan mempesona, gadis manapun akan mudah jatuh cinta, sayangnya aku tidak tertarik pada wajah tampan dan pria mata keranjang. Aku benci pada laki-kaki yang hanya memamerkan ketampanan dan kekayaannya hanya untuk menggoda wanita. Tidak semua wanita akan tertarik pada harta dan ketampanan, aku jenis wanita yang seperti itu." Tutup Yuna dengan nada suara bergetar. Ia berharap pria di depannya bisa menangkap arah pembicaraan seriusnya.


Prof. Zain hanya bisa menghela nafas kasar, mendengar pengakuan terus-terang Yuna membuatnya seperti tertampar. Bagaimana bisa setiap ucapan yang keluar dari bibir gadis impiannya itu seolah seperti sindiran yang sangat menyakitkan bagi masa lalu kelamnya.


"Anda tahu? Memoriku sangat tajam, aku bahkan bisa mengingat setiap hal kecil yang terjadi.


Dalam benak ku, anda pria aneh dan menyebalkan. Entah keraguan apa yang membuat langkah kakiku tertahan untuk tidak mendekati anda. Aku terus saja berpikir, apa dia pria yang baik? Haruskah aku menerimanya? Apa dia bisa menjadi imamku? Apa dia akan menghianatiku setelah kami bersama? Jika aku menerimanya, apa dia akan mendekati wanita lain di belakangku, sama seperti dia mendekati wanita lain di belakang punggung kekasihnya?Sungguh, masih banyak pertanyaan dan keraguan dalam benakku.


Aku sadar dunia ini di penuhi dengan banyak warna, dan masa lalu anda adalah bagian dari warna kehidupan anda. Anda bisa melupakan masa lalu yang buruk dan mulai merancang masa depan yang bisa memberikan kebaikan bagi semua orang.


Maka dengan segala pertimbangan yang ada, aku telah memutuskan untuk TIDAK..."

__ADS_1


Glekkkk!


Prof. Zain hanya bisa menelan salivanya. Mendengar kata tidak dari bibir Yuna membuat tetesan hangat mendarat di pipinya. Entah kenapa ia berubah menjadi cengeng, dan ini untuk pertama kali dalam kehidupan penuh warnanya seperti yang di ucapkan Yuna.


Prof. Zain kembali menatap wajah sempurna gadis impiannya, rasanya ia ingin berteriak. Hatinya hancur mendengar kata 'TIDAK' namun ia berusaha bersikap tenang.


Sekarang Prof. Zain mulai heran, wajah tersenyum Yuna menghiasi netra birunya. Kesedihan yang ia rasakan seolah menguap keangkasa bersama helaan nafas kasarnya.


"Aku telah memutuskan untuk tidak menolakmu." Sambung Yuna dengan seyuman di wajah cantiknya.


Prof. Zain mengedipkan kedua matanya, ia mencoba mencerna keadaan yang ada.


Dia tersenyum padaku? Lalu kata tidak itu? Tidak karena dia menolakku? Atau dia memutuskan untuk tidak menolakku? Prof. Zain bingung, ia tidak tahu kemana kecerdasan yang ia banggakan selama ini.


"Aku bilang aku menerimamu, dan tidak menolakmu. Hai Profesor ganteng... Aku benci orang yang bodoh." Guyon Yuna dengan gaya bicara mengikuti Prof. Zain ketika mengajar di kelas.


Prof. Zain menghapus sudut mata dengan punggung tangannya, kesedihan yang tadi ia alami kini berubah menjadi kebahagian tak terkira, melihat senyum mengembang di wajah sempurna Yuna Dinata membuat Prof. Zain merindukan Mommy-nya.


"Thank you." Ucap Prof. Zain dengan suara lirih.


"Tidak perlu berterima kasih. Setelah ini masih banyak hal yang harus anda lakukan. Minta izin pada Mama dan Papa seperti ucapan kak Raina. Berteman dengan kak Sawn dan Mas Robin, setelah itu..."


"Setelah itu... Aku akan menjadikanmu milikku untuk selamanya." Sambung Prof. Zain yang kemudian di sambut gelak tawa dari Yuna.


Senyummu seindah Purnama, hanya dengan melihatmu aku merasa bahagia. Bahagiamu menenangkan jiwa. Entah cinta seperti apa yang kupunya sampai aku merasa buta karenanya. Apa ini nyata?


Aku bertanya-tanya, apa ini nyata? Tidak mungkin Tuhan menyandingkan diriku yang buruk ini bersama Bidadari Surga! Untuk sesaat aku mencoba memejamkan mata, kemudian pelan membukanya, dan ternyata kau masih ada di sana, di depanku. Ia... Ini nyata, aku bertemu dengan Bidadari Surga yang siapa pun akan bersimpuh di depannya karena keindahan parasnya.


Ini nyata! Aku mencintai sosok sempurna yang menerimaku apa adanya. Semoga Tuhan menyandingkan kita dalam bahagia tanpa syarat. Sampai akhirnya semua mimpi itu menjadi nyata, mimpi untuk terus bersama dalam suka dan duka. Gumam Prof. Zain panjang kali lebar di dalam hatinya sembari memandangi wajah sempurna milik Yuna Dinata.

__ADS_1


...***...


__ADS_2