
Sejak memasuki kamarnya, bu Rahayu tidak keluar lagi kecuali untuk mengambil wudhu Shalat Isya. Dadanya terus saja berdebar, bahkan nafasnya terasa berat.
Marah, kesal, penasaran, merasa di bohongi. Perasaan itu benar-benar memenuhi rongga dadanya. Ingin sekali bu Rahayu melampiaskan amarahnya, namun pada siapa?
Ia bahkan tidak bisa duduk diam walaupun untuk sekejap saja. Pikiran tentang Andre yang di peluk dan di cium oleh bu Alya tidak bisa sirna dari ingatannya.
Tidak ada yang boleh memeluk dan mencium putraku seintim itu selain diriku! Entah dia orang lain atau keluarga baru Raina. Aku tidak perduli! Gumam bu Rahayu dalam kegelapan kamarnya.
Tok.Tok.Tok.
"Mbak yu, waktunya makan malam." Suara nyaring bu Romlah dari balik daun pintu sama sekali tidak bisa menghilangkan pikiran menakutkan bu Rahayu.
Ia terlalu takut anak-anaknya menjauh darinya. Dan ia pun terlalu takut anak-anaknya di adopsi oleh siapa pun. Bu Rahayu hanya ingin hidup dan menua bersama anak-anaknya hanya dengan melihat wajah polos mereka.
"Mabk yu, ayo kita makan!" Ucap bu Romlah lagi, masih dari balik daun pintu yang memisahkan dirinya dengan bu Rahayu.
"Kalian makan saja, mbak belum lapar. Mbak akan segera menyusul." Balas bu Rahayu dengan suara lirihnya.
"Baiklah jika itu yang mbak yu inginkan, Romlah dan anak-anak akan makan terlebih dahulu." Balas bu Romlah, kemudian ia pun pergi keruang tengah, semua anak-anak sudah duduk di kursi mereka masing-masing kecuali si bungsu Amel yang sudah tidur sejak sejam yang lalu.
"Bude, dimana ibu?" Nanang bertanya sambil menatap wajah lelah bu Romlah.
"Ibu kalian bilang, beliau belum lapar. Kalian makan saja. Ingat, apa yang harus kalian lakukan sebelum makan?" Bu Romlah bertanya sambil menatap satu per satu wajah bocah manis yang duduk di depannya.
"Berdoa!" Balas anak-anak manis itu serempak.
Sedetik kemudian tidak ada lagi percakapan di meja makan, yang ada hanya suara yang bersumber dari sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Kriukk. Kriukk.
Suara yang bersumber dari perut bu Rahayu memenuhi kamar gelapnya. Entah kenapa kekesalan yang masih menguasai dirinya menahan langkah kakinya walau sekadar untuk meneguk air putih saja. Sayang sekali, sekuat apa pun ia menahan diri untuk tidak mengisi perutnya, sekuat itu juga kekesalan masih memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
Pelan bu Rahayu melangkah keluar kamar, ia melirik jam yang tergantung di dinding ruang tengah, waktu sudah menunjukan pukul 23.19 dan untungnya semua orang telah kembali kekamar mereka masing-masing, tadinya bu Rahayu berniat menuju dapur yang terletak di ruang paling ujung panti, tepatnya di dekat kamar bu Romlah. Entah kenapa langkah kakinya terhenti begitu mendengar nada khawatir adiknya itu.
"Dengan siapa Romlah mengobrol selarut ini? Apa dia tidak ingat usianya? Sudah tahu bergadang itu tidak baik, masi aja ngeyel. Dasar Romlah payah!" Gerutu bu Rahayu sambil berdiri di balik daun pintu bu Romlah.
Pintu kamar bu Romlah sedikit terbuka, karena itulah bu Rahayu bisa mendengar dengan jelas setiap untaian kata-kata yang di lontarkan bu Romlah melalui sambungan telpon dengan lawan bicaranya. Nada suaranya terdengar berat, namun sesekali terdengar gelak tawa yang tidak terlalu keras. Merasa tidak ada yang penting bu Rahayu beranjak meninggalkan kamar bu Romlah, baru saja melangkahkan kaki, bu Rahayu benar-benar tercengang mendengar ucapan bu Romlah selanjutnya.
Apa kau tidak waras! Kenapa kau begitu terburu-buru menyatukan Andre dan mamanya? Seharusnya kau bicara dulu dengan ibumu! Bagaimana jika dia tahu? Kau tidak akan bisa meredakan amarahnya jika ibumu tahu bu Alya adalah mamanya Andre dan bu Alya pula yang mengirim preman waktu itu.
Tanpa bu Romlah sadari, bu Rahayu sedang mengawasi dan mendengar percakapan seriusnya. Entah dari mana amarah yang tadi mulai mereda kembali membuncah memenuhi rongga dada bu Rahayu.
Rasa laparnya tergantikan oleh amarah yang sedang menderanya. Menyadari dirinya sedang di awasi, bu Romlah segera mematikan ponselnya tanpa Salam.
"Mm-mbakkk yu ada di-si-ni?" Perasaan takut juga gugup menyerang bu Romlah di saat bersamaan.
Pemilik sepasang netra yang biasanya terlihat teduh itu terlihat garang.
"Apa hanya ini yang kalian sembunyikan dariku?" Bu Rahayu bertanya dengan tatapan setajam belati, seolah tatapan itu mengisyaratkan tidak akan ada yang selamat dari amarahnya.
"Tatap mata mbak, Rom! Sejak kapan kalian tahu bu Alya adalah ibu kandung Andre?"
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari lisan bu Romlah, ia hanya bisa berdiri mematung. Bu Romlah benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk menatap kakaknya saat ini.
"Katakan, sejak kapannnn?" Bu Rahayu berteriak keras sampai membuat bu Romlah terperanjak. Wajah yang tadinya merunduk kini terangkat sempurna, menatap bu Romlah dengan tatapan yang memancarkan ketakutan.
"Se-sejak ada preman yang me-rusak ru-mah kita!" Jawab bu Romlah dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Mbak benar-benar kecewa padamu! Tega-teganya kalian membohongi Mbak? Kau dan Raina sama saja. Kalian penghianat!"
Penghianat!
Satu kata itu bagaikan tamparan keras di lubuk terdalam bu Romlah, hampir saja ia tersungkur.
__ADS_1
Bu Romlah yang malang, untuk pertama kalinya ia merasakan amarah sebesar itu dan teriakan sekeras itu dari kakak yang selalu ia akui penyabar dan penuh kasih sayang. Air mata mulai menetes membasahi wajahnya, dan tentu saja bu Rahayu tidak perduli dengan kesedihan adik semata wayangnya.
"Kau tahu wanita itu yang menyebabkan kekacauan di rumah kita? Sedikitpun kau tidak mencegah mbak untuk tidak menjalin hubungan keluarga dengan mereka! Seharusnya kau jujur dari awal supaya mbak bisa menolak mereka!"
"Maafff mbak yu. Maaffff!" Suara lirih bu Romlah memenuhi langit-langit kamar sederhananya.
Bila amarah telah menguasai raga, bukan hanya dirimu yang kan terluka, orang-orang di sekelilingmu pun akan merasakan derita.
"Jangan katakan apa pun pada Raina, biarkan anak itu datang terlebih dahulu! Jika kau berani mengatakan apa pun tentang masalah ini padanya, maka kau tidak layak menjadi adikku." Sambung bu Rahayu masih dengan suara kerasnya.
Prakkkk!
Bu Rahayu keluar dari kamar bu Romlah dan menutup pintu kamar dengan bantingan cukup keras.
Raina, sayang. Semoga kau selamat dari amarah ibumu. Lirih bu Romlah di sela-sela tangisnya.
...***...
Sayang, maafkan aku! Aku akan pulang sedikit terlambat, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Jangan khawatirkan aku, aku sudah makan dan saat ini aku bersama Robin.
Tulis Sawn dalam pesan singkatnya, tak lupa ia juga mengirimkan potret dirinya dan Robin yang sedang duduk di sofa kantornya.
Ia. Tidak apa-apa. Jangan pulang terlalu malam. Aku merindukanmu...❤
Tulis Raina dalam balasan pesan singkatnya.
Di tempat berbeda, Sawn tersenyum bahagia membaca balasan pesan singkat yang dikirimkan istri tercintanya. Rasanya ia ingin lari untuk menemui belahan jiwa yang ia rindukan setengah mati. Sungguh, baru kali ini Sawn merasakan cinta sebesar itu, cinta yang sanggup membuatnya tiada bila tidak melihat wajah sosok yang dirindukan hati dan pikirannya.
"Apa kau tidak waras! Kenapa setiap kali aku melihatmu kau selalu saja tersenyum sendiri!" Protes Robin yang melihat Sawn tersenyum bahagia sembari memainkan ponselnya.
"Siapa yang perduli! Biarkan orang lain berpendapat apa pun tentang diriku, yang penting aku bahagia." Balas Sawn sambil menatap Robin yang duduk di depannya dengan tatapan meledek.
__ADS_1
...***...