
"Bu, apa Raina bisa menginap malam ini?" Raina bertanya sambil melepaskan pelukan dari tubuh bu Rahayu.
"Katakan bu?" Raina bertanya lagi dengan suara manjanya.
"Apa ibu harus menjawabnya?" Ledek bu Rahayu sambil tersenyum. Mendengar ucapan ibunya Raina kembali memeluk bu Rahayu, pelukan hangat bu Rahayu mampu mengikis kesedihan yang hampir meluluh lantakkan jiwanya.
Ya Allah, Aku terluka. Sangat terluka. Setidaknya pelukan ibu sudah cukup menjadi penawar sakit ku. Lirih Raina sambil melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju kamar yang sudah tiga bulan ini tidak ia tempati. Rasanya sangat berbeda, sepertinya kenyaman berada di rumah Sawn telah membuatnya melupakan rumahnya sendiri.
Membayangkan bagaimana Sawn mendorongnya di hadapan ribuan pasang mata membuatnya merinding. Raina menyembuntikan wajah sedihnya di bawah bantal, ia mulai menangis namun ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu sedih.
Apa ia menangis karena Sawn memperlakukannya dengan buruk? Atau justru ia merasa kecewa lelaki yang di pilih hatinya tidak sebaik persangkaannya?
Kehilangan adalah resah yang takkan mudah pergi meskipun kamu sudah mencoba untuk melupakannya. Kehilangan adalah takdir terburuk bagi siapa pun yang sedang merasakan romansa penuh cinta. Tiap detik terasa melambat, dunia penuh warna menjadi serba hitam putih, dan hati yang terluka seakan luruh dalam nestapa berkepanjangan. Dan untuk kesekian kalinya, Raina kembali merasai kehilangan.
"Ya Allah, apa yang membuatku sesedih ini?" Lirih Raina pelan kemudian bangkit mengambil Wudhu untuk mengerjakan salat Isya.
Ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya, waktu menunjukan pukul 00:00 ketika Raina melaksanakan Shalat isya.
"Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menunda shalat Isya hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat." (Hr.Muttafaqun Alaihi).
Sementara riwayat lain juga menjelaskan: Dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda "Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan atau menunda Shalat Isya hingga sepertiga malam atau setengahnya." (Hr. Ahmad, Ibnu Majah danTirmizy).
Bila seseorang Sholat Isya pada beberapa menit menjelang masuknya waktu shubuh, tetap sah dan masih dalam waktu yang di benarkan, namun hal itu bukan menjadi pilihan yang baik.
...***...
"Bagaimana pestanya, apa kau menikmatinya?" Bu Hanum menyodorkan roti yang sudah di olesi selai kacang untuk Yuna.
"Aku tidak suka pestanya, ma. Membosankan!" Celetuk Yuna sembari menuang air mineral di gelasnya.
"Bukankah sebelum berangkat kamu bersenandung bahagia karna akan menghadiri pesta para Sosialita? Lalu kenapa kamu mengeluh. Dasar anak manja."
"Bukan itu masalahnya, ma. Hanya saja di sana.... Uppss!" Yuna menutup mulutnya. Hampir saja ia keceplosan, jika mamanya sampai tahu kejadian semalam, bisa di pastikan mamanya akan berperang melawan kakaknya, dan Yuna tidak akan menyukai itu.
"Hanya saja disana? Lanjutkan ceritamu." Pinta Bu Hanum pada Yuna.
"Hanya saja disana..... Tidak ada mamaaa." Yuna menggoda bu Hanum sambil memainkan matanya. Anak nakal itu bahkan berpura-pura tertawa untuk mengusir kecemasan mamanya.
"Kakakmu, apa dia membuat masalah lagi?"
Deggggg! Pertanyaan mamanya yang tiba-tiba itu membuat Yuna tersedak.
Dari mana mama tahu kalau kak Sawn membuat masalah? Lirih Yuna pelan sambil menepuk-nepuk dadanya.
__ADS_1
"Apa ada orang yang akan mencuri makananmu? Makan perlahan." Ucap bu Hanum sambil meyodorkan segelas air pada putri manjanya.
"Kak Sawn? Dia tidak akan berani membuat masalah." Balas Yuna.
"Baiklah, mama percaya padamu. Tapi, kalau mama sampai mendengar hal buruk tentang kalian berdua, mama tidak akan melepaskan kalian. Mama tidak mengekang kebebasan kalian, bukan berarti mama akan membiarkan kalian melakukan hal yang akan menentang nilai-nilai keluarga kita." Ucap bu Hanum panjang lebar.
"Iya ma... Yuna mengerti. Papa kemana?"
Tatapan Yuna menerawang kesegala penjuru yang bisa di jangkau netranya.
"Papamu ke Bandung!"
"Bandung! Kenapa mama tidak memberi tahuku? Ini masalah besar!" Yuna menghela nafas. Melihat tingkah putrinya bu Hanum hanya bisa menggelengkan kepala. Kedekatan antara ayah dan anak perempuannya ini benar-benar membuat bu Hanum bangga.
Setelah menghabiskan sarapannya, Yuna langsung lari kekamarnya, mengambil ponsel dan bersiap mengomeli papanya yang tidak berpamitan padanya.
...***...
Sembilan jam berlalu setelah kejadian mengenaskan bagi Raina, ia akhirnya bisa nyaman tinggal di rumahnya dan bercanda dengan adik bungsunya.
Tidak ada lagi beban di hatinya.
Masalah datang dan pergi tanpa kamu sadari, terkadang kamu bertanya kenapa Hujan dan badai datang bersamaan. Bukankah itu sudah jalannya, setelah Hujan akan hadir pelangi yang kan menyejukkan padangan.
"Apa kau tidak akan bekerja hari ini?" Bu Romlah berusaha memberanikan diri, bertanya pada Raina sembari menyodorkan susu hangat padanya.
"Amel sangat menyukai susu hangat, dia tidak akan merajuk selama kau berada di sisinya. Sepertinya selama ini kau selalu memanjakannya, karna itu dia tidak mau jauh darimu." Ucap bu Romlah lagi sambil menatap Raina dengan tatapan tajamnya.
"Ani di mana bude?"
"Setelah minum susu, bocah manis itu tidur lagi. Tadi malam mas Agil tidak menjemputnya, untungnya dia tidak rewel."
"Bagaimana kalau kalian menikah saja? Kalian pasti akan menjadi pasangan terbaik di dunia!" Kali ini Raina menodong bu Romlah dengan sebuah pertanyaan tak terduga.
Maklum saja, karna terlalu sibuk mengurus Anak-anak membuat bu Romlah melupakan kehidupan peribadinya, Delapan tahun berlalu sejak suaminya tiada, tidak ada warna baru dalam kehidupannya selain menyelesaikan tugas-tugas biasa yang biasa di kerjakan ibu rumah tangga.
Untuk sepersekian detik, Bu Romlah hanyut dalam bayangan indah ucapan Raina. Wanita tiga puluh delapan tahun itu tersadar dari lamunannya, wajah bu Romlah terkesima seakan tak percaya mendapatkan pertanyaan tak terduga dari Raina.
Apa aku akan di marahi! Ooh tidak. Lirih Raina pelan. Tanpa berucap sepatah kata pun bu Romlah berlalu dan meninggalkan Raina yang masih sibuk memberi susu hangat pada Amel.
"Bude pergi? Aku pikir aku akan dimarahi, ketakutan yang sia-sia. Meskipun begitu aku berharap bude akan memikirkan ucapan ku.
Sekarang waktunya menunjukan sihir ku, aku akan menjadi jembatan penghubung antara bude Romlah dan mas Agil." Raina bergumam sendirian. Memikirkan bu Romlah menikah lagi membuatnya tertawa sendirian. Untungnya tidak ada yang melihatnya selain Amel yang belum mengerti apapun.
__ADS_1
Misi di mulai! Ucap Raina lagi penuh semangat.
...***...
"Hari ini kau mau makan apa? Aku sangat lapar, ayo kita pergi!" Bobby menarik lengan Agil tanpa bertanya yang di ajak bersedia atau tidak.
"Neng Rita mau makan apa?" Agil menghentikan langkahnya, memandang
Rita dengan tatapan kasihan. Tidak seperti biasanya, gadis pendiam itu terlihat lesu.
Rita yang mendengarnya bergeming dalam emosi yang sukar untuk di jelaskan. Ia menundukan kepalanya dalam perenungan dan tak tahu harus berkata apa.
"Aku benar-benar berterimakasih karna kalian memperdulikan ku. Tapi maaf, saat ini aku tidak lapar." Ucap Rita sembari menangkupkan tangannya.
"Apa kau punya masalah? Apa ini masalah cinta? Keluarga? Atau kau murung karna belum mempunyai kekasih? Katakan padaku, aku punya semua solusi yang kau butuhkan."
Sepersekian detik kemudian, sebuah senyuman manis terbit dari bibir Rita.
"Ini bukan tentang diriku, ini tentang kak Raina!"
"Raina! Ada dengan anak itu?" Bobby berjalan mendekati Rita tanpa memperdulikan lagi rasa laparnya.
"Mas Agil, pak Bobby. Hikkk...hikkk." Suara Rita tertahan oleh tangisnya. Melihat pemandangan langka di depannya Bobby dan Agil saling memandang heran.
Tanpa di sadari oleh ketiga orang itu, Sawn berdiri di balik daun pintu. Untuk pertama kalinya lelaki tampan itu mencuri dengar percakapan orang lain.
Lelaki dengan tinggi 180 cm itu pun berusaha menempelkan telinganya di daun pintu tanpa ada yang menyadari. Hatinya di penuhi penyesalan luar biasa, tanpa mengetahui kebenaran atau mencoba bertanya ia menyakiti gadis yang paling di hormati hatinya.
Sawn berjalan menuju kantornya dengan langkah tertatih, bayangan dikala ia mendorong Raina terus saja berputar di kepalanya. Yang paling menyakitkan, gadis yang berhasil membuatnya merasakan cinta itu menagis pilu dihadapannya tanpa bisa menghiburnya.
Prakkkk!
Sawn menutup pintu kantornya dengan bantingan yang cukup keras, dan itu berhasil membuat Bobby, Rita dan Agil terkejut.
Skenario Allah apa lagi yang sudah disiapkan untuk Sawn dan Raina?
Raina maafkan aku! Aku bersalah. Kamu dimana? Aku merindukan mu! Lirih Sawn pelan dalam kesendiriannya.
Penyesalan selalu datang terlambat, namun yang lebih penting dari rasa itu, perasaan bersalah dan mau meminta maaf.
Hati yang terluka bisa dengan mudah disembuhkan oleh Allah, selama kamu kembali dan memohon pertolongan padanya.
...***...
__ADS_1