Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tamu Istimewa


__ADS_3

Sawn dan Raina masih larut dalam pembicaraan seriusnya. Mereka bahkan tidak menyadari waktu berjalan sangat cepat. Ketika anda berpacaran dengan cewek manis, satu jam terasa seperti satu detik. Dan ketika anda duduk di tungku panas, satu detik serasa satu jam. Itulah Relativitas. Sawn tersenyum tipis sembari mengingat pelajaran Fisika saat duduk di bangku SMA. Ia bahkan menghadirkan wajah guru kelasnya saat menirukan gaya mengajarnya kala menjelaskan ucapan Albert Einstein.


Melihat wajah tersenyum suaminya, Raina hanya bisa mengerutkan dahi tanpa bertanya apa-apa.


"Sayang... Kau penasaran, kan? Tanyakan saja!" Sawn bertanya sambil memperbaiki posisi bantalnya. Setelah merasa nyaman ia kembali memperbaiki posisi selimut yang melilit tubuhnya.


"Aku heran saja! Tidak ada yang lucu, suami tersayangku malah tersenyum seolah dunia sedang berlutut di bawah kakinya."


"Aku tersenyum karena aku sangat bahagia. Istri Salihaku ada di dekatku, tetap saja aku sangat merindukannya." Mendengar penuturan suaminya, Raina hanya bisa menutupi wajah bahagianya dengan selimut tebal.


"Aku selalu bergetar hebat setiap kali kamu di sampingku, Raina." Sawn kembali membuka suara diantara senyapnya udara.


"Kamu terlalu cantik sebagai seorang manusia." Sambung Sawn lagi.


"Ahhh. Gombal." Balas Raina sambil mencubit perut Sawn pelan. Sawn hanya terpingkal-pingkal melihat reaksi Raina. Sedetik kemudian Raina meletakkan kepalanya di lengan suaminya.


"Kamu mungkin tak tahu seberapa besar rasa cintaku padamu, Raina. Senyummu, tutur lembut bahasamu, dan caramu memperlakukanku, bagiku semua itu seindah Syair-syair cinta yang selalu menenangkan jiwa." Sambung Sawn lagi. Kali ini ia terdiam sambil meraih jemari Raina dan meletakkannya di wajah tampannya.


"Aku ingin istri tercintaku memanggilku, Abi!"


"Bukan Papa, tapi Abi! Kenapa harus Abi?"


"Istriku sangat menyukai panggilan itu!" Balas Sawn pelan.


Tidak ada bantahan dari Raina, ia tersenyum tanpa mengalihkan padangan dari wajah tampan suaminya. Sedetik kemudian ia terlelap dalam keadaan menggenggam erat jemari Sawn Praja Dinata, suami yang sangat ia cintai melebihi nyawanya.


...***...


Sepekan yang di nantikan Yuna dengan perasaan takut, khawatir, sedih dan bahagia akhirnya tiba juga.


Seperti yang di janjikan Prof. Zain sebelumnya, hari ini adalah hari keluarga intinya datang untuk melamar Yuna secara langsung di kediaman Dinata.


Mmmmm! Vivi pura-pura berdeham untuk mencairkan suasana yang terasa sangat menegangkan, karena tidak ada tanggapan dari dua sahabatnya, Vivi mulai menyebikkan bibir menahan gejolak di hatinya.


"Katakan saja jika kau ingin mengatakan sesuatu! Tidak perlu berpura-pura bodoh.


Aku bisa melihat dari wajahmu, jika kau tidak bertanya sekarang, saat kau pulang kau akan menggangguku sampai aku merasa kesal, ia kan...?" Arnela membuka suara sambil menatap wajah penasaran Vivi.


"Memangnya aku kenapa?" Vivi terlihat pura-pura bingung. Padahal sebenarnya ia memiliki banyak pertanyaan yang masih terpendam.

__ADS_1


"Yang kalian pikirkan itu memang benar! Tanpa kusadari aku mulai jatuh cinta padanya. Setelah pernikahan, aku tidak bisa menemui kalian sekuat yang ku inginkn." Yuna bicara sambil menatap wajah Vivi dan Arnela dari pantulan cermin yang ada di depannya.


"Apa? Kau serius?" Vivi dan Arnela bertanya secara bersamaan. Wajah terkejut kedua gadis cantik itu memancing tawa Yuna. Kamar yang tadinya sunyi kini berubah riuh oleh tawa lepas seorang Yuna Dinata, dan ini untuk pertamakalinya.


"Apa itu lucu? Kami sangat sedih mendengar kau akan meninggalkan kami, tapi kau malah tertawa seperti orang yang tidak perduli pada persahabatan kita. Apa itu masuk akal?" Air mata Arnela hampir saja tumpah. Vivi yang tadinya ingin tersenyum malah mengurungkan niatnya melihat raut wajah prustasi Arnela.


"Ooohhh manisnya..." Yuna menghentikan tawanya kemudian berjalan kearah tempat tidur tempat Arnela dan Vivi duduk saling berhadapan.


"Kalian berdua adalah sahabat terbaik ku. Sampai tulangku memutih kalian akan selalu ada di hatiku. Aku tertawa bukan karena aku bahagia, aku hanya mencoba menyembunyikan kesedihanku. Dimana pun aku berada aku tidak akan pernah melupakan sahabat sebaik kalian berdua." Ucap Yuna sambil merangkul kedua sahabatnya.


Tok.Tok.Tok.


Perasaan haru yang masih menyelimuti ketiga gadis itu akhirnya teralihkan oleh suara ketukan yang bersumber dari daun pintu. Secepat kilat, Yuna, Vivi dan Arnela menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Aa-apa Kakak mengganggu kalian bertiga?"


"Bagaimana kakak bisa mengganggu kami? Justru kehadiran kakak menghapus resahku." Balas Yuna sambil berjalan kearah Raina.


"Sudah cukup episode sedih-sedihannya! Sudah waktunya kita berbahagia.


Prof. Zain dan keluarganya sudah sampai, sekarang Mama dan Papa sedang menyambut mereka. Jika kalian sudah siap, kalian bisa keluar bersama-sama." Ucap Raina mengabarkan beritanya. Wajah ayunya memamerkan senyuman seindah purnama.


Sangat menyenangkan memiliki saudara perempuan yang bisa di ajak berbagi cerita. Yuna berucap dalam hatinya tanpa melepas pandangannya dari Raina.


Sementara itu di ruang tengah sudah ada Pak Andi dan Bu Hanum yang sedang menyambut kedatangan tamu istimewanya. Seorang wanita separuh baya dengan pakaian tertutup berdiri di sisi kanan Prof. Zain, sementara di sebelah kirinya berdiri gadis muda dengan wajah bak Purnama. Gadis muda itu tidak memakai pakai terutup seperti wanita separuh baya di sisi kanannya, meskipun begitu ia tetap menjaga kesopanannya untuk tidak memakai pakaian terbuka.


Bu Hanum meminta Prof. Zain mengajak Ibunya dan wanita muda yang belum ia kenal itu masuk terlebih dahulu. Sementara itu Pak Andi masih menunggu di depan pintu, menunggu ayah Prof. Zain yang sedang menerima panggilan penting dari Thailand.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Setelah berjabat tangan dan saling mendoakan dalam kebaikan, Pak Andi mempersilahkan tamu istimewanya itu segera masuk kedalam rumah.


Sebelum mereka terlibat dalam pembicaraan serius, pak Andi memutuskan untuk mengajak tamu istimewanya untuk makan malam terlebih dahulu. Sebenarnya, Pak Andi memiliki prinsip hidup yang sangat sederhana, dan kesederhanaan itu mampu menggugah hati dan pikirannya untuk tidak menumpuk harta untuk dirinya sendiri. Prinsip hidup itu adalah 'Jika perut kenyang, maka hati pun akan tenang'


Berapa banyak Manusia yang ada di dunia ini, namun tak jarang kita akan mendapati beberapa diantara mereka yang menimbun kekayaannya tanpa memberi bantuan pada sekitarnya, karena sejatinya ada dua jenis manusia yang tak akan merasa kenyang selama-lamanya, Pencari Ilmu dan Pencari Harta.


...***...


Sepuluh menit berlalu sejak makan malam selesai, kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah dengan perasaan lega luar biasa.

__ADS_1


Dag.Dig.Dug.


Yuna merasa jantungnya akan lompat keluar, kali ini ia merasakan tegang tingkat tinggi, bahkah tangannya sampai mengeluarkan keringat dingin. Dengan cepat, Raina menggenggam jemari Yuna agar ketegangannya sedikit berkurang. Dan benar saja, Yuna mulai bisa mengendalikan dirinya.


"Zain kami sangat nakal. Selama ini ia selalu saja bermain-main. Kami tidak meyangka ia akan menemukan gadis seindah Permata.


Mungkin ini terdengar seperti omong-kosong karena kita baru saja bertemu, namun dengan segala pertimbangan yang ada dan dari lubuk hati terdalam saya, saya ucapkan saya sangat bangga dengan hubungan ini!"


Prof. Zain mulai tersenyum mendengar ucapan serius Papanya, untuk pertama kali dalam hidup Papanya mendukung keputusannya tanpa ada perdebatan di dalamnya. Bukankah itu luar biasa? Ini memang luar biasa, namun yang lebih besar dari perasaan bahagia itu adalah rasa Syukur atas kebaikan yang Kuasa yang akan mempersatukan dua jiwa dalam satu hubungan yang berlabelkan kata Halal.


"Kami ingin meresmikan hubungan ini sesegera mungkin sehingga kami bisa membawa Yuna bersama kami menuju Thailand. Bagaimana pandapat Tuan dan Nyonya Andi?"


Glekkkkk!


Yuna menelan salivanya. Tatapan matanya terlihat kosong. Mendengar ucapan Mama Prof. Zain akan membawanya jauh dari kedua orang tuanya membuat sekujur tubuhnya bergetar. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir akan hidup jauh dari kedua orang tuanya, tapi sekarang? Tailand? Jarak tempuhnya tidak sedekat Bandung dan Jakarta, dan hal itu membuatnya prustasi.


Bagaimana jika aku merindukan Mama dan Papa? Aku tidak pernah menyangka Prof. Zain tidak ingin tinggal di Indonesia! Haruskah aku melanjutkan hubungan ini? Atau aku harus mengakhirinya disini saja? Jauh dari Mama dan Papa? Aku pasti akan tiada! Hhhhmmmmm! Gumam Yuna dalam hatinya, bahkan suara helaan nafas panjangnya mencuri perhatian. Setiap mata kini menatap heran pada Yuna.


"Mam... Kami akan menikah, tapi tidak secepat itu. Maksud Zain, kami akan membahas dimana kami akan tinggal terlebih dahulu.


Zain akan membuat Yuna nyaman dengan hubungan ini baru kami akan putuskan untuk tinggal di Indonesia atau di Thailand. Zain akan mengikuti keinginan Yuna." Sambung Prof. Zain dengan nada suara pelan. Ia tidak ingin kedua orang tuanya merasa tersinggung.


"Papa tahu putra Papa sudah dewasa! Keputusan dimana kau akan tinggal, semuanya kami serahkan padamu. Yang terpenting bagi kami kalian berdua merasa aman, nyaman dan tenang." Papa Prof. Zain kembali membuka suara. Berbeda dengan istrinya, ia tidak terlalu banyak bicara.


"Thanks a lot, Pa!"


"It was the least I could do!" (Setidaknya itulah yang bisa saya lakukan)


Prof. Zain mengeluarkan cincin dari sakunya, cincin yang sudah ia siapkan sejak sepekan terakhir. Sebuah cincin Berlian dengan harga fantastis, cincin yang sebentar lagi akan melingkar di jari manis Yuna Dinata.


Acara malam ini berjalan dengan khidmat, Yuna tidak meminta banyak hal dari Prof. Zain, ia hanya meminta agar pria pemilik netra biru itu tetap mendukungnya dalam kesetiaan dan cinta. Tentu saja Prof. Zain hanya bisa mengiakannya sebagai bukti betapa besar cinta yang ia miliki untuk Seorang Yuna Dinata.


Tiga jam berlalu sejak kunjungan keluarga Prof. Zain di kediaman Dinata, setelah bertukar cincin, Prof. Zain langsung mengantar keluarganya menuju Hotel.


Entah kenapa, melihat cincin yang Prof. Zain keluarkan dari sakunya tadi membuat Sawn merasa bersalah pada Raina, seketika tatapannya mengarah pada jari manis istri tercintanya. Jemari lentik itu hanya di hiasi emas tiga gram yang Raina minta sebagai Mahar saat pernikahan mereka.


Cinta itu sebening embun di pagi hari, murninya cinta tak bisa di ukur dengan materi. Karena hanya mereka yang saling mencintai saja yang akan mengetahui betapa besar kebahagiaan yang di tawarkan di dalamnya. Tak perlu kaya untuk merasakan cinta, dan tak perlu malu jika tak bisa memberi. Sebaik-baik cinta adalah cinta yang di dasari Ridho Ilahi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2