Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Keyakinan


__ADS_3

Islam memandang wanita adalah karunia. Bersamanya kaum laki-laki akan mendapatkan ketenangan lahir dan batin.


Islam menempatkan wanita sebagai makhluk mulia yang harus dijaga, Allah menciptakan wanita dengan segala keindahan dan kesempurnaan dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Keindahan itu bukan hanya di nilai dari fisik saja, melainkan hati dan pikirannya juga. Layaknya perhiasan harus di jaga dan di rawat agar keindahan dan kilaunya tetap terjaga sepanjang masa dengan karunia yang kuasa.


Yuna masih terisak, dadanya terasa sesak. Rasa kesal yang membuat hatinya terluka sangat dalam membuatnya hilang akal. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada orang yang berani menghinanya dan hal itu sangat melukai jiwanya.


Raina masih menatap Yuna dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia sedikit terkejut karena melihat adik ipar yang disayanginya itu mengizinkan pria asing di depannya memeluk tubuh rampingnya. Baru saja Raina bergegas untuk menghampiri Yuna, lagi-lagi Raina di kejutkan oleh sikap adik iparnya itu tanpa terduga. Raina menghentikan langkah kakinya dan memutuskan untuk tidak terlibat langsung.


"Akan ku lihat dari sini. Jika terjadi hal buruk, itu menjadi tanggung jawabku sebagai kakak untuk melindungi adik perempuannya." Ucap Raina pelan. Kali ini Raina menatap dua anak manusia di depannya dengan tatapan khawatir. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengharapkan adik iparnya itu selalu di berkahi dengan kebahagiaan. Raina melipat kedua lengannya di depan dada sembari hatinya tak pernah luput dari zikir, karena Raina sangat mengetahui hanya dengan berzikir hati menjadi tenang.


Yuna memukul pemilik dada bidang yang berani memeluk tubuhnya tanpa seizin darinya. Tatapan mata itu lebih menakutkan dari film horor sekalipun. Nafasnya terasa berat.


Prof. Zain bisa melihat dengan jelas, Yuna yang berdiri di depannya saat ini bukan lagi Yuna yang biasa ia lihat.


Sepertinya aku melakukan kesalahan? Tatapan matanya sangat tajam. Ia bertingkah seperti gunung berapi yang akan memuntahkan lahar panasnya! Apa yang harus ku lakukan jika ia bertingkah seperti ini? Kisah kami bahkan belum di mulai, dan aku? Aku takut dengan kemarahanya. Lirih Prof. Zain dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap yang terbaik saja.


"Apa anda pikir aku wanita lemah yang akan membiarkan lelaki manapun memeluk tubuhku? Aku bukan wanita seperti itu. Kali ini aku memaafkan anda karena bersikap tidak sopan.


Lain kali, bahkan jika aku tiada dalam kesedihan jangan pernah lakukan itu. Hanya lelaki yang berhak padaku yang boleh memeluk ku." Ucap Yuna sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.


Raina tersenyum bangga pada Yuna, hampir saja ia berpikir buruk dengan kejadian yang ada di depan matanya. Begitulah seharusnya setiap manusia bersikap, jangan pernah menilai hal itu buruk jika kamu belum mengetahui kebenaran secara utuh.


"Yuna, sayang. Kenapa kau membiarkan teman mu berdiri di luar? Kau harus mengajaknya masuk." Ucap Raina berpura-pura tidak tahu perdebatan yang baru saja di lihatnya.


"Dia bukan teman ku! Dia hanya orang asing yang salah alamat." Balas Yuna dengan suara meyakinkan. Bibirnya memamerkan senyuman tipis untuk menyembunyikan perasaan kesalnya.


"Ooo... Benarkah? Aku pikir kalian berteman karena itu kalian bicara di luar." Raina balas tersenyum pada Yuna, ia meraih lengan Yuna hendak mengajak masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apa pun lagi.


"Karena anda sudah ada disini, maka anda juga harus masuk bersama kami." Pinta Raina pada Prof. Zain.


"Tapi kak....!"


"Tidak ada tapi-tapi! Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang Muslim untuk menghormati tamu yang berkunjung kerumah kita."


Mendengar ucapan Raina, Yuna hanya bisa mangut saja. Sementara Prof. Zain, ia berjalan mengikuti langkah dua wanita anggun yang ada didepannya.


...***...


"Siapa yang datang?" Sawn bertanya sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


Sawn menatap tajam kearah pria tampan yang duduk di depan adik dan istrinya itu. Mata sayunya terlihat menyembunyikan kesedihan mendalam. Bibirnya memang memamerkan senyuman menawan, tapi hatinya hanya ia sendiri yang tahu betapa dalam kesedihan yang ia rasakan.


"Perkenalkan, nama saya Zain." Ucap Prof. Zain sambil berdiri dari posisi duduknya.


Sawn meraih tangan Prof. Zain sembari membalas senyuman tulus pria yang berdiri di depannya itu.


"Zain! Apa anda Zain yang sama, Zain yang pernah menolong Yuna?"


Prof. Zain menjawab Sawn dengan anggukan kepala. Sedetik kemudian ia melirik kearah Yuna, gadis yang di tatapnya terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Sebaiknya saya pulang saja! Saya rasa ini terlalu larut untuk sekedar bertamu, saya akan berkunjung di lain waktu."


"Tidak apa-apa Profesor. Anda tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri, akan sangat menyenangkan jika kita bisa saling berbagi cerita." Ucap Sawn sambil melepaskan uluran tangan Prof. Zain.


"Saya tidak menyangka, ternyata anda sangat tampan! Meskipun begitu, saya percaya saya jauh lebih tampan dari anda." Guyon Sawn sambil tertawa lepas.


Disisi lain, rasanya Yuna ingin muntah mendengar guyonan berlebihan kakaknya.


Kakak benar-benar payah! Dia terlalu berlebihan dalam menyanjung Prof. Zain. Aku yakin Profesor mesum ini sedang bersenandung ria di dalam hatinya. Gerutu Yuna tanpa menoleh kearah Profesor. Zain yang saat ini masih menatapnya.


Bi Sumi meletakkan nampan teh beserta cemilan lengkapnya di atas meja.


"Baik, non."


"Jangan lupa berikan obat yang tadi saya belikan untuk mang Ujang. Obat itu saya simpan di atas kulkas." Sambung Raina lagi, setelah itu ia kembali duduk di sofa samping Yuna.


"Saya yakin bayak yang mengatakan Profesor sangat tampan. Hanya perempuan beruntung yang bisa mendapatkan suami setampan dan sepintar Profesor. Zain. Sayangnya saya bukan wanita beruntung itu..." Guyon Raina sambil menahan senyum.


Tatapan setajam belati langsung terarah pada Raina. Sawn mendengus kesal karena istrinya berani menyanjung pria lain di depannya. Sementara Yuna, ia hanya bisa mengusap dada.


Yuna benar-benar tidak percaya kakak dan kakak iparnya berpikiran sama.


"Saya memiliki beliau sebagai keberuntungan. Tidak ada yang bisa di bandingkan dengannya." Sambung Raina sambil menunjuk kearah Sawn yang masih menatapnya, kali ini tatapan penuh cinta.


Senyum mengembang langsung tercipta dari wajah tampan Sawn Praja Dinata mendengar penuturan Raina. Sanjungan singkat itu terdengar manis di telinganya. Sedetik kemudian Sawn mengedipkan mata kanannya kearah Raina, yang kemudian di sambut riuh oleh tawa khas milik Yuna.


Kau bisa tertawa? Aku pikir kau hanya bisa marah-marah saja. Aku benar-benar beruntung bisa melihat tawa seindah purnama milikmu. Semoga sepanjang hidup ku, Tuhan mengizinkan ku melihat senyum bahagiamu. Gumam Prof. Zain dalam hatinya.


Untuk sesaat Prof. Zain kembali memikirkan keluarganya di Thailand. Apa kabar dengan keluarganya, ia sendiri sangat penasaran. Sejak menginjakkan kaki di Indonesia ia tidak pernah menghubungi mamanya.

__ADS_1


Jangan pergi, nak! Kenapa kau sangat bodoh! Wanita itu memintamu menemuinya di Negaranya, dan kau mau saja? Itu bukan cinta, itu hanya ilusimu saja. Mama berharap Tuhan yang maha kuasa segera menunjukan kuasanya sehingga mata mu terbuka. Mengingat ucapan mamanya membuat Prof. Zain ingin menangis, sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata agar tidak keluar di depan tiga orang hebat yang sangat di hormatinya.


"Kak, aku akan kekamar duluan." Ucap Yuna sambil bangun dari posisi duduknya.


"Sepertinya saya juga harus pulang. Terima kasih untuk setiap kebaikan yang anda berikan." Sambung Prof. Zain dengan wajah yang di penuhi senyuman.


Yuna langsung masuk kekamar tanpa menoleh kearah pria pemilik iris biru itu. Untuk seorang Yuna, ketampanan bukanlah segalanya. Kebaikan hati pria itulah yang paling utama.


"Tuan! Ada telpon dari Tuan Robin." Ucap Ega sambil menunjuk telpon Rumah.


"Ooohhh... Benarkah? Minta dia menghubungi nomorku." Ucap Sawn cepat sambil menjabat tangan Prof. Zain.


"Aku yang akan mengantar Prof. Zain keluar." Sambung Raina sambil meraih lengan Sawn.


Terima kasih! Ucap Sawn pelan, kemudian meninggalkan Raina dan Prof. Zain menuju ruang kerjanya di lantai dua.


"Mari!" Raina menunjuk kearah pintu dengan tangan kanannya.


"Terima kasih atas keramahan nona Raina dan keluarga."


"Anda tidak perlu berkata seperti itu."


"Sungguh, kalian sangat baik. Saya sangat beruntung bisa mengenal anda dan keluarga.." Sambung Prof. Zain sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Sepertinya anda sangat menyukai Yuna, aku bisa melihat itu dari tatapan matamu." Raina membuka suara di antara senyapnya udara, sekarang ia dan Prof. Zain berdiri di pintu depan.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Prof. Zain. Ia merunduk sambil memikirkan ucapan singkat Raina, ucapan yang berhasil membuat jiwanya merasakan perasaan berbeda. Antara cinta dan dilema.


"Aku tidak tahu dengan kehidupan para gadis di Luar Negri, tapi kami gadis Indonesia selalu menjaga diri, tidak membiarkan siapa pun menyentuh kami selain dari suami kami. Aku bisa mengerti kemarahan Yuna pada anda." Sambung Raina lagi.


Memori Prof. Zain kembali mengingat saat Yuna mendorong tubuhnya.


"Yuna gadis moderen. Dia memang terlihat dingin. Sebenarnya dia gadis yang sangat baik dan penuh perhatian. Untuk bisa mendapatkan hatinya anda juga harus menjadi pria yang baik." Tutup Raina sambil tersenyum dengan penuh keyakinan.


Raina yakin pria yang berdiri di hadapannya adalah pria yang baik. Terlepas dari bagaimana masa lalunya bukan menjadi masalah besar.


Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tahu ia melakukan keburukan namun ia tetap memilih untuk tetap melakukannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2