Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Rahasia (Part3)


__ADS_3

Kakak harus cepat pulang, di rumah ada orang aneh. Ibu pingsan. Hiks.Hiks.Hiks... Suara Nanang bergetar, tangisnya mulai pecah.


Mendengar ucapan singkat adiknya di telpon membuat tubuh Raina bak di sambar petir di siang bolong. Ia berlari menuju parkiran seperti orang kesurupan. Raina bahkan tidak menghiraukan siapapun yang menyapanya, yang ia inginkan hanya sampai di rumah dengan selamat.


Air mata Raina masih menganak sungai ketika ia tiba di panti dengan gerbang Hijau itu. Suara teriakan dan isakan seolah menari-nari di Indra pendengarannya. Darahnya terasa mendidih ketika mendengar bu Romlah memohon dengan suara lirih agar ketiga lelaki bertubuh jangkung itu tidak membawa salah satu anak dengan paksa.


"To-long, lepaskan. Dia a-n-a-k kami... Mbak yu, bangun mbak. Bantu a-k-u." Tubuh bu Romlah bergetar. Ketiga lelaki aneh itu tidak mendengar siapa pun, dia terus saja berjalan keluar. Di luar pun sangat berantakan, pot bunga yang selalu bu Rahayu rawat seperti anak keduanya hancur berantakan tak tersisa.


Apa yang di lakukan orang-orang aneh ini di rumah ku? Aku bahkan tidak berani membuat adik-adik ku bersedih, tapi mereka? Orang kurang ajar ini berani membuat keluargaku sedih berjamaah. Lihat apa yang bisa ku lakukan untuk mencegah mereka membawa adik ku. Gumam Raina dalam hatinya sambil berjalan masuk.


"Apa yang kalian lakukan?" Raina berteriak geram, melihat bu Romlah bersujud dan melingkarkan kedua tangannya di kaki laki-laki itu membuat darah Raina semakin mendidih.


"Apa yang bude lakukan? Dari pada memohon, seharusnya bude menyiram mata mereka dengan bubuk cabe, berani sekali mereka mengarahkan pandangan jahatnya pada adik-adik ku." Ucap Raina kasar, ia membantu bu Romlah berdiri dengan derai air mata yang tidak dapat ia bendung.


"K-a-k-a-k." Ucap Linda, Nanang dan Andre bersamaan. Mata mereka terlihat bengkak, bisa di pastikan mereka tidak menangis dalam hitungan detik saja.


"Linda, Nanang, kalian masuk kedalam bersama bude Romlah." Perintah Raina sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah manis Linda, tubuh anak polos itu masih bergetar karena ketakutan.


"Bude Romlah, segera hubungi rumah sakit. Kita harus segera membawa ibu." Ucap Raina lagi mengingatkan.


Kini tinggal Raina, Andre, dan ketiga lelaki jangkung itu di halaman depan.


"Lepaskan tangan mu dari lengan adik ku!" Ucap Raina dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Kakak. Tolong Andre kak. Aku takut."


"Hahaha... Dasar payah! Lepaskan? Kami disini untuk menjalankan tugas. Dan tugas kami membawa bocah ini pergi." Ucap salah satu pria yang mencengkeram lengan Andre.


"Kakak mu hanya perempuan lemah, dia tidak akan bisa menolong mu. Tutup mulut mu dan kita akan pergi dari tempat kumuh ini." Ucap lelaki yang berdiri lima langkah dari Raina.

__ADS_1


"Aku bukan orang yang mudah melepaskan lawan. Sekali lagi aku memintamu, lepaskan adik ku." Raina berusaha menahan emosinya, ia takut adik-adiknya yang saat ini melihat dari balik Tirai akan ketakutan melihatnya berduel.


"Lepaskan? Hahahha. Bahkan jika ibu mu bangkit dari kuburan aku tidak akan pernah melepas anak ini." Lelaki itu berteriak kasar, ia semakin menguatkan cengkeramannya di tangan dan bahu Andre. Raina bisa melihat kalau adiknya itu sedang kesakitan.


Raina maju dengan kekesalan yang memenuhi seluruh raganya. Dengan cepet ia mengayunkan tangan kanannya, mencoba menghantam lelaki kurang ajar yang berani menyakiti adik lelakinya. Dengan cepat pula lelaki itu menangkis tangan Raina, tak kalah cepat Raina kembali mengarahkan tangan kirinya ke perut lelaki itu dengan pukulan yang cukup keras.


Arrrggg! Lelaki itu mengerang kesakitan, tubuh kurusnya tersungkur membentur pot bunga yang nyaris tak berbentuk. Melihat rekannya kesakitan, dengan kasar lelaki kedua melempar tubuh kecil Andre. Untungnya dengan sigap Raina menangkap tubuh Andre sehingga tidak membentur dinding.


"Masuk kedalam!" Ucap Raina pada Andre yang terlihat masih tegang melihat pertengkaran di depan matanya.


"Cepat." Ucap Raina lagi.


Raina berusaha menahan air matanya melihat Andre berlari dengan semua kekuatan yang ia punya, sedetik kemudian anak manis itu mengunci pintu dari dalam sesuai permintaan Raina.


"Kalian berani mengusik keluarga ku?" Raina maju dan menyerang dua pria itu dengan berutal, tangan dan kaki jenjangnya bergerak dengan lihai, sesekali ia menyerang perut dan di kesempatan lain ia mendaratkan pukulannya kewajah pria itu.


"Kakak awas..." Andre berteriak dari balik daun pintu.


Pukulan keras mendarat tepat di wajah ayu Raina.


Aahhh. Ssss! Raina meringis kesakitan. Darah segar mulai keluar dari sudut bibirnya.


Cuihhh! Raina meludah kesembarang arah, yang ia lihat hanya darah segar saja. Ia masih merasakan perih di sudut bibirnya, namun ia mencoba untuk mengabaikannya.


"Huah... Aku benar-benar marah. Arrggg, aku merasa gusi ku patah gara-gara kalian." Ucap Raina kasar sambil berlari dan memberikan tendangan keras yang mengarah pada lutut pria itu. Lagi-lagi pria itu meringis kesakitan. Dua orang nya kabur, semantara yang satunya lagi tersungkur.


Raina segera mengikat tangan lelaki itu, dan memanggil adik-adiknya.


"Apa dia membuat kalian takut?"

__ADS_1


"Kakak. Hiks.Hiks.Hiks." Anak-anak manis itu merangkul tubuh Raina, dan larut dalam tangisan lirihnya.


"Dia membentak ibu. Dia juga mendorong ibu. Ibu sakit gara-gara mereka." Ucap Nanang dengan ketakutan yang masih memenuhi hatinya.


"Kakak. Dia memukul Linda." Adu Linda sambil menarik jemari Raina. Mendengar penuturan adik-adiknya, dada Raina terasa sesak. Ia sendiri tidak berani berkata keras pada adik-adiknya, sementara orang kurang ajar ini berani memukul dan menyakiti adik-adiknya. Ingin sekali Raina mencabik tubuh lemah di depannya, namun ia tidak seburuk itu sampai harus menyakiti orang yang sudah tersakiti.


"Siapa orang tidak sopan yang berani mengirim mu? Katakan, sebelum aku melempar mu kepenjara?" Ucap Raina berusaha mencari jawaban.


"Ma...maffff nona, nyonnyaaa Allyaaa yang menyuruh kami" Ucap lelaki jangkung itu dengan suara gugup.


"Nyonya Alya. Benarkah dia nyonya Alya yang ku kenal? Jadi Rahasia kelahiran Andre yang mereka bicarakan sampai aku tersedak hampir tiada? Ini benar-benar tidak bisa di biarkan." Ucap Raina kesal.


"Katakan pada nyonya mu, tidak mudah mengambil adik ku. Pergi dari sini, cepat." Teriak Raina setelah membuka ikatan lelaki itu.


Semenit kemudian Ambulan datang membawa tubuh lemah bu Rahayu, bu Romlah ikut bersamanya. Sementara anak-anak lainnya Raina perintahkan untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang di sebabkan ketiga pria tak di undang itu.


...***...


Sementara itu, di perusahaan berlantai dua puluh lima yang di kepalai Sawn Praja Dinata, Raina memarkir maticnya kemudian berlari dan menaiki Lift menuju lantai dua puluh lima. Dadanya masih terasa sesak, ia masih berpikir apa yang akan di katakannya nanti ketika berhadapan dengan lelaki pemarah penguasa tempatnya berdiri saat ini.


Pranggg! Pintu terbuka lebar dengan bantingan cukup keras. Membuat Sawn, Robin dan beberapa Managert yang saat ini rapat terkejut berjamaah.


Tatapan terkejut Sawn melihat penampilan lusuh Raina dengan ujung bibir sedikit berdarah membuatnya terdiam seribu bahasa.


Yang membuat Sawn semakin khawatir, tatapan tajam Raina padanya seolah menjelaskan kalau ia sangat membenci lelaki yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Rapatnya kita tunda sampai aku memanggil kalian, sekarang tinggalkan kami berdua." Ucap Sawn pelan tanpa membiarkan semua orang tahu apa yang akan mereka debatkan.


Raina menutup pintu tanpa memperdulikan tiga rekan Bodyguard nya, di tambah Rita dan Robin yang bertanya 'Ada apa' namun tidak ia hiraukan.

__ADS_1


Ya Allah, jaga hatiku. Dan jagalah lisan ku, jangan biarkan aku menyakiti hati dan perasaan orang lain. Lirih Raina dalam hatinya.


...***...


__ADS_2