Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Kerinduan Sawn


__ADS_3

"Selamat pagi tuan..." Sapa Bi Sumi sembari membawa secangkir Koffe hangat di tangannya.


"Selamat pagi, bi." Balas Sawn tanpa melihat lawan bicaranya.


Meyenangkan rasanya melihat tuan berada di rumah sambil membaca surat kabar! Lirih bi Sumi dalam hatinya.


"Ini koffenya tuan."


"Terimakasi. Oo iya bi, apa Raina belum bangun, apa yang di lakukan singa betina itu sampai tidak keluar dari kamarnya?"


Singa betina? Mendengar ucapan tuannya bi Sumi hanya bisa tersenyum sembari menutup mulutnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya kalau tuannya akan berkata seperti itu, ucapannya memang terdengar menyebalkan, tapi bi Sumi tahu kalau tuannya hanya ingin melihat Raina saja.


"Jika non Raina belum bangun sesiang ini, itu namanya bencana. Tuan bisa lihat, di meja makan semua makanan di masak non Raina." Ucap bi Sumi menyanjung wanita yang tidak ada di depannya, dan ucapan itu berhasil membuat Sawn percaya kalau hatinya tidak salah dalam memilih sosok wanita yang dengan segala cara ia buat tinggal di istananya.


"Non Raina pasti sedang Sholat Dhuha!" Ucap bi Sumi lagi.


"Sholat Dhuha! Itu shalat apa? Bukankah sholat itu hanya lima kali dalam sehari?" Wajah Sawn terlihat bingung, ia tidak perduli jika pembantu separuh bayanya berpikir kalau dirinya benar-benar bodoh. Tidak apa-apa terlihat bodoh dari pada berpura-pura pintar, itu menurutnya.


"Tuan bisa bertanya langsung pada non Raina!" Setelah mengatakan itu bi Sumi langsung berjalan kearah kamarnya, entah apa yang dipikirkan pembantu separuh bayanya itu, ia meninggalkan Sawn dengan senyum tipis yang masih mengembang di wajahnya.


"Bertanya langsung pada singa itu? Tidakkk. Dia pasti berpikir aku orang terbodoh yang pernah ia temui, lihat saja nanti. Aku pasti akan menemukan jawabannya sendiri." Sawn melipat surat kabar dan meletakkannya di atas meja.


"Apa tuan tidak sarapan?"


Langkah Sawn terhenti ketika mendengar suara nyaring bi Sumi.


"Nanti." Jawab Sawn singkat sembari menaiki anak tangga. Sesekali ia menoleh kearah pintu kamar Raina, pintu itu masih tertutup rapat seperti biasa.


...***...


"Bu, saya akan keluar sebentar. Insya Allah saya akan kembali sore." Ucap Raina pada bi Sumi yang masih sibuk membersihkan peralatan dapur, sementara dua asisten muda lainnya sedang membersihkan lantai.


"Non Raina mau kemana? Sudahlah, non Raina tidak perlu menjawab apapun." Ucap bi Sumi menjawab dirinya sendiri. Raina hanya bisa tersenyum kecil melihat wajah Bi Sumi yang terlihat penasaran namun ia mencoba tidak menunjukannya.


"Saya ingin mengunjungi seseorang." Jawab Raina singkat.


"Apa non Raina pergi sendiri?" Tanya bi Sumi lagi.


Raina mengangguk.


Setelah mengucapkan salam, Raina meninggalkan pembantu separuh baya itu dengan segala kesibukannnya.


"Tuan mau kemana?" Bi Sumi bertanya pada Sawn ketika melihat tuannya itu menuruni anak tangga dengan sikap terburu-buru.


Bodoh... Kenapa aku harus bertanya? Lirih bi Sumi karena melihat Sawn tidak menjawab pertanyaan apapun selain mengumbar senyum tipis di wajah tampannya.

__ADS_1


"Apa Raina masih di kamarnya?" Sawn menghentikan langkah kakinya sembari bertanya pada bi Sumi.


"Tidak tuan. Non Raina sudah pergi, lima menit yang lalu."


"Aku akan keluar, mungkin akan kembali sore." Balas Sawn menutup pembicaraan. Ia melangkah keluar rumah sambil memikirkan ucapan bi Sumi pagi ini, pembantu separuh baya itu memintanya bertanya pada Raina, tentu saja itu keputusan buruk yang tidak ingin di ambilnya.


Dhuha? Sawn masih tidak mengerti arti dari satu kata itu. Bersama dengan ketidak mengertiannya ia meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil putih yang biasa ia gunakan ketika bersama dengan Raina.


Melakukan hal yang sering ia lakukan bersama dengan Raina membuatnya terasa semakin dekat dengan Gadis itu walau tanpa kehadirannya disampingnya.


Sementara itu, Langit biru dengan awan putih membumbung tinggi mewarnai cerahnya udara hari ini. Minggu yang indah.


Pagi ini Sawn sengaja berpakaian santai. Kaos biru muda berkerak dengan celana jin dan sepatu kets putih, Sawn berharap bisa mengajak Raina jalan-jalan menikmati pemandangan kota, walaupun ia tahu sangat mustahil mengajak wanita itu jalan-jalan berduaan seperti pasangan sejoli lain yang saling bergandengan tangan dan berbagi rasa yang sama.


Mobil Sawn Praja Dinata terus melaju membelah jalanan. Sejujurnya ia merasa sangat kecewa karena tidak bisa melihat Raina, namun ia berusaha menepis rasa konyol itu dengan mendengarkan music ditengah-tengah perjalanannya. Lirik lagu Michael Learn to Rock kembali menggema.


Baby, won't you tell me why


There is sadnees in your eyes


I don't wanna say goodbye to you


Love is one big illusuon


Sawn menghela nafas panjang sambil terus menatap jalanan yang tidak terlalu ramai. Jantungnya berdegup begitu kencang.


"Apa cinta ini hanya ilusi ku saja? Sangat susah mengungkapkan rasa ini dalam kesadaran penuh." Lirih Sawn pelan.


Lirik lagu michael learn to rock kembali mengalun.


But there is something left in my head


You're the one who said it all


Now you're the one to make it stop


And i'm the one who's feeling lost right now


Now you want me forget every little thing you said


But there is something left in my head


I won't forget the way you kissing


The feeling so strong will lasting for so long

__ADS_1


Pandangan Sawn masih fokus kedepan, ia menambah kecepatan berkendara menembus jalanan yang cukup legang, sangat jarang bisa menikmati kenyaman berkendara seperti pagi ini di hari-hari biasa tanpa terjebak kemacematan.


...***...


"Ma. Kak Sawn bilang dia akan pulang sekarang." Ucap Yuna memecah keheningan.


"Itu bagus. Kalau begitu, Mama harus memasakkan makanan kesukaan kakak mu." Balas bu Hanum sembari meninggalkan Yuna yang sibuk dengan Majalah Selebriti Mancanegara nya.


"Biasanya kakak tidak pernah pulang di hari minggu, entah kisah apa lagi yang di bawanya hari ini." Lirih Yuna pelan sembari membalik halaman baru majalahnya.


"Kalau kak Sawn menyakiti Kak Raina lagi, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkannya pada mama dan papa. Dia memang saudaraku, tapi kalau urusan menyakiti wanita, aku sendiri yang akan menentangnya." Lirih Yuna lagi, kali ini ia benar-benar geram, ia berharap kakaknya itu sudah meminta maaf pada wanita yang sangat di hormatinya itu.


"Kakak sudah sampai? Aku baru saja memberi tahukan mama kalau kakak akan datang." Sapa Yuna yang melihat Sawn berjalan terburu-buru. Bukannya menjawap ucapan Yuna, Sawn malah berjalan cepat menaiki anak tangga, menuju lantai dua tempat semua buku tersimpan rapi, yakni perpustakaan yang sengaja di buat oleh papanya untuk mengisi waktu luang jika tidak sedang bekerja, karena membaca adalah refresing terbaik bagi jiwa.


Setelah berada di ruang perpustakaan Sawn langsung menutup pintu dan menghambur menuju jejeran ribuan buku yang tertata rapi.


Agama!


Pelan Sawn berjalan menuju rak buku yang tertulis Agama, karena banyak buku yang tak terhitung jumlahnya, pak Andi, papanya Sawn sengaja menempatkan satu jenis buku di rak sama supanya lebih mudah menemukannya.


"Ide brilian, pa. Jadi aku hanya perlu menemukan kata dhuha di buku-buku ini." Lirih Sawn pelan kemudian ia mulai mencari satu per satu.


"Menarik." Lirih Sawn pelan ketika sebuah buku yang bertuliskan Dhuha sudah berada di tangannya, seorang lelaki berdoa sembari mengangkat kudua tangan ketika matahari terbit menjadi cover buku itu.


Sawn berjalan menuju sofa yang sengaja di sediakan di dalam perpustakaan, perlahan ia membuka lembar demi lembar, sangat menakjubkan ia berusaha keras untuk memahami setiap hal yang tertulis di dalamnya. Tentu saja tidak mudah, karena ini hal yang tabu baginya. Membaca buku Agama hanya di sekolah saja selebihnya ia berpikir tidak memerlukannya.


Shalat Dhuha merupakan ibadah Sunnah yang di anjurkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, sebab terdapat keutamaan dan manfaat sholat Dhuha yang begitu besar.


Dari abu Hurairah, "Kekasihku Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara.(1). Puasa tiga hari pada setiap bulan.(2). Dua rakaat shalat Dhuha. dan, (3). Agar aku Shalat witir sebelum tidur. (Hr. Bukhari dan Muslim).


Rahasia shalat Dhuha bagi yang mengerjakannya, akan mendapat ampunan dari Allah, membuka pintu rezeki serta membuat hati menjadi lapang.


"Pantas saja singa betina itu mengerjakan sholat dhuha, ternyata selain membuka pintu rezeki itu akan menenangkan hatinya. Entah sudah berapa kali aku mengganggunya, namun ia masih tetap pada pendiriannya tidak membalas perbuatanku. Apa ini karena cahaya dhuha nya? Entahlah." Lirih Sawn pelan sembari menutup buku di tangannya dan menaruh kembali di tempat semula.


Ia mematikan lampu dan berjalan menuju anak tangga. Sawn mengarahkan netranya kesegala sisi rumah megah orang tuanya.


"Ternyata tidak ada yang berubah dari tempat ini dan para penghuninya, mama masih sama seperti dulu, wanita bijaksana dengan kasih sayang luar biasa. Papa dengan sikap tegasnya dan Yuna, anak manja itu masih gadis ceria yang tidak membedakan siapa pun dalam pergaulannya. Sementara aku, aku terlena pada setitik duka yang kupunya sampai aku lupa ada orang lain yang membutuhkan uluran tanganku." Lirih Sawn pelan, tak terasa tetesan air mata mulai keluar dari matanya.


" Maafkan Aku, Allah." Lirih Sawn lagi.


Allah?


Nama itu keluar dari lisannya, entah sudah berapa lama ia melupakan nama itu, dan sekarang nama itulah yang paling dirindukannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2