
"Ma, apa aku boleh bertanya?" Sawn menggenggam tangan mamanya yang mengelus kepalanya dengan jemarinya.
Bu Hanum diam, ia masih larut dalam perasaan bahagianya. Ia tidak menyangka, putra dingin dan pemarahnya berubah menjadi pria lembut yang merindukan pangkuannya.
"Mama menangis?" Sawn terkejut, tetesan hangat yang keluar dari sudut mata mamanya mendarat tepat di keningnya.
"Bagaimana mama bisa menangis? Dalam hidup ini, hanya saat-saat inilah yang mama nantikan. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Balas bu Hanum.
"Aku hanya penasaran, kenapa mama menolak Angel dan lebih memilih untuk menerima Raina?" Sawn benar-benar penasaran.
Bu Hanum tampak berpikir sejenak.
"Mama tidak pernah cerita apa pun padamu, mama hanya ingin kau mengenang Angel saat bahagia saja. Tapi sekarang berbeda, kau sudah memilih Raina di samping mu." Bu Hanum menghentikan kalimatnya, untuk sesaat ia menatap wajah tampan putranya sembari menarik hidungnya pelan. Bu Hanum tertawa, entah apa yang membuatnya merasa gemas.
"Kau tahu kan, mama selalu melihat orang berdasarkan kesan pertama. Dan kesan pertama mama pada Angel tidak begitu baik. Dia gadis yang arogan." Ucap bu Hanum sembari mengenang kisah pertemuan pertamanya dengan Angel.
"Apa mama pernah bertemu dengannya? Kapan?" Sawn bangun dari pangkuan bu Hanum dengan rasa keingin tahuannya.
"Apa kau masih ingat, mama pernah cerita bertemu dengan gadis kasar?"
Sawn mengangguk pelan.
"Gadis yang mama maksut adalah Angel."
"Apa? Bukankah mama tidak pernah bertemu dengan Angel?" Kali ini Sawn semakin penasaran.
"Hari itu mbok Dami menemani mama keswalayan, setelahnya kami mampir di sebuah Restaurant. Mama meminta mbok Dami menunggu di meja yang sudah mama pilih. Setelah mama kembali dari Toilet mama menyaksikan hal yang seharusnya mama tidak lihat. Angel sedang memaki wanita separuh baya dengan ucapan kasar. Dan wanita itu tak lain adalah mbok Dami." Bu Hanum menghentikan ucapannya sembari melihat raut wajah kesal Sawn.
"Mama meminta maaf atas nama mbok Dami, namun Angel bukan wanita yang mudah. Ia memaksa mbok Dami ganti rugi Ratusan juta karena gaun mahalnya terkena tumpahan coffee. Mungkin ini terdengar seperti drama namun itulah yang terjadi." Kenang bu Hanum.
__ADS_1
"Apa mama menuruti keinginan Angel?" Sawn semakin penasaran.
"Mama meminta Angel menjawab pertanyaan mama, baru setelah itu mama memberikannya ganti rugi."
"Pertanyaan? Pertanyaan apa?" Lagi-lagi Sawn menunjukan wajah penasarannya.
"Itu hanya masa lalu! Keuntungan apa yang akan kau dapatkan dengan menggalinya? Ucap bu Hanum kesal, ia terlalu malas membahas percakapan singkatnya dengan Angel. Sawn terus saja mendesak sampai bu Hanum tidak memiliki pilihan lain selain menceritakannya.
"Orang yang cantik tidak selamanya orang baik, tapi orang yang baik selalu cantik. Hari itu mama memberikan syarat pada Angel, jika dia ingin uang ganti rugi dia harus menjawab pertanyaan mama. Mama hanya bertanya padanya, jika dia menikah lelaki seperti apa yang akan ia pilih dan berapa anak yang ia inginkan. Itu saja!" Ucap bu Hanum sembari bersiap untuk pergi.
Sawn menggenggam jemari bu Hanum, mencegahnya pergi sebelum rasa penasarannya terbayar tuntas.
"Mama tahu kan, percakapan ini belum sepenuhnya usai. Mama belum menceritakan jawaban Angel yang berhasil membuat mama kesal." Balas Sawn penasaran.
Bu Hanum kembali duduk.
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur." Ucap bu Hanum lagi, setelah itu ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Aku tidak akan mendapatkan apa pun dengan menggali masa lalu, setidaknya dengan mama menceritakan alasan kekesalan mama pada Angel, itu membuatku sadar kalau aku yang salah. Salah karena berpikir mama jahat karena menolak Angel. Lirih Sawn pelan sembari menaiki anak tangga karena kamarnya bersebelahan dengan kamar orang tuanya. Malam ini Sawn lebih memilih menginap di rumah keluarganya, dengan begitu ia bisa menemukan alasan di balik perubahan sikap adik perempuannya.
...***...
Sejak pagi Bu Hanum sudah memberi kabar kalau ia dan keluarganya akan berkunjung ke Panti. Kali ini semua hal sudah di siapkan dengan matang, bahkan panti yang seukuran halaman rumah besar pak Andi di hias dengan indah. Sejak pagi anak-anak sudah bekerja keras, entah kenapa semua penghuni panti sangat antusias.
Melihat semua orang bahagia membuat Raina pun sangat bahagia, lagi-lagi bayangan tentang Chen kembali muncul di otak kecilnya. Terakhir kali kebahagiaan menghampiri penghuni panti ketika Chen melamar Raina dan akan mempersuntingnya, Raina benar-benar tidak tahu kalau ia membutuh kan waktu yang lama untuk bisa kembali melihat keluarganya bahagia seperti sekarang.
Tok.Tok.Tok.
Suara ketukan pintu dari luar membuat semua orang bersiap untuk menyambut, kebetulan malam ini Raina sengaja meliburkan adik-adiknya mengaji agar mereka semua bisa merasakan malam bahagia orang tersayangnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ucap keluarga pak Andi bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Balas semua penghuni Panti. Untuk sesaat Sawn menatap wajah ayu Raina.
Malam ini Raina menggunakan gamis biru polos yang ia padu padankan dengan jilbab senada. Wajahnya terlihat segar, ia hanya menggunakan make up tipis di wajah ayunya.
"Silahkan duduk." Pinta bu Rahayu setelah keluarga pak Andi memasuki pintu masuk panti yang ia kepalai.
Pak Andi, bu Hanum, dan bu Alya mereka duduk di sofa yang sama. Sementara Sawn, ia lebih memilih duduk di samping bu Rahayu.
"Maafkan kami karena hanya bisa menyambut anda seadanya saja." Ucap bu Rahayu lagi, teh hangat dan beberapa camilan sudah ada di atas meja.
"Ini sudah lebih dari cukup, bu Rahayu tidak perlu merasa sungkan. Justru kami yang harus berterima kasih pada bu Rahayu, kebaikan ibu sangat besar bagi keluarga kami." Balas bu Alya, sedetik kemudian netranya memburu putranya yang saat ini berdiri tepat di belakang bu Rahayu.
"Bu Alya tidak perlu menyanjung seperti itu! Walau bagaimanapun juga terima kasih untuk segalanya." Ucap bu Rahayu sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Bu Rahayu, kami yakin Raina sudah menjelaskan alasan kedatangan kami! Besar harapan kami untuk segera menjalin ikatan dengan keluarga bu Rahayu." Ucap pak Andi memulai percakapan seriusnya.
"Anak-anak sudah menentukan keputusannya, Kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan penuh saja. Anda tidak perlu memberikan hantaran apa pun, yang terpenting bagi saya mereka berdua sah." Ucap bu Rahayu menegaskan.
"Baiklah, kami mengerti itu." Ucap pak Andi sambil tersenyum kearah bu Rahayu.
"Raina. Katakan, mahar apa yang kau inginkan dari putra kami?" Sekarang pak Andi menatap Raina dengan tatapan kebahagiaan.
Mahar? Akan ku pastikan mahar ku adalah hal yang berharga. Mahar yang tidak hanya mahal namun juga bermakna. Lirih Raina sembari menatap wajah Sawn sebentar kemudian mengalihkan pandangannya kearah pak Andi yang penasaran menanti jawaban cepatnya.
Pertemuan dua keluarga kali ini berhasil membuat Raina gugup luar biasa. Ia berusaha menguasai dirinya agar tidak terlihat gugup, namun tetap saja semua orang bisa melihat kalau saat ini ia sedang tidak baik-baik saja.
...***...
__ADS_1