
Suasana haru masih menyelimuti ruang VVIV Restoran yang di datangi Raina Salsadila, Andre dan bu Alya. Pasangan ibu dan anak itu bahkan masih saling memeluk ketika seorang gadis muda mengetuk pintu dan meletakkan tagihan di atas meja.
"Sudah cukup menangisnya, sekarang waktunya kita untuk berbahagia. Kau adalah putraku dan aku adalah mamamu. Mulai saat ini membahagiakan mu adalah tujuan hidupku." Ucap Bu Alya sambil menangkup wajah tampan Andre dengan kedua tangannya. Melihat wajah tampan Andre menyadarkan bu Alya kalau ia sangat merindukan suaminya, sungguh wajah Andre bagai pinang di belah dua dengan almarhum suaminya yang telah tiada dua tahun lalu. Kulit putih dengan hidung mancung milik Andre sama persis seperti ayahnya.
Raina tersentak, netranya menatap arloji di pergelangan tangan kirinya. Bukan jam satu atau jam dua, waktu sudah menunjukan pukul 17.09. Jika ibunya tahu Andre pulang terlambat karena bertemu dengan ibu kandungnya maka habislah Raina dengan pertanyaan singkat bu Rahayu, pertanyaan yang akan membuatnya tersudut karena tidak bisa berbohong.
"Tante, Andre harus pulang. Ini sangat terlambat." Ucap Raina memecah keheningan, berusaha mengingatkan bu Alya yang masih tidak bisa lepas dari putra kesayangannya.
"Sebelum kakak menceritakan masalah ini pada ibu, ibu tidak boleh tahu dari siapapun, termasuk kamu, dek!" Ucap Raina pada Andre.
"Aku takut emosinya akan memperburuk kondisi kesehatannya yang baru saja pulih." Sambung Raina lagi sambil menatap wajah Bu Alya dan Andre bergantian.
"Baiklah. Tante serahkan semuanya padamu. Tante tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu. Tante janji, tante akan menemui ibumu setelah kau bicara dengannya"
Raina hanya bisa mengangguk mendengar tanggapan bu Alya.
Raina bangun dari posisi duduknya, di ikuti oleh Andre dan bu Alya setelahnya. Baru berdiri, hampir saja Raina tersungkur. Entah dari mana rasa mual dan pusing datang bersamaan menyerang dirinya, untungnya bu Alya segera meraih tubuh jangkungnya sehingga tidak sampai membentur dinding.
"Ada apa sayang? Apa kau sakit?" Bu Alya bertanya dengan kepanikan luar biasa.
"Seharusnya kakak tidak perlu menjemput Andre kesekolah, Andre bisa pulang sendiri naik angkot atau ojek, jika kakak sakit seperti ini Andre pasti akan sedih." Ucap Andre dengan mata memerah, hampir saja anak polos itu menangis lagi.
Dengan cepat Raina memeluk tubuh Adiknya, di usapnya puncak kepala Andre, untungnya menenangkan Andre tidak terlalu sulit.
"Apa kau masih ingat ketika kakak menghajar tiga preman yang merusak rumah kita?" Raina mencoba mengalihkan Andre dari perasaan sedihnya.
__ADS_1
"Ia." Balas Andre singkat sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Raina.
"Waktu itu kakak menang atau kalah?" Raina kembali bertanya.
"Menang." Balas Andre lagi.
"Kakak menang karena kakak pemberani! Masa hanya gara-gara kakak pusing dan hampir tersungkur kau mau menangis? Bukankah kakak selalu mengajarimu untuk bersikap berani, dan selalu berbuat baik pada semua orang? Jika kau cengeng, berarti kau tidak mengindahkan apa yang sudah kakak ajarkan. Kakak kecewa padamu!" Ucap Raina sembari berpura-pura marah. Ia menyebikkan bibirnya agar terlihat kalau ia benar-benar marah, sedetik kemudian Raina mengeluarkan sikap jahilnya dengan berpura-pura menangis.
Hal yang paling Andre takuti hanya satu, yakni melihat Raina menangis.
"Kakak, maafkan aku!" Ucap Andre sambil menjewer kedua telinganya.
Apa kau masih ingat ketika kakak menghajar tiga preman yang merusak rumah kita? Ucapan singkat Raina seolah memberikan tamparan keras di wajah bu Alya, untuk sesaat memorinya mengenang kembali ketiga pria aneh suruhannya. Ia hanya meminta agar pria itu membawa Andre untuk menemuinya sebentar saja, karena saat itu ia sedang sakit, bu Alya sendiri tidak menyangka orang aneh itu akan merusak Panti sampai separah itu, panti yang menjadi kediaman teraman putranya untuk berteduh.
Tanpa terasa air mata bu Alya kembali menetes, dengan cepat bu Alya menghapus air mata dengan punggung tangannya sebelum Raina dan Andre menyadari kesedihan yang di alaminya, kesedihan karena kesalahan masa lalunya.
"Kita pulang sekarang?" Raina bertanya sambil mengangkat dagu Andre.
Anak manis itu menganggukkan kepala.
"Sayang, sebaiknya kau kedokter! Tante khawatir, wajahmu terlihat pucat!"
"Ia, baiklah. Tante tidak perlu khawatir." Balas Raina sambil menggenggam erat jemari bu Alya.
"Sayang, maafkan kakak. Kakak tidak bisa mengantarmu pulang, kali ini kau harus pulang bersama mamamu! Apa kau tidak apa-apa dengan itu?" Raina bertanya sambil menarik Andre agar berdiri di samping bu Alya.
__ADS_1
Andre kembali mengangguk, setelah itu ia meraih tas sekolahnya, menunggu Raina dan bu Alya di luar.
"Apa kau masih pusing? Atau jangan-jangan kau hamil?" Bu Alya menebak asal.
Hamil! Raina tersenyum mendengar ucapan singkat itu, ia berharap ucapan bu Alya benar-benar terjadi. Ia sendiri tidak pernah berpikir kearah sana.
Sementara itu di tempat berbeda, bu Rahayu sangat gelisah. Waktu menunjukan pukul 19.00 namun Andre belum juga pulang, kekhawatirannya semakin berlipat kala mengetahui Andre bersama dengan Raina, dua anaknya belum juga pulang membuat jantung bu Rahayu berpacu lebih cepat. Bayangan buruk seolah menari-nari di memorinya, tidak pernah terbayangkan dalam pikirannya melihat anak-anaknya terluka. Jika itu sampai terjadi maka bu Rahayu-lah yang pertama kali akan tiada menahan kesedihan.
"Mbak yu, sebaiknya mbak yu masuk saja! Aku yakin anak-anak itu terjebak macet. Mbak yu tidak perlu sekhawatir itu!" Bu Romlah mendekati bu Rahayu, kemudian mengusap pundak kakaknya pelan.
"Kau tidak akan pernah tahu perasaan mbak, Rom! Mbak benar-benar khawatir, bagaimana kalau orang jahat itu mengganggu mereka lagi?" Ucap bu Rahayu dengan nada tinggi. Untuk pertama kalinya bu Romlah mendengar bentakan dari bu Rahayu yang biasanya bersikap lemah lembut.
Hampir saja air mata bu Romlah menetes.
"Baiklah. Lakukan apa pun yang Mbak yu inginkan." Balas bu Romlah tegas kemudian masuk kedalam rumah membawa kesedihannya.
Tak berselang lama setelah bu Romlah masuk, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang panti. Mata bu Rahayu membulat berusaha menangkap pengendara yang ada di dalam mobil mewah itu, betapa terkejutnya bu Rahayu melihat sosok putranya di peluk dan di cium oleh wanita asing yang bahkan baru menjalin hubungan keluarga dengannya.
Kepala bu Rahayu di penuhi curiga.
Kenapa dia memeluk putraku? Kenapa dia mencium putraku? Seharusnya dia menemuiku? Seharusnya dia meminta izin dariku? Dimana Raina? Kenapa dia tidak bersama adiknya? Apa wanita itu ingin mengambil putraku? Apa dia orang yang menghancurkan rumahku? Apa dia wanita yang Romlah maksud sebagai ibu kandung Andre yang baru muncul? Walaupun dia ibu kandungnya, tidak akan ku biarkan dia mengambil putraku! Bagaimana jika hubungan Raina dan menantu retak gara-gara masalah Andre? Gusti Allah, beri petunjuk hatiku! Saat ini aku sangat kesal! Gumam bu Rahayu dalam hatinya. Begitu bayak pertanyaan yang terlintas dalam benak bu Rahayu, namun tak ada satupun yang bisa ia pecahkan.
Ingin sekali ia mendekat dan bertanya pada bu Alya, namun langkah kakinya seolah tertahan oleh Andre yang nampak bahagia.
Bu Rahayu memilih bersembunyi ketika Andre melambaikan tangan pada bu Alya, Andre segera berlari masuk kedalam rumah begitu mobil bu Alya tak nampak lagi oleh indra bocah manis itu.
__ADS_1
...***...