Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menuju Mu


__ADS_3

Sejak pagi semua orang sudah bekerja keras menyiapkan acara yang diselenggarakan di kediaman Dinata, pesta ulang tahun pernikahan Pak Andi dan Bu Hanum akan di adakan malam ini secara besar-besaran.


Jam sebelas siang Pak Andi, Bu Hanum dan Bu alya tiba di kediaman mewah keluarga Dinata. Bu Alya mulai berdecak kagum melihat dekorasi luar biasa yang ada di depannya.


"Alya, sampai kapan kau akan berdiri disini?" Pak Andi menepuk bahu adiknya. Setelah itu ia mulai melangkah masuk sembari membawa kopernya. Sedetik kemudian bu Alya mengikuti langkah Pak Andi dari belakang. Tidak hanya di luar Rumah, di dalam rumah pun segalanya tertata dengan sangat sempurna.


"Waw... Amazing!" Dua kata yang keluar dari bibir bu Alya berhasil membuat Yuna tersenyum bahagia. Maklum saja, Sawn sengaja memberikan tugas itu untuk Yuna agar ia terbiasa dengan pekerjaan kecil sebelum ia terjun menggantikan papanya di Hotel.


"Tante! Terima kasih!" Ujar Yuna sembari melingkarkan tangannya di lengan bu Alya.


"Anak nakal, kenapa kau berterima kasih? Ini benar-benar indah." Balas bu Alya dengan senyum mengembang di wajan ayunya.


Di dalam rumah sudah ada Raina, makan siang kali ini Raina lebih memilih untuk memasak sendiri dari pada membebani Mbok Dami dan asisten lainnya.


"Kenapa harus bersusah payah memasak untuk kita? Kasihan Junior ku, bagaimana jika dia kelelahan karena Mamanya terus saja membuatnya mencium bau masakan ini?" Protes Sawn sembari mencubit pelan pipi Raina.


Tidak ada jawaban selain senyuman menawan dari istrinya.


"Karena itu aku memintamu untuk membantuku! Aku ingin Junior kita tahu, Papanya pernah memarahi Mamanya ketika mamanya sedang sibuk di dapur!" Guyon Raina sembari balas mencubit pipi Milik suaminya.


Sedetik kemudian hanya suara gekak tawa saja yang terdengar di dapur kediaman Dinata. Sawn menempelkan dahinya pada dahi milik Raina, entah apa yang dipikirkan dua anak manusia yang terbungkus dalam ikatan suci itu sampai mereka tak melepaskan senyuman dari wajahnya.


"Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini! Malam ini istri salihaku akan memberikan kebahagiaan besar untuk semua orang, bahkan alam pun akan merasa iri pada kebahagiaan ini." Ujar Sawn pelan, dahi mereka masih saling menempel dan tangan Sawn pun masih menangkup wajah ayu Raina. Sungguh kebahagiaan mereka tak bisa di ungkapkan dengan sekedar kata-kata.


"Kakak lihat itu? Kelakuan putra kakak tidak jauh berbeda dengan seseorang yang ku kenal. Di dapur pun sempat-sempatnya dia mengganggu istrinya dengan kelakuan nakalnya." Ucap Bu Alya sembari meraih cangkir teh Hijau yang ada di depannya, sebenarnya bu Alya sedang menggoda pak Andi, namun ucapannya sengaja ia samarkan dengan menyebut dua makhluk indah yang sedang menikmati waktu bahagia mereka di dapur, Sawn dan Raina.


Bu Hanum tampak tersenyum, sementra Pak Andi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah nakal adik semata wayangnya.


"Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai Sawn tak melepas senyuman dari wajahnya. Aku turut bahagia atas kebahagiaannya, semoga Gusti Allah menjauhkan mata jahat dari anak-anakku." Ujar bu Hanum sembari menghapus tetesan hangat yang membasahi wajah separuh bayanya.


"Ma... Pa... Yuna izin yaaa? Yuna mau bertemu teman, di luar! Yuna janji akan kembali sebelum Azan Magrib berkumandang!" Pinta Yuna sembari menatap secara bergiliran tiga orang terkasih yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Apa tidak bisa besok saja? Beberapa jam lagi acaranya akan dimulai!"


"Tidak bisa Ma... Yuna sudah janji akan bertemu dengannya hari ini." Balas Yuna mencoba menyakinkan bu Hanum.


"Tapi sayang...!"


"Sudah lah, Mbak! Biarkan Yuna pergi, Mbak seperti tidak pernah remaja saja." Bela bu Alya.


"Tante yang terbaik!" Sanjung Yuna sembari mengedipkan mata kanannya.


"Baiklah, kau boleh pergi. Ingat satu pesan Mama... Jangan pernah kecewakan mama selama kau berada di luar, jaga kehormatanmu dan kehormatan keluarga." Ucap Bu Hanum menegaskan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari lisan Yuna selain anggukan kepala, ia bahkan memberikan dua jempol nya untuk menyakinkan Mamanya kalau ia akan selalu menjaga dirinya dan tidak akan pernah mengecewakan Mama dan Papanya.


Yuna berjalan kearah dapur hanya untuk menemui Raina, ia ingin mengabarkan beritanya pada kakak ipar kesayangannya sebelum orang lain tahu tentang isi hatinya. Senyum menawan masih menghiasi wajah Ayu milik Yuna Dinata.


"Kakak, aku ingin bicara denganmu! Sebentar saja! Hanya sebentar!" Ucap Yuna begitu ia berdiri di samping Kakaknya, Sawn Praja Dinata.


"Kakak iparmu sedang sibuk. Kau tidak bisa meminjamnya walau untuk sesaat." Balas Sawn ketus. Bukannya takut melihat tatapan tajam kakaknya, Yuna justru menjulurkan lidahnya mengejek. Setiap keluarga mungkin memiliki anak seperti Sawn dan Yuna, mereka mudah sekali bertengkar namun mereka saling menyayangi.


"Kakak, aku sudah memutuskan." Ucap Yuna lagi setelah mereka hanya berdua.


"Apa yang kau putuskan? Apa kau memilih untuk menerimanya atau menolaknya?" Raina bertanya karena ia benar-benar penasaran.


"Ia, Kakak. Aku sudah memutuskan, aku akan menerimanya." Ucap Yuna pelan, terdapat kebahagiaan besar dalam setiap penekanan kata-katanya. Tidak ada jawaban dari Raina selain pelukan tanda bahagia.


"Kakak turut bahagia untukmu! Katakan pada Prof. Zain, dia harus menemui Papa dan Mama untuk meminta izinnya." Sambung Raina sambil melepas pelukannya, Setelah itu yuna beranjak untuk meninggalkan kediaman Dinata.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda, Prof. Zain belum bisa tenang. Satu hari yang di janjikan Yuna hampir berakhir namun belum ada kabar apa pun dari gadis anggun belahan jiwanya itu.


Sejak semalam Ptof. Zain tidak bisa tidur, memikirkan jawaban apa yang akan di berikan Yuna membuatnya resah luar biasa. Sebelumnya ia tidak pernah takut pada kata 'Tidak', tapi kini kata itu telah mengusik seluruh ketenangannya.

__ADS_1


Jika ia menjawab 'Tidak' maka aku akan menghilang dari pandangannya untuk selamanya. Dan jika ia menjawab 'Ia' maka aku akan meminta Mommy untuk segera datang dan bertemu dengan keluarga besarnya. Gumam Prof. Zain sembari merapikan jas nya yang tidak berantakan.


Hari ini tidak ada mata Kuliah, karena itu Prof. Zain lebih memilih berada di rumah. Berada di rumah pun tidak mengurangi masalah, semakin ia sendirian semakin ia merasakan kesepian, seolah kesepian ini telah menjadi teman yang menyesakkan.


Dret.Dret.Dret.


Getaran dari ponsel yang berada di atas nakas membunyarkan seluruh lamunan Prof. Zain, pelan ia meraih ponsel itu, dan mulai menghela nafas kasar.


Kelelawar cantik!


Prof. Zain tersenyum membaca nama yang tertera di ponselnya, entah kenapa ia belum mengganti nama Yuna yang ada di ponselnya. Setiap kali memikirkan 'Kelelawar cantiknya' ia selalu tersenyum bahagia, pertemuan mereka memang tidak biasa. Pertemuan pertama Yuna dan Prof. Zain, mereka malah terlibat adu mulut, dan pertemuan selanjutnya pun terbilang tidak menyenangkan, pertemuan dengan pertengkaran besar antara dirinya dan preman kejam. Seandainya Yuna tahu nama yang tertera di kontak Prof. Zain sudah di pastikan gadis anggun itu akan mulai protes karena kesal.


Bismillah...


Saya sudah memikirkan semua yang anda katakan, dan sekarang saya sudah punya jawabannya. Tulis Yuna dalam pesan pertamanya.


Jika jawaban yang anda dengar menyedihkan tolong jangan kecewa. Tapi, jika jawaban yang anda terima membuat anda bahagia maka jangan lupa bersyukur pada yang kuasa. Prof. Zain menghela nafas kasar setelah membaca pesan kedua Yuna, ia sedang berpikir bagaimana caranya tidak kecewa jika ia mendapat penolakan.


Ayo kita bertemu.


Tadinya aku berniat menemui anda di caffe, tapi sepertinya itu tidak akan berguna karena aku benci saat semua orang menatapku dengan tatapan heran.


Ayo kita bertemu di rumah kak Sawn. Tutup Yuna pada pesan terakhirnya.


Prof. Zain terlihat membuang nafas kasar. Sedetik kemudian ia mencoba membalas pesan Yuna seadanya.


Baiklah. Mari kita bertemu! Aku akan menerima segala keputusan darimu. Balas Prof. Zain.


Semenit kemudian, ia bersiap menuju Yuna Dinata.


Dadaku berdebar sangat kencang, tidak tahu jawaban apa yang akan kau berikan. Entah itu sedih atau senang aku akan tetap menuju kearahmu. Gumam Prof. Zain sembari berjalan meninggalkan Apartemen-nya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2