Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tamu Tak Di Undang (Part2)


__ADS_3

Ratusan tamu undangan yang sudah datang terlihat menikmati pesta yang di adakan di kediaman Dinata, ada yang sedang menikmati hidangan yang di sajikan oleh Koki handal pilihan Pak Andi, ada juga yang sedang berdansa mengikuti alunan merdu musik pilihan Yuna, ada yang baru saja tiba sembari mendekati Pak Andi dan Bu Hanum hanya untuk memberikan ucapan selamat serta mendoakan hubungan mereka agar selalu bahagia dan di jauhkan dari derita.


Sejak pesta berlangsung tidak ada kata lain yang keluar dari bibir Bu Hanum selain ucapan 'Terima kasih' atas doa tulus yang di sampaikan semua orang untuk keluarga bahagianya.


"Dimana putri manja kita, Pa? Kenapa sampai sekarang dia belum juga pulang? Apa terjadi hal buruk pada anak itu sampai dia melupakan janjinya?" Bu Hanum bertanya sambil berbisik di telinga Pak Andi.


Sementara yang di tanya tidak memberikan jawaban apa pun selain senyuman tipis. Pak Andi tahu, memberikan jawaban asal hanya akan membuat istrinya semakin khawatir, hal yang lebih penting dari sekedar khawatir adalah, ia sangat percaya putri cantiknya tidak akan membuatnya kecewa.


"Mama tidak perlu khawatir pada Yuna, anak itu akan segera pulang. Mungkin saja ia terjebak dalam kemacetan panjang." Bela Pak Andi pada putri manjanya, ia sendiri tidak tahu dimana keberadaan putri manisnya itu.


Bu Hanum terlihat meghela nafas kasar, Meskipun begitu ia mencoba untuk percaya kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum..." Bu Rahayu mengucapkan salam begitu ia berdiri si depan Pak Andi dan Bu Hanum. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir bu Hanum, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan besannya itu.


"Wa'alaikumsalam..." Balas Pak Andi dan Bu Hanum bersamaan.


"Bu Rahayu apa kabar? Saya sangat bahagia bisa bertemu dengan Bu Rahayu di tempat ini." Ucap Bu Hanum sembari memeluk Bu Rahayu yang saat ini berdiri di depannya.


"Alhamdulillah, kabar saya baik." Balas Bu Rahayu singkat.


"Putri saliha bu Rahayu. Maksud saya, Raina! Anak itu meminta izin pulang kerumahnya sejak sore, hingga saat ini dia belum juga kembali. Saya memintanya memberikan kado yang ia tinggalkan besok saja, sayangnya anak itu kekeuh untuk tetap pulang.


Bu Rahayu makan saja dulu, nanti, setelah Raina kembali saya akan memintanya segera menemui bu Rahayu. Atau, jika Bu Rahayu lelah, Bu Rahayu bisa istirahat di kamar." Pinta Bu Hanum setelah melepas pelukannya dari tubuh bu Rahayu.


"Terima kasih atas kebaikan Bu Hanum. Saya akan menunggu Raina disana, begitu dia datang saya bisa langsung melihatnya." Balas bu Rahayu sambil tersenyum.


Bu Rahayu menangkupkan kedua tangannya di depan dada, setelah itu ia pun berlalu dari hadapan Bu Hanum dan Pak Andi.


Gemerlapnya pesta malam ini tidak bisa menenangkan hati bu Rahayu, ia sangat merindukan Raina sampai-sampai ia tidak bisa meneguk air sedikitpun. Walau banyak orang disekitarnya, ia merasa sendiri.


Kamu dimana, nak? Ibu ingin minta maaf padamu! Ibu sangat merindukanmu! Gumam bu Rahayu sambil berjalan pelan.


...***...


Yuna dan Prof. Zain masih larut dalam perasaan bahagianya, perasaan berat untuk saling meninggalkan pun memenuhi rongga dada mereka.


"Apa aku boleh bertanya untuk yang terakhir kali?" Kali ini Yuna memberanikan diri menatap pemilik iris biru yang duduk di depannya.


Setiap kali Yuna memikirkan sosok yang akan ia tanyakan kali ini, entah dari mana rasa kesalnya muncul.

__ADS_1


"Aku tidak suka pada Angel Sasmita. Apa kau juga tidak per-nah..." Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya, rasa sungkannya muncul entah dari mana.


Prof. Zain mengerti arah pembicaraan Wanita anggun yang duduk di depannya, ia hanya bisa tersenyum lega, setidaknya ada rasa cemburu dalam hubungan mereka. Hubungan yang baru saja akan di mulai ikatannya.


"Aku bersumpah atas namamu, dan nyawaku sebagai tebusannya. Aku tidak pernah melakukan hubungan apa pun melebihi batasan yang ku punya!" Jawab Prof. Zain tanpa melepas tatapannya dari wajah sempurna Yuna Dinata.


"Yaaaa... Kuakui aku sering menciumnya. Dan satu lagi, aku pernah tinggal dengannya di Thailand selama beberapa hari saja, itu karena dia sakit dan aku yang harus merawatnya." Sambung Prof. Zain mencoba menyakinkan gadis pujaannya, karena itulah kebenarannya.


"Yaya... Angel sangat cantik dan kau pasti selalu tergoda olehnya, jangan katakan apa pun lagi tentangnya. Aku tidak suka itu." Ucap Yuna dengan nada kesal.


Maafkan aku, aku berbohong padamu. Aku tidak berani melihat wajah kesalmu. Dulu aku hampir melakukannya dengan wanita itu. Maha suci Tuhan yang telah melindungiku untuk tidak berbuat nista. Gumam Prof. Zain sembari mengingat masa lalunya yang telah menindih Angel dan hampir saja melakukan perbuatan nista, ia menatap wajah bosan Yuna dengan perasaan bersalah luar biasa.


Tidak ada jawaban apa pun dari Prof. Zain, ia hanya bisa menggoda Yuna dengan tingkah manjanya. Berharap gadis di depannya tidak kesal lagi padanya.


Mmmm....


Suara deheman sekelompok orang yang datang entah dari mana benar-benar mengejutkan Yuna dan Prof. Zain. Pakaian dan perilaku mereka tidak asing, Yuna mencoba mengingat kembali sosok angker di depannya namun sayangnya otak cerdasnya tidak bisa menerka apapun. Semakin keras ia mencoba mengingat wajah di depannya semakin kesal ia pada sosok belasan orang yang berdiri sepuluh langkah dari tempatnya berdiri dengan Prof. Zain De Lucca.


"Kalian sangat bahagia? Kenapa tidak mengajak kami juga?" Ucap seorang pria berbaju hitam itu.


Hahahaha....


Suara gelak tawa sekumpulan orang itu memenuhi indra pendengaran Prof. Zain dan Yuna.


Bukannya mengindahkan ucapan Yuna, belasan orang itu malah tertawa cekikikan.


"Uuuuuuuu..... Atuttttt!" Ucap pria bertubuh jangkung, ia tersenyum meremehkan lawannya. Maklum saja, mereka datang bergerombol.


"Dengar nona, kau mulai membuatku kesal! Jika aku sudah kesal maka aku tidak perduli laki-laki atau perempuan, aku pasti akan mematahkan tulangnya. Tapi, karena kau gadis yang cantik maka kau mendapat pengecualian!"


Mendengar pria kurang ajar di depannya berani bicara omong kosong, darah Prof. Zain terasa mendidih. Rasanya ia ingin menyumpal mulut kotor itu dengan sepatunya. Sayangnya, Yuna yang berdiri di dekatnya meraih lengan Prof. Zain berusaha menghindari pertikaian.


"Lebih baik kita pergi! Jangan hiraukan berandal itu." Bisik Yuna pelan, ia juga sangat kesal, mengingat malam ini malam penting mama dan papanya membuat Yuna merasa bersalah. Bersalah karena melupakan hari penting kedua orang tuanya.


"Tidak akan mudah bagi kalian pergi dari sini. Berdoalah agar kalian tidak mati di tangan ku. Serang mereka..." Perintah pria menakutkan itu dengan nada tinggi, matanya memerah menahan kesal.


Dengan cepat Prof. Zain dan Yuna berusaha menghindar dari serangan bertubi-tubi yang di arahkan pada mereka.


Gdebukkk!

__ADS_1


Sebuah pukulan keras berhasil mendarat di pipi merona Yuna. Sudut bibir-nya mengeluarkan darah segar, gaun yang ia gunakan sangat membatasi gerakan kaki jenjangnya, namun tangannya bergerak dengan lihai. Tak jarang Yuna menghadiahi pukulan mautnya pada perut, wajah, dan sesekali menendang di bagian Vital lawannya.


Tak kalah dari Yuna, Prof. Zain pun bertarung sekuat tenaga, ia menghantam lawannya sampai terkapar di rumput halus halaman depan kediaman Sawn Praja Dinata. Suasana romantis yang baru saja terjadi antara Yuna dan Prof. Zain kini berganti menjadi menegangkan.


Waktu terus berjalan, bahkan nafas Yuna pun mulai terdengar berat. Lawan tak berimbang membuat Yuna dan Prof. Zain terlihat kelelahan. Lima belas banding dua.


Kegagalan beberapa waktu lalu membuat preman bengis itu membawa rekan lebih banyak lagi, dan kali ini mereka yakin akan membawa gadis kurang ajar yang berhasil membuat mereka mendapat tamparan dari bos besarnya.


"Nona, kau tidak akan bisa mengalahkan kami! Dan kamu pria payah, jika kamu ingin hidup, lebih baik kamu pergi..." Bentak pria dengan kepala pelontos yang menjadi ketuanya.


Clab? Yaaa.... Mereka preman dari Clab malam yang pernah kami kunjungi! Bagaimana mereka tahu tempat ini? Gumam Prof.Zain sembari menatap lawannya dengan tatapan tajam.


"Bahkan, jika aku tiada aku tidak akan menyerah." Ucap Prof. Zain dengan nada suara tinggi. Ia kembali berduel dengan kekuatan penuh, melihat sudut bibir Yuna mengeluarkan darah membuat amarah Prof. Zain meluap bagai lahar panas yang akan menghancurkan setiap hal yang ada di dekatnya.


"Yuna... Awas!" Prof. Zain berteriak kearah Yuna dengan suara lantang. Yuna yang malang, belum sempat menghindar pukulan keras mendarat tepat di punggungnya, ia tumbang di hadapan empat pria yang menjadi lawan duelnya.


Huaaaaa.....


Prof. Zain berteriak dengan suara menggelegar, melihat Yuna terkapar tak sadarkan diri membuat Prof. Zain semakin di penuhi amarah. Ia berlari hendak menghajar lawannya, malang tak dapat di hindari.


Dorrrr!


Sebuah tembakan tepat mengenai paha kanan Prof. Zain. Pria rupawan itu pun terkapar, bagian pahanya mulai meneskan darah segar. Hanya sedikit tenaga yang tersisa, dan sisa-sisa tenaga yang ia punya pun tidak cukup untuk menggerakkan tubuh jangkungnya.


Prof. Zain meneteskan air mata melihat tubuh lemah Yuna di angkat oleh seorang pria menuju kedalam rumah megah milik Sawn Praja Dinata.


Tuhan... Aku tahu aku manusia hina yang jarang mengagungkanmu, aku sering meragukanmu, dan aku terlalu sering larut dalam dosa. Jika kau masih ada untukku, dan jika kau melihat kondisi burukku, maka dengarkanlah rintihan hatiku... Kirimkan Malaikatmu untuk menjaga cintaku. Kirimkan Malaikatmu untuk melindungi belahan jiwaku. Kirimkan Malaikatmu untuk melindungi Yuna ku... Ucap Prof. Zain dengan suara lirih. Sepersekian detik kemudian hanya ada kegelapan yang memenuhi penglihatannya, rembulan malam ini menjadi saksi betapa buruknya kejadian yang dialami oleh dua anak manusia yang saling jatuh cinta itu, Prof. Zain dan Yuna.


...***...


Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli sya-in kodiir.


Tidak ada sesembahan yang berhak di sembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-nya. Miliknya segala kerajaan, segala pujian, dan Allah yang menguasai segala sesuatu.


Dengan Rahmat yang kuasa, Raina tiba dirumahnya dengan selamat, kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang ia lewati membuatnya terjebak dalam kemacetan panjang. Untungnya ia menemukan Masjid sehingga ia tidak melewatkan Salat Magribnya, bagi Raina Salatnya jauh lebih berharga dari nyawanya sekalipun.


Semoga Mama, Papa dan Sawn tidak marah padaku! Aku sangat terlambat. Dasar ceroboh, seharusnya aku membawa ponsel sehingga aku bisa mengabarkan keterlambatanku! Gerutu Raina kesal pada dirinya sendiri.


Dengan membaca Bismillah, Raina membuka gagang pintu rumahnya. Bagai di sambar petir di siang bolong, ketenangan yang tadi ia rasakan seolah menguap keangkasa dan di gantikan amarah luar biasa, amarah untuk menghancurkan segala kemungkaran yang ada di depannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?" Raina berteriak sambil berlari kearah sekumpulan bajingan yang mencoba menghancurkan ketenangan rumahnya.


...***...


__ADS_2