
Profesor.Zain berjalan pelan sembari menuruni anak tangga, ia sampai di lantai bawah ketika bu Hanum dan pak Andi sedang bercanda mesra, sesekali terdengar gelak tawa renyah yang memenuhi ruang tamu yang diisi oleh sepasang suami istri itu.
Yuna yang melihat mama dan papanya bercanda turut melebur dalam bahagia, tak sepatah kata pun yang terlontar dari bibir tipisnya, hanya senyuman manis yang menunjukkan perasaannya.
Melihat senyuman indah bak rembulan itu membuat Prof.Zain menghentikan langkah kakinya, ia khawatir jika ia masuk dalam suasana bahagia keluarga harmonis di depannya, ia akan menghancurkan bahagia itu.
"Eehhh...Nak Zain, duduk sini, nak!" Pinta bu Hanum sembari melambaikan tangannya kearah Prof.Zain yang masih mematung di dekat tangga.
"Profesor tidak perlu sungkan, anggap saja kami seperti keluarga sendiri. Tidak perlu bersikap canggung. Jika Yuna mengatakan hal buruk, laporkan pada om, om sendiri yang akan menjewer telinganya." Ucap Pak Andi mencoba bersikap ramah.
Prof.Zain hanya bisa membalas keramahan pasangan suami istri yang ada di depannya dengan senyuman saja. Sesekali netra birunya memburu Yuna yang duduk tak jauh dari mamanya, gadis cantik itu sesekali menatapnya dengan tatapan tajam dan hal itu membuat dada Prof.Zain berdebar kencang, ia sendiri tidak paham ada apa dengan hatinya sampai ia sendiri merasa seperti terhipnotis.
"Waw... Nak Zain terlihat sangat tampan! Sepertinya pakaian itu di khususkan hanya untuk nak Zain." Ucap bu Hanum menyanjung pria muda nan rupawan di depannya.
"Mama berani menyanjung pria lain di depan papa? Apa papa tidak tampan lagi?" Pak Andi terlihat cemberut, ia menatap Yuna mencoba mencari pembelaan. Sayangnya Yuna hanya menggerakkan kedua bahunya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, mengisyaratkan ia tidak ingin terlibat dalam pertikaian pura-pura kedua orang tua yang di sayanginya itu.
"Sebaiknya kita kemeja makan, takutnya nak Zain bosan." Ucap bu Hanum sambil menggenggam erat jemari pak Andi, berjalan menuju meja makan yang berada di samping ruang tengah.
"Biasanya kami makan malam pukul tujuh malam. Karena nak Zain disini, walaupun sedikit telat kita harus makan malam bersama!" Ucap bu Hanum sambil mengisi piring Prof.Zain dengan menu yang sudah di siapkan mbok Dami.
"Lain kali ketika nak Zain datang, akan Tante kenalkan dengan putra dan menantu tante. Mereka orang yang baik, tante yakin kalian pasti bisa menjadi teman." Ucap bu Hanum lagi.
Semenit kemudian.
Seperti biasa, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar selama makan malam berlangsung, hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan. Sesekali Yuna memandang heran kearah Prof.Zain, ia tidak menyangka pria yang membuatnya kesal karena sudah berani menempelkan dahinya pada dahi miliknya terlihat seperti Kelinci manis di depan mama dan papanya. Tidak ada bantahan ataupun sikap kurang ajar selama mereka berbincang.
"Berapa lama nak Zain akan tinggal di Indonesia? Om yakin kau hanya tinggal sementara. Apa om salah?" Pak Andi memulai percakapan setelah menghabiskan makanan di piringnya.
"Entahlah, saya juga belum terlalu yakin berapa lama waktu yang akan saya habiskan di tempat ini. Yang jelas saya suka tempat ini." Balas Prof.Zain sambil tersenyum.
"Apa nak Zain sudah punya kekasih? Tante yakin bayak gadis yang mengincar nak Zain, selain tampan nak Zain juga sangat cerdas. Itu sudah cukup sebagai bekal setiap orang tua menjadikan mu menantu idaman mereka." Sambung bu Hanum sambil memandang wajah sempurna di depannya.
"Hahaha... Tante bisa saja! Meskipun begitu aku akan jujur, tante benar. Bayak orang tua yang memintaku menjadi menantu mereka, sayangnya aku selalu menolak karena aku sudah punya kekasih." Tutup Prof.Zain sambil melirik kearah Yuna yang masih sibuk mengunyah makanannya.
__ADS_1
Rasanya Yuna ingin muntah mendengar guyonan Prof.Zain. Entah itu kebenaran atau kebohongan ia sangat kesal mendengarnya.
Dasar payah, jika kau sudah punya kekasih lalu kenapa kau bersikap kurang ajar padaku? Kau menempelkan bibirmu pada sembarang wanita! Dan malam ini kau pun menempelkan dahimu di dahiku! Dasar pria mesum. Aku benci padamu! Gerutu Yuna panjang kali lebar di dalam hatinya.
"Aku datang ke-Indonesia karena kekasihku memintaku untuk datang." Prof.Zain kembali membuka suara di antara senyapnya udara.
"Sayang sekali! Padahal tante ingin menjodohkan mu dengan putri manjaku, Yuna. Karena kau sudah punya kekasih maka tante mengurungkan niat itu." Guyon bu Hanum sambil memamerkan wajah murungnya.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Yuna tersedak, makanan yang ia makan hampir masuk ke hidungnya. Mendengar penuturan mamanya membuatnya terkejut. Untungnya Prof.Zain menepuk pundaknya pelan kemudian menyodorkan segelas air, tidak ada penolakan dari Yuna karena saat ini ia berada dalam posisi terdesak.
"Pelan-pelan sayang! Kemana perhatianmu sampai membuatmu tersedak seperti itu?" Kali ini bu Hanum terlihat khawatir karena batuk Yuna tidak juga berhenti, ia berjalan kearah Yuna dan duduk di bangku samping putrinya.
"Sudah ma, Yuna tidak apa-apa." Ucap Yuna begitu batuknya mulai mereda.
"Ucapan mama membuat Yuna terkejut! Papa yakin nak Zain tidak tertarik pada Yuna, ia kan nak Zain?" Pak Andi kembali membuka suara untuk mencairkan suasana.
"Mama dan papa apaan sih...! Walaupun Prof.Zain tampan belum tentu Yuna tertarik padanya! Orang tampan belum tentu orang baik." Balas Yuna tegas.
Mendengar ucapan Yuna Prof.Zain terlihat kecewa. Ia berusaha menenangkan hatinya, karena sesungguhnya Prof.Zain sendiri masih bingung dengan perasaannya.
"Baiklah, kita lupakan saja ucapan Yuna. Apa tante boleh bertanya? Jika nak Zain tidak mau menjawabnya nak Zain bisa diam."
Prof.Zain mengangguk pelan, memberikan izin pada bu Hanum untuk menjawab segala tanyanya.
"Apa orang tua nak Zain masih ada?"
"Mami dan papi masih ada. Saat ini mereka tinggal di Thailand. Papi berasal dari Rusia, namun lebih memilih tinggal di Thailand tanah kelahiran mami." Balas Prof.Zain pelan.
"Jadi De Lucca itu nama keluarga? Tidak heran." Pak Andi mencoba untuk ikut nimberung dalam percakapan menyenangkan istrinya.
"Benar sekali, De Lucca adalah nama keluarga ku. Mami seorang muslim yang taat, beliau bilang Zain adalah nama yang di berikan guru sepiritualnya. Zain De Lucca terdengat aneh, tapi itu nama yang sangat mami sukai." Tutup Prof.Zain dengan senyuman mengembang. Sungguh, siapa pun yang melihat senyuman sempurna pemilik iris biru itu akan terlena karena keindahannya.
__ADS_1
Yuna tidak ingin melihat pria tampan yang duduk di sampingnya itu, karena ia takut terpenjara dalam pesonanya, lebih baik menghindar dari pada terjebak dalam ilusi tak bertepi. Setidaknya itu yang bisa di lakukan Yuna untuk menyelamatkan dirinya dari pria yang ia cap sebagai pria mesum. Yuna sendiri tidak ingin terlibat terlalu jauh dengannya.
...***...
Bintang gemintang memenuhi langit malam ini, menandakan malam semakin larut. Entah apa yang mengganggu pikiran Sawn sampai ia tidak ingin kembali kekamarnya. Sesekali ia menghela nafas panjang kemudian menghembuskan kasar dari bibirnya. Merentangkan kedua lengannya, membiarkan udara dingin membelai sekujur tubuhnya, berharap kelapangan menyapa lembut hati terdalamnya.
Sejujurnya Sawn khawatir tidak bisa melihat ketenangan di wajah Raina lagi, karena itu ia memutuskan menghabiskan waktunya di teras panti yang anginnya terasa menusuk sampai ke tulang-tulangnya.
Tampa Sawn sadari sepasang mata mengawasinya sejak tadi, ia di kejutkan ketika jemari lembut itu menyampirkan selimut hangat di tubuh kekarnya.
"Kenapa kau belum tidur?" Sawn menarik Raina dengan paksa kedalam pelukannya kemudian mengunci tubuh Raina dengan kedua lengannya. Menyembunyikan tubuh mereka di balik selimut tebal.
"Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku tidak ada di samping ku? Sejak tadi aku berpikir apa dia nyaman atau tidak berada di tempat ini? Melihatmu meneteskan air mata di meja makan membuatku hilang akal. Aku larut dalam kesedihan, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sampai meneteskan air mata." Ucap Raina pelan yang hanya bisa di dengar oleh Sawn saja.
"Kau melihatnya? Padahal aku buru-buru menghapusnya agar tidak ada yang tahu kesedihanku!"
"Kau jangan pernah meremehkan istrimu! Istrimu ini memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh wanita lain." Guyon Raina sambil menepuk pelan lengan Sawn dengan tangan kanannya, berusaha membuat Sawn nyaman dalam dekapannya.
"Baiklah. Aku akui istriku yang terbaik." Balas Sawn sambil berbisik di telinga Raina yang tertutup oleh jilbab kuningnya.
"Sekarang katakan, apa yang membuat suami sempurna ku meneteskan air mata?" Lagi-lagi Raina menyanjung Sawn, yang kemudian di sambut oleh gelak tawa milik suaminya.
"Hmmm... Apa aku harus mengatakannya?"
"Tentu saja. Jika kau tidak mengatakannya maka aku akan marah padamu, jika aku marah aku akan pergi darimu. Titik." Ucap Raina dengan suara lantang, ia mencoba bersikap marah sayangnya ia gagal karena Sawn terus saja menggelitik pinggang rampingnya.
"Mmm. Baiklah aku mengalah. Aku sedih karena besok tante Alya akan kembali bersama mertuanya, aku takut mertua tante Alya berulah lagi, maksutku mencoba mengambil Andre seperti waktu itu. Jika itu terjadi, ibu mertua pasti akan murka. Hal yang paling ku takuti adalah kehilanganmu. Membayangkan itu saja membuat hatiku terasa sakit." Tutur Sawn dengan suara serak, Raina bisa mendengar nada ketakutan dari ucapan yang Sawn lontarkan.
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita! Aku akan bicara pada ibu, Insya Allah ibu akan mengerti." Ucap Raina mencoba menenangkan.
Aku belum pernah mendapatkan teman bicara sehebat dia, ucapan singkatnya mampu menenangkan jiwa. Aku tak akan melepaskannya. Gumam Sawn dalam hatinya. Ia memandang wajah nyaris sempurna milik Raina, melempar senyum tipis kemudian melayangkan kecupan di puncak kepala istri yang sangat disayanginya itu.
...***...
__ADS_1