
"Bu Rahayu, Ibu tahu? Putri ibu ini sangat penurut. Berbeda dengan putraku! Aku sendiri bingung, entah kebaikan apa yang putra ku lakukan sampai mendapat istri sebaik Raina!" Ucap Bu Hanum sembari duduk di samping bu Rahayu.
Tidak ada bantahan dari Sawn, ia malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bu Rahayu tidak perlu mengkhawatirkan Raina, jika putraku berani mengganggunya maka aku sebagai ibu mertua akan membelanya.
Lagi pula, putra cengengku ini tidak akan berani membuat putri Bu Rahayu bersedih. Sepekan melihat kondisi buruk istrinya, ia bersikap seolah seluruh dunianya sudah runtuh." Sambung bu Hanum sembari mengukir senyuman.
Mendengar ucapan Ibu mertuanya Raina hanya bisa tersenyum sambil menutup bibirnya, wajah pucatnya terlihat bersemu memerah. Sesekali ia menatap wajah suaminya, seolah wajah tampan itu membenarkan apa yang sudah di ucapakna oleh Ibu mertua tersayangnya.
Hidup hanya sekali, menikah pun harus sekali. Memiliki pasangan sepertimu adalah keajaiban, kau lebih berharga dari apa pun yang ada dalam diriku. Gumam Raina sambil merunduk, ia menyembunyikan wajah bersemunya di balik selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya.
"Sudahlah Ma! Mama tidak boleh membuatnya malu seperti itu. Saat Sawn sendiri dia pasti akan membalasku." Guyon Raina sembari menjulurkan lidahnya kearah Sawn yang saat ini berdiri di samping Bu Romlah.
"Bude lihat ulah keponakan Bude! Di depan kalian ia bersikap sok teraniaya, tapi di belakang kalian ia bahkan membuatku takut!" Balas Sawn pelan seolah menunjukan wajah teraniayanya.
Hahahaha....
Bukannya merasa empati, Bu Romlah malah tertawa lepas. Kali ini bukan hanya Bu Romlah, Bu Rahayu dan Bu Hanum pun ikut tertawa lepas sembari menatap wajah Putra dan putri mereka yang terlihat malu-malu.
Sedetik kemudian Bu Rahayu berjalan mendekat kearah Sawn, ia menggenggam jemari menantunya itu penuh kebanggaan namun air matanya tak berhenti menetes.
"Terima kasih karena mencintai putri Ibu melebihi cinta yang sudah Ibu berikan padanya. Tetap cintai dia seperti kau mencintainya saat ini. Genggam erat jemarinya sampai batas usia yang kau punya.
Jika suami mencintai istrinya dengan jiwa dan raganya, maka seorang Istri tidak akan pernah kesepian walau ia berada dalam kesendirian.
Awalnya Ibu tidak percaya padamu! Setiap orang tua memiliki kriteria menantu idaman. Tapi, kali ini dengan tegas dan bangga Ibu sampaikan, memiliki Suami seperti mu adalah keajaiban dan berkah bagi putri saliha Ibu. Terima kasih." Ucap Bu Rahayu panjang kali lebar.
"Bu Rahayu tidak perlu mengkhawatirkan Raina! Saya bisa pastikan, Sawn akan menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk keluarga kecilnya." Sambung Pak Andi begitu ia membuka bibirnya.
Tidak ada sahutan dari Bu Rahayu, melihat keramahan dan keceriaan keluarga Dinata membuatnya yakin se yakin-yakinnya kalau ia tidak salah menyerahkan putri tersayangnya. Bahkan, melihat senyum menawan Raina membuatnya merasakan bahagia luar biasa, bahagia yang tak dapat ia lukiskan dengan sekedar kata-kata.
"Sekarang kami sudah tenang! Karena kami sudah melihat Raina, kami harus pulang. Takutnya si bungsu Amel akan mencari kami." Ucap Bu Rahayu sembari menatap wajah Pak Andi dan Bu Hanum secara bergantian.
__ADS_1
"Kami tidak akan menghalangi Bu Rahayu. Justru, kami sangat bahagia dengan kedatangan Bu Rahayu. Sesekali, berkunjung lah kerumah kami." Sambung bu Hanum sambil memeluk tubuh Bu Rahayu.
"Terima kasih." Balas bu Rahayu.
Setelah memeluk Raina, Bu Rahayu dan Bu Romlah bersiap keluar dari kamar Raina. Baru saja Bu Rahayu membuka pintu, sosok rupawan dengan wajah sempurna berdiri mematung di depannya. Ia terlihat malu-malu, entah sejak kapan ia berdiri di depan pintu sampai membuatnya terlihat ling-lung.
"Prof. Zain!" Raina yang melihat Ibunya mematung di depan pintu sontak mengarahkan pandangannya, di dapatinya Prof. Zain berdiri di depan Ibunya sambil menggaruk kepalanya, ia terlihat seperti pencuri yang tertangkap sang empunya rumah.
"Anda disini? Dia ibuku! Silahkan masuk!" Ucap Raina sambil tersenyum kearah sosok rupawan yang saat ini berdiri di depan Ibunya. Prof. Zain balas tersenyum kearah Raina.
Sepersekian detik kemudian Prof. Zain sudah duduk di depan kedua orang tua Yuna, wanita yang sangat di cintainya dengan sepenuh jiwa dan raganya.
"Maafkan saya Prof. Zain! Saya tidak bisa menjenguk anda walaupun anda berada dekat dengan kamar inap saya." Ucap Raina lagi. Ia mencoba mencairkan suasana yang terasa sangat menegangkan, terutama untuk Prof. Zain yang saat ini masih duduk mematung di depan calon Mama dan Papa mertuanya.
"Tidak apa-apa nona Raina. Justru saya sangat bersyukur anda sudah pulih. Saya berharap anda selalu sehat dan bahagia." Balas Prof. Zain sambil tersenyum bahagia.
Raina terlihat melipat kedua lengan di depan dada, sesekali ia menatap wajah takut Yuna yang saat ini duduk di samping Papanya. Tak jauh berbeda dari Yuna, Prof. Zain pun terlihat tegang. Entah apa yang saat ini terlintas di kepalanya. Ia duduk di depan Bu Hanum sambil merunduk, seandainya Prof. Zain menatap wajah heran Bu Hanum, bisa di pastikan ia akan mengurungkan niat tulusnya untuk menghadap di depan kedua orang tua gadis yang sangat di rindukan netranya.
"Maksudku Prof. Zain!" Ucap Raina menjelaskan.
"Sudah." Balas Prof. Zain singkat. Ia masih merunduk sembari membuang nafas kasar.
Sepersekian detik kemudian, ia terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Tatapan matanya sangat tajam, siapa pun yang melihatnya akan terpesona oleh keindahan parasnya.
Disisi berbeda Yuna terlihat gugup luar biasa, sesekali ia menatap wajah pucat Raina, meminta bantuan dengan tatapan memelas. Sawn yang duduk di dekat Pak Andi pun terlihat tegang, walaupun ucapan Prof. Zain masih terkatup di bibirnya, rasanya Sawn bisa menebak kemana arah pembicaraan ini akan berjalan.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Dinata. Maafkan atas kelancangan saya, tadinya saya berpikir saya bisa hidup dengan keputusan untuk tetap diam. Nyatanya saya tidak bisa untuk tetap diam, karena perasaan cinta saya pada putri kalian melebihi dalamnya samudra." Ucap Prof. Zain dalam satu kali tarikan nafas. Rasa gugup membuatnya bicara tanpa jeda, dan hal itu membuat Bu Hanum dan Pak Andi terlihat sedikit Shock.
"Tunggu sebentar! Ja-jadi maksud nak Zain, nak Zain menyukai putri kami Yu-na?" Bu Hanum bertanya sambil menatap wajah Rupawan Prof. Zain De Lucca.
Tidak ada sahutan dari Prof. Zain selain anggukan kepala.
"Yuna, apa kamu juga menyukainya?" Pak Andi pun ikut membuka suara. Tak jauh berbeda dari Prof. Zain De Lucca, Yuna pun hanya bisa menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sawn tidak ingin terlibat dalam pembicaraan serius Mama dan Papanya, ia berjalan mendekati Raina dan duduk di samping istri tercintanya.
"Mama tidak pernah menyangka kalian akan secepat ini jatuh cinta! Waktu itu Mama hanya bercanda, jadi sekarang candaan Mama berubah menjadi nyata? Tidak hanya nak Zain, bahkan putri manja Mama pun jatuh cinta! Benar begitu?" Lagi-lagi bu Hanum menatap Yuna dan prof. Zain secara bergantian.
"Papa tidak pernah melarangmu melakukan apa pun yang kau inginkan, Papa juga tidak akan memaksamu dalam menentukan pasangan yang ingin kau nikahi. Tapi kali ini kau harus diam, biarkan Mama dan Papa yang akan bicara!" Pak Andi menatap Yuna sambil menekankan ucapannya, terdengar nada kekhawatiran dalam setiap untaian kalimatnya, kekhawatiran seorang Ayah yang tidak akan rela melepas putri tersayangnya pada laki-laki yang belum ia kenal tabiatnya.
"Sejak kapan kau menyukai Yuna?"
Glekkkk!
Prof. Zain menelan salivanya, terdengar nada menakutkan dalam setiap kata tegas yang pak Andi lontarkan. Berbeda dengan bu Hanum, ia hanya bisa diam melihat ketegasan suaminya, dan ini jarang sekali terjadi.
"Se-sejak saya mengajar di kelas putri anda." Balas Prof. Zain dengan nada santai.
Bu Hanum, Raina, Sawn dan Yuna hanya bisa diam, mereka tidak ingin terlibat dalam pembicaraan serius Pak Andi Dinata.
"Dengar, sebaik apa pun pria itu, bagiku tidak ada yang cocok untuk putriku. Kau bisa saja menyombongkan dirimu dengan segala hal yang kau punya. Tapi sayangnya, sebagai seorang ayah, aku tidak akan mudah goyah oleh pria manapun kecuali aku tahu kualitas apa yang dimilikinya sehingga aku merasa aman dan tenang untuk menyerahkan putriku padanya!" Ucap Pak Andi tegas.
"Sekarang katakan padaku, apa rencana masa depanmu jika aku mengizinkanmu mempersunting putri berhargaku? Kau harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaanku, aku akan mendengar jawabanmu sekali saja. Hanya sekali!
Jika jawabanmu sesuai dengan pemikiranku, maka aku tidak akan ragu untuk menyerahkan putri tersayang ku padamu.
Namun, jika jawaban yang kau lontarkan tidak sesuai dengan Ekspektasiku, maka maafkan aku, aku tidak akan melepas putri berhargaku untuk pria sembarangan.
Kau harus ingat, aku bisa melihat dan merasakan jika kau berbohong atau jujur. Aku lebih suka pria yang tegas, jujur dan bertanggung jawab. Dan Sebaliknya, aku sangat benci pria pembohong dan berpura-pura baik. Jadi, kau harus berhati-hati dengan setiap kata yang akan kau ucapkan di depanku!" Sambung pak Andi tanpa ragu-ragu.
Untuk sesaat Prof. Zain menatap Yuna yang saat ini masih duduk di kursi rodanya. Ketegangang yang tadinya memenuhi rongga dada Prof. Zain De Lucca terasa menguap keangkasa. Sungguh, mendengar ucapan tegas pak Andi membuat nyali Prof. Zain menciut.
Setiap orang tua pasti merasakan hal yang sama, mencintai anak-anak mereka lebih dari apa pun, terutama seorang ayah yang tidak akan pernah melepas putri tersayangnya untuk pria yang datang hanya dengan berbekal kepura-puraan.
Prof. Zain tidak pernah menyangka meminta restu dari orang tua wanita yang sangat di cintainya dengan sepenuh jiwanya akan menimbulkan ketegangan luar biasa bagi dirinya yang selama ini bersikap santai dan tenang.
...***...
__ADS_1