Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Surga Cinta


__ADS_3

Huuuhhhhhhhh!


Raina kembali menghela nafas kasar setelah ia sampai kamar. Tangannya tak bisa berhenti mengusap perut buncitnya. Kini perasaan lega memenuhi rongga dadanya. Perasaan lega karena buah hatinya sebentar lagi akan lahir kedunia. Semakin hari terasa semakin berat bagi Raina, bahkan bernafaspun terasa melelahkan, namun ia menjalani hari-harinya dengan kesabaran.


"Nak... Apa kabar? Sepertinya kau sangat bahagia. Sejak tadi kau terus saja menendang perut Mama mu ini. Kau tidak boleh nakal seperti Papa mu!" Raina tersenyum sambil memandangi wajah tampan suami tercintanya, sementara tangan kanannya tak berhenti mengelus perut buncitnya.


"Kau lihat? Walau tertidur pulas Papa mu tetap tampan. Entah Mama yang beruntung karena mendapatkan Papa mu sebagai suami, atau Papa mu yang beruntung mendapatkan Mama sebagai istri? Mama sendiri tidak tahu. Yang jelas kita harus bahagia dan kau harus jadi anak soleh kebanggaan Mama dan Papa." Ucap Raina pelan.


Matanya masih menatap kearah satu titik, yakni wajah tampan suaminya. Seperti biasa, kenakalan Raina kembali muncul. Ia tersenyum sambil menangkup wajah Sawn Praja Dinata. Dengan jemarinya ia mulai menyentuh dengan lembut wajah suaminya.


"Sayang... Papamu pria yang hebat, beliau memiliki tubuh yang kekar dan wajah yang tampan.


Kau tahu nak? Mama semakin jatuh cinta pada Papamu saat ia tersenyum, senyumnya seindah purnama. Kau juga, jadilah anak Mama yang murah senyum karena senyum adalah sedekah." Raina tersenyum sambil membelai lembut wajah Sawn dengan jemarinya.


"Kau tidak perlu menyanjungku saat aku sedang tertidur. Kau benar-benar tidak romantis." Sawn pura-pura menggerutu sambil memegang tangan Raina yang masih bermain di wajah tampannya.


Cahaya rembulan malam ini bersinar sangat terang, seolah mengabarkan pada dunia bahwa dua insan yang terbalut dalam perasaan cinta sedang bahagia luar biasa, dan tidak ada yang bisa bersembunyi dari cahayanya.


"Kau bangun? Sejak kapan?" Raina bertanya dengan tatapan tajamnya. Bahkan cinta ini terlalu memabukkan untuk di rasakan sendiri.


"Sejak kau bangun sampai kau kembali lagi, hingga saat ini!" Melihat wajah terkejut Raina membuat Sawn ingin tertawa, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia hanya ingin menggoda Raina, karena menurutnya itu sangat lucu.


"Ka-kau...? Apa kau sedang mempermainkanku?" Raina bertanya sambil memamerkan wajah terkejutnya. Bukannya menjawab pertanyaan serius Raina, Sawn malah tertawa lepas. Sedetik kemudian ia menarik tubuh Raina dan menjatuhkannya kedalam pelukan hangatnya.


Berada dalam kungkungan Sawn membuat Raina tidak bisa bergerak, ia hanya bisa diam sambil mencerna keadaan yang ada. Sepuluh menit berlalu namun Sawn masih saja diam sambil menahan segala gundah yang memenuhi rongga dadanya, bukannya mengungkapkan perasaannya ia malah semakin memeluk tubuh Raina erat, sangat erat sampai tidak ada jarak yang akan memisahkan mereka.


"Ada apa? Apa kau sedang gelisah?" Raina mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Tidak ada jawaban dari Sawn, yang terdengar hanya suara helaan nafas kasar saja.


"Katakan ada apa?" Raina kembali bertanya, kali ini dengan suara pelan namun terdengar sangat merdu di telinga Sawn Praja Dinata.

__ADS_1


"Aku marah padamu!"


"A-apa? Kau marah padaku? Bagaimana bisa? Apa yang telah ku lakukan? Bagaimana caraku menghiburmu agar kau tidak marah lagi? Cepat katakan!" Raina mencecar Sawn dengan pertanyaan singkatnya.


"Jagan bergerak! Ini adalah hukuman untukmu!" Balas Sawn sambil berbisik di telinga Raina.


"Hukuman? Bagaimana bisa?"


"Aku mendengar semua yang kau katakan pada Yuna! Aku berterima kasih karena kau menghiburnya.


Aku sangat kesal karena kau masih mengingat pria itu. Maksudku, aku sedikit cemburu padanya!" Tutup Sawn tanpa memberikan Raina kesempatan untuk bergerak dari pelukannya. Raina yang mendengar penuturan singkat Sawn benar-benar sangat bahagia.


"Suami ku cemburu? Wah ini berita yang sangat menggembirakan!" Raina tersenyum sambil mencubit hidung bangir milik suaminya. Untuk pertama kalinya ia bergadang sambil merasakan bahagia luar biasa.


"Kau gembira karena aku cemburu? Wah... Ini tidak bisa di biarkan!" Sambung Sawn lagi sambil melepas pelukannya dari tubuh Raina.


"Tentu saja aku merasa bahagia. Suamiku cemburu itu artinya ia sangat mencintaiku. Cinta tanpa perasaan Cemburu ibarat sayur tanpa garam.


Diam-diam Sawn mulai tersenyum, ia benar-benar tidak bisa marah di depan Raina, entah untuk pura-pura seperti saat ini atau marah sungguhan. Cintanya begitu besar untuk sosok Raina sampai ia tidak ingin melihat wanita yang menjadi belahan jiwanya itu bersedih oleh ucapan maupun tindakannya.


"Aku pun mudah cemburu, itu karena aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Sungguh, wanita itu mampu menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski hanya sesaat.


Jangan pernah patahkan hatiku dengan menghadirkan wanita lain dalam hubungan kita, aku tidak akan bisa memaafkanmu. Walau dalam Islam di perbolehkan melakukan Poligami, namun aku tidak bisa hidup dalam hubungan seperti itu.


Jika kau merasa bosan padaku maka katakan dengan terus terang. Aku janji, aku akan mundur tanpa membuat keributan." Semuanya berawal dari kata Cemburu! Entah darimana datangnya perasaan sedih yang memenuhi rongga dada Raina.


Tak jauh berbeda dengan istrinya, Sawn pun merasakan sedih luar biasa, bagaimanapun ia tidak akan pernah bisa perpikir untuk menduakan Bidadari Surganya dengan wanita manapun.


"Kenapa istri cantikku berpikir sejauh itu? Itu tidak akan pernah terjadi. Kau akan menjadi satu-satu untuk selamanya. Aku Sawn Praja Dinata akan menua bersama istri cantikku Raina Salsadila." Balas Sawn sambil melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Raina, setelah itu ciumannya turun kehidung, kemudian kedua mata Raina secara bergantian dan berakhir di bibir tipis Raina. Cukup lama mereka saling merasakan bibir masing-masing, sampai akhirnya Sawn menghentikan kenakalannya.

__ADS_1


"Itu hukumanmu karena kau berani berpikir aku akan menduakanmu. Bahkan jika aku harus tiada...." Ucapan Sawn tertahan di tenggorokannya karena Raina kembali melayangkan kecupan singkatnya.


Sawn tersenyum sambil menyentuh bibirnya, ia benar-benar tidak menyangka Raina akan melayangkan kembali kecupan singkatnya.


"Kau tahu? Kisah cinta ter-Uwu versi Islami yang pernah kudengar. Konsep cinta Nabi Adam dan Siti Hawa, kisah Cinta yang enggak pernah ngomongin mantan.


Kisah Rasulullah yang pulang kemalaman hingga tidur di depan pintu, beliau tidak mau membangunkan Aisyah yang ternyata ketiduran di depan pintu karena menunggu Rasulullah pulang.


Kemudian, laki-laki yang paling kuat adalah Salman Alfarisi. Beliau berniat melamar perempuan dan di temani temannya yang bernama Abu Darda. Namun setelah sampai di rumahnya, perempuan itu malah lebih memilih Abu Darda. Apa Salman Alfarisi marah? Jawabannya 'Tidak' beliau tidak termakan ocehan setan.


Kisah cinta terbaik masih jadi milik Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra. Cinta dalam diam. Bahkan setan pun tidak tahu tentang perasaan mereka. Jadi, boro-boro godain nyuruh bikin maksiat, tahu aja enggak." Tutur Raina sambil membayangkan indahnya Islam dalam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan.


"Sekarang aku semakin mengerti alasan besarmu menolak lamaranku untuk pertama kalinya! Kau hanya ingin meyakinkan dirimu apa aku pria yang baik atau tidak? Aku yakin, jika aku bukan pria baik kau pasti akan memandang ku sebelah mata, ia kan?" Sawn bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Raina.


Untuk sesaat Raina terdiam sambil memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan di depan Sawn Paraja Dinata. Sedetik kemudian Raina menganggukkan kepala mencoba memberi jawaban tanpa berucap sepatah kata.


"Kau ingat? Dulu nona Angel pernah menyebarkan berita kalau aku merampasmu darinya. Hari itu hari terberat dalam hidupku. Seorang yang sangat berjasa dalam hidupku meninggalkan dunia ini untuk selamanya.


Beliau pernah mengatakan, jodoh itu datang dari tiga hal."


"Jodoh datang dari tiga hal? Apa maksudnya?" Sawn bertanya karena ia benar-benar tidak paham, seolah otak cerdasnya tidak ingin bekerjasama saat di perlukan.


"Nama beliau kakek Alfa, beliau orang yang baik. Beliau bilang, jodoh itu datang dari tiga hal. Pertama, Jodoh dari Syaitan. Maksudnya, kau berkenalan denganku, kita berpegangan tangan dan terus melakukan maksiat sampai aku mengandung baru kau menikahiku.


Yang kedua, Jodoh dari Jin. Maksudnya, kau dan aku berkenalan, kau mencintaiku, tapi aku tidak mencintaimu kemudian kau melakukan perbuatan Sihir agar aku menyukaimu kemudian kita menikah.


Dan yang ketiga. Jodoh dari Allah. Maksudnya, kita berdua berpandangan mata, terus menusuk kehati, kau terus meminangku sampai aku menerima pinanganmu kemudian kita menikah. Insya Allah kekal hingga Akhirat dan itulah yang di katakan Surga Cinta." Tutup Raina sambil memandangi wajah tampan suaminya, ia kembali menghembusan nafas lega. Kini hatinya merasakan bahagia luar biasa, ucapan kakek Alfa belasan tahun yang lalu ia ceritakan pada Sawn Praja Dinata.


Entah Sawn percaya atau tidak dengan ucapan kakek Alfa yang di sampaikan Raina, setidaknya Raina berusaha menjaga nasihat kakek Alfa agar nasihat itu selalu hidup dalam tarikan dan hembusan nafasnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2