
Semua mata tertuju pada Raina, menanti jawaban mahar apa yang dia inginkan.
Ucapan Raina masih terkatup di bibirnya, ia masih terlalu gugup untuk sekedar membuka bibir merah mudanya. Pelan Raina menatap bu Rahayu dengan tatapan meminta pertolongan.
Bu, Raina gugup! Bu, Raina rasanya seperti akan pingsan! Bu, aku butuh pelukan ibu agar hatiku tenang! Apa semua orang yang akan menikah merasakan ke gugupan seperti yang ku rasakan? Lirih Raina dalam hatinya. Raina menggenggam jemari bu Romlah yang duduk di sampingnya sembari memejamkan mata untuk sesaat.
"Aakuuu." Raina masih tidak bisa melanjutkan kalimatnya, sungguh rasa gugup yang ia rasakan memenuhi pori-pori tubuhnya, bahkan saat ini bu Romlah merasakan tangannya mulai dingin.
"Sayang, apa yang kau inginkan sebagai maharmu? Minta apa pun yang kau inginkan, karena itu adalah hak mu." Ucap bu Rahayu sambil tersenyum.
Hak ku? Iya, mahar adalah hak istri dari suaminya. Lirih Raina lagi sambil memandang wajah penasaran Sawn yang menanti jawabannya.
"Jika aku meminta kapal pesiar sekalipun sebagai maharku, pak Sawn pasti bisa memenuhinya." Ucap Raina pelan sambil memandang wajah Sawn yang terlihat masih penasaran.
Mahar di tetapkan sebagai kewajiban suami kepada istrinya, sebagai lambang keseriusan dan ketulusan hati untuk mempergauli istrinya secara ma'ruf (baik).
"Aku hanya gadis sederhana, aku akan meminta tiga hal berharga dari bapak sebagai maharku!" Ucap Raina sambil memandang satu per satu wajah keluarga Dinata.
"Tiga hal berharga, apa itu?" Sawn bertanya sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Pertama! Aku meminta Cincin Emas seberat tiga gram, tiga gram melambangkan aku memiliki tiga orang tua yang berjasa dalam kehidupanku. Dengan bapak menyematkan cincin di jari manisku, itu menandakan aku adalah milik bapak dan aku akan selalu bersama ketiga orang tuaku. Kedua orang tua kandungku dan ibuku saat ini, bu Rahayu." Ucap Raina sembari menatap bu Rahayu dengan tatapan kasih sayang yang ia sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya.
Mendengar ucapan Raina, bu Rahayu mulai meneteskan air mata. Ia tidak pernah membayangkan putri yang ia temukan di bawah gerbang panti dua puluh tahun silam, dalam keadaan mengenaskan akan meninggalkannya secepat ini. Hatinya terasa perih begitu membayangkan putri kesayangannya akan menikah dan akan meninggalkannya.
Jangankan emas tiga gram, aku bahkan bisa membeli toko emas untuk mendapatkanmu! Ini sangat mudah. Ucap Sawn dalam hatinya, sedetik kemudian ia tersenyum bahagia. Dadanya kembali berdebar, menantikan mahar kedua yang akan Raina pinta darinya.
"Kedua! Aku meminta mahar berupa seperangkat alat Shalat dan Al-Qur'an. Dengan mahar seperangkat alat Shalat dan Al-Quran, aku berharap bisa menjadi makmum yang baik dalam rumah tangga yang kita jalani, sehingga Rahmat Allah selalu menyertai kita." Untuk sesaat Raina kembali diam, ia memandang wajah tersenyum Sawn. Dan Raina yakin itu bukan masalah besar bagi pria yang duduk di depannya itu.
__ADS_1
Jangankan seperangkat alat Shalat, aku bahkah bisa membelikan pabrik nya untuk mu! Itu sangat mudah. Lirih Sawn dalam kebisuannya. Sungguh, ia masih deg-degan menanti mahar final yang Raina minta darinya. Sawn meremas jemarinya, berharap mahar ketiga yang Raina minta akan semudah mahar pertama dan kedua yang sudah di sampaikannya.
"Terakhir! Al-Quran yang pak Sawn berikan sebagai mahar, aku ingin anda membacakannya di hadapan semua orang yang menghadiri akad nikah kita, surah Taha Ayat pertama sampai sepuluh. Aku berharap dengan Qur'an yang bapak baca akan membawa kedamaian dalam rumah tangga kita." Tutup Raina dengan nada suara lantang tanpa rasa takut sedikit pun.
Gleeekkkk!
Sawn menelan air liurnya, permintaan terakhir Raina benar-benar meruntuhkan kepercayaan dirinya. Ia tidak menyangka permintaan terakhir Raina adalah hal yang sama sekali memberatkan jiwanya.
Membaca Al-Qur'an? Ohh tidak, surah Alfatihah surah pembuka Al-Quran yang ia hafal dan baca saja masih berantakan. Bagaimana ia akan sanggup mambaca Al-Quran di hadapan orang banyak.
"Kami setuju dengan mahar yang kau minta. Aku yakin itu tidak akan menjadi masalah bagi putra kami, iya kan nak?" Pak Andi bertanya pada Sawn yang saat ini masih merunduk karena gugup.
Sawn hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, tidak ada yang tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja di karenakan syarat mahar ketiga.
Melihat kekhawatiran Sawn, Andre mendekati Sawn sambil membawa segelas air.
Mendengar Ucapan Andre, serasa ada angin segar yang membelai lubuk terdalam Sawn Praja Dinata. Ia mulai memantapkan hatinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Pak Andi tiba di kediamannya dengan perasaan lega yang memenuhi hidup damainya. Ia duduk di sofa sembari meletakkan kunci mobil di meja. Sedetik kemudian mbok Dami datang dengan membawa nampan teh hangat.
"Ma. Bukankah calon menantumu luar biasa? Papa benar-benar bangga padanya." Ucap pak Andi dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Tante tidak menyangka Raina akan meminta mahar seperti itu! Bukannya meminta berlian atau rumah, dia malah meyuruhmu membaca Qur'an. Tante semakin percaya pada pilihan mu!" Ucap bu Alya sembari menepuk pundak Sawn pelan.
"Bukan hanya tante, aku juga tidak menyangka Raina akan meminta itu dariku." Balas Sawn sembari beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
...***...
Sementara itu di panti, Raina baru saja memasuki kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah tidak empuk lagi.
Pelan ia memejamkan mata sembari mengingat-ingat isi percakapannya di ruang tamu empat jam yang lalu.
Apa aku meminta terlalu bayak? Aahhh, tidak mungkin! Bagaimana jika dia menyerah? Aku akan terima, berarti dia bukan untukku! Bagaimana jika karena kebodohanku, aku kehilangan dirinya? Jika aku kehilangannya, berarti dia bukan pilihan yang Allah gariskan untukku! Gumam Raina dalam kegelapan, ia berperang dengan dirinya sendiri. Berharap setiap kata yang ia ucapkan tidak akan membawa penyesalan di kemudian hari.
Dret.Dret.Dret.
Suara getaran ponsel yang bersumber dari atas nakas membuyarkan lamunan Raina akan setiap ucapan yang ia lontarkan. Pelan Raina meraih ponsel dengan tangan kanannya. Ia menyipitkan matanya begitu melihat nama yang tertera di ponsel itu.
Assalamu'alaikum. Bidadari surga?
Raina tersenyum sembari membaca pesan yang masuk di ponselnya, belum sempat membalas pesan, pesan kedua pun masuk.
Apa kau sedang memikirkan ku?
Kau tidak perlu membalas pesan ku! Aku tahu kau pasti sedang tersenyum. Iya, kan? 😊
Raina tersenyum sembari membaca pesan dari orang yang berusaha menggodanya.
Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, aku sudah menerima mu dengan sepenuh hatiku. Mahar mu? Aku pasti akan melakukan semua yang ku bisa untuk mewujutkannya. Dari yang selalu mencintamu dengan sepenuh hatinya. Sawn Praja Dinata...💙💕💙
Lagi-lagi Raina hanya bisa tersenyum manja, ia hanya bisa berharap semoga pilihan hatinya adalah pilihan Tuhannya juga.
...***...
__ADS_1