
Waktu menunjukan pukul 13:30, bahkan azan zuhur pun telah selesai di kumandangkan sejak dari tadi, namun tidak ada tanda-tanda Sawn akan baranjak dari kursi kebesarannya. Sepekan tidak ke kantor membuat meja kerjanya di penuhi oleh tumpukan laporan kerja yang belum sempat ia periksa. Dan selama ia tidak ke kantor Robin lah yang menjadi kaki tangannya dalam mengambil segala keputusan.
"Ohhh ya ampun, aku belum melaksanakan shalat Zuhur! Jika Raina ku tahu, ia akan marah besar! Cepat bangun sayang, aku merindukan suaramu dan semua yang ada dalam dirimu!" Gumam Sawn sambil bangun dari posisi duduknya.
Baru saja bangun dari tempat duduknya, ponsel yang Sawn letakkan di atas Laptopnya mulai berdering. Panggilan dari detektif kepercayaannya.
"Apa kau menemukan sesuatu? Dimana mereka bersembunyi? Jangan katakan kalian tidak bisa menemukan mereka, aku akan marah jika itu sampai terjadi." Selidik Sawn dengan nada suara pelan. Mendengar pemilik suara di sebrang sana terdengar putus asa membuat amarah Sawn Hampir meledak.
"Aku membayar kalian bukan untuk mendengar berita buruk! Sekarang katakan dimana mereka?" Sawn kembali mengurai tanyanya.
"Bos... Kami mencari mereka di setiap sudut dan jalanan kota. Sayangnya kami tidak bisa menemukan mereka, tolong berikan kami waktu sepekan lagi. Kami janji akan membawa mereka di hadapan anda."
Bukannya merasa lega mendengar ucapan Detektif kepercayaannya, Sawn malah kesal luar biasa. Giginya bergemeletuk, rasanya kemarahannya sampai ke ubun-ubunnya.
"Aku tidak perduli! Aku sudah memberikan kalian waktu lebih dari tiga hari. Apa itu tidak cukup? Istriku terbaring di rumah sakit dan aku ingin penjahat itu segera tertangkap!" Sawn berteriak dengan suara lantang. Untuk pertama kalinya ia kembali merasakan amarah luar biasa.
Pranggggg!
Karena kesal Sawn melempar ponsel yang ia gunakan kearah dinding. Untungnya itu tidak mengenai Robin yang baru saja membuka gagang pintu.
"Ada apa lagi? Apa kau marah karena Nona sendirian belum juga sadar? Apa yang di katakan dokter kulit pucat itu?" Robin bertanya begitu ia masuk dan melihat raut wajah kesal Sawn.
Sawn berjalan pelan menuju sofa kemudian memijat kepala dengan kedua tangannya. Sosok yang biasanya terlihat sempurna kini tampak tak berdaya dan di penuhi perasaan putusasa.
"Aku sudah melakukan semua hal yang kubisa untuk menangkap bajingan yang berani melukai Raina ku dan Yuna! Aku bahkan sudah meluluh lantakkan usaha clab malamnya. Akan ku pastikan membuat mereka menjadi gelandangan.
Aku sangat kesal, kenapa otak dari kekejaman ini bisa melarikan diri? Dan kelima pria yang menjadi buronan pun seolah menghilang seperti di telan bumi." Lagi-lagi Sawn terlihat menghela nafas.
"Kau harus sabar! Bukankah pihak berwajib dan detektif kepercayaanmu sedang mencari mereka di setiap tempat. Kau harus percaya semuanya akan baik-baik saja."
Ucapan Robin terdengar bagai omong kosong di telinga Sawn, bagaimana ia bisa tenang dan percaya semuanya akan baik-baik saja jika ia sendiri tahu semuanya tidak baik-baik saja.
"O iya... Satu lagi, nona Aira akan datang siang ini, dia model sempurna yang akan membintangi produk baru yang akan di luncurkan pekan depan." Lapor Robin.
Mendengar ucapan sahabatnya Sawn hanya bisa mengangguk pelan, sementara hatinya masih di liputi kegelisahan tingkat tinggi. Kegelisahan yang sanggup menghancurkan ketenangan batinnya, ketenangan batin yang mulai jarang ia rasakan sejak Raina di nyatakan koma oleh dokter James.
...***...
"Kau ada disini? Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah mengatakan dengan jelas aku tidak ingin melihat wajah mu lagi!" Sawn menatap kesal kearah sosok anggun yang berdiri di depannya. Tidak ada sahutan dari orang yang ia ajak bicara, yang ada hanya senyuman manis saja.
__ADS_1
"Orang bodoh mana yang berani mengizinkanmu masuk tanpa seizin dariku? Pergi dari sini! Pergi!" Sawn berteriak kasar. Matanya memerah, kekesalannya sudah sampai di ubun-ubunya. Menatap sosok menyebalkan di depannya rasanya darahnya mengalir lebih cepat.
"Ka-kau? Kau ad-da disini?" Robin tampak gugup, sejujurnya ia berlari lebih cepat untuk menghindari pertemuan Sawn dan Angel. Sayangnya ia sangat terlambat.
"Siapa yang memintanya datang? Apa itu kau? Kenapa kau sangat ceroboh. Aku sudah bilang tidak ingin melihat wajahnya, lalu untuk apa kau membawanya kesini?" Sawn bertanya pada Robin dengan nada suara tinggi, giginya bergemeletuk menahan amarah. Perasaan cinta yang dulu pernah ada untuk Angel kini berganti menjadi kebencian tanpa batas. Sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik. Cintailah kekasihmu sewajarnya saja bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci.
Tidak berbeda dari Sawn, Angel pun terlihat sangat marah, ia tidak menyangka akan mendapat sambutan seburuk ini. Ia merasa harga dirinya tercoreng oleh tingkah laku sosok yang selama ini sangat dirindukannya. Sepersekian detik kemudian Angel mengambil tas tangan yang ia letakkan di atas meja.
"Apa begini cara mu menghormati setiap orang yang datang? Dengar pak Sawn Praja Dinata, aku tidak butuh denganmu atau pekerjaan yang di tawarkan prusahaanmu." Ucap Angel dengan suara keras.
"Bagus! Aku pun mengharapkan hal yang sama darimu. Jangan pernah menggangguku atau pun keluargaku. Jika kau berani melakukan itu, maka saat itu akan menjadi hari terakhirmu menghirup udara bebas." Balas Sawn tak kalah kerasnya dengan suara Angel.
Robin hanya bisa menghela nafas kasar melihat perdebatan di depannya. Ia pun ingin mengumpat Angel, sayangya semua hal yang ingin ia katakan sudah di wakilkan oleh sahabat baiknya, Sawn Praja Dinata.
"Dengarkan aku! Ini peringatan terakhir untukmu." Tunjuk angel kearah Sawn yang berdiri di depannya.
"Dulu kita pernah berada dalam satu ikatan yang tidak bisa terpisahkan, tapi hari ini kau bahkan memungkiri itu.
Aku bersumpah demi perasaan tulusku padamu, kau akan memyesali semua hal yang kau ucapkan hari ini. Bahkan jika aku harus tiada, aku tetap akan membalasmu." Ucap Angel dengan nada suara bergetar. Untuk sesaat ia menatap Sawn yang masih berdiri mematung di depan pintu, kemudian ia pergi dengan membawa amarahnya.
Sedetik kemudian suasana terasa hening, tidak ada pertanyaan apa pun dari Robin walaupun ia tahu Sawn sedikit keterlaluan. Dan Sawn pun tidak ingin menjelaskan apa pun pada sahabatnya itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Robin membuka mulutnya begitu ia tahu Sawn terlihat sedikit tenang.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Tidak perlu berbelit-belit, tanyakan saja!" Sawn menatap wajah penasaran Robin.
"Kau bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak, itu pertanyaan yang konyol! Karena kau tahu jawabannya tentu saja tidak!" Sambung Sawn pelan.
"Yayaaaa... Aku sahabat yang tidak peka! Melihatmu berteriak seperti orang kesurupan membuatku terkejut luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun aku melihat mu semarah itu. Biasanya kau tidak bertindak kasar pada wanita manapun. Tapi kali ini ada apa?" Robin mencoba bersikap biasa-biasa saja, padahal sebenarnya ia sangat penasaran dan khawatir luar biasa.
"Hhhmmm! Aku harus bilang apa? Aku sangat marah pada Angel. Walau bagaimanapun, dia pernah membuatku sangat bahagia.
Sekarang kami bukan siapa-siapa, aku hanya ingin dia bahagia dengan kehidupan barunya. Begitu juga denganku, aku hanya ingin bahagia dengan Rainaku.
Setiap kali melihat wajah Angel membuat darah ku mengalir dua belas kali lebih cepat. Rasanya aku ingin menghajarnya, namun ucapan Raina selalu bergema di telinga, bahwa membenci tidak akan mendatangkan ketenangan bagi hati.
Dan hari ini pun aku merasakannya, aku sangat membenci Angel sampai nafasku terasa sesak. Aku marah padanya, gara-gara dia preman kurang ajar itu berani masuk kedalam rumahku dan menghancurkan ketenangan kami." Ucap Sawn sambil menutup dokumen yang baru saja di bukannya.
"Ap-apa? Apa maksudmu semua gara-gara Angel?" Robin terlihat terkejut. Matanya membulat.
__ADS_1
"Angel memberikan informasi pada preman itu kalau Yuna lah yang menyebabkan kekacauan di kelab malam beberapa waktu lalu. Dia kesal karena Prof. Zain mulai mengabaikannya." Balas sawn singkat.
"Oh my god! Jadi, maksudmu dalam usaha Angel membuatmu kembali ia memanfaatkan Profesor berkulit pucat itu!
Dan tanpa di sadari, Profesor berkulit pucat itu mulai tertarik pada Yuna? Ini benar-benar berita besar! Jika Tante Hanum tahu semua ini, aku yakin ia akan menghajar Angel karena sudah membuat dua putri kesayangannya terbaring di rumah sakit." Ucap Robin spontan.
Sawn hanya bisa mengangguk pelan.
"Lalu apa masalahnya dengan nona sendirian?Bukankah preman itu tidak mengenal nona sendirian?"
Sawn menatap Robin dengan tatapan tajam. Masih teringat dengan jelas di memori otaknya kalau Robin selalu memanggil Raina dengan panggilan sayangnya yakni Nona sendirian. Dan Sawn tidak suka mendengar itu.
"Maafff!" Ucap Robin menyesal, ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Kau ingat ketika Raina tertabrak pengendara ungal-ugalan karena pengaruh minuman beralkohol beberapa bulan lalu?"
Robin menjawab pertanyaan Sawn dengan anggukan kepala.
"Saudara pemilik kelab malam itu yang menabrak Raina. Raina benci peminum, ia melaporkan pria itu pada pihak berwajib.
Yang jadi masalahnya, pria yang Raina laporkan meninggal di tahanan. Pemilik kelab malam itu menganggap gara-gara Raina kakaknya meninggal, karena itulah dia dendam pada Raina."
"Jadi itu titik masalahnya. Apa pun bisa terjadi, kau harus menjaga Yuna dan Raina." Ucap Robin mengingatkan.
"Jangan khawatir. Aku menempatkan penjagaan yang ketat di kamar kedua wanita yang sangat kusayangi itu. Bahkan bayangan mereka tidak akan sanggup mendekati Raina ku lagi." Ucap Sawn pelan, setelah itu ia beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Ponselmu berdering!"
"Biarkan saja. Aku sedang malas bicara dengan siapa pun!" Balas Sawn dengan wajah tidak bersemangat. Maklum saja, semalam ia hanya tidur satu jam saja.
"Siapa tahu itu mendesak!" Ucap Robin mengingatkan.
Tanpa berkomentar apa pun Sawn langsung mengangkat panggilan dari ponselnya, ia terlihat mengerutkan dahi melihat nama sang pemanggil.
"Om Agil."
"What? Om Agil! Apa maksudmu, sejak kapan Bodyguardmu jadi om mu?" Tanya Robin penasaran. Sawn sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya, melihat sahabatnya terlihat tegang Robin hanya bisa menghela nafas kasar. Jauh di dalam lubuk hati terdalamnya ia berharap semuanya kembali normal seperti sedia kala.
"Apa? Kurang ajar! Berani sekali mereka melakukan itu? Biarkan mereka tetap disana! Tunggu sampai aku datang!" Ucap Sawn geram. Giginya bergemeletuk. Sungguh, kali ini ia bersumpah akan meberikan balasan setimpal bagi orang kurang ajar yang telah berani mengganggu kehidupan tenangnya.
__ADS_1
Adakalanya kita berpikir meluapkan amarah itu adalah pilihan yang benar, nyatanya amarah itu ibarat api yang akan membakarmu dan orang yang ada disekelilingmu. Apa pun alasannya, kesabaran itu jauh lebih indah dan menenangkan dari pada sekadar membanting diri menuju kegelapan.
...***...