Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Gosip


__ADS_3

Cucilah hatimu dengan air kecintaan, dan putihkanlah dengan kemaafan dan ampunan bagi orang yang menzhalimi dan mencacimu, sehingga anda bisa hidup bahagia, berpikiran tenang, berperasaan senang dan berhati tenteram.


Matahari siang ini benar-benar terasa menyengat, meskipun begitu sebuah mobil merah bersamaan dengan dua motor lainnya memasuki garasi rumah berlantai dua itu, sorang penjaga berbadan tegap dengan sikap ramahnya berusaha membukakan gerbang bercat keemasan itu.


Tidak ada tegur sapa di antara pengendara mobil dan pengendara roda dua, mereka saling diam sembari membawa alat perekam masing-masing, beberapa kamera yang siap mengambil gambar terbaik dari sang pemilik rumah.


"Apa kau sudah menyiapkan segalanya?" Tanya salah seorang yang sedang memarkir kendaraan roda duanya.


"Tentu saja, hari ini kita akan mendapatkan berita besar, bagaimana aku bisa meninggalkan cerita terbaik saat ini." Jawab salah satu rekannya, mereka menggunakan seragam yang sama, bisa di pastikan mereka adalah wartawan majalah Gosip.


Mendengar ucapan dua wartawan itu, penjaga yang baru saja membukakan gerbang untuk mereka hanya bisa menggelengkan kepala.


Troettt!


Suara pintu terbuka dari dalam, dan wajah ayu Angel Sasmita menjadi daya tarik yang tidak bisa di ragukan. Dengan senyum manisnya ia mempersilahkan lima wartawan dari perusahaan berbeda untuk menulis kisahnya, entah apa yang dipikirkan wanita cantik seperti Angel Sasmita dengan membayar wartawan gosip, ia tidak menyadari, semakin banyak yang ingin ia ambil dari orang lain, maka semakin banyak ia akan kehilangan.


Sesungguhnya nikmat itu akan bertambah atau berkurang tergantung bagaimana kamu mensyukurinya.


"Bik, tolong siapkan minuman dan camilan." Perintah Angel setelah kelima wartawan itu sama-sama duduk di sofa empuk yang ia beli minggu lalu.


"Bagaimana pekerjaan kalian, apa kalian sudah mendapat promosi?" Angel bertanya sembari mengumbar wajah bahagianya. Wanita itu benar-benar tahu bagaimana cara mengambil hati orang lain.


"Semuanya berkat nona Angel." Puji kelima wartawan itu, dua laki-laki dan tiga perempuan.


"Kita akan memulai wawancaranya sepuluh menit lagi, kalian bisa bersantai sambil minum teh dulu." Ucap Angel lagi.


Kelima wartawan itu hanya bisa mengangguk sembari tersenyum ramah pada yang empunya rumah.


"Dasar payah." Ucap Angel pelan, sembari meninggalkan kelima wartawan itu dengan wajah pura-pura bahagia.


Seandainya saja kelima wartawan itu mendengar ucapan Angel, bisa di pastikan mereka akan marah dan memuntahkan makanan yang mereka makan.


...***...


Sementara itu di tempat lain, Raina sedang sibuk membagikan makanan pada para Duafa yang ia temui di sepanjang jalan. Tidak sulit memberikan bantuan pada orang yang benar-benar membutuhkan. Yang sulit itu ketika seseorang memiliki kelapangan tapi mereka lebih memilih menyimpannya sendirian.


"Kakek apa kabar?" Sapa Raina sembari tersenyum pada seorang laki-laki separuh baya. Rasanya seperti Reuni dengan teman lamanya, mereka bertemu tanpa di sengaja.


"Haii... Siapa ini? Bukankah ini cucu cantik ku, Raina." Ucap lelaki separuh baya itu. Di usia senjanya ia masih terlihat sehat dan bahagia.


Kakek Alfa! Begitulah Raina memanggilnya, seluruh rambutnya sudah memutih, kulit tangan dan wajahnya tampak memucat. Di Usia kakek Alfa yang sekarang ia masih terbilang sehat.


Matanya? Jangan tanyakan lagi, Raina pernah bertanya secara langsung dan sangat mengejutkan kakek Alfa bilang ia bisa melihat dengan jelas tanpa kaca mata.


Dewasa ini, gaya hidup sehat seakan menjadi hal yang tidak terlalu di perhatikan, bahkan hampir seluruh sumber penyakit sebenarnya berasal dari gaya hidup yang tidak sehat.

__ADS_1


Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat mempungsikan tubuhnya. Kalau tidak di temukan jalan lain maka (Ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan. (Hr. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).


"Kakek mau kemana? Ayoo ikut bersama ku, aku akan mengantar kakek pulang." Ucap Raina sembari menggenggam erat jemari kakek Alfa. Bertemu dengan orang yang mewarnai masa lalu dan masa depannya membuat Raina merasa bahagia.


"Kakek tahu? Apa yang kakek lakukan dimasa lalu membuatku bertahan hidup sampai sekarang, disaat pasangan kejam itu menyiksaku tanpa makanan dan minuman, kakek hadir menjadi malaikat penolong." Ucap Raina dengan derai air mata yang tidak dapat ia tahan.


Raina melihat kakek Alfa terdiam sambil mencerna perkataannya.


Bagi Raina, kakek Alfa bukan sekedar lelaki tua, berkat kakek Alfa lah Raina bisa menjalani hidup barunya. Disaat ia kelaparan kakek Alfa hadir memberinya semangkuk mie ayam, dan di saat Raina mencoba kabur dari pasangan orang tua angkat kejamnya, kakek Alfa hadir menjadi saksi bisu kepergiannya.


"Kakek bahagia jika kamu bahagia." Tiba-tiba kakek Alfa menggenggam jemari Raina, ia tersenyum lebar sampai-sampai menampakkan satu atau dua giginya yang masih tertinggal.


"Besyukurlah kepada Allah! Barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri." Ucap kakek Alfa lagi.


Raina bengong!


"Wahai Cucuku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.


Wahai Cucuku!


Sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji Sawi, dan berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah maha halus, maha teliti.


Wahai Cucuku!


Wahai Cucuku!


Dan janganlah kamu memalingkah wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." Kakek Alfa menutup nasihatnya sembari tersenyum lebar.


Nasihat sebanyak itu? Raina hanya bisa memberikan respon terkejutnya, hari ini kakek Alfa bicara panjang lebar, seakan ia memberikan isyarat bahwa ia akan pergi dan tidak akan kembali lagi.


"Kakek, apa kakek akan pergi? Apa Raina boleh jujur?" Raina mengapit tangan kakek Alfa sembari memamerkan sikap manjanya.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kakek Alfa kecuali kedipan matanya.


"Kakek. Jika kakek masih muda, pasti aku akan jatuh cinta pada kakek." Goda Raina pada kakek Alfa, sungguh dalam setiap ucapan kakek Alfa mengandung hikmah luar biasa, dalam hatinya Raina berdoa semoga ia bisa menjalankan setiap nasihat bijaksana yang di dengarnya.


Pelukan hangat dari kakek Alfa mengakhiri sore penuh berkah Raina.


Terimakasih kakek, untuk segalanya. Seberat apapun masalah yang ku hadapi di masa depan aku tidak akan mengeluh. Karena aku tidak akan mengatakan masalah ku sangat besar, tapi aku akan mengatakan Allah maha besar! Lirih Raina dalam hatinya sembari menyaksikan kakek Alfa yang semakin jauh dari netranya.


"Kakek keras kepala! Kenapa dia tidak mengizinkanku untuk mengantarnya pulang, dan sekarang aku malah bersedih disini karena melihatnya jalan kaki. Lirih Raina lagi dalam kesendiriannya.


...***...


Senin pagi!

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 9.30 ketika Sawn terus saja mondar mandir di kantornya. Sesekali ia melihat ponselnya, ia berharap akan mendapatkan pesan.


"Dasar konyol! Tentu saja aku tidak akan mendapatkan pesan, aku bahkan tidak menayakan apa pun padanya." Sawn menyalahkan dirinya sembari menghempaskan tubuh jangkungnya di sofa empuk kantornya.


"Pak, maaf. Saya tidak bisa mengantar anda ke kantor. Saya harus kerumah sakit untuk pemeriksaan rutin." Ucapan Raina mengejutkan pagi hari Sawn Praja Dinata.


"Ada apa dengan mu, apa ketiga pembantumu tidak mengurusmu dengan baik?" Ucap Robin mengagetkan Sawn yang masih duduk sembari menyandarkan kepalanya di sofa.


Pletakkk!


Sawn melempar bantal tepat mengenai wajah datar Robin.


"Aawww... Apa kau tidak war..." Ucapan Robin tertahan di tenggorokannya karena mendengar suara ponselnya terus saja berbunyi. Senyumnya merekah karena melihat nama yang terpampang indah di ponselnya. Belum sempat menjawab panggilan, panggilan itu malah di tutup duluan. Dan itu berhasil membuat senyum merekah Robin kembali mengatup.


"Sekarang ada apa lagi dengan mu? Apa kekasihmu selingkuh dengan peria lain?" Bukannya khawatir dengan pertanyaan aneh Sawn, Robin malah duduk di samping Sawn sembari memamerkan wajah bahagianya.


"Dasar konyol." Ucap Sawn sambil meraih ponsel yang di sodorkan Robin padanya.


Maaf. Aku tidak bisa menjawab panggilan mas Robin. Aku sedang di rumah sakit untuk pemeriksaan. Kita akan bicara nanti, sekarang aku dalam perjalanan ke kantor. Tulis Raina dalam pesan singkatnya.


"Oohh... Jadi mereka sering bicara." Sawn menatap Robin dengan pandangan mematikan, dan tentu saja melihat sahabatnya bertingkah aneh membuat Robin merinding. Tanpa berucap sepatah kata Robin langsung keluar dari kantor Sawn Praja Dinata


Sementara itu, Raina baru saja menginjakkan kakinya di Lobby kantor. Setiap orang yang ia temui memandang dengan tatapan tajam kearahnya, seolah mata-mata itu memberikan isyarat kalau dirinya akan berakhir seperti dalam permainan, skatmat.


"Ooh... Jadi wanita perebut kekasih orang itu seperti ini? Mungkin gara-gara jilbabnya dia tidak bisa menemukan yang sesuai menurut levelnya." Ucap salah seorang kariyawan wanita bertubuh Ramping.


Jilbab?


Level?


Dua kata ini seolah menari di benak Raina, seluas mata memandang hanya dirinyalah yang menggunakan jilbab.


"Aku tidak mengerti maksut perkataan mu, apa kamu bisa mengulanginya?" Jawab Raina sembari menatap tajam kearah wanita yang berani membawa-bawa jilbab dalam urusan pribadi yang Raina masih tidak pahami.


Brusss!


Secangkir air dingin mendarat tepat di wajah polos Raina. Raina menatap satu per satu wajah setiap orang yang berdiri di depannya, mereka semua memandangnya dengan tatapan sama.


Berita tentang Raina berkembang dan memanas dalam satu malam. Tabloid Gosip menceritakan pada dunia bagaimana dalam semalam Raina berubah menjadi perebut kekasih orang, dan dalam hal ini jilbabnya yang ikut dipersalahkan, dan hal itulah yang paling menyakiti hati Raina Salsadila.


Saat kita membicarakan tentang kekuatan media, kita mengatakan pena lebih tajam dari pada pedang. Sesuai dengan pena yang lebih tajam dari pedang, itu juga berarti pena dapat menyebabkan luka yang lebih parah.


Dan saat ini, itulah yang terjadi pada Raina Salsadila. Ia tidak tahu berita apa yang sudah menghantam kehidupan tenangnya, dan itu berhasil meruntuhkan kepercayaan dirinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2