Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Ketika Muslimah Jatuh Cinta


__ADS_3

Cinta tumbuh bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan kemampuan menerima kelemahan-kelemahan orang itu secara sempurna.


Berkali-kali Yuna mengulangi dan mencoba mengerti kalimat singkat yang ia baca di bukunya, sayangnya ia terlalu lambat dalam memahami kalimat singkat itu.


Ternyata Vivi benar, untuk urusan cinta aku terlalu bodoh untuk bisa memahami hal kecil. Kakak sangat beruntung bisa menemukan kakak ipar di antara miliyaran gadis yang ada. Semoga aku bisa mencontoh kakak ipar dalam urusan cinta. Kakak ipar yang selalu menjaga diri dan kehormatannya, tidak lepas kontrol hanya karena nafsu belaka. Lirih Yuna pelan sambil memperbaiki bantal sandarannya.


Yuna melirik ponselnya, nama Vivi tertera disana, gadis konyol itu selalu saja mengganggu Yuna jika ada hal yang mengganggu pikirannya. Pelan Yuna meraih ponsel di atas nakas dengan tangan kirinya.


Apa kau sudah tidur?


Apa aku bisa menelpon?


Ayo katakan? Apa aku bisa menelponmu?


Hmmm! Kalian sama saja.


Malangnya diriku! Memiliki dua sahabat, dua-duanya tidak ada yang bisa di ajak bicara!


Hello... Hayyy....!


Yuna tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang Vivi kirimkan untuknya, belum sempat Yuna membalas pesan yang dikirimkan sahabatnya itu, pesan kedua, ketiga dan seterusnya masuk tanpa bisa di hentikan.


Dasar payah! Jika kau terus mengirim pesan, kapan aku bisa membalas pesanmu? Katakan padaku, apa yang mengganggumu? Balas Yuna dalam pesan singkatnya.


Sedetik kemudian ponsel Yuna berdering, tentu saja nama Vivi tertera disana.


"Ada apa dengan mu? Apa obat mu sudah habis sampai kau menggangguku tengah malam begini?" Ucap Yuna pura-pura kesal


"Sudahlah, kau tidak perlu berpura-pura kesal, aku tahu kau sedang tersenyum iya, kan?" Tanya Vivi di sebrang sana.

__ADS_1


"Hmm... Aku sangat khawatir pada Nela. Anak itu pura-pura tersenyum di depan kita, padahal ada masalah besar yang melumpuhkan jiwanya." Sambung Vivi lagi, ia memulai pembicaraan seriusnya dengan helaan nafas panjang, membuat Yuna khawatir sampai ia tersedak oleh air yang coba ia minum sebelum Vivi membuka suaranya.


"Apa maksutmu? Bukankah Nela baik-baik saja? Masalah apa yang kau bicarakan?" Yuna meletakkan buku yang ia baca di atas nakas kemudian berjalan pelan kearah balkon sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aku baru tahu, mama Nela yang selalu kita temui itu bukan mama kandungnya. Wanita itu adalah serigala berbulu domba."


Mendengar ucapan Vivi membuat Yuna terkejut luar biasa, hampir saja ponsel yang ada di tangannya terlepas karena ia tidak percaya wanita yang bersikap baik itu hanya berpura-pura untuk menutupi kekejamannya.


"Orang tua Nela bercerai dua tahun yang lalu. Dan bodohnya, kita tidak tahu papanya bangkrut setahun yang lalu. Untuk memuaskan nafsu gilanya, ibu tiri Nela bahkan tega mengirim Nela kita ke clab malam." Suara Vivi tertahan oleh tangisnya yang mulai pecah, gadis yang biasanya bersikap bar-bar berubah seratus delapan puluh derajat menjadi gadis melow yang larut dalam duka sahabatnya.


"Ka-katakan pa-da ku, siapa yang mem-beri-tahu kan mu?" Tanya Yuna dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menepuk-nepuk dadanya seolah ada yang nyeri di dalam sana.


"Kau ingat kak Adam? Dia senior kita di kampus. Aku bertemu dengannya pagi ini, dia memberi tahukan ku kalau ia bertemu dengan Nela di clab malam.." Sambung Vivi lagi dengan suara serak.


"Di mana clab itu? Kita harus mencari Nela." Balas Yuna dengan suara keras sambil berjalan dan menutup kembali pintu balkon.


"Itu tidak penting! Yang terpenting kita bisa menyelamatkan Arnela sebelum semuanya bertambah buruk. Kau harus menjemputku, aku tidak bisa membawa mobil." Ucap Yuna sambil menutup panggilannya.


Banyak orang keluar masuk dalam kehidupan anda, tapi hanya sahabat sejati yang akan meninggalkan jejak kaki di sanubari anda. Dan Berjalan di kegelapan lebih baik jika bersama teman dari pada berjalan sendirian di dalam terang.


Yuna mengambil baju hangat dari lemarinya, ia berjalan pelan meninggalkan kediaman Dinata, ia tidak boleh tertangkap sampai ia bisa memastikan kebenaran dari ucapan Vivi tentang Arnela.


...***...


Malam semakin larut, namun tidak ada tanda-tanda Sawn dan Raina akan beranjak dari balkon lantai dua kediaman Dinata. Hampir dua jam mereka berdiri disana, bahkan dinginnya malam tidak lagi terasa bagi dua insan yang di mabuk cinta.


"Katakan padaku, sejak kapan kau jatuh cinta padaku? Apa sejak kau tinggal dirumahku? Atau sejak aku melamarmu?" Sawn bertanya penuh semangat. Sementara Raina, ia hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan suaminya, ia sedang berpikir sejak kapan percikan api cinta mulai menyala di hatinya.


"Apa aku perlu menjawabnya?" Raina bertanya sambil memandang netra teduh Suaminya.

__ADS_1


"Tentu saja!" Ucap Sawn singkat, sedetik kemudian ia melayangkan kecupan hangat di puncak kepala Raina.


"Hmm, sepertinya..."


"Sepertinya, kapan?" Tanya Sawn tak sabaran.


"Kau ingat acara amal perusahaan?" Lagi-lagi Raina bertanya sambil memandangi netra teduh suaminya.


Untuk sesaat Sawn terdiam sambil menghadirkan kembali memori lama yang coba ia lupakan, memori yang hampir merenggut nyawanya.


"Maksutmu tentang tragedi lampu gantung?" Kali ini Sawn yang bertanya, waktu begitu cepat berlalu. Dan saat itulah saat pertama kalinya Sawn dan Raina saling bersentuhan kulit tanpa di sengaja, saling memandang dari jarak dekat sampai mereka bisa mendengar deru nafas masing-masing.


Raina menjawab pertanyaan Sawn dengan anggukan kepala. Sambil mengatur nafasnya, Raina kembali menangkupkan kedua tangannya di wajah tampan Sawn Praja Dinata, tak malu-malu ia bahkan menempelkan keningnya pada kening pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Saat itu, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku. Aku selalu berusaha menghindarimu dengan segala kekuatan yang kupunya. Entah takdir apa yang sudah di Gariskan Tuhan untuk ku. Setiap kali aku mencoba menghindar darimu, pada saat yang sama Tuhan selalu mempertemukan ku dengan mu, dengan jodoh yang sudah di tuliskan untuk ku jauh sebelum aku tercipta." Ucap Raina pelan sambil membayangkan setiap momen yang sudah ia lalui bersama pria tertampan di dunia, pria yang sudah menjadi suaminya, Sawn Praja Dinata.


"Kenapa kau tidak mengatakan apa pun setelahnya? Aku bahkan sangat putus asa ketika kau menolak ku!" Balas Sawn dengan derai air mata.


"Ketika muslimah jatuh cinta! Kami tidak akan berkata ayo kita pacaran! Ketika muslimah jatuh cinta! Kami hanya memiliki dua pilihan." Ucap Raina menggantung kalimatnya. Cukup lama mereka berdua terdiam, saling menyalurkan perasaan masing-masing.


"Ketika muslimah jatuh cinta, pilihan apa yang mereka punya? Apa di antara dua pilihan itu salah satunya adalah pilihan mu juga?" Sawn bertanya pelan, disaksikan cahaya Rembulan yang menyinari mereka berdua.


"Ia, salah satunya pilihan ku. Pilihan ku adalah, aku lebih memilih mencintai mu dalam diam. Cinta yang hanya di ketahui oleh Rabb ku. Cinta ku terbingkai dalam diam, bahkan Setan sekalipun tidak akan tahu tentang rasaku yang terpendam.


Jika aku mencintai dalam diam, aku tidak akan merasakan sakitnya penolakan. Karena itulah aku lebih memilih menolakmu ketika kau mengungkapkan perasaan mu padaku, aku tidak ingin seorang pria mencintaiku karena nafsu belaka." Sambung Raina, tanpa ia sadari air matanya perlahan mulai menetes membasahi wajah ayu nya, ada kebahagian besar yang tidak bisa ia ungkapkan dengan sekedar kata-kata, rasa syukurnya pada yang Kuasa melebihi segala hal yang ada.


Aku baru menyadari bahwa antara cinta dan rasa ingin memiliki itu tidak sama. Tak ragu ku katakan memilikimu dan mencintaimu adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan. Lirih Sawn dalam hatinya, Sawn kembali melayangkan kecupan di puncak kepala Raina. Sementara hatinya tak berhenti bertakbir, mengagungkan Tuhan yang menggenggam jiwanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2