Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Kejutan Besar


__ADS_3

Sejak semalam Raina merasakan nyeri di setiap inci tubuhnya, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Melihat wajah lelah Sawn yang baru saja terlelap, membuatnya tidak nyaman untuk membangunkan suaminya itu.


Dalam hati, Raina berdoa semoga pajar segera tiba, seiring berjalannya waktu rasa nyerinya pun akan segera sirna. Pukul tiga pagi Raina baru bisa terlelap lagi.


"Sayang, wajahmu terlihat pucat! Aku tidak perlu kekantor, aku akan menemanimu kedokter!" Ucap Sawn di penuhi kekhawatiran.


"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh. Ini hanya masuk angin biasa." Balas Raina sembari menangkup wajah Sawn dengan kedua tangannya.


"Kau yakin tidak apa-apa?" Sawn kembali bertanya, terdengar nada berat dalam setiap untaian kalimatnya.


"Mmm!" Balas Raina singkat sambil menganggukan kepala.


"Apa kau yakin mau kepanti? Bagaimana kalo besok saja? Besok aku bisa menemanimu, aku benar-benar tidak bisa melepasmu sendiri."


"Kata siapa aku akan pergi sendiri? Aku bisa pergi dengan mang Ujang, atau dengan taksi saja, itu lebih mudah." Balas Raina sambil berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sisi kanan yang menghadap kearah Sawn, sejujurnya ia ingin muntah, dan kepalanya terasa berputar. Jika Sawn tahu apa yang di alami Raina Saat ini, maka sudah di pastikan sikap protektif Sawn akan mengekang langkah kakinya.


"Aku tidak akan melarangmu, tapi kau tidak boleh menolak, aku akan mengantarmu sampai kepanti." Jawaban singkat Sawn untuk Raina mengakhiri perbedaan pendapat yang ada.


Raina tidak akan pernah menolak keputusan yang di buat Sawn selama keputusan itu tidak bertentangan dengan sariat Agama. Bagi Raina, mengikuti ucapan suami adalah segalanya selama hal itu mengandung kebaikan di dalamnya.


Sawn benar-benar mengantar Raina sampai di depan panti, sayangnya ia tidak bisa mampir karena kesibukannya.


Pelan Raina melangkahkan kaki memasuki Panti yang selama ini menjadi istana tempat tinggalnya, semua hal ada di dalamnya. Seperti kemarau yang menunggu hujan turun, semua kisah sedih dan bahagianya tertulis dalam kesempurnaan karunia yang maha kuasa.


Raina berdiri mematung di depan pintu sembari menatap wajah adik-adik manisnya. Ia nampak sedih ketika si kembar Serly bertanya dimana keberadaan kakak Raina-nya, namun dengan cepat bu Romlah menutup mulut bocah itu dengan tangan bu Romlah sendiri.


Tak ingin berlama-lama larut dalam pikirannya sendiri, Raina masuk kedalam rumah sembari mengucapkan salam. Sambutan dan pelukan hangat dari adik-adiknya membawa kedamaian besar dalam diri sosok Raina, di tatapnya ibu yang selama ini membesarkannya dengan tatapan penuh cinta.


Raina sangat merindukan pelukan ibunya, ia melangkah menuju bu Rahayu yang saat ini duduk sambil melipat pakaian.

__ADS_1


"Bu. Raina rindu ibu! Hari ini Raina sangat bahagia! Bu Raina hammmm!"


Plakkkk!


Ucapan Raina tertahan di tenggorokannya, bukannya mendapat pelukan hangat, justru tamparan yang mendarat di pipi kanannya.


"Aku tidak perduli kau bahagia atau tidak! Kau benar-benar keterlaluan! Beraninya kau berbohong padaku, ibumu!" Ucap bu Rahayu dengan nada meninggi.


"Hari ini kau benar-benar membuktikan diri, bahwa anak angkat tidak bisa menjadi anak kandung." Bu Rahayu menatap wajah pucat Raina dengan perasaan sakit luar biasa, sebenarnya ia penasaran dan ingin mendengar berita bahagia apa yang di bawa putrinya itu bersamanya, sayangnya amarahnya telah melumpuhkan akal sehatnya sampai ia sendiri tidak sadar begitu dalam rasa sakit yang di torehkan kata-kata singkatnya dalam lubuk hati terdalam Raina.


Bagai di sambar petir di siang bolong, rasanya Raina ingin leyap saja sebelum ia mendengar kata-kata menyakitkan ibunya.


"Pergi dari hadapanku!" Ucap bu Rahayu lagi, ia memalingkan wajahnya dari Raina.


Raina masih berdiri mematung, hilang sudah kebahagiaannya. Rasanya ia ingin menangis, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak meneteskan bulir-bulir bening itu di hadapan ibunya, jika ia sampai menangis maka ibunya pun akan menangis.


Semua mata memandang bu Rahayu dengan tatapan marah, makanan yang bu Romlah bawa dari dapur untuk si bungsu Amel pun sampai terlepas dari tangannya karena kejutan yang di lihatnya hampir saja membunuhnya.


"Bude bilang, masukkkk!" Bu Romlah bicara dengan nada tinggi sembari menatap anak-anak dengan tatapan tajam.


"Mbak yu... Apa yang mbak yu lakukan?" Tanya bu Romlah setelah anak-anak masuk kekamar mereka sambil membawa tangisannya.


"Seharusnya mbak yu tidak perlu menampar Raina di depan adik-adiknya! Bahkan jika mbak yu mau... Mbak yu bisa membunuhnya di kamar saja." Air mata bu Romlah menetes deras tanpa bisa di tahan lagi, menatap wajah pucat Raina membuatnya merasakan sakit luar biasa.


"Cukup Romlah, cukup."


"Itulah maksudku mbak, cukup! Mbak yu tidak perlu melampiaskan amarah mbak yu padanya."


"Kalian berdua sama saja! Dan kamu Raina..." Bu Rahayu menatap Raina dengan tatapan setajam belati, sementara yang di tatapnya hanya bisa membisu.

__ADS_1


"Apa kamu begitu mencintai lelaki itu sampai kamu takut ibu akan menolaknya jika ibu tahu dia keluarga Andre, katakan? Ibu benar-benar kecewa padamu! Pergi dari sini, ibu tidak ingin melihat wajahmu!" Bu Rahayu meninggalkan ruang tengah dengan kemarahan yang masih membuncah.


Air mata yang Raina coba tahan mulai tumpah setelah bu Rahayu meninggalkannya dengan ucapan menusuknya. Bu Romlah menatap wajah sedih Raina, kemudian pergi menyusul bu Rahayu ke-kamarnya.


Ibu marah padaku! Ibu tidak ingin melihat wajahku! Maka kesedihan mana lagi yang lebih besar dari ini? Raina bergumam sendiri sambil berjalan keluar dari panti dengan tertatih-tatih.


Hiks.Hiks.Hiks.


Bu Rahayu pun menangis pilu di kamarnya, membayangkah wajah terkejut Raina menerima perlakuan kasar darinya membuat bu Rahayu serasa mati rasa.


"Apa mbak yu sudah puas? Apa mbak yu sudah mengeluarkan semua racun yang ada di dalam hati mbak yu? Kenapa mbak yu sangat tega menyakiti Raina! Hiks.Hiks!" Bu Romlah benar-benar tidak bisa menahan air mata kesedihannya.


"Tidak ada yang lebih mengenal mbak yu selain Raina dan Romlah! Dan tidak ada juga yang lebih mengenal Raina selain kita berdua!


Anak itu melakukan hal yang benar dengan menyatukan Andre dan ibunya! Karena Raina tahu ibunya tidak akan pernah bisa melakukan itu seumur hidupnya!


Kenapa mbak yu tidak pernah cerita kalau trauma yang mbak yu rasakan selama merawat Raina kecil masih membekas di hati mbak yu?


Seharusnya mbak yu cerita sehingga aku tidak akan mendukung Raina? Aku tahu mbak sangat baik, dan aku juga tahu perasaan mbak yu terhadap anak-anak mbak yu! Tapi kali ini, mbak yu benar-benar keterlaluan, dengan memberikan tamparan dan ucapan kasar pada Raina, mbak yu telah membuktikan ucapan mbak yu sendiri bahwa 'Ibu angkat tidak akan pernah bisa bertindak seperti ibu kandung."


Bu Romlah keluar dari kamar bu Rahayu dengan perasaan sesak luar biasa, ia tidak pernah menyangka akan bicara sekejam itu pada kakak yang selama ini merawatnya dengan penuh cinta.


Sementara itu di tempat berbeda, Raina berjalan tanpa arah dan tujuan, mengingat ucapan ibunya bagai pukulan besar untuk tubuh dan jiwanya.


"Hai... Apa kamu ingin tiada? Jika kamu ingin tiada jangan disini. Nyusahin aja." Ucap pengendara yang melintas di jalan raya dan hampir saja menabrak Raina.


"Ahhh maafffff!" Ucap Raina pelan setengah sadar. Seluas mata memandang, Raina hanya melihat kendaraan saja, ia benar-benar tidak sadar ia berjalan sangat jauh sampai kakinya terasa lemas.


Berbuat yang terbaik pada titik di mana kau berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis. Raina pun hanya ingin melakukan hal yang dia anggap terbaik, ia benar-benar tidak tahu hal yang di anggapnya baik telah melukai perasaan ibunya teramat dalam, dan hal itulah yang membuat jiwa Raina terguncang sangat dalam.

__ADS_1


Kejutan besar yang Raina hadapi hari ini setidaknya akan membutuhkan waktu untuknya bisa tersenyum lagi.


...***...


__ADS_2