Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Rencana Jahat


__ADS_3

Hahaha....


Gelak tawa yang bersumber dari meja Sawn, Robin dan Prof. Zain memenuhi indra pendengaran beberapa gadis yang melintas dan memandang takjub pada mereka. Tiga pria yang duduk di satu meja itu bagaikan lukisan indah yang tak ternilai harganya.


Robin terus saja membuat lelucon, sampai Prof. Zain tertawa cekikikan. Mereka baru saja bertemu namun mereka tampak seperti sahabat yang sudah lama terpisah. Bahkan Yuna yang berdiri tidak jauh dari meja kakaknya itu hanya bisa menghela nafas kasar. Membayangkan sikap kocak Robin yang mulai kambuh membuatnya tersenyum sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.


Malam ini Robin tampak mempesona, ia bahkan tidak melepas senyuman dari bibirnya, jas biru yang ia gunakan menambah kesempurnaan penampilannya. Baginya penampilan seseorang menunjukkan siapa mereka sebenarnya, karena itulah Robin selalu berpenampilan sempurna walau hanya berada dirumah saja. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, namun itu sama sekali tidak mempengaruhi ketampanannya.



"Prof. Zain, katakan, wanita seperti apa yang kau inginkan? Aku memiliki banyak teman wanita. Jika kau mau, aku bisa mengenalkan salah satunya dengan mu." Ucap Robin memulai percakapan seriusnya. Ia meletakkan botol air mineral yang ada di tangannya di atas meja.


Cihhhh!


Sawn memandang remeh kearah Robin. Rasanya ia ingin tertawa lepas mendengar ucapan sahabat narsisnya.


"Kau yakin ingin mengenalkan Prof. Zain dengan teman wanitamu? Kau sendiri Jomblo sejak lahir, sekarang kau ingin menyombongkan diri. Dasar payah." Ucap Sawn sambil memandang Robin dengan tatapan tajam.


Robin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum untuk mencairkan suasana yang mulai membosankan.


"Maaf tuan, ini jus yang anda minta." Ucap seorang pelayan pria yang tiba-tiba datang dan meletakkan tiga gelas jus di atas meja.


"Hai... Kami tidak ingin minum jus." Ucap Sawn sambil menunjuk kearah pelayan yang hampir pergi.


"Sudahlah. Biarkan saja dia pergi. Aku yakin dia masih banyak pekerjaan." Ucap Robin tanpa menghiraukan ucapan sahabatnya.


"O iya Prof. Zain... Wanita seperti apa yang kau inginkan menjadi pendampingmu?"


"Aku suka wanita dingin dan baik hati. Aku juga suka wanita yang diam-diam tersenyum padaku, yang menatapku penuh cinta." Tutup Prof, Zain sambil tersenyum bahagia. Sawn dan Robin yang mendengarnya justru merasa heran, mereka berpikir tidak akan ada wanita seperti itu di dunia ini, seandainya mereka melihat tatapan mata Prof. Zain yang terus saja menatap Yuna maka mereka akan segera menemukan jawaban dari keraguannya.


"Ya sudahlah, terserah anda saja. Aku tidak punya stok wanita seperti itu." Ucap Robin pasrah.


"Dimana nona Raina? Sejak tadi aku tidak melihatnya." Prof. Zain kembali membuka suara, bertanya sambil menatap wajah Sawn dengan tatapan penasaran.


Sawn menghela nafas kasar, kemudian ia meraih gelas jus yang ada di depannya. Ia meminum jus itu tanpa tersisa sedikitpun.


"Kau lihat wajahnya? Itu wajah seorang pria yang putus asa karena kekasihnya tidak disini." Guyon Robin sambil menepuk bahu kekar Prof. Zain.

__ADS_1


"Yaya... Kau bisa meledekku. Jika nanti kau menemukan gadis yang berhasil membuatmu putus asa karena sangat merindukannya, saat itu aku akan balas meledekmu." Ancam sawn pada Robin yang saat ini menertawainya tanpa beban.


"Raina ku sakit. Aku harus pulang!" Ucap Sawn lagi, baru saja ia bangun dari kursi yang ia duduki, hampir saja ia tersungkur. Untungnya Prof. Zain segera meraih lengannya.


Robin dan Prof. Zain saling tatap tak mengerti melihat kondisi Sawn yang tampak seperti pria yang menghabiskan belasan botol minuman beralkohol.


"Ada apa denganmu?" Robin tampak khawatir, ia menepuk pelan bahu Sawn.


"Sepertinya dia meminum minuman beralkohol." Tebak Prof. Zain asal.


"Tidak mungkin. Sawn tidak suka meminum minuman seperti itu. Bahkan jika kita tiada karena memaksanya, ia tidak akan luruh untuk itu." Ucap Robin tegas, ada kegeraman luar biasa dari nada suaranya.


Pelan Robin meraih gelas jus miliknya dan mencicipinya.


Puhhhhh! Robin memuntahkan kembali minumannya kedalam gelas.


"Seseorang dengan sengaja mencampur jus ini dengan minuman haram itu. Aku bersumpah akan memberinya pelajaran jika aku tahu siapa orang kurang ajar itu!" Robin benar-benar geram.


"Apa tuan Sawn benar-benar tidak bisa minum? Dia hanya minum sedikit. Kenapa keadaannya lebih buruk dari keadaanku saat aku menghabiskan dua botol?"


"Bawa akuuu pullanggg! Akuu rinduuu Raina kuuu!" Ucap Sawn dengan suara setengah sadar.


"Bantu aku membawanya keparkiran, biarkan supirnya yang akan membawanya pulang." Ucap Robin pada Prof. Zain yang saat ini berdiri di sisi kanannya. Mereka berdua sengaja menutupi tubuh tak berdaya Sawn untuk menghindari kecemasan pak Andi, bu Hanum dan Yuna.


"Mang, tolong bawa Sawn pulang. Begitu kalian sampai rumah, pastikan agar dia tidak bertemu dengan Raina. Aku yakin, jika Raina tahu kondisi Sawn saat ini, wanita saliha itu pasti akan marah besar." Ucap Robin begitu ia sampai di parkiran. Robin memegang pundak mang Ujang, menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada pria separuh baya itu.


Mang Ujang terlihat menghela nafas kasar, melihat tuannya tak berdaya membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit luar biasa.


Pesta akan tetap berlanjut walau tanpa kehadiran Sawn Praja Dinata, namun di balik kokohnya dinding hotel yang tak jauh dari tempat Sawn berada, seorang gadis anggun mulai mendengus kesal. Ia murka pada Robin dan Prof. Zain. Rencana matang yang sudah ia susun dengan rapi berantakan di depan matanya. Entah pada siapa lagi ia akan membalas kekesalannya.


...***...


Waktu baru saja menunjukkan pukul 23.00 ketika mobil yang di kendarai mang Ujang memasuki kediaman mewah Sawn Praja Dinata. Dengan sigap mang Cecep dan mang Anwar berlari membuka gerbang besi.


Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat tuannya tak sadarkan diri.


"Aakuu billang akku mau bertemu Raina ku. Raina kuu adda di manna...?" Ucap Sawn lagi, perlahan ia mulai bisa mengontrol diri.

__ADS_1


"Tuan kenapa? Kenapa cara bicaranya seperti itu?" Mang Cecep menepuk pundak mang Ujang berusaha mencari tahu.


"Saya kurang tahu, kang! Ketika mas Robin membawa tuan keluar dari hotel, keadaan beliau sudah seperti ini." Ucap mang Ujang sambil menunjuk kearah Sawn yang tak berdaya.


"Mas Robin memerintahkan kita agar tuan tidak bertemu dengan non Raina dulu! Takutnya non Raina akan marah besar." Sambung mang Ujang dibarengi dengan helaan nafas panjangnya.


Sementara itu di kamarnya, Raina baru saja terlelap. Ia bahkan tidak sempat melepas mukena yang ia gunakan. Ia terlalu larut dalam perasaan sedihnya. Sesekali ia mengusap perut ratanya, berharap janin yang ada dalam kandungannya tumbuh menjadi anak yang soleh atau saleha. Jenis kelamin bukan menjadi masalahnya, entah laki-laki atau perempuan sama saja.


Cukup lama Raina menanti kedatangan Sawn Praja Dinata untuk membagi kabar bahagianya. Jam 9 Sawn tak kunjung pulang, hingga jam 10.30 Raina tidak bisa lagi bertahan untuk tetap terjaga. Ia terlelap di atas sajadah yang menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihannya, kebahagiaan karena di karuniakan kepercayaan menjadi seorang ibu, dan kesedihan karena kemarahan ibunya.


"Sayang bangun...!" Tak ada pergerakan dan tanggapan, tubuh kekar itu kembali menggoyangkan tubuh Raina yang baru saja terlelap.


Dua menit setelah membaringkan tubuh kekar tuannya di sofa ruang kerjanya, mang Ujang, Cecep dan Anwar meninggalkan Sawn sendiri setelah menyalakan lampu. Hanya lima menit Sawn bertahan di ruang kerjanya kemudian ia berjalan keluar setengah sadar untuk menghampiri Raina.


Sekarang ia malah menggoyangkan tubuh Raina, meminta wanita yang paling ia cintai itu tidur di atas ranjang, sejujurnya tenaga Sawn tidak akan bisa mengangkat tubuh ramping Raina. Ia sendiri masih belum bisa bicara dengan benar efek dari jus yang di campur dengan minuman beralkohol itu.


"Sayang, bangun. Ini sangat dingin, kau tidak boleh tidur di bawah. Aku tidak ingin kau sakit, cukup aku saja yang sakit." Ucap Sawn dengan nada suara berat.


"Mmm... Kau sudah pulang?" Tanya Raina dengan suara khas bangun tidur, perlahan ia membuka mata. Sedetik kemudian ia tersenyum bahagia melihat wajah tampan suaminya.


Sawn menyangga tubuh lemahnya di sofa dekat Raina, ia pun balas tersenyum pada istrinya itu sambil menangkup wajah Raina dengan tangan kanannya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah pulang? Ahhh maafff!" Ucap Raina sambil bangun dari sajadahnya.


"O iya... Aku sudah katakan kalau aku akan memberitahukan kabar bahagia setelah kau pulang." Ucap Raina lagi. Senyum bahagia masih mengembang di bibir tipisnya. Tidak ada tanggapan apa pun dari Sawn, ia memiringkan kepalanya ingin meraih bibir Raina.


Hampir saja bibir Sawn menempel di bibir ranum milik Raina, bau minuman yang menguar dari bibir Sawn membuat Raina tertegun dan ingin muntah.


Dengan keras Raina mendorong tubuh Sawn hingga membentur sofa.


Auuu! Sawn meringis kesakitan. Ingin sekali Raina menangis lagi mendegar rintihan dari suaminya, namun dengan cepat ia berusaha menguasai diri agar tidak hanyut dalam perasaan sedih lagi.


"Aku sudah bilang padamu untuk tidak meminum minuman memabukkan itu! Kau sama sekali tidak mau mendengarkan permintaan kecilku! Aku tidak ingin melihatmu, jangan temui aku sampai kau sadar kembali." Ucap Raina ketus. Dengan cepat ia berlari keluar kamar meninggalkan Sawn yang tidak berdaya karena masih terpengaruh minuman memabukkan itu.


Mata Raina yang baru saja kering kembali meneteskan air mata. Berita bahagia yang coba ia bagi dengan ibu dan suaminya berakhir dengan deraian air mata. Entah kapan Raina bisa membagi berita bahagianya, semua hal menyangkut kehidupannya telah ia serahkan sepenuhnya pada Tuhan yang menggenggam jiwanya. Raina percaya, setiap hal yang terjadi dalam kehidupannya tidak akan terjadi tanpa kehendak yang Kuasa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2