
Berani sekali dia membuat keluarga ku menangis. Walaupun aku menyukainya bukan berarti dia bisa seenaknya pada keluargaku. Gerutu Raina sambil mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang.
"Tidak tahu seburuk apa keluarga itu! Wahh... Aku benar-benar kesal jika aku mengingat ucapannya itu. Dia mengancamku agar aku bisa tinggal di rumah mewahnya, dan sekarang aku tidak perduli lagi dengan si arogan itu." Ucap Raina sambil menekan klakson di tangan sebelah kirinya.
"Hai pak, jika anda tidak bisa menyetir seharusnya anda meminta orang lain saja, atau anda bisa tinggal di rumah agar pengendara lain selamat dari ulah anda." Ucap Raina pada pengendara yang ugal-ugalan.
Tatapan kesal laki-laki separuh baya itu seolah ingin menguliti Raina dengan kata-kata kasarnya. Kulitnya hitam, dan matanya memerah. Raina menaksir kalau laki-laki separuh baya itu sedang terpengaruh minuman beralkohol.
"Tiga hal yang paling ku benci, pemabuk, perokok, dan terakhir pengendara yang menggunakan telpon. Dan lelaki aneh ini masuk dalam kategori nomer satu, pemabuk. Aku benci ini." Ucap Raina kesal, kemudian mencoba menghentikan pengendara itu.
"Hai pak. Anda tidak seharusnya berkendara, anda akan membahayakan jiwa orang lain. Segera turun dari sana dan minta keluarga anda untuk menjemput anda."
Bukannya mengindahkan ucapan Raina, orang itu malah menambah kecepatannya. Bukan itu saja, yang membuat Raina semakin kesal pengendara ugal-ugalan itu menjulurkan lidahnya, kemudian melempar kaleng kosong bekas membuat motor Raina terjatuh menghantam pembatas jalan.
"Aaahhh... Kaki ku." Raina meringis kesakitan, dengan cepat Raina menekan nomor pengaduan.
Selamat siang pak, saya berada di jalan .... Ada pengendara ugal-ugalan. Bukan itu saja, dia sedang mabuk. Adu Raina setelah menekan cepat nomer pengaduan.
Jika masyarakat tidak bertindak, kekejaman yang ada di sekitarnya akan meraja lela. Jika Raina tidak bisa menghukum pengendara jahil itu, setidaknya Polisi yang akan memberikan pelajaran padanya.
"Darah! Tangan ku berdarah? Auu... Ini sangat sakit." Ucap Raina sembari bangun dari posisi duduknya.
"Aku berharap orang payah itu sudah tertangkap. Gara-gara pemabuk sepertinya dunia jadi tidak aman untuk perempuan." Ucap Raina sambil membuang nafas kasar, berharap kekesalannya berkurang.
Yas 'alunaka 'anil-khamri wal-maisir, qul fihima ismung kabiruw wa manafi'u lin-nasi wa ismuhuma akbaru min-naf 'ihima.
Mereka menanyakan kepadamu(Muhammad) tentang Khamer(Minuman keras) dan Judi, katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.
...***...
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau sudah membuat kekacauan besar! Seharusnya kau berunding dengan kami terlebih dahulu baru kita sama-sama memutuskan langkah apa yang harus kita ambil." Ucap pak Andi marah, ia masih tidak percaya adik perempuan satu-satunya melakukan hal yang di larang dalam keyakinan yang di anutnya.
"Kakak maafkan aku. Aku sudah menghancurkan kepercayaan mu." Ucap bu Alya sambil berjalan menuju pak Andi dengan derai air mata yang tak dapat ia tahan.
__ADS_1
"Pertama-tama kita harus minta maaf pada Raina dan keluarganya. Tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang keluarga kita. Gadis malang itu menjaga keluarganya seperti menjaga Mutiara berharga, tidak akan mudah mengambil anak itu darinya." Ucap pak Andi lagi.
Sawn bangun dari posisi duduknya, ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan urusan rumit keluarganya. Membayangkan wajah kesal Raina membuatnya masih merinding.
"Kau mau kemana?" Tanya bu Hanum sepontan.
"Aku akan kembali ke kantor. Sebagai atasan aku tidak boleh meninggalkan kantor terlalu lama." Balas Sawn pelan.
Lakukan apa pun yang kalian inginkan. Jangan libatkan aku dalam urusan ini. Masalah ini membuatku kesal. Ingin sekai Sawn mengatakan itu, namun ucapannya seolah tertahan di tenggorokannya. Melihat wajah orang-orang yang di sayanginya terlihat tenggang membuat Sawn ingin menghilang saja.
Di antara miliyaran orang, kenapa harus adiknya Raina? Ohh Tuhan, kau membuat ku berada dalam masalah. Bukankah kita sudah berdamai? Lalu untuk apa masalah ini? Bagaimana caraku berdamai dengan Singa Betina itu? Lirih Sawn sambil melangkah meninggalkan keluarganya yang masih sibuk membahas masalah adiknya Raina.
Sementara itu di rumah sakit, bu Romlah terlihat panik. Setengah jam berlalu belum juga ada kabar dari dokter. Bahkan tubuhnya masih bergetar, baru kali ini ia mengalami hal yang membuat nafasnya sesak.
"Jika terjadi hal buruk pada mbak yu, aku pasti akan menyumpahi pereman itu agar mengalami nasip sial tujuh turunan. Apa yang ku katakan...?" Gumam bu Romlah dalam keputus asaan.
"Bude." Raina menghampiri bu Romlah dengan langkah tertatih, kakinya terasa nyeri akibat terpelanting membentur pembatas jalan. Untungnya ia tidak mengalami luka parah, hanya sedikit goresan di kakinya.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau berjalan seperti itu? Bukankah ketika kau meninggalkan rumah kau baik-baik saja. Oh Tuhan, lengan mu berdarah." Ucap bu Romlah terkejut, ia menarik Raina menuju ruang dokter yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
"Jangan bicara lagi, apa kau ingin ku pukul? Lihat caramu berjalan? Dan lengan mu ini, apa ini lengan seorang wanita?" Bu Romlah menangis dalam pelukan Raina. Melihat lengan Raina robek dan masih mengeluarkan darah segar membuat bu Romlah hilang kendali.
"Lengan mu harus di jahit!"
"Akan ku lakukan." Balas Raina cepat.
Seorang dokter muda meminta Raina untuk mengikutinya, tanpa berucap sepatah kata pun Raina mengikuti langkah dokter wanita itu dari belakang.
...***...
17:00 Perusahaan
"Kau dari mana saja? Untuk apa ponselmu jika kau tidak bisa di hubungi!" Robin menatap Sawn kesal.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Robin lagi karena tidak mendapat respon dari Sawn.
"Apa aku harus tidak baik-baik saja agar kau diam! Aku sedang kesal." Ucap Sawn ketus.
"Yayaya... Aku bisa melihat itu dari wajahmu!" Ucap Robin sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.
"O iya... Aku lupa memberi tahumu, Mr.Ruan akan datang kemari besok, dia dan pengawalnya sudah kembali!" Ucap Robin lagi, kali ini ia membuka Lolipop, menghisapnya tanpa memperdulikan Sawn yang masih terlihat kesal.
Kenapa si kulit pucat itu harus datang sekarang? Apa dia sudah tahu aku dan Raina dalam masalah? Ooh Tuhan, apa lagi ini? Apa si kulit pucat itu adalah musuh dalam kehidupan masa lalu ku? Kenapa dia selalu muncul di saat yang tidak tepat. Lirih Sawn panjang kali lebar dalam diamnya.
"Apa kau marah padaku?" Robin bertanya karena melihat Sawn terlihat geram sembari mengepalkan kedua tangannya hendak menghajar lawannya.
"Tidak!" Balas sawn singkat.
"Baguslah kalo begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkan mu. Seharusnya aku ikut Mr.Ruan liburan ke Jogja, aku tidak perlu terjebak di sini bersamamu." Ucap Robin lagi sembari membayangkan wajah ayu Tina, gadis yang ia temui terakhir kali ketika ia dan Sawn bertemu untuk urusan bisnis mereka di Jogja.
Dasar payah. Aku sedang mengkhawatirkan Raina ku, dia malah membicarakan soal jalan-jalan bersama si kulit pucat itu. Ooh Tuhan, aku berharap bisa mengirimnya ke China saja agar aku tidak terlibat dengan ke konyolannya. Gumam Sawn pelan, berharap Robin tidak mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
"Cinta perlu pembuktian. Akan ku buktikan aku lah yang terbaik untuk mu." Lirih Sawn pelan sambil menutup matanya, membayangkan wajah tersenyum Raina.
Aku terlanjur merasakannya.
Perasaan cinta yang teramat dalam.
Kerja kerasnya.
Dan parasnya yang penuh mimpi.
Akankah cinta ini bisa menghilangkan dahagaku?
Pandangan matanya yang tajam, seolah membiusku.
Ketegasannya seolah mematahkan sayap-sayapku. Bahkan jika aku punya sayap lebih dari satu, ku pastikan aku hanya akan terbang ke arahmu.
__ADS_1
...***...