Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Cemburu


__ADS_3

"Good afternoon Mr.Sawn. Good afternoon Mr.Robin." Ruan tiba di kantor Sawn sembari memamerkan senyum manisnya.


Matanya menerawang kesegala arah mencari sosok yang di rindukan netranya selama sepekan ini.


Hhmm! Ruan menghela nafas berat, wajah tampannya terlihat kecewa. Sebenarnya Sawn penasaran apa yang membuat rekan bisnisnya merasa tidak nyaman, namun egonya terlau besar untuk sekedar bertanya 'Ada apa'. Sawn memperkirakan, jika lelaki tampan di depannya ini membuka mulut, ia pasti akan bertanya tentang Raina. Memikirkan itu saja sudah membuatnya kesal.


"Do you need something?" (Apa kau butuh sesuatu). Robin bertanya sambil menyodorkan secangkir teh hijau. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir merah muda alami Ruan, ia hanya menggelengkan kepala mewakili perasaannya.


"Baiklah Mr.Ruan, kita sudah sepakat untuk kerja sama bisnis ini, kita akan selalu berkomunikasi selama dua tahun kedepan. Senang bekerja sama dengan anda." Ucap Sawn sembari menyodorkan tangan, mengumbar senyum tipis di wajah menawannya.


Sawn dan Ruan saling berjabat tangan. Sesekali mereka saling melempar senyuman.


Entah apa yang di ucapkan Ruan pada pengawalnya dengan menggunakan bahasa yang sulit di mengerti Sawn dan Robin, sedetik kemudian pengawal berwajah bak petinju itu mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Xie Xie.(Terima Kasih). Balas Ruan sambil tersenyum.


Entah apa yang di lakukan si payah ini, kenapa dia terlihat bahagia hanya dengan menekan satu nonor saja. Lirih Sawn heran. Ruan terlihat menempelkan ponsel di telinganya.


"Assalamu'alaikum Honey. How are you?" Ruan tersenyum lagi.


Honey? Huek. Sawn menoleh kearah lain, rasanya ia ingin muntah mendengar gombalan lelaki yang duduk di depannya.


Entah wanita bodoh mana yang tertipu rayuan gombalnya! Lirih Sawn sambil pura-pura tersenyum ramah.


"Will you go out from house this day?" (Apakah kamu akan pergi keluar rumah siang ini).


"No, I haven't planned to go out this day." (Tidak, saya tidak mempunyai rencana untuk pergi keluar siang ini). Ucap seorang di sebrang sana dan itu berhasil membuat Ruan tersipu saking bahagianya.


"If like that, I will pay a visit to your house this day, Raina." (Jika demikian, saya akan berkunjung ke rumah kamu siang ini, Raina).


"Apa... Raina?" Sawn memandang Ruan dengan tatapan tajam, sementara yang di tatapnya masih larut dalam percakapan yang menyenangkan.

__ADS_1


Berani sekali si kulit pucat ini mendekati Raina, aku pasti akan mengusirnya. Tapi, bagaimana caranya. Aaa... Aku kesal! Sawn mengomel di dalam hatinya.


Sedetik kemudian Ruan mengakhiri panggilanya sambil tersenyum lebar. Lelaki tampan itu menyodorkan ponselnya pada pengawalnya. Ia masih tersenyum ketika menyodorkan tangannya pada Sawn, pertemuan hari ini berakhir dengan saling menjabat tangan. Kesepakatan telah di lakukan, sekarang yang tersisa tinggal menjalin persahabatan.


Ikatan persahabatan yang tidak akan pernah Sawn lakukan selama Raina terkait di dalamnya.


...***...


Tok. Tok. Tok.


Pintu diketuk dari luar, dengan tertatih Raina berjalan mendekati pintu melihat siapa yang datang.


"Kakak, seharusnya kakak istirahat saja. Biar Linda Yang akan membuka pintu." Ucap Linda menawarkan diri.


"Baiklah." Balas Raina cepat.


"Raina, sayang. Ibumu memanggil." Bu Romlah datang sambil membawa semangkuk bubur hangat, sebenarnya bu Rahayu tidak di izinkan pulang karena kondisinya yang masih terlalu lemah, namun sikap keras kepalanya mengalahkan keputusan dokter yang merawatnya.


"Berikan bubur ini pada ibu mu, Insya Allah beliau akan segera sembuh." Ucap bu Romlah dengan suara bergetar. Hampir saja air matanya menetes di depan Raina, namun buru-buru bu Romlah menoleh kearah lain berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Kakak, seorang peria mencarimu." Ucap Linda sambil menarik baju Raina.


"Siapa?" Linda yang di tanya hanya bisa menggelengkan kepala tidak tahu.


"Peria?" Bu Romlah melepas pelukannya dengan tatapan heran.


"Ruan. Dia Ruan, sepupunya Chen." Balas Raina melebur rasa penasaran bu Romlah.


"Chen?" Satu kata itu merubah raut wajah bu Romlah yang tadinya terlihat sedikit bahagia menjadi tegang.


Chen? Satu kata itu pernah menjadi nyawa bagi kehidupan penghuni Panti, dan sekarang mengenang nama itu hanya akan membuat air mata akan menetes kembali.

__ADS_1


"Bude, aku sangat mencintai Raina. Tolong bujuk dia untuk menerima cintaku! Aku berjanji demi hidup ku, hanya kematian yang akan memisahkan ku dari Raina." Ucapan yang pernah di ucapkan Chen kembali bergema di telinga bu Romlah, mengingat peria baik itu membuat hatinya merasakan pedih yang teramat dalam.


Chen tidak hanya membuktikan ucapannya, namun ia juga memenuhi semua janjinya kecuali janji menikahi Raina.


"Gusti Allah... Aku takut Rainaku akan bersedih lagi jika mengenang Chen. Seharusnya sepupunya itu tidak perlu datang. Kami sudah bisa menerima semuanya." Lirih bu Romlah dalam hatinya.


"Bude. Apa yang bude lamunkan? Temui dia, aku akan datang setelah memberikan ibu makan." Ucap Raina sambil tersenyum. Tidak ada sangkalan dari bu Romlah, hanya saja ia sedikit gugup.


...***...


Kulit pucat itu datang kerumah Raina? Berani sekali dia! Hhmmm... Bahkan, aku lebih berani dari si kulit pucat itu. Berani sekali aku mengatakan Raina adalah milik ku. Aku bahkah tidak tahu apa pun soal gadis ayu itu. Lirih Sawn sembari duduk manis di dalam mobilnya.


Setelah Ruan pergi dari kantornya, Sawn lebih memilih untuk mengikuti mobil Ruan dari belakang. Dan sekarang ia memarkir mobilnya sambil menunggu di depan gerbang hijau itu.


Apa yang di lakukan si kulit pucat itu disana? Kenapa ia tidak juga keluar? Haruskan aku masuk dan melihat apa yang terjadi? Ooohh... Tidak. Itu terdengar sangat murahan. Sebenarnya apa yang ku lakukan di tempat ini? Seharusnya aku mendatangi gadis itu, dan mengungkapkan perasaan ku! Seperti orang bodoh aku malah bermain sembunyi-sembunyian. Dasar payah. Umpat Sawn pada dirinya sendiri, baru saja ia bersiap untuk pergi. Raina, Ruan dan beberapa anak keluar dari dalam dan duduk di teras. Raina duduk sambil meletakkan secanggir minuman di atas meja. Wajah ayunya terlihat sedikit bengkak karena pertarungan kemarin. Meskipun demikian, kecantikan alaminya masih memancarkan kedamaian.


Syukurlah dia baik-baik saja. Setidaknya aku bisa melihat wajah bahagianya, wajah yang sangat ku rindukan seharian ini. Gumam Sawn pelan. Ia tidak ingin terlihat seperti pecundang di depan wanita yang di sayanginya, karena itulah Sawn lebih memilih tancap gas dan kembali kerumahnya dengan membawa rasa cemburunya karena hari semakin sore.


"I am sorry, Raina. I can't stay for along time here. I have to go." (Maafkan saya, Raina. Saya tidak bisa tinggal terlalu lama disini. Saya harus pergi). Ucap Ruan setelah meneguk tegukan terakhir teh hijaunya.


"Submitting my greeting at your mother and bude Romlah, Raina." (Sampaikan salam ku pada ibumu dan bude Romlah, Raina). Ucap Ruan sambil menyodorkan kotak kado pada Raina.


"Of Course." Balas Raina pelan sambil menerima pemberian Ruan.


...***...


Untuk semua Reader 'Mencintai Bodyguard Saleha' terimakasih sudah mampir dan juga dukungannya.


Mungkin kisah Sawn Praja Dinata dan Raina Salsadila tidak seindah kisah novel lain yang pernah anda baca, meskipun begitu Author berharap anda semua bisa mengambil setitik hikmah yang bisa di jadikan pegangan dalam dunia nyata dari kisah Sawn dan Raina. Karena hidup tidak selamanya tentang kisah cinta saja.


Jika sempat mampir juga dalam karya saya yang lainnya yakni: Fazila Titipan Dari Surga.

__ADS_1


Selamat membaca. Love you All...💕



__ADS_2