
"Bapak bisa ambil baju manapun yang bapak inginkan! Aku yakin semua baju kak Sawn muat di badan bapak, karena tinggi kalian terlihat sama!" Ucap Yuna sambil menunjuk lemari besar yang ada di depannya.
Yuna sama sekali tidak menoleh kebelakang, ia tidak menyadari kalau Prof.Zain mengunci pintunya dari dalam, menyisakan mereka berdua di kamar berukuran besar.
Prof.Zain masih tersenyum licik di belakang Yuna, bibirnya terasa perih sampai ia harus mengakhiri senyum bahagianya. Prof.Zain sendiri tidak pernah menyangka akan berada satu ruangan dengan gadis cantik yang selalu bersikap dingin padanya.
"Apa bapak mau pakai baju yang biru, atau baju yang putt...?" Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya begitu ia membalikkan badan dan menatap wajah pria tampan pemilik iris biru itu.
Ada apa dengan Profesor mesum ini? Kenapa senyumannya terlihat sangat berbahaya? Kenapa pula ia harus menutup pintu itu? Jika dia sampai macam-macam dengan ku, akan ku pastikan dia tidak akan bisa menggunakan tangan kanannya untuk makan malam kali ini! Gerutu Yuna dalam hatinya. Sebenarnya ia sangat tidak nyaman dengan kondisi ini, mau bagaimana lagi, Yuna pun harus pura-pura tersenyum manis di hadapan tamunya, karena mamanya selalu mengatakan untuk menghormati setiap tamu yang datang, itu adap yang harus di lakukan setiap muslim, entah dia kaya atau miskin, semuanya sama saja, memiliki kewajiban yang sama dalam menjalankan perintah Tuhan yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pelan Prof.Zain berjalan mendekati Yuna yang berdiri di samping lemari besar berisi semua pakaian Sawn jika kebetulan ia menginap di rumah keluarga Dinata.
Ya Rabb... Aku tahu aku bukan wanita solehah seperti kakak ipar Raina, tapi aku bukanlah seorang pezina. Berdua dalam kamar tertutup dan setan menjadi yang ketiganya adalah sebuah bencana besar. Lindungi aku...! Pinta Yuna sambil berjalan mundur mengikuti langkah Prof.Zain yang semakin mendekat kearahnya.
Gdebukkkk!
Yuna terkejut, tubuhnya membentur lemari besar yang ada di belakangnya. Dadanya berdebar sangat kencang, pertama kali. Ia, ini untuk pertama kalinya Yuna Dinata merasa tidak tenang berada di hadapan seorang pria.
"Ba-ba-pak mau ap-pa?" Yuna merasa gugup namun ia berusaha menguasai dirinya agar tidak terlihat seperti wanita bodoh.
"Aku mau apa? Tentu saja aku akan mendekati wanita cantik yang ada di depanku! Jika bukan itu alasannya, lalu apa lagi?" Balas Prof.Zain sambil tersenyum nakal.
"Ba-pak jangannn macam-maccam dengan kuuu! Aku bukkan wa-ni-ta murahan seperti wanita yang ba-pak tindih di clab malam wa-k-tu it-tu!" Lagi-lagi Yuna menampakkan kegugupannya.
Melihat wanita cantik di depannya semakin gugup Prof.Zain semakin mempercepat langkah kakinya. Dalam hatinya ia bersenandung penuh kemenangan.
Prakkkkk!
Prof.Zain mengunci Yuna dengan kedua lengannya yang menempal pada lemari. Sungguh, Prof.Zain bisa mendengar deru nafas Yuna yang mulai tak beraturan. Bahkan tubuh Yuna mulai bergetar seperti terkena sengatan listrik berkekuatan tinggi.
"Kau sangat cantik! Jangan pernah takut padaku, aku bukan Serigala yang akan menggigitmu." Ucap Prof.Zain sambil berbisik di telinga Yuna yang tertutup rambut sebahu miliknya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Prof.Zain menempelkan dahinya pada dahi milik Yuna.
Glekkkk!
Yuna hanya bisa menelan salivanya, matanya yang tadi tertutup rapat karena rasa takut kini terbuka lebar menyaksikan pria tampan pemilik iris biru itu tersenyum manis masih dalam keadaan dahi mereka menempel seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, senyumnya sangat manis sampai membuat Yuna tergoda karena keindahannya.
Iiihhhhh! Rasakan itu! Gumam Yuna dalam hatinya, ia tertawa penuh kemenangan melihat pria sempurna di hadapannya meringis kesakitan.
"Aauuuu... Zalim, kamu." Ucap Prof.Zain sambil mengusap kakinya yang terasa sakit karena di injak oleh Yuna.
"Aku yang Zalim?" Yuna menunjuk dirinya heran, kemudian ia tertawa karena menahan kesal.
"Aku tidak percaya ini! Bukan aku yang zalim! Yang zalim itu anda, untuk apa anda mengunci pintu dari dalam, terus menempelkan dahi anda pada dahiku? Sudah ku katakan aku tidak sama dengan wanita-wanita payah yang bapak temui di setiap jalan yang bapak lalui.
Pilih baju manapun yang anda suka, setelah itu turun kebawah. Kali ini aku memaafkan anda karena bersikap tidak sopan. Lain kali jika bapak mengulangi hal yang sama lagi, maka aku bersumpah tidak hanya menginjak kaki bapak, aku juga akan mencakar wajah anda sehingga anda tidak akan bisa keluar rumah lagi. Pahammmm?" Yuna berusaha menahan gejolak di hatinya, hampir saja ia terbawa suasana, untungnya ia segera sadar zina tidak hanya hina di dunia namun juga hina di akhirat.
Hhmmm! Berani sekali dia mencoba menipuku dengan pesonanya! Mungkin dia terbiasa menempelkan bibir seksinya pada sembarang wanita, dan aku tidak sama dengan wanita-wanita aneh itu. Gumam Yuna dalam hatinya sembari beranjak meninggalkan Prof.Zain yang masih tersenyum kearahnya.
"Dia sangat manis!" Ucap Prof.Zain begitu Yuna tidak terlihat lagi oleh netranya. Prof.Zain menghempaskan tubuh letihnya di atas tempat tidur empuk yang ada di dekatnya sambil membayangkan kegugupan Yuna. Bahkan wangi yang menguar dari tubuh Yuna masih memenuhi indra penciumannya, dan hal itu membuatnya ingin mengabarkan pada dunia semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Lagi-lagi minuman beralkohol yang jadi masalahnya. Setengah jam ia berdiri di depan pintu sambil merancau namun tidak ada yang membukakan pintu, maklum saja pemiliknya tidak berada di rumah.
Tok.Tok.Tok.Tok.Tok.
Untuk kesekian kalinya gadis anggun bergaun biru itu mengetuk pintu, tidak ada tanggapan membuatnya semakin emosi.
"Aahhh iya... Zain sangat mencintaiku, ia selalu menggunakan tanggal kelahiranku sebagai sandi rumah ataupun ponselnya." Ucap gadis anggun itu sambil mengetik beberapa angka. Dan benar saja, pintunya mulai terbuka.
"Namaku Angel, Angel Sas-mi-ta. Tidak ada orang yang bisa lepas dari pesonaku. Termasuk kau, Zain." Ucap Angel sambil menghempaskan tubuh rampingnya di sofa.
__ADS_1
"Aku memintamu mengembalikan Sawn ku, kau juga menurut. Malam ini jadilah kekasihku untuk satu malam. Aku merindukan harum tubuhmu dan lembunya kecupan hangatmu.
Sawn ku akan kembali padaku, dan kau pun mendapatkan kasih sayang ku. Bukankah itu sudah cukup?" Angel merancau dalam ketidak sadarannya, sungguh minuman beralkohol telah melumpuhkan urat sarafnya sampai ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Sementara itu di tempat berbeda, Raina dan keluarga pantinya sudah duduk di meja makan, makan malam kali ini terasa spesial karena ini pertama kalinya Sawn makan malam di panti sebagai suaminya.
Tidak ada kecanggungan di antara seluruh keluarga, Raina sangat bangga pada suaminya, ia mudah akrab dengan adik-adiknya padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal kecuali beberapa saja.
"Kak Sawn mau makan apa? Aku akan mengambilkannya untuk kakak." Nanang menawarkan diri sambil meraih piring kosong yang ada di depan Sawn.
"Kau makan saja, kakak akan ambil sendiri." Balas Sawn sambil tersenyum, ia tahu adik-adik Raina juga sangat lapar.
"Baiklah." Ucap Nanang sambil duduk kembali.
"Kakak, Andre mau sayur sup." Pinta Andre sambil menyodorkan mangkuk di samping kirinya pada Raina.
"Apa lagi?" Tanya Raina sambil meletakkan mangkuk berisi sup di samping piring Andre.
"Tidak ada. Terima kasih." Ucap Andre sambil menggenggam jemari Raina.
Raina dan ibunya membesarkan Andre dengan sangat baik. Besok tante akan kembali bersama mertuanya, bagaimana jika mertuanya ingin mengambil Andre seperti waktu itu? Habislah aku! Raina tidak hanya marah pada tante, dia juga marah padaku. Kenapa masalah ini jadi serumit ini? Apa yang harus ku lakukan? Ibu mertua tidak akan membiarkan Andre pergi darinya semudah itu. Gumam Sawn dalam hatinya sembari memandangi wajah Raina dan bu Rahayu secara bergantian.
Tidak akan ada senyuman di wajah Raina jika sampai ibunya sedih karena kehilangan Andre, memikirkan itu saja membuat Sawn hilang akal. Baginya, tidak bisa melihat senyuman Raina adalah bencana terbesar dalam hidupnya.
Makan malam bersama adik-adik Raina yang super aktip membuat Sawn sadar, anak yatim harus selalu dikasihi dan di sayangi, mereka juga berhak untuk selalu bahagia walaupun tanpa kehadiran orang tua mereka, dan Sawn bangga karena Raina selalu berusaha membuat adik-adiknya bahagia. Apa lagi yang lebih besar dari itu?
Raina bahkan tidak makan sampai semua orang selesai makan. Bu Romlah dan bu Rahayu memintanya untuk duduk dan makan, namun wanita Soleha itu mengurungkan niatnya begitu adik-adiknya berkata kakak aku ingin ini? Kakak aku ingin itu? Keluarga tidak di tentukan hanya karena namamu ada dalam daftar, buktinya tanpa keluar dari rahim yang sama Raina mampu menyayangi adik-adiknya yang ia sendiri tidak tahu berasal dari keluarga mana.
Begitulah Kasih Sayang, tidak bisa terukur kedalamannya selama kamu menjadikan Tuhan sebagai landasan utama dalam menebar kebaikan.
Satu lagi pelajaran yang Sawn dapatkan dari menginap di panti, anak-anak tidak akan berubah menjadi anak manja ketika kasih sayang dan cinta yang di curahkan orang tua tidak membuatnya buta terhadap derita orang-orang sekitarnya.
__ADS_1
Sawn semakin yakin, ia mendapatkan Berlian murni sebagai istrinya, bukan batu kali yang walaupun di poles tidak akan memberikan perubahan. Kini ia semakin menyadari waktu yang ia habiskan bersama Angel adalah waktu terburuk dalam kehidupannya, dan ia merasa menyesal untuk itu. Tanpa terasa Sawn mulai meneteskan air mata, namun segera ia hapus dengan punggung tangannya berharap tidak ada yang tahu isi hati terdalamnya.
...***...