
Waktu terasa berjalan melambat, Yuna yang biasanya selalu aktif bertanya pada Dosen yang menerangkan ilmu baru di depan kelas kini hanya bisa diam seribu bahasa. Ia bahkan sangat malas menatap Profesor baru yang masih larut dalam penjelasan panjangnya.
Hmm! Kenapa orang aneh ini bisa muncul menjadi profesor? Ini bahkan bukan drama. Gumam Yuna dalam hatinya.
Tidak ada lagi semangat dalam belajar, yang tersisa hanya kekesalan membuncah yang masih tersimpan jauh di lubuk hati terdalam. Ingin rasanya Yuna segera keluar dari kelas sore ini hanya untuk menghindari profesor yang berhasil memancing emosinya, sayangnya ia tidak bisa karena itu bukan sikap yang harus di tunjukan oleh wanita berkelas seperti dirinya.
"Terima kasih semuanya, kita akan bertemu lagi minggu depan. Pertemuan selanjutnya, akan ada kuis seputar pelajaran hari ini. Aku benci orang yang bodoh, jadi kalian harus bekerja keras agar bisa lulus dalam kelas ku." Ucap Profesor itu sembari menatap satu per satu wajah mahasiswanya, netranya terhenti pada sosok anggun yang duduk di bangku dekat dinding. Wajah itu terlihat kesal, kaku dan dingin.
Aku benci orang yang bodoh? Aku bahkan sangat membencimu ketimbang kebencianmu pada orang bodoh mana pun! Tuhan, entah kenapa intuisiku tidak begitu baik pada profesor baru itu. Lindungi aku dari mata jahatnya. Gumam Yuna dalam hatinya, untuk sesaat ia memandangi wajah rupawan Profesor itu.
Wajah yang tampan. Sanjung Yuna, kali ini netra mereka bertemu. Dengan cepat Yuna mengalihkan pandangannya dari tatapan Profesor baru yang ia tidak ingin terlibat terlalu dalam dengannya.
"Sampai jumpa lagi, kalian boleh meninggalkan kelas." Ucap profesor itu sembari merapikan beberapa buku yang ia bawa.
"Nama ku Anggi... Apa aku bisa meminta nomor ponsel Profesor...?" Anggi bertanya sambil tersenyum lebar, ia bahkan tidak menyadari lipstik merahnya menempel di gigi putihnya.
"Aku benci orang yang kotor, di gigi mu ada noda lipstik." Ucap profesor baru itu dengan wajah garangnya, mendengar ucapan profesor itu membuat Anggi langsung menutup mulutnya. Yuna yang mendengar isi percakapan dua anak manusia yang tidak terlalu jauh dari posisi duduknya hanya bisa memamerkan senyum sinisnya.
Aku tidak salah ketika memanggilnya payah! Lihatlah, orang sok tampan itu? Ia bahkan tidak bisa berpura-pura baik. Anggi yang malang, hancurlah egomu. Gumam Yuna lagi tanpa bergerak dari posisi duduknya, padahal semua teman sekelasnya sebagian besar telah keluar kecuali beberapa saja yang masih tersisa.
"Ayo kita keluar." Sapa Arnela sambil mencubit pelan lengan Yuna.
"Wah... Dia sangat tampan, aku merasa terpenjara di netra birunya." Ucap Vivi sambil menangkupkan wajah dengan kedua tangannya, matanya masih memburu profesor muda itu.
Yuna dan Arnela hanya bisa menggelengkan kepala melihat ke konyolan Vivi, bisa-bisanya sahabatnya itu larut dalam suasana aneh yang membuat Yuna merasakan kesal luar biasa.
"Ayo kita pulang, bukankah kau bilang kakak ipar mu akan kerumahmu sore ini?" Ucap Arnela lagi, membuat Yuna tersadar kalau ia sudah terlambat.
"Dasar payah! Seharusnya aku segera pulang. Untuk apa aku terlibat dengan orang aneh itu?" Ucap Yuna pelan sambil bangun dari posisi duduknya. Ia menarik lengan Vivi sampai gadis narsis itu hampir saja jatuh dari kursi yang ia duduki.
__ADS_1
"Sudah selesai dengan omong-kosongnya, bisa kita pergi sekarang?" Ucap Yuna mengurai tanyanya pada Vivi yang mulai tersadar dari lamunan panjangnya.
Yuna, Vivi dan Arnela berjalan melewati Profesor baru itu tanpa menoleh kearahnya.
"Kamu? Aku belum bisa melupakan kejadian di parkiran. Akan sulit bagimu selama berada dalam kelas ku!" Tunjuk Profesor itu pada Yuna tanpa mengedipkan mata.
"Aku tidak tahu bagaimana anda bisa masuk dan menjadi Profesor di kampusku. Tadi siapa nama anda...?" Yuna berpikir sejenak sembari menyentuh wajah dengan jari telunjuknya.
"Ah iya... Zain De Luca, nama yang aneh seperti orangnya." Sambung Yuna, kali ini ia melipat kedua lengan di depan dadanya.
"Aku tidak perlu berhati-hati pada orang seperti anda, karena aku paling tahu cara menghadapi orang tidak waras. Pertemuan pertama biasanya memberikan kesan baik. Namun pada anda, aku bahkan tidak memiliki kesan baik sedikitpun." Yuna bicara dengan nada sinisnya, kali ini ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Biasanya beberapa pria akan mendekatinya karena status keluarganya.
Yuna akan mengusir setiap pria yang berani mendekatinya karena status sosialnya, namun kali ini berbeda, yang ada hanya kekesalan saja.
...***...
"Apa kau tidak berpikir kalau kau bersikap berlebihan pada Prof. Zain De Luca, kau bertingkah seolah sudah lama mengenalnya dan ada dendam yang masih belum di bayar lunas, benar begitu?" Vivi membuka suara di tengah perjalanan mereka. Arnela menoleh sesaat pada Vivi yang duduk di sampingnya, kemudian kembali pokus untuk menyetir.
"Kalian baru bertemu sore ini, tapi kau bersikap tidak sopan padanya. Bukan hanya di parkiran, kau bahkan bersikap kasar di dalam kelas. Untungnya tidak ada yang mendengar percakapan kalian, jika aku jadi Profesor itu akan ku pastikan membuatmu jatuh cinta padaku!" Ucap Vivi asal.
"Entahlah! Intuisi ku mengatakan dia bukan orang baik." Balas Yuna dengan suara nyaris tak terdengar.
"Intuisi? Terserah kau saja." Ucap Vivi lagi.
"Kita sudah sampai." Arnela membuka suara setelah mobil yang ia kendarai berhenti tepat di depan gerbang kediaman Dinata.
"Kalian tidak mampir? Ayo turun, akan ku kenalkan pada kakak ipar, setelah itu kita bisa makan malam bersama." Pinta Yuna sambil membuka pintu mobil.
Vivi dan Arnela saling pandang sejenak, setelahnya mereka turun dari mobil dan mengikuti langkah Yuna yang lebih dulu jalan.
__ADS_1
"Aku pikir kalian tidak akan ikut bersamaku? Sudahlah itu tidak penting, yang harus kalian ingat jangan bicara omong-kosong di depan mama, beliau tidak akan suka. Terutama kau, sipembuat onar!" Tunjuk Yuna pada Vivi
"Ia, baiklah. Aku mengerti." Balas Vivi pelan.
"Kakak..." Sapa Yuna begitu masuk bersama kedua sahabatnya kedalam rumah. Di dapatinya semua anggota keluarga sedang duduk santai sembari menikmati teh hangat, dan secangkir kopi pahit untuk Sawn.
Yuna berlari pelan dan berhambur ke dalam pelukan Raina.
"Kakak, aku sangat merindukan mu! Kenapa kau baru datang sekarang?" Ucap Yuna dengan sikap manjanya tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
Bu Hanum hanya bisa menggelengkap kepala melihat sikap manja putrinya kembali kambuh untuk kesekian kalinya.
"Mama lihat, kan? Anak manja ini lebih memilih memeluk istriku ketimbang aku kakaknya!" Protes Sawn sambil menurunkan kedua lengannya, ia pikir Yuna akan memeluknya karena itu ia merentangkan kedua lengannya.
"Biarin, aja. Huekkk!" Ledek Yuna sambil menjulurkan lidahnya kearah Sawn yang berdiri disamping pak Andi.
"Sejak dulu aku ingin kakak perempuan, syukurlah Tuhan memberikan satu untuk ku!" Ucap Yuna sambil mengeratkan pelukannya.
Kehangatan keluarga Dinata membuat Arnela meneteskan air mata. Ia berpikir kapan terakhir kali ia bersikap manja pada keluarganya, sayangnya ia tidak pernah menemukan dirinya berada dalam posisi seperti yang Yuna alami saat ini, canda tawa dan pelukan hangat seolah menjadi hal langka. Air mata menjadi sahabatnya, dan tawa perlahan mulai menjauh.
Hadiah terbesar dalam hidupku adalah persahabatan, dan aku telah menerimanya. Lirih Arnela dalam hatinya sembari menghapus mata dengan punggung tangannya.
"Kakak, jika kak Sawn membuatmu menangis katakan padaku. Akan ku adukan perbuatannya pada papa dan mama." Ucap Yuna lagi sambil melepas pelukannya dari Raina.
"Akan ku lakukan...!" Balas Raina sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
"Kenapa kalian berdiri disana? Ayo, kemari!" Pinta bu Hanum pada Arnela dan Vivi.
"Ahh... Aku sampai lupa, mereka sahabatku. Yang di sebelah kanan namanya Vivi dan yang baju biru namanya Arnela!" Ucap Yuna memperkenalkan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Amatilah, sedikit yang diperlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan. Semuanya ada dalam diri anda sendiri yaitu di dalam cara anda berpikir dan bersikap.
...***...